Minggu, 05 Desember 2010

Olan juga bisa menulis cerita,,,,ini original loh.....

“Akhir Dari Suatu Kisah”


Q tulis kisah ini
Q ceritakan pada kalian semua,…
Agar kalian tau….
Kalian mengertiii,,!!
“ Bahwa cinta itu adalah suatu hal yang tidak dapat dimengerti”
Semua cerita, semua tulisan, semua kisah,,
pa saja itu, tidak terlepas dari peran “Cinta”
Entah itu kebahagiaan atau duka ????
Hanya “Cinta”
Cinta
Dan
Cinta”
(**)
(^^)” Lelah sekali bola mataku, ingin rasanya jari-jari ini berhenti untuk menulis. Waktu semakin larut dan sunyi, bisa dikatakan kalau saat ini hanya aku yang tidak bermimpi. Di saat roda pada kehidupan semua orang mulai berputar dan mencari posisinya, hanya aku yang masih konstan dan tidak tahu dimana tempatku???... Aku tidak tahu kenapa tidak ada perubahan dalam hidupku??.. apakah karena belum waktunya atau inilah jalanku??.....
“Sudahlah,…!!! Aku hanya akan terus melakukan pekerjaan yang sama. Setiap harinya tidak ada yang istimewa dalam hidupku. Seolah tidak ada lagi yang ingin aku cari dalam hidup ini. Aku merasa semuanya sudah kudapat. Walau jauh di dalam hati kecilku selalu mencari sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti, aku ingin mencari yang tidak aku ketahui…”!!.... tahu kah kalian????? Apa hanya aku yang mengalami ini, atau kalian juga sempat menjadi aku??? Tak ada seorang pun diantara kalian yang menjawabku, sampai akhirnya aku harus mencari sendiri jawaban itu……..”” Aku bukan seorang pecinta, bahkan sangat awam bagiku terhadap hal yang berkaitan dengan cinta. (&&)>>>
“Sejak awal aku beranggapan kalau cinta itu bukan apa-apa. Tak ada yang istimewa dari cinta. Apa kalian sependapat denganku???!!!.. aku rasa pendapatku benar, dan aku akan menyalahkan yang tidak sependapat denganku. Sampai detik ini, apabila aku menyebutkan lima huruf yang berbunyi “CINTA”, rasanya aku dibuat pusing oleh kata itu.. kenapa harus ada cinta????... Toh tanpa cinta manusia dapat hidup. Aku hampir tidak percaya kalau ternyata dibalik lima huruf tersebut terdapat makna. Makna yang tidak hanya satu, semuanya bercampur aduk dalam cinta. Cinta..cinta dan aku bosan.!!!
Aku merasa tidak perlu untuk membahas cinta, tidak ingin menyakininya, dan tunduk dihadapannya. Aku ibarat seorang peneliti yang belum selesai-selesai mendapat hasil risetku. Aku ibarat ilmuwan yang gagal dalam meneliti cinta…”. Namun, sampai saat ini aku masih diberi Sang Pencipta nafas untuk terus melanjutkan penelitianku. Aku sama sekali tidak ingin melibatkan diriku dalam penelitian ini, karena aku merasa “bahwa ini bukan bidangku”. Ini bukan aku, lalu kenapa cinta itu selalu mengikutiku????.. apa yang dia mau dari karirku???.. bisakah cinta, untuk sekejab saja tidak ada dalam benakku? Dalam hidupku?. Jangan berbicara cinta dihadapanku…….!!!!!!!!
Apa diriku sekarang adalah aku yang sebenarnya???.. apa sebelumnya kalian pernah mengenalku???, dimana? Dan kapan itu????. Bisakah diantara kalian menjelaskan identitasku??!! karakterku???? dan dari mana aku berasal???!!! Aku terus bertanya, tapi kalian tidak ada yang bisa menjawab.. !!! aku rasa kalian sengaja terhadapku. Mungkinkah di masa lalu aku punya kesalahan???.. aku harap aku tidak menyakiti kalian…
.””””” Baiklah, jika tidak ada diantara kalian yang tahu aku, maka akan kuberi tahu. Anggap saja aku sedang membacakan dongeng sebelum tidur… tapi ingat, ini tidak gratis, diakhir cerita kalian harus memberi tahu aku apa itu CINTA???.
Sekarang aku yang mulai,,,””””””
Apa kalian percaya kalau cinta itu abadi???....”pertanyaan ini diluar konteks Agama iah, karena aku bisa menebak kalau kalian pastinya akan menjawab kalau yang Abadi itu hanya Sang Pencipta dan Tempat Terindah di Surga”…(bukan jawaban itu yang aku minta). Benarkah cinta sejati itu ada????. Mengapa orang mengenal cinta? Percaya cinta, dan setia kepada cinta????.. bahkan ada ungkapan “percaya satu cinta/ C I N T A !!!!! itu sangat konyol bukan !!!????..
Jikalau kalian menyadari, bahwa tiap detik dari kehidupan kalian, tiap waktu, kalian berada dilingkungan cinta…. Karya-karya sastra seperti Novel, atau di facebook sekalipun hanya ungkapan-ungkapan cinta yang berserakan. Anak-anak kecil pun sering mengucapkan itu, bahkan orang yang tidak tahu cinta sekalipun berani untuk mengatakannya, dan aku juga demikian”…. (akhirnya aku jujur pada kalian, namun aku tidak bermaksud untuk curhat)….
Aku suka lagu-lagu cinta, aku suka menyanjung cinta, dan sangat setia pada cinta. Hanya pada satu cinta”. (aku terbawa perasaan,,….). Eh..ehh.. kalian jangan salah sangka, aku hanya keceplosan, itu aku yang dulu, dan sekarang, detik ini, itu bukan aku, karena akhirnya aku harus belajar untuk melupakan cinta. Apa kalian percaya aku bisa melakukannya?????!!!! (^^)…..??????
Hmm… tentu saja aku bisa!!!.. apa kalian pikir aku terlalu lemah??????????... INGAT, kalian tidak bisa mengatakan apa-apa terhadapku, karena kalian tidak kenal aku!!!.. pada awal tulisan kalian tidak bisa memberi jawaban tentang siapa aku!!,,..egoisku adalah hidupku,,,, hingga akhirnya cinta meninggalkanku………******
Eitsss…. Aku salah bicara, mana mungkin cinta itu pergi dariku, aku salah bicara, dan kalian harus maklum.. (^^)…..he..he… kalian ingin tahu???????.... baiklah kuberi tahu, “bahwa aku yang meninggalkan cinta itu””””, iaahh!!! Aku telah lari dari cinta, aku ingin terus berjalan dan cinta itu terus mengejar, hingga akhirnya ia tak sanggup lagi untuk bisa menghampiriku….
Kalian jangan salahkan aku, ini bukan salahku. Aku selalu benar, dan akan terus benar. Diantara kalian tidak akan mungkin ada yang mampu protes aku, karena kalian tidak mengenalku. Walau demikian, aku berterima kasih kepada kalian semua, karena kalian semua telah menemani hari-hariku, sehingga aku merasa aku tidak hidup sendiri di dunia ini. (@@)…..^^
Usiaku, sudah mencapai separuh abad,,,pengalamanku, mungkin sudah lebih dari diantara kalian, dan ilmuku, aku rasa lebih dari cukup. Tidak ada lagi yang ingin aku capai, karena aku rasa, aku punya semuanya. Semua tanggung jawabku sudah terpenuhi. Dan sekarang aku ingin pergi, aku ingin pergi dengan tersenyum. Bisakah kalian mengizinkan itu?????????<,…..
Payah sekali!!!!,, mengapa kalian menahanku????.. tidak ada lagi yang ingin aku tunggu, aku sudah beri semuanya, aku tidak ingin mengatakan apapun, jadi “ tolong jangan sok ingin tahu”… aku hanya ingin pergi… aku sudah lelah. Aku sudah memejamkan mataku, tapi kalian memintaku untuk menulis, aku sudah lakukan itu, tidak ada pesan terakhir yang ingin aku sampaikan………..
Apabila aku sedikit berbicara cinta, mungkin karena aku terlalu lelah sampai aku sendiri mengungkapkan kata yang aku tidak suka… tolonglah jangan memaksaku… bukan hanya kalian yang ingin tidur, aku juga… aku mau istirahat, mau melihat apakah rodaku sudah bisa berputar atau masih diam ditempat yang sama???.. apa kalian sadar, kalau kalianlah yang membuatku untuk tidak berani untuk bergerak??????!!!!!!
Kalian tahu, aku tidak akan mungkin bisa marah, tapi aku sudah lama menunggu. Aku juga ingin merasa ditunggu dan dinanti. Aku rasa disana ada yang menungguku, ia melambaikan tangannya kepadaku. Dan sekarang, biarkan aku menggapainya… aku yakin tidak ada satu pun diantara kalian yang jahat, aku mencintai kalian semua, sama seperti aku mencintainya…….(apa kalian tahu apa maksud dari semua uraiannku??????????????)….

“CINTA”
Begitulah kekuatan cinta,,
Sekalipun orang yang terluka oleh cinta,
Atau mungkin tak mampu untuk menggapai cinta,
Namun, penantian terhadap cinta tak pernah usai
Sampai nafas dari peneliti yang belum menyelesaikan risetnya
Harus berhenti dalam titik mempertanyakan cinta…..
Semoga disana ia dapat jawabannya
Semoga ia akan lebih mengerti dan memahami”
“””(**)””


Halo semua!!!!... bagaimana???? Apa kalian bisa mengerti tulisan-tulisan diatas????... hmmm semoga tidak bingung iah,,, aku tidak sengaja menemukan tulisan tersebut. Ini juga berkat adik kecilku, kalau saja ia tidak terjatuh belajar sepatu roda, ia tidak mungkin terluka. Hehehe… aku bukan kakak yang jahat!!!, bukan mau menyukuri adik yang luka. Tapi dengan kejadian itu bisa mendatangkan suatu kebetulan. Aku sayang pada adik kecil, aku buktikan dengan membawanya ke rumah sakit. Untung hanya luka dilutut, I Love My Brother….
Mau bagi cerita neh, berkaitan dengan tulisan diatas, waktu itu aku menebus resep obat adik kecil, saat menebus resep, adikku yang nakal tiba-tiba menghilang “ternyata si jagoan beli es krim di mini market seberang”. Kemudian aku berpikir “dasar anak kecil”, tapi aku sangat tenang karena adik baik-baik saja. Mungkin ia takut kepadaku, dari luar ia berlari untuk menghampiri kakaknya yang paling manis….. (narsis but maniss)……hahaha ^^
Jangan kebanyakan bayangin wajah aku yang kata orang seh mirip Julie Estelle,,hahaha….Fokus ah ke cerita…. Nah,, tadi sampe dimana ceritanya????##@^^*()##,, GJ (ga jelas bangte)..ribet….hmmm ya nieh seriuss……. Ketika itu diantara aku dan adik ada cowok ganteng (ya ampyunnn kayak Ozil dan,,,, mataku sampe belok kiri kanan =lebay mode =on),,,,, pemandangan indah itu tiba-tiba kacau gara-gara adik kecilku,,, Crotttt#####^^&%$#@!... (Jiahhh Es Krim Magnum Rasa Coklat Vanila nya menabrak kemeja putih si cowok ganteng,, belepotan dah)…. Adik kecil menangis dan minta kakak ganteng gantiin es nya (dasar adik matre,, apa kalian semua tahu kalau anak kecil zaman sekarang rada matre atau benar benar matreee!!!!)….
Cowok itu tidak bilang apa-apa, dia Cuma menghindari adik kecil dan melambaikan tangannya, (wajahnya panik), mukanya juga berkeringat, aku yang berkaca-kaca juga tidak diperhatikannya, padahal aku kan udah tutupin kuping caplang neh pake rambut (hahahaa..hahaha””). sepertinya dia menebus resep obat buat penyakit paling sakratul dah (Astajimmm kagak boleh ngomong gitu yeh!!). abisnya dia sombong sih, mana es krim si adik tidak diganti, terpaksa uang buat beli DVD Film Koreaku yang diporoti adikkk….. (bukan gak iklas iahhh)….
Diluar apotek hujan, rintik-rintik sih, tapi gak mungkin pulang, yang ada nanti mama marah-marah karena si adik luka n dibawa pulang hujan-hujan, mau kasih tahu takut orang rumah lebay dan cerewet. Mendingan ceritanya dirumah aja dah, sekalian minta ganti uang es krim ,,hih,,,,hi… eh hujannya reda, mau pulang ah,,, waktu gandeng tangan si adik tiba-tiba dia kasih kertas. “ kakak ini apaan?? Dibaca tapi bukan pelajaran, gak ada tuh guru aku jelasin itu, “ujar adik kecil. Saat itu kepalaku pusing, habis hujan, urusin adikku, belum makan tau dari tadi pagi, neh gara-gara bangun kesiangan…pulangnya adik maksa-maksa minta ajarin dan gini dah hasilnya.
Aku menyeret adik, dan kemudian berjalan mencari tong sampah, tapi aku tidak melihat tong sampah sepanjang jalan (semiskin apa negara ini???).. sampai di rumah,, mama sudah ngomel-ngomel, dan liat lutut adik kiri kanan pake perban malah tambah ngomel,, dasar mamaku. Ribet bangete, kita sebesar ini mandi aja mau dipaksa-paksa, dan mau makan harus dipanggil-panggil.. (mama, umur ku ini udah 20 tahun, udah mahasiswa loh). Waktu minta ganti uang DVD, eh mama malah marah-marah dan mau ambil TV dan DVD dari kamarku, help….
Ih, mama gitu dah, semester kemarin IP kuliah jatuh bukan karena gara-gara DVD, tapi lagi pingin ajah untuk dibilang gak pinter sekali-sekali (hehe..hehehee).. si papa malah ketawa aja. Masuk kamar, udah gak ada lagi TV, ternyata walau adik gak jatuh dari sepatu roda, neh kamar udah dibongkar mama toh dari tadi,,, wew yang ada buku-buku dan foto mama papa (kata mama, kalau lagi malas belajar liat foto mama jadi semangat,, “ampyunnn dah punya nyokap PEDE amatt).. ++*%$#@##.....?????..........
Aku udah biasa tidur malam neh, nonton film-film Korea yang asli drama n lucu abisss (coba dah), tapi sekarang gak bisa donk, kalau nonton diruang tv ntar ketahuan nyonya besar, mau belajar males,, ngedumel dah dalam hati… eh pintu kamar bunyi,, ada yang buka, tutup muka sama selimut ah (pura-pura tidur gitu)..hahaa (**)>….
“”Caiyankkkk,,,, kamarnya berantakannnn dahhh, neh anak udah kuliah masih ajah asal !!!! tumben jam segini udah tidur,??!!””ujar mama, mama kemudian merapihkan selimutku dan menutup pintu kembali. (nama aku itu Caiyankkkkk, ga tau kenapa orang tua kasih nama gitu, kalau dikampus semua orang manggilnya gitu, jadi geli dengarnya, apalagi dosen, manggilnya Caiyankkkk, tapi masih suka marahin, ia juga sih aku gak pernah buat tugas, bukan gak mau, tapi kadang gak sempat, soalnya lebih asyick nonton DVD Korea yang berseri-seri, nanggung ninggalinnya,, I Love Kim Bum,hehehe,,,,)..
Mama itu sayang sama aku, kamar aku dirapihin, walaupun suka ngomel tapi perhatian bangte, sampe hal kecil pun perhatian, mama itu adil sama aku dan adik. Jadi bersalah juga neh suka buat mama kecewa, tapi jujur, aku tuh gak bisa gak denger mama ngomel sehari pun (hehe.. I LOVE My Mom, She Is Great Woman…hehe)., jadi inget kata-katanya, aku kemudian buyarin selimut dan bangun, aku duduk di meja belajar (dengan semangat 45 nya mama), aku kemudian memandangi foto mama dan papa yang besar-besar, penuh mengelilingi kamar dan meja belajarku. Bener juga metode mama, dan akhirnya aku mau membuka buku yang berjudul“Ilmu Pemerintahan, bukunya masih mulus, gak pernah dibuka he,,hee… tapi kok neh buku gumpal iah???, Oo.. ada kertas A4 putih dengan tulisan-tulisan bersambung gitu, seperti tulisan dosenku????... yah gak mungkin lah, dosen itu gak pernah sharing sama aku, aku itu gak pernah diskusi dikelas, yang ada dosen itu panggil aku karena aku jarang masuk dan sering bangete ketemu dosen yang pulang ngajar ada di bioskop dan mall-mall hunting kaset sama temanku caterina,, hehe….***)(..
Jadi penasaran, tulisan siapa ini??? Gak mungkin tulisan mama, karena mama bilang waktu dia jadi mahasiswa dia gak pernah nyatat, tapi fotocopy (wajar ajah dunk aku gitu,, hehehe,, tapi bedanya, mama bisa jadi Duta Besar RI di Belanda, sekarang aja mama lagi di rumah, besok mama udah ke Belanda lagi, tinggal dah aku, adik, dan papa.. udah pasti kalau gak ada mama itu tv aku bawa masuk kamar lagi, papa kan orangnya asyick n enjoy gitu, hehehe……eitss tapi kalau udah liat foto mama aku jadi takut dan ngerasa diliatin, hehe.. mama itu hebat, dia wanita karir tapi juga ibu yang baik).
Aku patiin lampu tidurku, kemudian aku hidupkan lampu kamar, aku baca isi kertas itu, kayak kisah hidup manusia, puitis bangete,,, kayak film-film Korea yang sering aku tonton, jadi sedih akunya, walaupun jujur aku gak tau maksud dari tulisannya,, hehe.. modem aku kan rada lemot..hahaha..dibilang puisi bukan, dibilang cerpen juga hak jelas,, ampun dah aku… gak sadar aja tiba-tiba aku udah bangun tidur dengan mama disampingku dan kemudian dia tarik jempolku dan bilang “Solat Subuh Dulu Dunk,,,,, Mahasiswa Kok Solat Subuhnya Sering Tinggal!! (ya ampyunn ada Ratu Withelmina di kamarku,,hehehe).
Aku bangun, dan kemudian menjawab,,, “ia mama sayang ”… mama tersenyum kecil.. sesudah aku solat, kamarku sudah rapih, mama yang merapihkan, aku lihat dia duduk diranjang tidurku, dan bilang,, “Caiyankkkk, tulisan kamu ini??, bagus,, udah lama mama gak tahu tulisan kamu kayak apa?? Ternyata seperti professor gitu, di Belanda kebanyakan tulisan orang seperti ini.. mama baru tahu anak mama suka Sastra, kalau kamu mau jadi sutradara hebat mama dukung dah, dulu mama kuliah di Fakultas Sastra, tapi sayangnya mama gak pernah nulis dan aplikasiin ilmu mama, untungnya mama bisa bangun kehidupan dibidang lain”hehe….(aku tambah bingung, dan saat aku lihat kertas yang dipegang mama, bukankah itu yang aku baca semalam?? Aku saja lupa isinya,, hahahaa…..mama itu salah, aku itu gak mau jadi sutradara hebat, aku mau jadi pemeran utama wanitanya yang direbutin cowok-cowok ganteng kayak di film-film Korea gitu,##**@&^!*)…..
Pagi itu aku ke kampus dengan semangat, karena gak kesiangan lagi kayak kemarin, dan hebatnya pagi ini aku Solat Subuh,heheh…makasih iah mama.. mama juga antarin aku ke kampus, teman-teman itu penasaran sama mamaku, waktu mama turun dari mobil semua melihat mama seperti melihat artis nomor satu Korea. Setelah mama pergi mereka menghujatku, “wah Caiiyy,,, kamu gak pantes bangte jadi anaknya, dia itu cantik bangte “ujar fika”, tinggi, modis,, itu aku bangtee “ujar delia”. “perempuan seperti itu tipe gw, kayaknya intelek bangtee “ujar andra”, dan caterina sahabat sejak kecilku hanya tersenyum kecil dan aku mencubitnya. Aku kemudian berkata “ gak sopan kalian semua, itu mama gw, jadi gw juga sama kayak dia”. Dan semuanya pada menjawab serempak “BEDA BANGTE TAU”hahahahaaa… (dasar teman-teman).
Hari itu aku semangat kuliah, tapi btenya gak ada dosen (aneh, saat aku males masuk dosen pada kasih kuis, padahal hari ini kan hari terakhir mama di Indonesia, mau senengin dia,bte).tidak hanya kelasku yang kosong, semua kelas kosong, karena salah satu dosenku (Bu Maia) yang paling galak tenyata telah pulang ke Rahmatnya. Aku ingat, ibu itu suka marah sama ku, tiga kali aku dikasih nilai E, pokoknya sama dia yang paling tinggi hanya dapat nilai D. Terus lima kali kaset DVD Korea aku ditangkap dan tidak dikembalikannya, Koran-koran Kim Bum dan Lemin Ho juga, dan yang terpenting aku pernah diputusin pacar gara-gara Bu Maia (aku sayang bangete sama Rangga, dia itu Mahasiswa Paling Pinter, dia dekat bangete sama Bu Maia, waktu itu si Rangga diikutin lomba apa gitu, dia itu wajib belajar ekstra, tapi aku nya gak pengertian, aku ajakin dia temenin aku nonton, maen, dan beli kaset-kaset dan browse video-video di internet, padahal dia mau lomba, eh ternyata dia kalah, yang paling marah sama Rangga waktu itu yah Bu Maia, mungkin Rangga ngerasa gak enak sama Bu Maia yang udah ilang kepercayaan, dan Dosen lainnya, apa lagi gara-gara itu beasiswa Rangga dicabut. Mungkin dia udah habis kesabaran sama aku, terus dia putusin aku, dan bilang kita gak cocok, dasar cowok jahat, waktu itu sedih bangte, padahal aku sayang bangte sama Rangga, waktu itu aku doain moga ajah kamu jadian sama ibu itu, dasar suka yang tua-tua), hehe..aku baru sadar ternyata aku dulu kanak-kanak bangete, kata mama aku tetap kanak-kanak sampai sekarang, ia juga yah, kalau gak ada teman aku masih sering main sama adikku yang jaraknya 10 tahun dariku,hehe)..
Aku kaget donk, aku gak nyangka ajah Bu Maia bakal pergi, aku gak dendam apalagi benci ma dia, aku malah jadi sedih, karena dia gak liat aku wisuda dulu (kapan iah aku lulus, udah empat taon neh,,hehe). Dia gak sempat liat aku buktiin untuk dapet nilai C ajah ma dia. Bu Maia, …aku menarik nafas,,kemudian kertas jatuh dari tasku,, andra berkata “apa itu Chaiiy???”, aku jawab “iyahh aku juga gatau dari mana datangnya kertas ini”,, teman-temanku kemudian tertawa “hahahahHAhaha, dasar LOLA”.
Caterina kemudian mengajak aku dan teman yang lain untuk kerumah Bu Maia, untuk ikut pemakamannya. Hari ini mama terakhir di Indonesia, aku gak bisa pulang telat, kalau gak ikut aku gak enak, tapi wajah mama terbayang terus. Aku menarik nafas dan mengambil pondselku, aku mencoba menelpon nomor mama, tapi tidak aktif, aku terus mencoba , dan tiba-tiba temanku berkata “Plis Dah Anak Mami!!!””, aku kemudian menjawab “Iahhh, neh Gw masukin Hp nya”. Beberapa waktu kemudian kami tiba dirumah Bu Maia yang berpagar putih (ramai sekali disana)..
Turun dari mobil, tiba-tiba aku melihat ada anak kecil memegang sepatu roda (apa aku tidak salah lihat gitu). Itu Ega adikku, tiba-tiba aku memangil-manggilnya, ia tidak lihat, tiba-tiba ada tangan yang mencubit pinggangku, sakit, rasanya aku kenal tangan ini, gak salah lagi, ada wanita tinggi dengan tahi lalat diatas bibir, pasti judes (ialah ini mamaku,ia berkerudung dan berpakaian hitam). ”Caiyankkkk, kamu ini masih suka jerit-jerit, malu mama”, aku menjawab “eh, mama, kenapa ada dirumah dosen aku??”. Mama menjawab “ Maia Sahabat mama Caiii…””. Aku ngedumel : Huh pantes ajah hp mama gak aktif,,,, “udah nanti ajah ngambeknya dirumah aja (mama kemudian pergi ikut memandikan Bu Maia). Aku mau Tanya lagi, tapi mama udah pergi, aku kaget, asli aku baru tahu Bu Maia itu sahabat mama, tapi kenapa aku dikasih nilai E???.. gara-gara nilai itu TV dan DVD ditarik mama dari kamarku????...
Selesai pemakaman Bu Maia, aku pulang bersama mama, papa, dan adikku. Teman-temanku mencibirku dari jauh dan bilang “Anak Mami” (jengkelnya aku). Sebelum mobil meninggalkan kediaman Bu Maia yang berduka, tiba-tiba papa menghentikan mobilnya, dari luar jendela ada cowok ganteng yang waktu itu menabrak es krim adikku, aku dengar papa berkata “ Wily” yang sabar iah, kalau mau tukar pikiran sesekali kerumah om” iya om” (jawabnya kepada papa). Cowok ganteng yang dipanggil papa “Wily” itu kemudian menongolkan kepalanya kedalam dan memberi senyum kepada mama, adik, dan aku. Kami pun membalas senyum itu ^^)”.
Mobil kami pun berjalan menuju kerumah, di dalam mobil aku bertanya, “ itu siapa ma??” mama menjawab “ itu Wily anaknya Maia”, aku kaget “ loh ma, bukannya Bu Maia itu belum menikah iah???”Dia itu Perawan Tua yang Judes ma !! ucapku” . Mama mencubit bibirku dan kemudian tersenyum kecil,papa juga ikut-ikutan, mama aneh dan adik kecil terlihat cuek-cuek aja. Aku BETE, kemudian berkata “ih, mama papa, gak jelas dah,, mama juga jadi ke Belanda hari ini???? Naek pesawat yang mana?? Aku mencibir”. Tiba-tiba mama membalikkan badannya kebelakang dan menjewer telingaku. Aku menjerit “aduh mama,udah donk, malu, udah dewasa neh”. Papa jadi tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala.
Sesampai dirumah, aku dan adik dipaksa mama mandi, sesudah mandi makanan enak tersaji diruang makan (coba ajah mama gak kerja di Belanda, udah pasti tiap hari kita makan enak, mama itu selalu masak buat kita, kalau ada mama si bibi gak mungkin masak, dan kalau gak ada mama gak mungkin aku yang masak,hehehe##$%#@). Kalau ada mama dirumah tertib, sebelum makan aja papa memimpin doa, kalau gak ada mama, doanya masing-masing dalam hati aja, hahaha..*&^%...
Aku itu manusia paling ribut di meja makan, beda sama adik yang kalau matanya udah nunduk ke piring gak mungkin berpaling lagi,hehe..aku memulai pembicaraan : “ ma, pa tau gak cowok ganteng tadi itu yang ngomong di luar mobil sama papa, itu yang senggol es krim adik waktu itu” (aku mencoba memberi tahu). Mama papa menjawab “iah udah tahu”. Aku heran punya ortu yang jawab kompak “tau dari mana???? “tanyaku. Papa menjawab “ tadi Wily dan adik kasih tahu, ia kan dik??” (papa menunjuk adik, dan adik mengangguk). Mama kemudian berkata “jadi Wily iah cowok cakepnya??? Peran utama Film Korea dan Peran Perempuannya siapa???? (mencibir). Aku menjawab “ih mama”. (jadi malu, tapi emang ia aku terkesima aja sama cowok cakep itu, hehe).
Sesudah makan, kami semua mengambil Wudhu Dan Solat Magrib Berjamaah. Kemudian kami duduk diruang santai keluarga terus mama memberi tahuku suatu kebenaran. “Caiyankkkk, mana kertas yang bukan tulisan kamu itu??? ( Tanya mama), aku kemudian menjawab“yang mana ma”???. Itu yang mama kira tulisan kamu, tapi ternyata bukan, kamu kan anak mama jadi sama kayak mama, gak akan mungkin nulis” (ucap mama). Aku jawab “ih mama, siapa juga yang pengen dibilang pinter nulis, mama aja yang nyerocos terus”. Cerewet dah kamu, sekarang ambil kertasnya sini,(mama menyuruhku). Buat apa sih ma (penasaran). “Udah kalau mau penasarannya ilang ambil dulu donk manis”. “hehehHehehe….” Ketawaku dan kemudian aku menuju kamar untuk mengambil kertas tulisan tersebut dari dalam tas kuliahku.
“”Neh ma (aku kemudian memberi kertas itu kepada mama). Mama memegang kertas itu, dan kemudian menangis, dan papa menenangkan. Mama memulai ceritanya dengan setting 25 tahun yang lalu. Setelah cerita mama aku baru mengerti semuanya. Setelah mama bercerita, tiba-tiba papa, mama, mengajakku untuk pergi ke rumah Bu Maia untuk sedekahan, disana kemudian ada Wily, mama kemudian menyerahkan kertas itu padanya. Wily kemudian menyalami tanganku dan tersenyum kecil. Aku kemudian merasa deg..deg an.. apa benar cowok ganteng yang sombong dan tidak melihatku waktu itu menyalamiku??? Apa benar anak dosenku yang galak itu bakal jadi pangeran yang sering aku lihat dalam Film-Film yang sudah aku tonton???
Kalau aku bukan anak mama ku mungkin hal ini tidak akan menjadi kenyataan, bukan bearti aku bersyukur atas berpulangnya Bu Maia, justru aku sangat sedih, aku merindukan untuk terus dikritik olehnya. Besok mama bakal pergi ke Belanda, aku pasti sangat merindukan mama, mamaku yang judes, aku janji gak akan berantem sama adik yang jaraknya 10 tahun dariku kalau mama gak ada. Aku bersyukur karena papa sangat setia dan menyayangi mama. Moga aja Wily juga bisa setia dengan ku.””>>,,,,,,,,.. THE END…………



Aku tahu, kalian pasti penasaran sama cerita mama. Maaf kemarin aku gak sampain karena mama masih di Indonesia, aku baru saja antarin mama ke Bandara, gini neh ceritanya =>…………………………..”””””””””
“Maia itu Sahabat Mama, dari tk, sama kayak kamu bersahabat dengan Caterina. Dulu di sekolah mama itu bunga kelas, beda sama Maia, dia lebih fokus belajar, nilainya juga selalu diatas mama, waktu mau masuk kuliah Maia lulus apa saja, dia lulus di Mipa, tapi dia suka belajar Ilmu Pemerintahan. Kita kuliah di kampus yang sama, tapi beda fakultas. Setahu mama Maia itu gak pernah suka sama cowok, dia orangnya cool. Mama juga cool, tapi mama pernah suka sama teman sejurusan Maia yang namanya “Randy”. Waktu itu gak sengaja aja mama maen ke Fakultas Maia, tujuannya mau pulang bareng. Maia itu memang pintar, dia suka ngajarin dan berbagi ilmu sama temannya, termasuk Randy. Mama minta comblangin Maia sama Randy, Maia mau bantuin. Tapi sayangnya Randy gak suka mama, tapi Maia itu selalu senangin hati mama, bahkan dia mohon dan minta Randy untuk pura-pura terima mama. Padahal Randy itu gak suka, bahkan ujungnya mama baru tahu kalau Randy itu suka Maia, tapi Maianya gak respons. Dan sebenarnya juga Maia suka sama Randy, Cuma dia gak tahu cara ngungkapin, Maia juga gak pernah pacaran. Semua yang dia kerjain harus dapat arahan dulu dari orang tuanya, termasuk soal “Cinta”. Bagi mama gak nyakitin kok, apalagi Maia itu sahabat mama, yang nyakitin itu kenapa Maia selama ini bohongin perasaannya. Ternyata bukan hanya untuk berkorban buat mama, tapi juga buat orang tuanya. Maia itu udah dijodohin sama orang tuanya sama papa kamu. Tapi Maia gak suka, dia cuma sukanya sama Randy, sebelum mama kenal Randy, Maia juga udah kenalin mama ke papa, Cuma mungkin diantara kita belum ada cinta,hehe.. waktu Randy tahu Maia suka dia, Randy langsung bereaksi. Maia takut untuk pacaran, tapi karena Randy akhirnya dia berani pacaran, walaupun dia ujungnya nyumput-nyumput dan ketahuan orangtuanya. Kemudian Maia dipindahin orang tuanya ke Inggris, dia gak mau, tapi ujungnya dia mengalah untuk orang tua. Tapi walau udah di Inggris si Randy sering ketemu dengan Maia. Maia itu pintar, dia dapat beasiswa apa aja, uangnya dipake buat pulang ke Indonesia untuk ketemu Randy. Karena sering ketemu, Maia akhirnya nikah sama Randy, tanpa sepengetahuan orang lain kecuali mama, bahkan papa kamu aja yang waktu itu tunangannya sama sekali gak tahu. Saat Maia udah lulus dengan gelarnya dia pulang ke Indonesia, dan keluarganya mau nikahin dia sama papa kamu, tapi Maia menolak, dia gak bisa kasih alasannya, tapi dia nolak itu. Hal ini jadi aneh untuk keluarganya, dan akhirnya kebenaran diketahui juga. Keluarga Maia kemudian paksa Maia dan Randy untuk cerai, keduanya gak mau. Tapi keluarga Maia nekat adain resepsi buat Maia dan papa kamu, padahal Maia itu istri Randy. Keluarga Maia gak mau terima Randy karena dia miskin. Maia itu gak mau, tapi Randy mungkin sudah salah paham. Dia pergi menghilang dari kota itu, padahal Maia dan papa kamu itu gak jadi nikah karena Maia itu udah hamil dua bulan, walau dipaksa gugurin Maia itu gak mau. Dan akhirnya papa kamu juga gak mau untuk maksain, dia kasih penjelasan ke keluarganya, undangan udah disebarin, ujungnya mama yang gantiin Maia untuk nikah sama papa kamu, disatu sisi mama selamatin papa kamu biar keluarganya gak malu, dan disatu sisi mama selamatin Maia biar gak dipaksa terus. Antara papa dan mama waktu itu gak ada cinta, untungnya keluarga mama itu demokratis dan restuin pernikahan ini, dan ujungnya kami mulai belajar menyayangi dari Randy dan Maia. Maia itu gak pernah kecewain orangtuanya kecuali karena cinta. Tapi itu juga gak bisa disalahin, dia anak yang baik, dia selalu nurut, seharusnya orang tua ndia ngerti dan kasih kesempatan. Wily itu anak Maia, waktu Wily lahir, Maia itu dipisahin dari anaknya. Wily diambil dan ditaro dipanti asuhan. Maia gak tahu kalau anaknya lahir selamat. Dia tahunya anaknya udah ninggal waktu persalinan. Itu buat dia jadi tambah sedih. Orang tua Maia gak mau akui Wily. Sesudah itu Maia juga cariin Randy, tapi gak ketemu-ketemu. Ujungnya Maia mulai karirnya, Dia gak Cuma jadi dosen, dan peneliti, tapi juga jadi pengusaha. Keluarganya mau Maia bahagia, tapi mereka gak tahu maunya Maia apa. Mereka selalu aja coba jodohin Maia dengan orang-orang yang mereka anggap selevel. Hari demi hari, waktu demi waktu Maia setia tungguin suaminya, dia tungguin Randy. Orang taunya Maia itu perawan tua, dia gak nikah, padahal dia cantik. Orang selalu berpikiran aneh tentang dia, tapi dia istri yang setia. Sampai suatu hari Maia dipertemuin Tuhan sama Randy, tapi Randy udah menikah sama orang lain. Saat itu kamu masih dua tahun, mama sama papa kamu lihat Randy di Yogya, makanya mama kasih tahu Maia, saat Maia tahu dia langsung ke Yogya, dan saat Maia bertemu Randy (saat itu Randy udah menikah, sebenarnya Randy itu menikah cuma untuk selamatin anak yang ada dalam rahim “Rhea”, itu nama istri Randy, Randy itu dari Yogya, saat Maia mau dinikahin sama papa kamu, Randy langsung pulang kampung Ke Yogya, Rhea ini temen kecil Randy, dia gak nikah nungguin Randy, Tapi Randy Cuma suka Maia, dan Rhea mulai mengalihkan perhatian ke laki laki lain, sayangnya laki-laki itu gak bertanggung jawab, dan atas nama persahabatan Randy rela tanggung jawab untuk kasih namanya atas anak itu. Walaupun pengakuan Rhea dia sama Randy itu Cuma nikah aja, dang a ada hal lainnya). Maia bertemu Rhea lagi kira-kira dua tahun yang lalu, disitu dia baru tahu kalau Randy meninggal setahun setelah bertemu Maia di Yogya. Randy Bunuh Diri setelah dia tahu kalau Maia pernah mengandung anaknya, yang membuat Randy terpukul setelah ia tahu kalau Maia dan papa kamu tidak pernah menikah, justru Maia setia menantinya. Kalau Randy tahu semua itu waktu Maia ke Yogya, mungkin mereka bisa bersatu, dan Maia tidak perlu salah paham. Tapi sebelum mereka berdua dapat kejelasan, Tuhan ingin membuat mereka bertanya-tanya.?????????????. Bahkan saat Randy meninggal saja Maia tidak tahu, 20 tahun Maia masih merasa bahwa Randy hidup dengan bahagia, padahal ia mati tragis, seorang berpendidikan bunuh diri karena cinta, logikanya sudah tertutup, hanya ada rasa bersalah dan menyesal karena menganggap dirinya tidak bertanggung jawab. Kematian Randy membuat Rhea berduka, namun Rhea telah berterima kasih karena Randy telah memberi namanya atas anak Rhea. Cinta Randy memang hanya buat Maia, dan Rhea maklum itu. Sejak itu Rhea selalu mencari-cari Maia untuk memberi tahu kebenaran, tapi Maia sudah berpindah tempat, hal ini karena ia ingin melupakan kenangan masa lalunya. Makanya ia hidup dengan dunianya, jadi dosen yang profesionalisme dan pemarah, ia benci cinta, karena cinta ia menentang orangtuanya, dan merasa pahitnya hidup, hal yang membuatnya sedih karena ia tidak pernah melihat wajah bayinya seperti apa. Rangga itu anaknya Rhea, lewat Rangga, Tuhan mempertemukan Maia dan Rhea, Maia dan kebenarannya, maka itu Maia dekat dengan Rangga. Sejak mengetahui hal itu Maia memang sering sakit-sakitan, tubuhnya kuat, tapi pikiran dan mentalnya terguncang. Papa mu gak sengaja aja tugas dikota yang sama dengan Maia, dan kami bisa berjumpa lagi. Dari kamu semester satu, mama sudah bertemu Maia, tapi mama sengaja menitipkan kamu dengan dia karena mama tugasnya jauh, dan dia sering kali laporan ke mama tentang kamu, nilai E kamu itu juga mama yang suruh, biar kamu mau belajar dan semangat. Waktu kamu pacaran sama Rangga, mama gak masalah, tapi Maia masalah karena dia gak mau kalau kamu diperdaya sama cinta, apalagi kamu gak minat belajar, Maia mau liat kamu punya masa depan. Dia gak punya anak makanya dia anggap kamu anaknya sendiri, sebenarnya dia sayang sama kamu karena kamu anak mama. Dan waktu Rangga kalah lomba dia marah karena dia mau Rangga punya masa depan jangan seperti ayahnya yang tidak bertanggung jawab. Maia itu baik sekali, dia tegar, sebenarnya sudah dua tahun ini dia menjalani perawatan, dia ada kanker hati dan jantung, tapi dia tidak pernah mengeluh memberi pelajaran. Lewat wajah galak dan marahnya sesungguhnya dia punya sakit dan masalah, tapi dia hebat. Sejak tiga bulan lalu Maia tidak mengajar kalian, ia bukan ke Perancis, tapi dia sedang kritis, dia koma. Sebelum dia koma dia menulis surat ini (menunjuk kertas ini), coba lihat tanggalnya, ini dibuat sesudah membuat soal ujian terakhir kalian darinya, ingat tidak? Waktu ujian dia tidak masuk dan kalian diawasi orang lain???. Ingat tidak tiga bulan lalu mama juga pulang ke Indonesia???? Itu terakhir mama ketemu dia, ketika itu mama mendengar cerita dia. Sejak Maia koma, bahkan bagai mayat hidup, orangtuanya sedih, kakaknya, keluarga dan keponakannya juga. Apalagi mereka tahu kalau Maia mendapat tekanan batin karena sikap awal mereka, hati orang tua Maia terpanggil. Maka dari itu Sang Kakek mulai mencari cucunya, dari panti asuhan tempat menitipkannya, peristiwanya sudah 25 tahun lalu, lagi pula anak itu sudah dioper 4 kali. Anak itu adalah Wily, Maia itu berasal dari keluarga kaya, jadi jejak Wily bisa ditemukan. Wily Kuliah di Bandung, di Kota tempat kita tinggal. Wily itu yatim, sejak kecil dia hidup sebatang kara, hidup dengan dunia yang keras, tapi ia sama pintar dengan kedua orang tuanya, ia anak baik, dan hebat. Wily kuliah sambil kerja, ia kerja ditempat papa kamu kerja, papa kamu ngerasa dekat dengan Wily gak Cuma karena ada rasa tapi juga karena dia anak yang baik, cerdas, dan rajin. Kalau mama di Belanda, papa itu sering makan bareng sama Wily, papa kamu itu setia, jadi mama gak khawatir. Walau gak jadi nikah sama Maia, tapi papa dan keluarganya tetap punya hubungan baik dengan keluarga Maia. Nyatanya waktu keluarga Maia cerita keberadaan anak yang masih hidup papa kamu mau untuk bantu cari, bahkan Wily juga ikut bantuin papa kamu, padahal dia cari dirinya sendiri. Sebelum tahu kalau dia itu anak Maia, Wily sempat temani papa kamu besuk Maia dirumah sakit, dia juga punya feel bahwa itu orang yang lahirin dia, tapi dia gak tahu kebenarannya, tapi setelah pencarian detail, data, dan sejarah hidup ternyata itu dia. Sejak tahu itu Wily jadi kesal, ia sempat menyesal jadi anak Maia, karena ia punya Ibu yang hebat, namun sejak kecil ia harus bertarung hidup di Jalan. Ia salah sangka ia benci ibunya, ia bahkan lebih benci, kakek, nenek, dan keluarga ibunya, apalagi setelah dia tahu Randy mati tragis, ia semakin marah. Wily gak ada masalah sama papa kamu, tapi karena papa kamu ada hubungan sama keluarga Maia, ia mengundurkan diri dari kerjaannya, bahkan kalau dicari ke kampusnya dia gak ada. Wily sepertinya tidak terima kenyataan, dia lebih memilih jadi Wily yang berjuang dijalan, dari pada dia tahu kalau dia cucu orang Kaya dan punya ibu yang terkenal tapi ia dibuang. Kemarin waktu adik belajar sepatu roda kamu ketemu Wily di Apotek, dan kertas itu kebawa adik. Itu karena papa kamu kasih tahu yang sebenarnya ke dia, ia baru tahu Maia gak salah, Randy gak salah, dan ia bisa terima kesalahan Kakek Neneknya, apalagi waktu itu kondisi Maia makin parah, yang buat Wily sadar Maia adalah ibunya, sadar bahwa Maia yang begitu tersiksa selama ini karena saat itu surat yang ditulis oleh Maia itu diberikan oleh papa kamu ke Wily, ia kemudian menyesal, dan berusaha agar Maia sembuh, maka dari itu ia gugup, panik ke apotek menebus obat, ia ingin berjasa buat ibunya, selama ini Wily tidak pernah merasa memberi bantuan kepada orang yang melahirkannya. Maka dari itu Wily mencurahkan semua perhatiannya untuk Maia. Tapi sayangnya Wily hanya bisa melakukan itu hanya dalam dua hari. Maia, tidak bisa berkata, ia bisu, koma, bagai Mayat Hidup, tapi semoga saja saat itu ia sadar kalau sebelum ia meninggal ia pernah melihat wajah tampan puteranya. Mama tidak mau jadi seperti orang tua Maia, mama sayang anak mama, tapi mama sudah gantiin posisi Maia untuk papa kamu, apakah kamu mau bantu mama membalasnya dengan gantiin posisi mama untuk Wily??? Mama rasa kamu suka dah sama cowok ganteng itu?? Hahaha………… “”*)(::>

Kamis, 02 Desember 2010

Merlina Menulis

PEMAHAMAN SEJARAH DALAM MENENTUKAN STATUS ISTIMEWA YOGYAKARTA ; SEBAGAI KAJIAN MENGENAI RESPON RAKYAT YOGYAKARTA TERHADAP ARGUMEN PRESIDEN TENTANG PEMERINTAHAN KESULTANAN YANG DIANGGAP MONARKI“

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mengawali bulan Desember 2010, elemen masyarakat Yogyakarta memunculkan reaksi atas pernyataan Presiden mengenai “sistem monarki tidak sesuai dengan semangat kepala daerah”. Berbagai lapisan masyarakat di Yogyakarta bahkan menginginkan referendum (jajak pendapat) mengenai penentuan gubernur dan wakilnya. Hal ini menunjukan kemauan dari rakyat Yogyakarta. (Tempo, 2010)
Adapun tindakan yang dilakukan masyarakat Yogyakarta ditanggapi oleh Patrialis, ia menyatakan memang ada keistimewaan-keistimewaan yang harus diberikan kepada Yogyakarta misalnya semua calon gubernur itu harus dari keraton. "Keistimewaan-keistimewaan ini harus diberikan. Adapun Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan isyarat pemerintah mengenai keistimewaan secara khusus. Keistimewaan ini juga tidak bertentangan dengan UUD 1945,"
Selain itu Laode juga mengemukakan, Sultan tidak perlu mencalonkan diri, tapi setiap calon gubernur DIY yang akan dipilih harus atas persetujuan Sultan. Namun ungkapan dari Presiden Republik Indonesia itu ternyata menimbulkan reaksi yang bukan saja dari rakyat Yogyakarta, tapi juga dari Sri Sultan yang sempat menyatakan akan menanggalkan jabatannya apabila sistem penatapan Gubernur DIY seperti sekarang ini menghambat Pemerintah. (Tempo, 2010).
Adanya fenomena mengenai status pemerintahan di Yogyakarta saat ini sangat menarik untuk dikaji terutama berdasarkan aspek sejarahnya. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membuat makalah yang berkaitan dengan hal tersebut. Pembahasan lebih lanjutya akan dibahas pada bab selanjutnya.




1.2 Identifikasi Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah maka materi yang dikaji akan difokuskan pada pembahasan mengenai aspek berikut :
1. Merumuskan keberadaan sultan yang sangat dihormati oleh rakyat di Yogyakarta?
2. Merumuskan sistem pemerintahan Keraton di Yogyakarta?

1.3 Tujuan
Pada pembuatan makalah ini, penulis memiliki maksud dan tujuan untuk menjawab identifikasi masalah di atas yang akan dikemukakan pada subbab. Adapun ruang lingkup pembahasan mencakup hal di bawah ini :
1. Bertujuan untuk menjelaskan posisi sultan dalam kehidupan masyarakat di Yogyakarta.
2. Bertujuan untuk memaparkan sistem pemerintahan Keraton yang ada di Yogyakarta.

1.4 Manfaat Penelitian
Pembuatan makalah ini tentunya memiliki manfaat praktis yang bisa digunakan sebagai berikut :
1. Untuk menambah wawasan mengenai posisi dan peran sultan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.
2. Untuk memberi pengetahuan mengenai sistem pemerintahan Keraton yang ada di Yogyakarta.
3. Dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk membahas lebih lanjut tentang posisi sultan dalam kehidupan rakyat Yogyakarta dan sistem pemerintahan yang ada di dalam Keraton Yogyakarta.





1.5 Metode Penelitian
Untuk mencari jawaban dari masalah diperlukan langkah penelitian atau prosedur yang sistematis (Webster, 1986 :1422). Dengan kata lain metode penelitian merupakan sarana untuk mencapai tuntutan yang telah dikemukakan dalam identifikasi masalah. Menurut Gottschalk, tahapan analisis disebut metode sejarah. (Herlina, 2008: 3). Metode sejarah merupakan proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peristiwa masa lampau. (Herlina, 2008: 2).
Keberadaan metode ini ditujukan untuk mengetahui keberadaan fakta didalam sejarah. Fakta merupakan bahan mentah bagi sejarah. (Gottschalk. 1975: 6). Fakta bisa diperoleh melalui sumber berupa data atau dokumen. Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan bobot ilmiah yang diungkapkan oleh Charles-Victor Langlois dan Charles Seignobos dari Universitas Sorbornne, Paris, mengatakan bahwa, “The historian work with documents….There is no substitute for documents: no documents, no history”. (Dienaputra, 2006: 6). Sehingga kepercayaan tidaklah sama sekali asing bagi sejarah. (Gottschalk. 1975: 6). Pada pembuatan makalah ini penulis melakukan empat tahapan yang terdapat di dalam metode, yaitu :
1. Heuristik ialah pengumpulan sumber. Sumber yang berhasil diperoleh penulis tidak hanya dikumpulkan tapi juga dihimpun. Hal ini berkaitan dengan peran heuristik sebagai salah satu tahapan dalam metode penelitian sejarah. Dalam kegiatan heuristik penulis menghimpun sumber yang diperoleh dari tinjauan kepustakaan seperti sumber buku yang memuat informasi mengenai Sri Sultan Hamengku Buwono, Keraton Yogyakarta, seta latar belakang terbentuknya Keraton dan Pemerintahan Lokal di Yogyakarta. Selain buku penulis juga menggunakan sumber koran dan artikel yang berkaitan dengan pembahasan tersebut.
2. Setelah melalui tahap Heuristik maka hasil penelitian harus melewati tahap Kritik atau verifikasi untuk meneliti keaslian dan keabsahan sumber. Verifikasi (kritik sejarah) ada 2 macam:
1) Kritik eksternal yang bertujuan untuk menentukan sejauh mana otentisitas (keaslian sumber).
2) Kritik internal yang bertujuan untuk menguji Kredibilitas sumber. Hal tersebut bertujuan untuk menjawab setiap pertanyaan apakah suatu sumber atau kesaksian dapat dipercaya atau tidak.
3. Interpretasi ialah sebuah penafsiran seseorang, beberapa orang atau lembaga. Di dalam penelitian sejarah, interpretasi sering disebut sebagai biang subyektifitas karena apabila seorang Sejarawan salah menafsirkan suatu data maka pengolahan hasil penelitian tidak akan mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. Interpretasi merupakan tahapan dalam metode penelitian sejarah yang berperan untuk menghidupkan kisah sejarah di dalam pembahasan. Pada pembuatan makalah ini penulis menuangkan hasil interpretasi pada hasil kesimpulan. Adapun hasil interpretasi diperoleh dari uraian sebelumnya dan sudah dipastikan berdasar pada data.
4. Historiografi ialah penulisan sejarah. Secara etimologis historiografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “historia” yang berarti “penyelidikan tentang gejala alam fisik” dan “grafien“ yang berarti “gambaran“, “lukisan“, “tulisan”. Di dalam studi sejarah, historiografi merupakan tahapan atau kegiatan menyampaikan hasil rekonstruksi imaginatif masa lampau. Dengan perkataan lain, tahapan historiografi itu ialah kegiatan penulisan. (Herlina, 2008: 16). Historiografi ini disebut sebagai tahap puncak dalam metode penelitian sejarah.
Dari keempat metode penulisan diatas maka penulis akhirnya mampu untuk menghasilkan makalah yang berjudul “ PEMAHAMAN SEJARAH DALAM MENENTUKAN STATUS ISTIMEWA YOGYAKARTA ; SEBAGAI KAJIAN MENGENAI RESPON RAKYAT YOGYAKARTA TERHADAP ARGUMEN PRESIDEN TENTANG PEMERINTAHAN KESULTANAN YANG DIANGGAP MONARKI” Untuk menghasilkan suatu karya yang bersifat ilmiah dalam penelitian atau penulisan sejarah maka keempat tahapan diatas haruslah dilaksanakan terlebih dahulu.








1.6 Organisasi Penulisan
Makalah ini dibuat sebagai syarat untuk mengikuti memberikan wawasan baru mengenai bidang Ilmu Sejarah. Pada pembuatan makalah ini terdapat sistematika penulisan seperti pada pembukaan makalah terdapat kata pengantar yang kemudian daftar isi. Selain itu makalah ini memuat tiga bab yaitu :
BAB I Menjelaskan tentang Latar Belakang, Identifikasi Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Organisasi penulisan.
BAB II Pada bab ini berisi pembahasan mengenai Kedudukan Sultan sebagai pemimpin lokal yang sangat dihormati oleh masyarakat Yogyakarta, selain itu terdapat pembahasan mengenai Keraton dan Sistem pemerintahan yang ada di dalamnya. Maka dari itu di dalam bab ii ini terdiri atas sub bab sebagai berikut :
2.1 Sultan Sebagai Kekuasaan Tradisional Tertinggi
2.2 Keistimewaan Sultan Sebagai Pemimpin
2.3 Keraton Sebagai Simbol Kepemimpinan Sultan
2.4 Pemerintahan yang ada di Keraton
Setelah konsep latar belakang pada Bab I dipaparkan, kemudian pada Bab II akan menguraikan isi pembahasan. Dari kedua Bab diatas maka akan diperoleh satu simpulan sebagai jawaban atas isi latar belakang dan identifikasi masalah yang dikemukakan terlebih dahulu.








BAB II
KESULTANAN YOGYAKARTA
2.5 Sultan Sebagai Kekuasaan Tradisional Tertinggi
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terletak di Jawa Tengah. Wilayahnya meliputi 3.100 km2 . wilayah ini dikatakan sebagai Daerah Istimewa karena pada awalnya merupakan wilayah yang memiliki pemerintahan sendiri pada masa Belanda dan Jepang.( Soemardjan, Selo. 2009: 7). Maka dari itu akhirnya kita mengenal adanya sosok sultan. Bagi orang Yogya perkataan sultan bukan hanya perkataan manusia biasa yang memiliki kekuasaan. Akan tetapi perintah sultan ialah hukum sehingga keinginannya adalah perintah bagi rakyatnya. (Soemardjan, Selo. 2009: 21).
Yang khas dari orang Jawa di Yogya ialah kepercayaan bahwa semua barang yang baik itu berasal dari sultan. Sultan menduduki puncak tertinggi di dalam struktur stratifikasi karena sultan ialah sentonodalem atau kaum bangsawan. Rakyat percaya bahwa kedudukan tinggi dan istimewa berasal dari pusat segenap kekuatan dan kekuasaan, yakni sultan. (Soemardjan, Selo. 2009: 22).
Rakyat Yogya tetap percaya bahwa di dalam Istana Kesultanan terdapat benda pusaka tertentu (tombak, keris, dan panji) yang mempunyai kekuatan magis. Hal ini karena pusaka merupakan bagian terpenting dari kekuasaan sultan. Sehingga lahirlah kepercayaan tanpa benda-benda tersebut, maka seorang sultan tak akan memperoleh kepercayaan dan kesetiaan rakyatnya. (Soemardjan, Selo. 2009: 19).
Kesultanan merupakan pemerintahan secara budaya. Berdasarkan sejarah, hal ini disebabkan oleh keberadaan keluarga raja dan bangsawan yang telah terikat dengan berbagai perjanjian mengakui kedaulatan dan kekuasaan Belanda meneruskan hidup mereka dengan terpisah dari rakyat banyak. Sultan-sultan itu lah yang kemudian akan kita kenal dengan Hamengku Buwono I dan berikutnya. Salah satu contohnya ialah keberadaan keberadaan Hamengku Buwono IX dilahirkan dan menjadi dewasa dalam dunia Keraton yang tidak melibatkan dirinya ke dalam gerakan kebangsaan yang menentang Belanda. (Mochtar Lubis, 1982:xi).
Dalam hal ini Hamengku Bowono IX yang disebutkan karena tokoh ini memiliki peran dalam sejarah Indonesia, khususnya pada awal kemerdekaan. Selain itu, menurut Soeharto, Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah salah seorang pemimpin bangsa yang sangat besar peranannya dalam perjuangan kemerdekaan. Keterlibatan beliau dalam kepemimpinan perjuangan bangsa Indonesia sangat besar pengaruhnya, baik bagi rakyat Indonesia yang sedang berjuang maupun bagi penjajah yang ingin kembali berkuasa ke Tanah Air kita pada waktu itu. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :1).
Pendapat lain mengenai Hamengku Buwono IX, berasal dari Adam Malik, selama ia bermukim di Yogya, ia melihat sendiri bahwa sultan memiliki jiwa nasionalisme serta patriotisme yang mendalam. Selain itu terlihat betapa besar kecintaan rakyat kepada sultan (pada waktu itu masa Sultan Hamengkubuwono IX). Sehingga dapat disimpulkan bahwa sultan adalah raja yang benar-benar demokratis, yang dapat dijadikan sahabat yang setia dalam perjuangan. Sejak tahun 1945 dan seterusnya tampak sekali bahwa perjuangan dan pengorbanannya adalah untuk membantu kelangsungan hidup Republik Indonesia. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :8).
Dalam konsep Jawa : sultan ialah seorang yang dianugrahi kerajaan dengan kekuasaan politik, militer, dan keagamaan yang absoulut. (Soemardjan, Selo. 2009: 18). Sehingga Sultan sebagai pemilik kekuasaan tradisional merupakan pewaris tradisi, sosok ini tak melenyapkan kepercayaan rakyatnya pada sesuatu yang berbau mistis, misalnya saja legenda Nyi Roro Kidul, Penguasa Segara Selatan yang sudah menjadi tradisi masyarakat setempat. (Tempo. 1988:29).

2.2 Keistimewaan Sultan Sebagai Pemimpin
Setelah adanya perjanjian Gianti pada 13 Februari 1755, maka wilayah kekuasaan Mataram dibagi atas dua kerajaan, yakni Surakarta yang diperintah oleh susuhunan dan Yogyakarta yang diperintah oleh Pangeran Mangkubumi. (Soemardjan, Selo. 2009: 13). Selain itu, telah diketahui bahwa Raja-raja atau kaum bangsawan pribumi yang mengakui kedaulatan kekuasaan penjajah Belanda mendapat imbangan dengan dikukuhkan dalam kedudukan mereka sebagai raja atau sultan, atau sebagai penguasa pada kedudukan khusus. (Mochtar Lubis, 1982:x). Sehingga Berdasarkan surat perjanjian antara Pemerintah Hindia Belanda dan Kesultanan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940, telah mencapai kesepakatan sebagai berikut:
Tentang Kesultanan
Pasal 1
1) Kesultanan merupakan bagian dari wilayah Hindia Belanda dan karenanya berada di bawah kedaulatan Sri Baginda Ratu Belanda yang diwakili oleh Gubernur Jenderal.
2) Kekuasaan atas Kesultanan diselenggarakan oleh seorang Sultan yang diangkat oleh Gubernur Jenderal.
Pasal 2
Kesultanan merupakan sebuah badan hukum yang diwakili oleh sebuah badan hukum yang diwakili oleh Sultan, oleh Pepatih Dalem (Rijsbestuurders) atau oleh yang ditunjuk olehnya.
Pasal 3
1) Kesultanan meliputi wilayah yang batas-batasnya telah diketahui oleh kedua belah pihak yang menandatangani surat perjanjian ini.
2) Kesultanan tidak meliputi daerah laut.
3) Dalam hal timbul perselisihan tentang batas-batas wilayah, maka keputusan ada di tangan Gubernur Jenderal.
Sehingga kedudukan sultan tidak hanya secara kultural kokoh, tapi juga mempunyai tempat dipuncak struktur masyarakat. Sehingga lahirlah aturan bahwa raja Jawa, termasuk sultan harus merupakan keturunan langsung dari para raja yang memerintah sebelumnya.
Apabila dilihat dari kedudukan sultan yang sentral dalam Kerajaan Yogyakarta, baik secara sosial maupun kultural, maka pemerintahan kerajaan diatur secara terpusat dengan sifat yang otokratis. Situasi seperti ini menunjukan kepribadian yang teguh serta kekuatan-kekuatan tradisional Sri Sultan yang berfungsi sepenuhnya. (Soemardjan, Selo. 2009: 114).
Adapun contoh dari simbol itu misalnya pada waktu upacara jumenengan. Ketika itu rakyat bisa melihat pemimpin sebagai orang yang selalu bertindak benar, berbicara benar, dan berbuat benar. Dari hal-hal tersebut sangat terlihat bahwa kedudukan sultan secara lokal di Yogyakarta memiliki kedaulatan yang istimewa bagi rakyatnya.

2.3 Keraton Sebagai Simbol Kepemimpinan Sultan

Keraton ialah sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, falsafah, dan kebudayaan. Keraton Yogyakarta dibangun pada tahun 1756 atau tahun Jawa 1682, diperingati dengan lambang berupa dua ekor naga berlilitan satu sama lain. Dalam bahasa Jawa : Dwi (2) Naga (8) Rasa (6) Tunggal (1), dibaca dari belakang menjadi 1682. Arsitek dari Keraton ini ialah Sultan Hamengku Buwono I, yang terkenal sebagai perwira perang yang perkasa, sekaligus juga seorang pemuka kebatinan. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :114-115).
Selain itu, Keraton bisa disebut sebagai lingkungan yang terdekat dengan sultan, yakni lingkaran pertama atau lingkaran dalam dari kerajaan. (Soemardjan, Selo. 2009: 25). Adapun lingkaran ini disebut nagaragung atau nagara agung yang berarti “ibukota besar”. (Soemardjan, Selo. 2009: 27). Selain itu keberadaan Keraton turut membantu dalam melestarikan asset budaya. (Tempo, 1991:56). Pada Keraton terdapat alun-alun. Dalam hal ini sultan ingin mengajak masyarakatnya untuk mengenang tradisi masa lalu yaitu pepe “ yaitu rakyat yang berjemur di alun-alun untuk menyampaikan protes kepada raja”. (Tempo, 1988:30).
Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah berpendapat bahwa Keraton telah berubah karena sudah bukan lagi pusat kekuasaan, akan tetapi Keraton masih punya simbol-simbol filosofis budaya Jawa yang ikut mewarnai perilaku masyarakat Jawa. Dalam arti lain Keraton dianggap memiliki aspek kultural. (Tempo, 1991:56). Dalam tata krama kerabat atau tamu Keraton harus menggunakan pakaian yang sejak dulu sudah menjadi tradisi. Di dalam Keraton suasana berbeda juga tampak karena pada kantor-kantor semuanya duduk diatas tikar. Sedangkan bahasa yang digunakan oleh pegawai Keraton ialah Bahasa Jawa bagongan sebagai bahasa yang sangat demokratis. Disamping itu petugas pintu gerbang Keraton tetap patuh dan disiplin. Masalah gaki tidak menjadi persoalan pokok bagi pegawai Keraton Yogyakarta. Yang terpenting, para pegawai Istana bisa melaksanakan tugasnya dengan baik karena mampu mempunyai kesadaran untuk ikut bertanggung jawab menjaga wibawa dan keselamatan Keraton, termasuk pula rajanya. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :268).
Saat ini, Rakyat Yogyakarta bukan lagi rakyat kerajaan. Hal ini karena Yogyakarta merupakan bagian dari RI, sehingga statusnya berubah menjadi warga negara. Akan tetapi, keberadaan Keraton pada masa pemerintahan republik telah menunjukan bahwa kekuasaan lokal masih Berjaya di wilayah Jawa Tengah bagian selatan tersebut. Pada zaman Republik, seorang raja lebih mirip dengan presiden direktur yang mesti berusaha dan berekreasi. Untuk menunjang kehidupan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah mendirikan Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) dan PT Punakawan. Selain itu Keraton memiliki lebih dari sepuluh usaha, misalnya pabrik gula Madukismo yang menjadi salah satu sumber dana dari Keraton. (Tempo, 1991:61). Dengan demikian maka Keraton Yogyakarta dapat dikatakan mandiri, dan kemandirian ini yang menyebabkan Keraton Yogya masih punya pamor dan wibawa meskipun kekuasaan riil Keraton terhadap rakyat Yogyakarta sudah ada bukti. (Tempo, 1991:61)
2.4 Pemerintahan yang ada di Keraton

Kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Sukarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 mendorong Hamengku Buwono IX tanpa ragu-ragu menjatuhkan pilihannya pada Republik Indonesia. Keputusan ini merupakan langkah yang besar bagi dirinya sendiri, rakyat Yogyakarta, dan seluruh bangsa Indonesia. (Mochtar Lubis, 1982:xii).
Pada Januari 1946 Pemerintahan Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta yang dinilai aman dalam meneruskan perjuangan. Lambat-laun, Yogyakarta menjadi pusat kegiatan perjuangan Republik yang berkembang dengan bebas, berkat sikap Sri Sultan maka Yogyakarta memperoleh nama sebagai sumber perlawanan terhadap Belanda. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :39).
Pada 19 Desember 1948 Belanda menyerang Yogyakarta, akan tetapi kekuasaan pendudukan mereka terbatas. Kemudian pada tanggal 29 Desember Belanda melakukan serangan yang lebih besar lagi. Hal ini mendapat respons dari pasukan Republik yang berhasil mencapai pusat kota pada tanggal 9 Januari setelah melakukan pertempuran selama dua jam. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :155).Kemenangan RI ditandai dengan serangan 1 Maret 1949 dibawah pimpinan Letkol Soeharto yang berhasil mengambil alih Yogyakarta melalui penguasaan selama enam jam. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :155).
Pada tanggal 24 Juni 1949 tercapai persetujuan pengosongan Yogyakarta oleh Belanda. Selanjutnya, pada tanggal 30 Juni serdadu Belanda ditarik mudur di wilayah Yogyakarta yang kemudial dipikul oleh sultan. Selanjutnya kebahagiaan rakyat Yogya bersatu dengan RI terlihat pada tanggal 6 Juli 1949. Pada saat itu rakyat Yogya meneriakkan “Merdeka” dan melambai-lambaikan bendera Merah-Putih, mengelu-elukan Sukarno yang kemudian berpidato untuk ribuan rakyat. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :158).
Serangan Umum 1 Maret 1949 berhasil membuat RI dapat menduduki Yogya selama enam jam “ enam jam di Yogya. Hal ini membuktikan bahwa Belanda tak dapat memelihara keamanan di daerah yang mereka duduki. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :80-81). Selanjutnya Yogyakarta menjadi bagian dari Indonesia dengan diperkenankan memiliki pemerintahan lokal. Selanjutnya, nama dari Yogyakarta kemudian menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama ini sebenarnya pertama kali pada Agustus 1942 dalam pengakuan tertulis kepada Susuhunan Surakarta dan Sultan Yogyakarta oleh komandan angkatan perang Jepang di jawa. (Soemardjan, Selo. 2009: 16).
Pada tahun 1977 dilakukan pemilihan Wakil Presiden yang kedua kalinya pada masa Orde Baru, namun sultan tidak mau untuk dipilih lagi karena sultan sangat memegang “Sabda Pandita Ratu”, yaitu sekali diikrarkan tidak akan dicabut lagi. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :10). Setelah Indonesia merdeka, Yogyakarta juga ikut mengadakan pemilihan umum pertama yang ditujukan untuk memilih dewan legislatif pada tahun 1951, pemilihan umum berikutnya pada tahun 1955 untuk memilih anggotan DPR Pusat dan Konstituante. Sehingga pada tahun 1957 Daerah Istimewa dan kabupaten-kabupaten diadakan pemilihan secara langsung. (Soemardjan, Selo. 2009: 115).
Pemerintahan yang ada di Keraton, memposisikan sultan sebagai raja Yogyakarta. Dalam hal ini sultan berperan sebagai kepala pemerintahan secara simbolik. "Idealnya sultan diposisikan di tempat yang sangat mulia, seperti kepala pemerintahan di Inggris, Belanda, Spanyol, dan Malaysia. Dalam hal ini, pemerintahan di Keraton dengan menunjuk sultan sebagai pemimpin merupakan pemerintahan yang bisa dikatakan monarki. Akan tetapi dalam hal ini monarki yang dimaksud adalah monarki budaya, bukan monarki yang bersifat politis. Sultan menjadi raja di Yogyakarta adalah tuntutan budaya keraton bukan karena ambisi kekuasaan. Sehingga sikap dan pembawaan sultan menunjukan integritas pribadi yang sangat dihormati dan tidak berubah. Selaku pewaris feodalisme Jawa, sultan memiliki kesederhanaan hidup sebagai pejabat pemerintahan, warga negara biasa dan sebagai pejuang merupakan inti dari pribadinya. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :262).
Dalam menjalankan tugasnya, Sultan dibantu oleh seorang Paku Alam. Dalam hal ini, Pemerintahan Kadipaten Paku Alam lahir pada 13 Maret 1813. Pada waktu itu yang diangkat menjadi Paku Alam I ialah BP Notokusumo, Putra Sultan Hamengku Buwono I, dan gelarnya adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam. (Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis, 1982 :116). Begitulah kiranya pemerintahan tradisional yang berada di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta.

Simpulan
Kisruh yang terjadi antara pemerintah dan masyarakat Yogyakarta dalam hal pemerintahan Kesultanan yang ada merupakan suatu gambaran mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak memahami pengertian politik sebenarnya.
Selain itu, adanya fenomena ini menunjukan bahwa banyak orang telah melupakan keberadaan sejarah yang justru berperan penting bagi kehidupan manusia sebagai aktor sentral dalam panggung kehidupan. Dalam hal membicarakan mengenai status keistimewaan Yogyakarta, maka akan menuntut kita untuk melihat kebelakang dan kedepan. Sehingga kita mampu untuk membedakan antara jabatan politis dan jabatan budaya, Gubernur adalah politis, namun Sultan adalah jabatan budaya yang tidak bisa dirubah.
Berdasarkan isi pembahasan, maka dapat ditarik simpulan bahwa Meski menganut sistem pengawasan pemerintahan daerah yang berbasis kerajaan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap menjalankan demokrasi. Sultan yang berperan sebagai penguasa tertinggi di Yogyakarta tentunya juga diawasi oleh lembaga legislatif daerah dalam menentukan kebijakannya. Contohnya saja "Selama ini kepala daerah (Sultan Hamengkubuwono IX) dipilih DPRD. Ini menunjukkan bahwa pemerintahan yang berlangsung di Yogyakarta masih dalam koridor demokratis tidak pernah ditetapkan langsung.
Daerah Istimewa Yogyakarta bukanlah suatu sistem yang monarki, wilayah ini hanyalah sebuah Provinsi DIY. "Yang membedakan adalah tata cara penetapan kepala daerah. Berdasarkan ilmu politik, monarki terdiri atas dua jenis. Pertama, monarki absolut yang tidak sejalan dengan demokrasi. Kedua, monarki konstitusional yang sejalan dengan demokrasi




DAFTAR SUMBER

Daftar Pustaka
Presentasi Majalah Tempo. 1988. Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta : Grafiti Pers.
Roem, Mohamad dan Mochtar Lubis (dkk). 1982. Tahta Untuk Rakyat; Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta : Gramedia.
Soemardjan, Selo. 2009. Perubahan Sosial Di Yogyakarta. Jakarta. Komunitas Bambu.
Koran
Kompas, Desember 2010
Tempo, 1991
Tempo, 1 Desember 2010

Rabu, 01 Desember 2010

Seputar Sejarah

Nama : Merlina Agustina Orllanda
Npm : 180310080026/ Ilmu Sejarah


1. Omar Dani
Keinginan Soekarno untuk membalas serangan Belanda dalam upaya pembebasan Irian Barat mendorong dilantiknya Omar Dani sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU). Adapun alasan lainnya berkaitan dengan peremajaan AURI (saat itu Omar Dani berusia 38 tahun). Ketika itu ia menggantikan jabatan Suryadarma yang dijadikan penasihat militer Presiden. (Anwar, 2004 :114). Sebelum menjadi Kepala Staf Angkatan Udara Omar Dani bekerja sebagai penyiar bahasa Inggris di Kemetrian Penerangan dan RRI Jakarta sejak tahun 1946-1847.
Pernyataan diatas didukung pula oleh pendapat Ricklefs, Omar Dhani adalah Kepala Staf TNI Angkatan Udara (1962-1965). Ia menggantikan Jabatan Staf Angkatan Laksamana Udara Surjadi Suryadarma pada tahun 1962 yang dianggap tidak berhasil memberikan bantuan kekuatan udara yang cukup memadai. Sehingga Sukarno mengantikannya dengan Marsekal Madya Udara Omar Dhani, yang pada mulanya dipandang tidak begitu dekat dengan Presiden. (2008: 561).
Pada bulan Mei 1964, Marsekal Udara Omar Dhani mendapat tugas untuk memimpin Komando Siaga (Koga) konfrontasi Indonesia-Malaysia. Atas perintah Sukarno, Omar Dhani pergi ke Cina pada tanggal 16 dan 19 September. Omar Dhani diutus untuk membicarakan mengenai senjata-senjata yang ditawarkan oleh Cina. Padahal saat itu Nasution merupakan Menteri Pertahanan.
Omar Dhani merupakan Sukarnois sejati, namun ia dicurigai sebagai bagian dari perwira-perwira angkatan Udara yang terlibat dalam gerakan G30 September. (Sundhaussen, 1986:349). Adanya Tentara-tentara tokoh (PKI) yang bertugas memimpin pemuda-pemuda komunis yang dilatih dipangkalan udara Halim memperkuat dugaan keterlibatannya dengan pemberontakan G30S/PKI. (Sundhaussen, 1986:350). Apalagi saat itu Landasan Halim Perdana Kusuma dijadi yang dijadikan sebagai tempat latihan gerwani onderbow PKI berada di bawah wewenangnya. Pada tanggal 30 September ,malam hari, satu battalion pengawal istana yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung (sebelumnya dari Divisi Diponegoro), satu batalion dari Divisi Diponegoro, satu battalion dari Divisi Brawijaya, dan orang-orang sipil dari pemuda rakyat PKI meninggalkan pangkalan udara Halim. Hal ini semakin dipertegas dengan adanya Dewan Revolusi yang dipimpin oleh Kolonel untung dengan jumlah anggota dewan 45 orang, yang 22 diantaranya adalah perwira dan salah satunya adalah Omar Dhani. (Sundhaussen, 1986:346). Sehingga dapat disimpulkan bahwa PKI mendapat dukungan dari Omar Dhani yang telah memberikan pangkalan udara Halim sebagai markas besar mereka dan dia pada saat itu Omar Dani juga hadir disana (Ricklefs,2008: 582). Walaupun ketika dimintai pertanggungjawaban oleh Soeharto, 1965 Omar Dhani pada tanggal 2 Oktober menyatakan bahwa Angkatan Udara sama sekali tidak terlibat dalam gerakan 30 September, dan tidak tahu menahu mengenai Dewan Revolusi. (Sundhaussen, 1986:375). Untuk menghindari tekanan Soeharto, pada pertengahan Soekarno menugaskan Omar Dhani keluar negeri agar ia jauh dari Soeharto. Hal tersebut tetap tidak dapat menyembunyikan kebenaran, bahwa Panglima AURI tersebut terlibat dalam kudeta Untung, sehingga Omar Dhani diberhentikan dengan hormat dari jabatannya pada tanggal 24 November, kemudian jabatannya digantikan pula oleh seorang Sukarnois yang bernama Marsekal Madya Sri Muljono. (Sundhaussen, 1986:388). Dengan adanya berbagai kesaksian dalam beberapa pemeriksaan pengadilan oleh Mahmillub Subandrio dan Omar Dhani divonis berturut-turut pada Oktober dan Desember 1966 dan dianggap sebagai orang-orang yang harus dibersihkan pada masa Orde Baru.

2. Soebandrio
Dr Soebandrio merupakan mantan Waperdam (Sulastomo, 1989:100), yang dikenal rakyat sebagai ketua BPI (Badan Pusat Intelejen) memperoleh gelar sebagai durno. (Sulastomo. 1989:51). Dalam menelusuri perjalanan karirnya, maka Subandrio dikenal sebagai tokoh politik yang pernah disebut-sebut sebagai orang kedua Republik Indonesia pada zaman Pra Orde Baru (Ensiklopedi Indonesia, edisi khusus 6). Subandrio pernah menempuh pendidikan GHS (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta dan menjadi anggota PSI (Partai Sosialis Indonesia). Setelah menjabat sebagai Sekjen Kementrian Penerangan, kemudian dia diangkat sebagai Kepala Perwakilan RI di Inggris (1947), duta besar Republik Indonesia di Inggris (1947). Sekembalinya ke Indonesia, ia pun menjadi anggota PNI (Partai Nasional Indonesia). Pada tanggal 9 Juli diumumkan suatu kabinet baru bernama “Kabinet Kerja” dengan Soekarno sebagai perdana mentri dan Djuanda sebagai “mentri utama”. Sementara Leiman, Chairul Saleh dan Subandrio tetap berada dalam inti kabinet, Idlim Chalid tidak masuk, tetapi tokoh NU lainnya menjadi mentri agama. Sukarno menjadikan Subandrio Menteri. Ketika Sukarno hendak melakukan reshuffle kabinet, maka nama Subandrio dijadikan sebagai kandidat untuk menggantikan Menteri Djuanda yang saat itu keluar dari kabinet. Subandrio juga mendukung Soekarno untuk menganjurkan suatu sistem kepartaian nasakom. (Sundhaussen, 1986:314). Selain itu untuk memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi, Sukarno juga menunjuk Subandrio. (Anwar, 2004 :171).
Peran Subandrio dalam kegiatan ekonomi terwujud lewat nota ekonomi “ Manifes Ekonomi” yang program kerjanya berbentuk makalah, adapun Manifes Ekonomi yang disebut Sukarno sebagai “Deklarasi Ekonomi”, yakni :
1. Perlunya lebih mengakui kedudukan dan peranan swasta dalam rangka kegiatan ekonomi Indonesia.
2. Perlu adanya debirokratisasi.
3. Perlu adanya desentralisasi dalam manajemen. (Anwar, 2004 :232).
New York Time pernah menulis karangan tentang Subandrio yang berjudul “Valuable Indonesian” Orang Indonesia yang fasih bicara” atau “rad van tong” (dalam bahasa Belanda). Hal ini berkaitan dengan lidah Subandrio yang berhasil membuatnya mencapai kedudukan tinggi di angkasa yakni menjadi Laksamana Muda Udara. (Anwar, 2004 :101). Menlu Subandrio pernah menjadi anggota Staf Operasi Komando Pembebasan Irian Barat dengan diberi pangkat Laksamana Muda Udara (tituler). (Anwar, 2004 :101).
Selain itu, Subandrio juga pernah mengeluarkan pendapatnya mengenai konspirasi antara tokoh oposisi seperti Sjahrir, Hatta, dan Roem tatkala mereka menghadiri upacara pembakaran mayat (Palembon) ayah Anak Agung Gde Agung di Gianyar. Dengan adanya alasan ini ditujukan untuk menahan Sjahrir dan kawan-kawan. (Anwar, 2004 :106).
Pada bulan Juli 1960, PKI melancarkan kecaman-kecaman terhadap kabinet, terutama Subandrio yang dituduh telah menghina Cina dan terhadap pihak tentara yang masih belum menumpas habis kaum pemberontak PRRI. Akan tetapi, hubungan dengan pihak pemberontak Brunai segera dimonopoli oleh Badan Pusat Intelijen Indonesia yang dipimpin oleh Subandrio (Ricklefs,2008: 565). Hal ini diperkuat oleh kesaksian Tentara-tentara tokoh (PKI) yang bertugas memimpin pemuda-pemuda komunis yang dilatih dipangkalan udara Halim, mengatakan bahwa pada 19 Februari 1966 bahwa keyakinannya sendiri mengenai adanya Dewan Jenderal itu didasari atas informasi yang diperoleh dari BPI, Organisasi Intel yang dipimpin Subandrio, dari sumber-sumber intel Angkatan Darat, dan dari pihak kejaksaan. (Sundhaussen, 1986:350).
Adanya persekutuan Jakarta Beijing yang diresmikan pada bulan Januari 1965; ketika Indonesia resmi keluar dari dari PBB setelah Malaysia diberi kedudukan sebagai anggota tidak tetap. Pada saat itu, Subandrio mengadakan kunjungan ke Cina untuk memperkokoh persahabatan. Sebagai mentri Luar Negeri dan wakil perdana mentri (1957-1966), Ia menganjurkan “poros Jakarta Pnompenh- Hanoi- Peking- Pyongyang”, yang dijadikan pola politik luar negeri saat itu (Ensiklopedi Indonesia, edisi khusus 6).
Subandrio dianggap sebagai tokoh yang terlibat pristiwa G30S/ PKI dan meninggalnya Djuanda November 1963. Karena tidak ada lagi moderat yang disegani dalam kabinet, maka tiga serangkai, Subandrio, Chairul Saleh, Leimena mengambil alih kepemimpinan. Subandrio memimpin kekuasaan secara dominan, kemudian ia bersekutu dengan PKI. Dan derdasarkan isi Dekrit No I, mengenai pembentukan Dewan Revolusi Indonesia (Dr Subandrio memimpin). (Sulastomo. 1989:36).
Subandrio ingin memantapkan kedudukannya sebagai pengganti Soekarno. Pada tanggal 26 Mei Subandrio memperlihatkan sebuah dokumen kepada Soekarno yang kemudian dikenal dengan “Surat Gilchrist”. Adapun dokumen ini merupakan konsep telegram yang ditulis oleh Duta Besar Inggris Gilchrist kepada Kementerian Luar Negeri di London. Isinya menyiratkan semasam “operasi” sedang direncanakan oleh Dubes Inggris dan Dubes Amerika. Dari dokumen itu menjelaskan bahwa dari tentara setempat juga ikut terlibat didalamnya. Diketahui bahwa pada tahun 1963 gedung Kedutaan Luar Negeri diobrak abrik oleh Demonstran Komunis , sehingga alat-alat tulis itu jatuh ketangan tangan orang Komunis, dan sampai akhirnya dipungut oleh agen agen BPI dan jatuhlah ke tangan Subandrio yang cinta kekuasaan.
Soekarno menafsir Gilchrist : bahwa nekolim merencanakan membunuh dia, Subandrio, dan Yangi. Apabila rencana gagal, maka akan menyerang Indonesia, dengan bantuan kaki tangan setempat. (Sundhaussen, 1986:353). Maka dari itu Sukarno memanggil semua Angkatan ke Istana seperti : Ahmad Yani, Panglima Angkatan Laut Martadinata, Kepala Kepolisian Sutjipto, Sri Muljono sebagai wakili Omar Dhani yang sedang berada di Cina, dan Subandrio. Pertemuan di Istana tersebut ditujukan untuk mencari jawaban mengenai keterlibatan tentara dalam negeri. (Sundhaussen, 1986:352).
Saat itu Ahmad Yani menyatakan, bahwa memang ada sebuah badan yang merupakan Dewan Jabatan dan Pangkatan Perwira Tertinggi (Wanjabti) dan fungsinya semata. Namun hal demikian hanya semata untuk bermusyawarah untuk membahas mengenai kenaikan pangkat dan penugasan para Jenderal dan Kolonel. (Sundhaussen, 1986:352).
Subandrio berpendapat bahwa terdapat hubungan BPS daan Partai Murba dengan CIA. (Sundhaussen, 1986:359). Maka dari itu pertemuan di Istana tersebut diberitahukan Subandrio kepada pihak PKI, ia menyatakan dihadapan anggota PKI bahwa Sukarno sudah mempunyai bahan bukti tentang adanya sutau gerakan “Kontra Revolusi”. Adapun tujuan Subandrio untuk mendapatkan kekuasaan dan membuat perpecahan dikalangan pemerintahan. Sehingga kebencian datang dari pimpinan-pimpinan PKI terhadapnya.
Dengan kekuasaan Supersemar yang diperoleh, Soeharto dan pendukungnya kini menghancurkan sisa-sisa demokrasi terpimpin dihadapan Sukarno. Pada 12 Maret, PKI dan semua organisasi masanya dilarang. Pada 10 januari 1966, mahasiswa melakukan aksi demonstrasi yang dimotori oleh KAMI dengan mengajukan tiga tuntutan rakyat (TRITURA).
1. Bubarkan PKI.
2. Turunkan harga/ perbaiki ekonomi.
3. Retool Kabinet Dwikora.
Krisis nasional tidak dapat diatasi, tuntutan mahasiswa terhadap PKI tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah pada masa itu, sehingga aksi dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dilanjutkan oleh KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) yang pada masa itu mengobrak-abrik Departemen Luar Negeri sebagai tempat kedudukan Menteri Subandrio. (Notosusanto, Nugroho, 1984:128).
Pada tanggal 18 Maret, Subandrio, Chairul Saleh Iman Syafei dan sebelas menteri kabinet lainnya ditahan, salah satu anggota kabinet yang menjadi sasaran tentara, Surachman, lolos tapi akhirnya terbunuh di Blitar Selatan pada 1968. (Ricklefs,2008: 598). Kesaksian dalam beberapa pemeriksaan pengadilan oleh Mahmillub menuduh Sukarno terlibat dalam usaha kudeta 1965. Sementara itu, Subandrio dan Omar Dhani divonis mati berturut-turut pada Oktober dan Desember 1966 (Ricklefs,2008: 604). Namun, setelah itu, bersama Soebandrio ia mendapat grasi yang dikeluarkan pada 2 Juni 1995 dan dapat menghirup udara bebas pada 15 Agustus 1995. Atau dengan bahasa lainnya, pada masa Pemerintahan Soehartoia diadili atas tuduhan tidak loyal dan dinyatakan bersalah. (Sundhaussen, 1986:93).
3. PRRI/Permesta
Pemerintahan Sukarno dengan berbagai kabinet yang dibentuk ternyata tidak mampu membendung adanya berbagai pergolakan. Pergolakan di berbagai daerah untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat, misal timbul PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera Barat dan Permesta di Sulawesi Utara. (Sulastomo. 1989:111). Bagi Sukarno goncangan demikian ditujukan untuk mengorganisasikan huru hara agar persahabatan Cina dan Indonesia rusak, selain itu Sukarno menyadari ketidakstabilan yang ada bertujuan untuk menggulingkan kedudukannya. (Sundhaussen, 1986:314).
PRRI/ Permesta adalah pemberontakan yang melibatkan kelompok militer. (Sulastomo. 1989:106). Adapun lahirnya pemberontakan ini diawali dengan reuni bekas anggota Divisi Banteng di Padang pada Nopember 1956. Dengan demikian lahirlah Dewan Benteng yang bertujuan untuk melaksanakan Pembangunan Daerah. Selanjutnya pada tanggal 20 Desember ketua “Dewan Benteng” Komandan Resimen Infanteri 4 Tentara dan Teritorium I/Bukit Barisan, Letnan Kolonel Achmad Husein mengambil alih pemerintahan Sumatera Tengah dari tangan Gubernur Ruslan Muljoharjo.Hal serupa dilakukan oleh Simbolon di Medan, dan pada 15-17 Januari 1957 dibentuk “Dewan Revolusi Garuda” di Sumatera Selatan. Kemudian diikuti dengan berdirinya Dewan Hasanuddin di Ujung Pandang, Dewan Cendrawasih di Ambon, dan Dewan Manguni di Manado.
Pada 2 Maret 1957 di Sulawesi dewan-dewan ini memproklamasikan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Dengan pembentukan dewan-dewan seperti Dewan Benteng, Dewan Gajah, Dewan Manguni dan pengambilan kekuasaan setempat demikianlah yang menimbulkan pemberontakan PRRI dan Permesta. (Kartasasmita, dkk.1995). Pemberontakan yang terjadi ditengah-tengah pergolakan politik ibukota, ketidakstabilaan pemerintahan, masalah korupsi, serta perdebatan-perdebatan konstituante dan pertentangan rakyat dalam menghadapi Konsepsi Presiden. (Kartasasmita, dkk.1995).
Pada 4 dan 9 Februari 1958 diadakan pertemuan antara perutusan dewan-dewan se Indonesia (Sumatera dan Sulawesi) yang ditujukan untuk mencari jalan keluar dari keadaan sulit yang dihadapi negara, bahkan membicarakan juga mengenai pembentukan pemerintah baru. Pada perkembangannya terjadi pertentangan yang melahirkan tiga golongan yaitu : golongan yang mendukung Kolonel Ahmad Husein, golongan yang menentang kebijaksanaan ketua Dewan Benteng, dan golongan yang bermaksud melakukan koreksi terhadap cara perjuangan yang selama ini ditempuh oleh dewan; golongan ini dipimpin oleh Komisaris Besar Polisi Kaharudin Datuk Rangkayo Basa dan Mayor Nur Matias (Komandan Batalyon 140). (Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Indonesia, 2000: 120,121,122).
Perjuangan Dewan Daerah ini mendapat dukungan dari Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia). Pada 9 Januari 1958 diadakan pertemuan di Sungai Daerah Sumatera Barat, pertemuan ini dihadiri oleh Letnan Kolonel Achmad Husein, Letnan Kolonel Sumual, Kolonel Simbolon, Kolonel Dahlan Djambek, dan Kolonel Zulkifli Lubis, selain itu dari pihak sipil hadir : M. Natsir, Sjarif Usman, Sjafruddin Prawiranegara, dan Burhanudin Harahap. Pertemuan itu bertujuan untuk pembentukan pemerintah baru. (Kartasasmita, dkk.1995).
Pada 10 Februari 1958 Dewan Benteng mengeluarkan ultimatum.
• Dalam waktu 5x24 jam Kabinet Djuanda harus menyerahkan mandatnya kepada presiden dan pejabat presiden.
• Presiden atau pejabat presiden memberikan tugas kepada Drs. Moh.Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk zaken kabinet dari tokoh-tokoh yang jujur, berwibawa dan cakap, dan bebas dari anasir anti-Tuhan.
• Meminta kepada Moh.Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk bersedia menolong negara.
Ultimatum tersebut ditolak pemerintah karena dianggap melanggar wewenang dan mengambil tindakan terhadap perwiran yang terlibat. KSAD memecat Kolonel Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dahlan Djambek, Letnan Kolonel A. Husein, dan Letnan Kolonel Sumual. Jenderal Mayor A.H Nasution membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST) dan menempatkan seluruh dinas dan jawatan langsung di bawah KSAD. (Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Indonesia, 2000: 120,121,122). Dengan penolakan dari pemerintah tersebut maka meletuslah PRRI yang kemudian diikuti oleh Permesta.

PRRI
Sebab pembentukan PRRI karena ketidakpuasan pemerintah daerah terhadap pusat. Kekecewaan pemerintah daerah ini disebabkan oleh tidak seimbangnya alokasi dana yang diberikan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah, padahal sumbangan untuk ekspor dari daeraah sangatlah besar, selain itu gerakan ini menuntut otonomi daerah atau upaya untuk melepaskan diri dari pusat. (Sudiyono, 2004:338). Pada tanggal 15 Februari 1958 Achmad Husein memproklamasikan berdirinya PRRI (Pemerintahan Revolusioner Indonesia Republik Indonesia) dengan Mr. Sjairuddin Prawinegara (Masyumi) sebagai perdana menterinya. (Notosusanto, Nugroho, 1984:85). Pendapat diatas disempurnakan pula oleh pernyataan, bahwa “Ketegangan antara pemerintah pusat dan dewan daerah mendorong Letnan Kolonel A. Husein untuk mengumumkan “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia” (PRRI) dengan menunjuk Sjafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri. (Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Indonesia, 2000: 120,121,122).
Adapun tokoh-tokoh PRRI tampaknya sangat mengandalkan bantuan Barat untuk membendung Komunisme. Terdapat informasi bahwa sebelum pecah perang Saudara tokoh-tokoh PRRI bertemu dengan agen-agen CIA (Central Intelligence Agency). (Anwar, 2004 :97). Modal tokoh-tokoh PRRI hanyalah kepercayaan bahwa mereka ada di pihak yang benar, Sukarno di pihak yang batil, sehingga perjuangan PRRI akan menang. Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengungkapkan “Tuhan ada di pihak kami”. God is on our side. (Anwar, 2004 :70).
Bukti lain, ialah dengan diperoleh informasi bahwa bekas Kolonel Dahlan Djambek pernah mengirimkan surat kepada Kolonel Suryosupeno. Adapun isi surat tersebut ialah keberatan untuk menyatakan setia kepada UUD, 45, terutama terhadap Manipol Usdek Bung Karno. Sebagai seorang Islam pendirian tersebut merupakan pernyataan untuk setia kepada Tuhan dan tidak setia kepada manusia sebab perbuatan demikian adalah “syirik”. Sehingga Djambek lebih memilih ditangkap oleh APRI dan diberi hukuman oleh Mahkamah Pengadilan. (Anwar, 2004 :69).
Untuk menumpas pemberontakan PRRI pemerintah melancarkan operasi gabungan yang dibagi-bagi dalam :
1. Operasi Tegas
 Dipimpin oleh Letnan Kolonel Kaharuddin Nasution.
 Dilaksanakan untuk daerah Riau Daratan.
 Ditujukan untuk menumpas PRRI di daerah Riau Daratan dengan sasaran pokok menduduki Pekanbaru.
 Operasi ini berhasil menguasai Pekanbaru (menyelamatkan kilang minyak Caltex), menutup kemungkinan perembesan pemberontakan ke luar negeri melalui Riau. (Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Indonesia, 2000: 122).
 Menurut Ginandjar Kartasasmita, dkk Kota Pekanbaru behasil dikuasai pada tanggal 12 Maret 1958. (1995). Selanjutnya pada 14 Maret 1958 Riau bisa diduduki pemerintah. (Notosusanto, Nugroho, 1984:83).
2. Operasi Saptamarga
 Dipimpin oleh Letnan Kolonel Djamin Ginting.
 Dilaksanakan untuk daerah Medan/Sumatera Utara.
 Ditujukan untuk menghadapi kekuatan pasukan PRRI di Sumatera Utara terutama yang berkedudukan di Tapanuli.
 Pasukan Mayor Malawi berhasil menduduki Tarutung pada tanggal 27 April 1958.
 Pasukan Batalyon 332/Siliwangi berhasil menduduki Padangsidempuan. Pada 5 Mei 1958 TNI sampai di Bukit Tinggi.
 Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara diamankan oleh RTO-01/Siliwangi. (Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Indonesia, 2000: 123-124).
3. Operasi 17 Agustus
 Dipimpin oleh Kolonel A.Yani.
 Sasaran ditujukan untuk merebut Bukit Tinggi.
 Pada 18 April 1958, Batalyon 438 dan Kompi RPKAD berhasil merebut Indarung dan membuka jalan ke Solok.
 Pada 29 April 1958 Solok dikuasai oleh Batalyon 509.
 Pada 3 Mei 1958 Padang Panjang diduduki.
 Pada 4 Mei 1958 Bukit Tinggi diikuasai oleh Pasukan Mayor Raja Syahnan yang bergerak dari Medan. Pendapat lainnya ialah, sebelum sampai ke Riau operasi ini diterapkan di Bukit tinggi yang berhasil diduduki pemerintah pada tanggal 4 Mei 1958. (Notosusanto, Nugroho, 1984:83).
 Dengan didudukinya Payakumbuh pada tanggal 26 Mei 1958, maka secara fisik kekuatan PRRI berhasil dilumpuhkan. (Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Indonesia, 2000: 124-127).
 Ginadjar Kartasasmita, dkk berpendapat bahwa Padang dikuasai oleh Angkatan Perang pada tanggal 17 April 1958. (1995).
4. Operasi Sadar
 Dipimpin oleh Letnan Kolonel dr. Ibnu Sutowo
 Tujuannya untuk menumpas PRRI dan membendung pembrebesan PRRI dari Sumatera Tengah, mengamankan obyek vital seperti kilang minyak, mengadakan pembersihan dalam tubuh TT II dan Pemerintah Daerah terhadap anasir-anasir PRRI.
 Operasi ini berhasil menyelamatkan Sumatera Selatan dari pengaruh Pemberontakan PRRI. (Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Indonesia, 2000: 127-128).
Adapun penyebab kegagalan pemberontakan PRRI yaitu :
1. Tidak adanya persiapan yang cukup dibidang militer.
2. Tidak dilakukannya persiapan untuk kemungkinan kudeta di Jawa sebagai pusat kekuasaan:
3. Tidak adanya leadership, dalam arti tidak ada tokoh yang merupakan tokoh Nomor Satu;
4. Tidak adanya perahasiaan mutlak di pihak pemberontak tentang apa yang hendak dilakukan, malah kaum pemberontak mencari publikasi seluas-luasnya tentang apa yang mereka kerjakan. (Anwar, 2004 :200).
Selain itu, sebab dari dalam yang mengakibatkan berantak nya PRRI ialah diproklamasikannya “Republik Persatuan Indonesia (RPI) di Bonjol pada tanggal 7 Februari 1960” yang menggabungkan pasukan PRRI dengan Darul Islam (DI) di Aceh dan Sulawesi Selatan. (Anwar, 2004 :97).
Sejak meletusnya PRRI, maka sampai Agustus 1961 telah jatuh korban sejumlah 10.159 orang, di antaranya 2.499 orang TNI, 247 orang polisi, 956 orang OPR 2.499, dan 5.592 orang rakyat. Selain itu, telah luka 4.098 orang TNI, 519 orang polisi, 3.834 orang OPR, serta 2.472 orang rakyat. Sementara di pihak lawan telah tewas 22.174 orang, luka 4.360 orang, ditawan 8.072 orang, dan yang kembali ke pangkuan RI 123.917 orang dengan seluruhnya 39.000 pucuk senjata. (Anwar, 2004 :68).
Menurut Ginadjar Kartasasmita, dkk, Pimpinan PRRI akhirnya menyerah satu per satu. Tanggal 29 Mei 1961 Achmad Husein secara resmi melaporkan diri dengan pasukannya, kemudian disusul oleh tokoh PRRI lainnya baik dari kalangan sipil, maupun militer. (1995).
PERMESTA
Pada tanggal 2 Maret 1957 berlangsung pertemuan yang dihadiri oleh tokoh sipil dan militer di kantor Gubernur Makasar. Pertemuan tersebut menghasilkan “Piagam Perjuangan Rakyat Semesta” (Permesta) yang berada di bawah pimpinan TT VII Letnan Kolonel HNV. Sumual. Permesta menjalin hubungan dengan Dewan Benteng di Sumatera Tengah dan mengadakan persiapan untuk melakukan pemberontakan. Permesta menguasai daerah dari Palu di Sulawesi Tengah sampai Manado di Sulawesi Utara. (Sudiyono, 2004:338).
Menurut Ginadjar Kartasasmita, dkk : Kolonel DJ Somba (Komandan Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah), menyatakan dirinya putus hubungan dengan Pemerintah Pusat dan mengeluarkan pendapat yang mendukung PRRI, hal ini membuat ia dipecat dengan tidak hormat. (1995). Pada tanggal 2 Maret 1957, panglima untuk Indonesia Timur, Letnan Kolonel H.N.V Samual, mengumumkan keadaan darurat perang diseluruh wilayahnya dari markas besarnya di Makassar (Ricklef,2008: 531).
Pada bulan September dan Oktober 1957, Kolonel Simbolon dan para pembengkak militer lainnya di Sumatera, Kolonel Sumual dari gerakan Permesta mengadakan beberapa pertemuan di Sumatera guna mengkoordinasi kegiatan-kegiatan mereka (Ricklef,1993: 540). Tujuan mereka meliputi tiga sasaran yaitu diselenggarakannya pemilihan umum untuk memilh seorang presiden baru guna mengakhiri kegiatan-kegiatan pro-PKI Sukarno, digantinya Nasution dan stafnya dipusat, serta dilarang PKI.
Pembunuhan terhadap Wakil Perdana Menteri J. Warouw di Minahasa Selatan menimbulkan dua golongan yakni “ golongan Selatan” di bawah Ventje Sumual yang menjadi KASAD Revolusioner dan “golongan Utara” di bawah Somba. Pada 1 Nopember 1960 Alex Kawilarang mengambil alih seluruh komando perang di daerah Permesta dan pada Maret 1961 Ventje Sumual diipecat, kemudian diadakan reorganisasi dalam Angkatan Perang Revolusioner. (Anwar, 2004 :139).
Sejak tahun 1960 diadakan pendekatan dari Jakarta terhadap pimpinan Permesta agar dilaksanakan penyelesaian secara damai, selanjutnya pada tahun 1961 terdapat penyesuaian pikiran dengan ditandatanganinya naskah penyelesaian masalah Permesta antara Somba dan Pangdam Kodam XIII/Merdeka yang dikenal sebagai peristiwa Malenos 4 April 1961; (dekat Amurang). Kemudian diadakan inspeksi oleh Deputy MKN Hidayat pada 14 April di Woloan (dekat Tomohon) terhadap pasukan Permesta dan pada 12 Mei 1961 MKN Nasution juga melakukan inspeksi di Papakelan (dekat Tondano). (Anwar, 2004 :139).
Permesta diduga mendapat bantuan dari petualang asing, hal ini terbukti dengan ditembak jatuhnya pesawat yang dikemudikan oleh Alan Pope, warga negara Amerika Serkat (di Ambon, pada tanggal 18 Mei 1958). (Sudiyono, 2004:338).
Para pemimpin yang menentang Permesta adalah: Nani Wartabone, Kapten Frans Karangan, Inspektur Polisi Sueb, dan Inspektur Polisi Syukur. Maka dari itu, untuk mengatasi Permesta maka diadakan Operasi Insyaf oleh TNI di bawah pimpinan Kapten Frans Karangan dan Brimob di bawah pimpinan Polisi Sued Daeng Passang serta Ajun Inspektur Syukur yang bergerak dari Tawaeli serta residen dari Wartabone yang ditujukan untuk menumpas Permesta yang berada di daerah Donggala dan Palu (Sulawesi Tengah). Pada 29 Maret 1958 Donggala direbut, pada tanggal 1 April 1958 Palu dikuasai, pada tanggal 18 April 1958 Parigi berhasil direbut kembali, dan Gorontalo yang berhasil direbut oleh Residen Wartabone dengan menggunakan Pasukan Rimba. Sumber lain menyatakan, bahwa diadakan Operasi Saptamarga dan Operasi Mena, namun sebelumnya Operasi Insaf dipimpin oleh Kolonel Yonosewoyo. Operasi Insaf ini memiliki (sasaran yang hendak dicapai ialah mengamankan daerah Sulawesi Tengah, Palu merupakan pusat kekuatan Permesta). (Notosusanto, Nugroho, 1984:86).
Selain itu untuk melakukan penumpasan terhadap Pemberontakan Permesta, TNI melakukan operasi gabungan yang dinamakan operasi merdeka, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Roekmito Hendraningrat, pelaksanaan operasi gabungan ini terdiri atas : Operasi Saptamarga I yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Sumarsono dengan sasaran Sulawesi Tengah. Operasi ini diterapkan di Donggala, Palu, Kwali, dan Tamboto dengan tujuan memutuskan hubungan Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. (Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Indonesia, 2000: 128). Pada saat itu, pihak pemberontak sedang kehabisan amunisi dan perbekalan lainnya. Untuk mengahadapi aksi Permesta dilancarkan operasi Sapta Marga pada bulan April (Poesponogoro,1993:281).
Dalam versi lain, Ginadjar Kartasasmita, dkk (1995) membagi Operasi Merdeka menjadi beberapa bagian :
1. Operasi Saptamarga I di bawah pimpinan Letnan Kolonel Soemarsono dengan daerah sasaran Sulawesi Tengah dan Utara.
2. Operasi Saptamarga II di bawah pimpinan Letnan Kolonel Agus Prasmono dengan daerah sasaran Sulawesi Utara dan Selatan.
3. Operasi Saptamarga III di bawah pimpin oleh Letnan Kolonel Magenda dengan daerah sasaran kepulauan sebelah Utara Manado.
4. Operasi Saptamarga IV di bawah pimpinan Letnan Kolonel Rukmito Hendradiningrat dengan daerah sasaran Sulawesi Utara.
5. Operasi Mena I di bawah pimpinan Letnan Kolonel Pieters dengan daerah sasaran Jailolo.
6. Operasi Mena II di bawah pimpinan Letnan Kolonel KKO Hunholz, untuk merebut lapangan udara Morotai di sebelah Utara Halmahera.
Adanya proklamasi RPI membawa perpecahan dan disintegrasi di kalangan Permesta. Tidak adanya koordinasi mendorong Permesta untuk memisahkan diri dari RPI di Sumatera. Hal ini juga menyebabkan kedudukan Permesta menjadi sulit, karena senjata yang dimiliki hanya 10% dan mengalami kekurangan mesiu. Permesta hanya bertahan 3 tahun dengan 30 batalyon infanteri dalam daaerah yang lebar 30 km dan panjang 90 km. Di antaranya 15 batalyon adalah regular. (Anwar, 2004 :139).Pada bulan Februari-April 1961, beberapa gerombolan Permesta menyerah di Sulawesi Utara. (Poesponogoro,1993: 282). Permesta ini berhasil dilumpuhkan sekitar bulan Agustus 1958, walaupun sisa-sisanya masih ada sampai tahun 1961. (Sudiyono, 2004:338).
Di Cipayung tokoh-tokoh PRRI-Permesta berada di bawah wewenang Presiden untuk menentukan nasib mereka, di kota mana mereka dizinkan tinggal. Yang jelas mereka tidak dibolehkan lagi bekerja pada jawatan pemerintahan. (Anwar, 2004 :119). Pada bulan Februari-April 1961, beberapa gerombolan Permesta menyerah di Sulawesi Utara. (Poesponogoro,1993: Pada 5 Oktober 1961 pemberontakan PRRI dan Permesta selesai, sejak saat itu Sukarno memberikan amnesti dan abolisi. (Anwar, 2004 :97).
4. Bulog-Dolog
Bulog adalah (Badan Urusan Logistik), dibentuk pada tahun 1966 dan menangani terutama urusan beras (Ricklefs, 2008: 604). Pimpinan organisasi ini terdiri atas Kepala, Wakil Kepala, Sekretaris, Deputy Administrasi dan Keuangan, Deputi Pengadaan dan Penyaluran, Deputi Bidang Pengawasan dan Pengembangan sistem logistik dan Depot Logistik di daerah. Depot Logistik dibentuk di tiap Propinsi atau Daerah Tingkat 1 merupakan instansi vertikal dari Bulog dan jika diperlukan didaerah Tingkat II atau Kabupaten atau Kotamadya dibentuk Depot. Pada masa pemerintahan Orde Baru Bulog di pimpin oleh Ahmad Tirto Sudiro dan Bustanil Arifin. (Stanley, 2005:61).
Pada masa pemerintahan Soeharto, negara mengalami bisnis militer dimana dana keuangan negara diperoleh dari dua BUMN diantaranya Pertamina dan Bulog. (Stanley, 2005:61). Hal ini didukung oleh Robinson yang menganggap kedua perusahaan negara tersebut sebagai sumber utama bagi terbentuknya apa yang disebut sebagai : “Beureaucratic Capitalism” Orde Baru. (Stanley, 2005:62). Sehingga, wajar saja apabila Pejabat Militer yang ditempatkan pada kedua perusahaan tersebut yang bertanggung jawab langsung kepada presiden sebagai pemilik peran sentral dalam membangun struktur kekuasaan Orde Baru. (Stanley, 2005:62).
Dalam pengertiannya, Bulog merupakan suatu lembaga non- Departemen yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden dengan tugas pokok melaksanakan pengendalian harga beras, gabah, gula, gandum dan bahan poko lainnya (Ensiklopedi Indonesia, edisi khusus, 3). Hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilitasan harga baik produsen maupun konsumen sesuai dengan kebijakan pemerintah. Jadi Bulog bertugas untuk menyelenggarakan pengaduan, penyebaran, penyimpanan, mengkoordinasikan penjualan dan memelihara penyangga (bufferstock) secara nasional. Bulog sebagai Badan usaha logistik yang menyimpan persediaan beras. di Era jatuhnya Rezim Soeharto pada 1997/1998 Bulog mulai menipis, karena laju inflansi nampak tinggi 12,76%, pada 1997/1998 mencapai 28,73%. (Aritonang, 1999:48).
Sedangkan Dolog merupakan Depot Logistik yang menjadi Kepanjangan tangan dari Badan Usaha Logistik (Bulog). Organisasi ini memiliki tugas umum dalam pemerintahan dan pembangunan dibidang logistik yang meliputi pengelolaan persediaan, distribusi, pengendalian harga, dan jasa logistik sesuai dengan perundang-undangan. Pengendalian yang dilakukan Dolog hanya terhadap harga gabah karena hingga saat ini hanya mengurusi masalah beras.

5. Memerangi Hiper-Inflansi
Inflansi dapat diartikan sebagai perkembangan dalam perekonomian. Inflansi ditandai dengan meningkatnya harga, gaji, dan pemintaan tenaga kerja yang melebihi penawaran, dimana jumlah uang yang beredar sangat meningkat (Ensiklopedi Indonesia, edisi khusus 6). Pada umumnya, Inflansi selalu ditandai dengan peningkatan harga secara cepat, peningkatan daya beli para penerima gaji serta sangat merugikan pemberi gaji.
Sementara itu Hyper inflantion diartikan sebagai terjadinya inflansi lebih dari 50%. Di Indonesia Hiper- iflansi pernah terjadi pada tahun 1957, 1961-1968 (Ensiklopedi Indonesia, edisi khusus 6). Kekacauan ekonomi mulai terjadi, sehubung dengan masa demokrasi terpimpin. Dalam rangka mengendalikan inflansi, maka pada tanggal 25 Agustus 1959 mata uang rupiah didevaluasikan sebesar 75%, semua nilai uang kertas Rp. 500,00 dan Rp. 1.000,00 diturunkan menjadi sepersepuluh dari nilai nominalnya, deposit-deposito bank yang besar jumlahnya dibekukan. Sementara itu, ketika perekonomian terperosok kedalam hiper-inflansi yang permanen (yang masih tetap di sekitar 100% per tahun mulai akhir tahun 1961 sampai tahun 1964) dan bangsa Indonesia hanyut kedalam radikalisme dan ketika pihak militer menjadi semakin tergantung kepada Uni Soviet dan PKI berkembang dengan pesat, maka Amerika semakin cemas akan kehilangan pengaruhnya di Indonesia (Ricklefs,2008: 562). Setelah mengadakan penyelidikan dan perundingan, maka pada bulan Mei 1963 pemerintah Indonesia mengumumkan diambilnya langsung langkah penting yang baru. Pada tanggal 1 Mei 1963, undang-undang darurat perang dicabut, dan pada 26 Mei dimumkan mengenai pengurangan-pengurangan drastis terhadap anggaran belanja (termasuk anggaran militer), pengawasan yang ketat terhadap kredit, kenaikan harga, pelaksanaan suatu develuasi de facto dan peningkatan dua kali lipat gaji pegawai negeri.
Pada awal zaman Orde Baru, program pemerintahan semata-mata diarahkan kepada usaha penyelamatan ekonomi nasional utama berupa usaha memberantas inflansi, penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat (Poesponogoro, 1993: 430). Kenaikan harga pada awal tahun 1966 menunjukkan tingkat inflansi sekitar 650% setahun mengakibatkan pemerintahan tidak mungkin melakukan pembangunan dengan segera, namun harus melakukan stabilitas (pengendalian inflansi) dan rehabilitasi (rehabiltasi secara fisik daripada sarana-prasarana, rehabiltasi ekspor, rehabilitasi alat-alat produksi yang banyak mengalami kerusakan) ekonomi terlebih dahulu.
Sementara itu, laporan pemerintah Indonesia bulan September 1966 kepada krediatornya yang komunis menggambarkan tingkat bencana nasional yang dihadapi rezim baru ini. Inflansi tahunan terhitung melebihi 600%, persediaan uang 800 kali lebih tinggi daripada angka di tahun 1955 dan defisit pemerintah 780 kali lebih banyak daripada tahun 1962 (dan 1,8 kali dari persediaan total uang). (Ricklefs,2008: 603). Pada waktu itu, Indonesia memiliki hutang sebesar 2,3 milyar dan wajib dibayar pada tahun 1967 dengan jumlah keseluruhan ditambah tungkatan sebesar 500 juta dollar.
Menurut Poesponogoro, MPRS menyadari bahwa kemerosotan ekonomi yang berlarut-larut disebabkan oleh tindak adanya pengawasan yang efektif dari DPR terhadap kebijaksanaan ekonomi, kepentingan ekonomi dikalahkan oleh kepentingan politik, dan pemikiran yang rasional untuk memecahkan masalah-masalah ekonomi dikesampingkan. Melihat keadaan tersebut, maka MPRS mengadakan stabilitas dan rehabilitas dengan mengeluarkan ketetapan No.XXIII/ MPRS/ 1966 tentang pembaharuan Kebijakan Landasan Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan yang pada hakekatnya merupakan suatu konsepsi strategi yang tepat untuk mananggulangi kemerosotan ekonomi yang terjadi sejak tahun 1955. (Poesponogoro,1993: 431). Dengan ketetapan tersebut, maka pemerintah harus mengadakan pembaharuan yaitu dari ekonomi terpimpin ke arah demokrasi ekonomi. Selanjutnya MPRS menggariskan tiga macam program yang dikerjakan secara bertahap yaitu program penyelamatan, program stabilitas dan rehabilitas, dan program pembangunan. Khusus pada program stabilitas dan rehabilitas ( program yang pendek) dilakukanlah pengendalian inflansi, rehabilitas kebutuhan pangan, rehabilitas prasarana ekonomi, peningkatan kegiatan ekspor, dan pencukupan kebutuhan pangan.
Dalam hal ini pemerintah berupaya mengadakan pembangunan pada bidang pertanian. Hal ini ditujukan untuk menetapkan kemampuan swasembada di bidang pangan. Alasannya untuk mencapai landasan masyarakat yang adil dan makmur menyiapkan struktur ekonomi yang seimbang, struktur ekonomi yang kuat dan didukung oleh bidang pertanian yang tangguh. Upaya ini dijadikan sebagai bagian dari pembangunan agar hiper-inflansi bisa diatas saat itu. Maka dari itu pada masa Orde Baru diadakan Repelita, dan program pertanian dijadikan bagian program jangka panjang, sehingga terus dilanjutkan dari repelitaI.II. dan III. .(Radik, 1982:130).
Selain itu, dalam hal ini dilakukanlah sejumlah usaha untuk melakukan penekanan terhadap Hiperi- flansi, Pemerintah melakukan sejumlah kebijakan yaitu: bidang keuangan (moneter) yaitu penekanan inflansi dan peningkatan nilai rupiah. Selanjutnya lebih menekankan pengawasan arah kegiatan ekonomi dan bukan pada pengusaan yang sebanyak-banyaknya dari kegiatan ekonomi. Dalam hal ini perlu diselenggarakan debirokratisasi dari pengawasan dan decontrol manajemen perusahaan-perusahaan negara. Dan terakhir Pemerintah menetapkan bahwa penentuan harga barang-barang yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan negara diserahkan sepenuhnya bertanggungjawab pimpinan perusahaan negara, kecuali minyak bumi dan listrik. Kebijakan-kebijakan tersebut bertujuan untuk memperbaiki kehidupan rakyat, khusunya dibidang sandang dan pangan.
Menurut Poesponogoro, berdasarkan kebijakan diatas, pemerintah mengeluarkan peraturan yang memuat pokok-pokok usaha pada Peraturan 3 Oktober 1966 yaitu anggaran belanja yang berimbang (balanced budget) untuk meniadakan salah satu sebab bagi inflansi yaitu defisit dalam anggaran belanja, pengekangan ekspansi kredit untuk usaha-usaha produktif khusunya dibidang pangan, eksport, sarana dan industri, penundaan pembayaran hutang-hutang luar negeri (reschenduling) dan usaha mendapatkan kredit baru, dan penanaman modal asing guna membuka kesempatan pada luar negeri dan meningkatkan pendapatan nasional. Disamping itu, pemerintah juga melakukan beberapa tindakan lainnya yaitu mengadakan operasi pajak terutama di kota-kota besar, penghemat di bidang pengeluaran pemerintahan khususnya pengeluaran konsumtif rutin, kredit bank dibatasi dan kredit impor dihapuskan.
Laju inflansi berhasil ditekan dari 650% pada tahun 1966 manjadi 120% pada tahun 1967 masih menunjukkan angka yang tinggi dan merupakan faktor penyebab terjadinya kenaikan harga (Poesponogoro,1993: 437). Sehingga dapat dikatakan menjelang akhir tahun 1967 terjadi gangguan terhadap stabilitas ekonomi yang disebabkan kurangnya hasil gandum. Bahkan pada tahun 1967 inflansi melampaui lebih kurang dari 120%. (Radik, 1982:127). Walau demikian krisis yang dihadapi Internasional tidak begitu dirasakan Indonesia. Hal ini dibuktikan pada akhir tahun 1968, ketika itu laju inflansi berhasil ditekan menjadi 85,5%, karena saat itu pemerintah menggunakan ukuran angka indeks 62 jenis barang-barang kebutuhan.(Radik, 1982:127).
Dalam hal pangan, maka diadakan pembangunan dalam bidang pertanian. Kenaikan produksi beras pada tahun 1982 adalah 23 juta ton. Hal ini diupayakan untuk memperkokoh persediaan stock beras, dan pelaksanaan impor yang ditujukan untuk menjalin kerja sama ekonomi dengan negara sahabat untuk menambah devisa negara. Pada masa Orde Baru keadaan ekonomi nasional boleh dikatakan memiliki ketahanan terhadap gejolak dan goncangan internasional. Indonesia telah memiliki landasan yang cukup untuk tumbuh berkembang mengandalkan kemampuan dalam negeri. .(Radik, 1982:127).
Dalam memerangi hiper-inflansi, maka pada masa Orde Baru diadakan upaya untuk menstabilitaskan perekonomian. Hal ini diwujudkan dengan berbagai pembangunan yang ditujukan untuk peningkatan devisa. Adapun upaya yang dilakukan dalam meningkatkan devisa saat itu ialah :
1. Ekspor barang diluar minyak harus dikembangkan dengan memperbaiki mutu yang lebih sesuai dengan permintaan pasar, seperti meningkatkan efisiensi produksi sehingga harganya mampu bersaing.
2. Kebijakan imbal beli (counter purchase).
3. Menangguhkan dan mengendalikan pelaksanaan impor barang yang tidak esensial seperti makanan, minuman, buah-buahan, minuman keras, tepung tapioka, kacang tanah dan sebagainya. .(Radik, 1982:130).
Dengan langkah-langkah diatas maka hiper-inflansi bisa diatasi. Sehingga stabilitas ekonomi bisa disiasati. Pada dasarnya upaya yang dilakukan pada masa Orde Baru ditujukan untuk pembangunan. Sehingga boleh ada anggapan bahwa Soeharto merupakan bapak pembangunan. Indonesia tidak merasakan goncangan ekonomi dunia, inflansi yang ada dapat diatas dengan berbagai program kerja ekonomi, walau akhirnya Indonesia pun harus merasakan krisis, yang kemudian diikuti runtuhnya Rezimnya Soeharto pada 1997/1998.
Saat ini keadaan krisis yang dilalui Indonesia tidak kalah hebatnya dengan masa sebelumnya. Pasca Soeharto, Indonesia mengalami empat kali pergantian pemimpin, namun wajah ekonomi negeri kita sangat memprihatinkan. Hal inilah yang mendorong pesatnya kriminalitas, bahkan kebobrokan moral bangsa ini disebabkan pula oleh kehidupan ekonomi yang minim. Kelaparan atau lazim disebut urusan perut mampu mendorong seseorang melakukan apa saja. Sehingga fenomena korup semakin merajalela, Indonesia adalah negara terkorup. Kepentingan politik yang diutamakan, dan hasil ekonomi entah masuk kemana. Apabila bangsa ini terus statis dengan keadaan demikian, kita hanya tinggal penunggu penjajahan secara langsung episode berikutnya, walaupun saat ini negara kita sudah dijajah secara tidak langsung, tapi kita tidak melihatnya, justru menikmati keadaan ini. Pada akhirnya identitas Indonesia menjadi terkikis, yang ada hanyalah kemerosotan moral bangsa, dan kemelaratan bangsa.
Daftar Pustaka
Anwar, Rosihan. 2004. Soekarno, Tentara, PKI (Segitiga Kekusaan Sebelum Prahara Politik
1961-1965). Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Aritonang, Diro. 1999. Runtuhnya Rezim Dari Pada Soeharto.
Pustaka Hidayah. Bandung.
Cribb, Robert. 2000. Pembantaian PKI Di Jawa Dan Bali (1965-1966); The IndSSSonesian Killings.
Yogyakarta : Mata Bangsa
Ensiklopedi Indonesia, edisi khusus 6.
Jakarta: Ichtiar Baru.
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 2). 2004. Jakarta : PT Delta Pamungkas.
Sejarah Tentara Nasional Indonesia (Jilid 2). 2000. Jakarta : Markas Besar Tentara Republik
Indonesia. Pusat Sejarah dan Tradisi Tentara Republik Indonesia.
Ginandjar Kartasasmita,dkk. 1995. 3O Tahun Indonesia Merdeka 1945-1960.
Jakarta :Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Notosusanto, Nugroho (ed). 1984. Pejuang dan Prajurit.
Jakarta : Pustaka Sinar Harapan dan Anggota IKAPI
Poesponogoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional
Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Radik Utoyo, dkk. 1982. Dwi Windu Orde Baru (Memperingati Genap 16 Tahun Perjuangan
Orde Baru). Jakarta Selatan. Badan Penyelenggara Dwi Windu Orde Baru.
Ricklefs,M.C.1998. Sejarah Indonesia Modern.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Ricklefs,M.C.2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.
Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Sundahaussen, Ulf. 1986. Politik Militer Indonesia 1945-1967; Menuju Dwi Fungsi ABRI.
Jakarta : LP3ES.
Sulastomo. 1989. Hari-Hari Yang Panjang 1963-1966.
Jakarta. CV. Haji Masa Agung.
Stanley. 2005. Warisan Orde Baru.
Jakarta : Institusi Studi Arus Informasi Bekerja Sama Dengan Universitas Melbourne dan Aussaid