Selasa, 08 Maret 2011

SESAT PIKIR

BENTUK SESAT PIKIR TERDIRI ATAS :
1. Kekeliruan Relevansi : argumen yang keliru tetapi dapat diterima umum karena banyak orang yang menerima. Biasanya bersifat pesuasif.
A. Argumentum Ad Hominem
1. Argumentum ad Hominem 1 yang diarahkan untuk menyerang individu secara langsung lebih pada personal dan karakter pribadi (Argumentum ad Hominem 1 )
contoh
a. Seseorang yang memiliki postur tubuh seperti bola sudah pasti tidak dapat menari dengan lincah.
b. Saya tidak ingin berteman dengan dia karena anak itu memiliki hidung yang mancung ke dalam.
c. Saya tidak berani melawan orang itu hanya karena dia lebih senior dari saya.
2. Argumentum ad hominem 2 ini menitikberatkan pada hubungan yang ada diantara keyakinan seseorang dan lingkungan hidupnya; menunjukkan pola pikir yang diarahkan pada pengutamaan kepentingan pribadi; yaitu: suka-tidak suka, kepentingan kelompok-bukan kelompok, dan hal-hal yang berkaitan dengan SARA.
Contoh :
a. Nilai IPK nya selalu tinggi karena dia seorang yang pandai menjilat dosen. Padahal masih banyak yang lebih pintar dari dia. Dalam hal pelajaran dia tidak punya kemampuan lebih dari yang lain.
b. Keterpurukan nilai mata kuliah saya bukan disebabkan saya tidak mampu menangkap materi pelajaran. Akan tetapi, karena saya bukan berasal dari suku yang sama dengan dosen pengajar.
B. Argumen yang atas dasar kekuasaan (argumentum da Baculum). Argumen ini dikenal juga dengan argumen ancaman yang merupakan pernyataan atau keadaan yang mendesak orang untuk menerima suatu konklusi tertentu dengan alasan jika menolak akan membawa akibat yang tidak diinginkan.
• Nia yang tidak suka sekolah, terpaksa harus menempuh masa pendidikan yang membosankan. Hal ini terpaksa karena jika ia tidak sekolah, maka tidak akan dinafkahi oleh kedua orang tuanya.
• Apabila saya tidak rajin kuliah dan mengikuti mata pelajaran, maka saya harus siap menanggung risiko untuk lulus dalam waktu yang lama.
• Kalau ia tidak membeli surat dokter dari rumah sakit, maka nilai absen kuliahnya harus mengalami kerugian.
2. Contoh kekeliruan ambiguitas penalaran :
A. Sesat pikir ekuivokal: kesesatan berpikir ekuivokal : kata yang sama bunyinya,
namun memiliki arti berbeda :
Contoh :
1. Bunga (Gadis Cantik/ Idola Desa),
Bunga (Tumbuhan/ Tanaman).
 Marina bertanya kepada ibunya :
Ibu, apa bunga itu mahluk hidup?
Ibu menjawab “benar”
Ibu, apa manusia juga mahluk hidup??
Ibu menjawab lagi “tepat”
ibu, benarkah orang itu adalah manusia???
Ibu menjawab “ya”.
Ibu , mana lebih berharga manusia atau bunga ??
Ibu menjawab “tentu manusia”
Apa ibu setuju dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa saya ini bunga desa??
Ibu menjawab “setuju sekali”
Marina kemudian menjawab “ jadi saya hanya bunga yang kedudukannya di bawah manusia???.. berarti orang-orang yang mengatakan saya ini bunga desa hanya mengejek dan merendahkan saya, begitu bu????
2. Semua hewan berkaki empat punya kaki tangan, semua mafia yang lolos jeratan hukum (pejabat korupsi dan sebagainya) pastinya punya kaki tangan di dalam hukum.
Jadi mafia yang lolos jeratan hukum adalah hewan berkaki empat
Arti 1 : kaki tangan (organ tubuh).
Arti 2: kaki tangan (orang dalam, orang suruhan, kepercayaan).
B. Sesat pikir amphiboly : terdapat dalam argumen yang pengajuan premis-premisnya memiliki konstruksi gramatikal yang ambigu : pernyataan yang batasan maknanya tidak jelas
Contoh :
1. Ayah makan kucing mati di dapur
• Arti satu : ayah makan
• Arti dua : kucing mati di dapur
• Arti tiga : ayah memakan kucing mati di dapur (menunjukkan posisi ayah memakan kucing di dapur/ruang).
• Arti empat : ayah memakan kucing mati di dapur (menunjukkan bahwa kucing yang mati di dapur dimakan oleh ayah; ada kucing mati terus dimakan oleh ayah).
2. Saya takut mati lampu gelap
• Arti satu : saya takut
• Arti dua : saya takut mati
3. Arti tiga : saya takut mati lampu karena gelap
Ina : saya tidak mengerti kenapa mereka tidak menyukai saya? Saya merasa mereka jahat.
Tari : saya juga.
• Arti satu : Tari juga tidak mengerti mengapa orang-orang tidak menyukai
Ina, dan Tari juga merasa mereka (orang) jahat.
o Arti dua : Tari merasa jahat juga; sama seperti orang-orang yang tidak menyukai Ina (Tari mengungkapkan isi hatinya bahwa ia sama jahat dengan orang-orang itu)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar