Senin, 13 Desember 2010

PERANAN RADEN TUMENGGUNG ADIPATI ARIA SURIANAGARA SEBAGAI BUPATI KE-12 TERHADAP KEHIDUPAN EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT DI SUMEDANG (PANGERAN KORNEL 1

Oleh : Merlina Agustina Orllanda
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di Jawa Barat terdapat Bumi Priangan yang dapat disebut juga Parahiyangan, tempat para hyang (= leluhur atau dewa). Bersemayam. (Tour, 2005: 60). Parahyangan seakan - akan mewakili romantisme kolonial tentang Mooie Indie “Tanah Hindia yang Indah”. (Herlina, 2003: 335). Wilayah ini di merupakan daerah vulkanis yang dibentuk oleh gunung-gunung berapi dengan ketinggian antara 1.800 hingga 3.000 m diatas permukaan laut, seperti Gunung Gede, gunung Galunggung, gunung papandayan, gunung Tangkuban Perahu, gunung Guntur, dan Gunung Cikuray. (Herlina, 2004:25). Adapun luas Keresidenan Priangan, kurang lebih seperenam Pulau Jawa. Disebelah utara berbatasan dengan Keresidenan Batavia dan Cirebon, disebelah timur berbatasan dengan Cirebon dan Bayumas, disebelah selatan dan sebelah barat daya berbatasan dengan Samudra Hindia, dan disebelah barat berbatasan dengan Banten. (Herlina, 1998: 25). Priangan adalah salah satu daerah di Jawa Barat dengan luas wilayah lebih kurang 21.500 kilometer persegi atau kira-kira seperenam dari Pulau Jawa. (Hardjasaputra, 2004:20).
Studi sejarah lokal adalah materi yang memuat konsep etnis-kultural yang sifatnya selalu bergerak dan terkadang dipengaruhi pula oleh unsur politik administratif. Sehingga tiap daerah-daerah itu dalam pengertian etnis-kultural merupakan suatu unit kesadaran historis – dalam arti bahwa “daerah” itu masing-masing pada dirinya dan baginya adalah pusat perkisaran sejarah. (Abdullah, 2005:14). Berkaitan dengan sejarah lokal, maka Priangan tidak hanya memiliki potensi berupa hasil alam, tapi juga ikatan kekerabatan yang kuat di dalam lingkungan masyarakatnya. Hal ini terlihat dengan adanya penguasaan wilayah oleh kelompok aristokrat lokal yang disebut ‘kaum menak’. (Herlina, 2000:136). Adapun ‘kaum menak’ yang dimaksud ialah bupati. Bupati adalah sebutan umum yang digunakan untuk gubernur propinsi dan disebut adipati. (Raffles, 2008 : 171). Biasanya bupati mendapat tempat yang sangat istimewa di masyarakat. Hal ini karena pada masyarakat Sunda keberadaan bupati merupakan pemimpin tertinggi secara tradisional yang sangat berpengaruh.).
Berkaitan dengan potensi alam, maka kopi menjadi komoditas primadona untuk perekonomian Belanda hingga timbul ungkapan: tanaman kopi bagaikan gabus penutup (penutup botol) yang mengapungkan pemerintahan kolonial diatas air. (Herlina, 1998:27). Dalam kenyataannya tanaman kopi di Tatar Sunda mampu menjadi komoditas pembudidayaan yang paling utama selama kurun waktu abad ke-18 sampai abad ke-19. Ketika pada masa Daendels, wilayah Priangan dibagi atas kabupaten-kabupaten seperti Cianjur, Bandung, Parakamuncang, Sumedang, dan Karawang. Wilayah ini dikenal dengan Prefectuur Preanger-Regentshappen. (Herlina, 1998:32). Adapun tujuan dari pembagian wilayah tersebut berkaitan dengan upaya budidaya kopi di Priangan. Kehidupan perekonomian di Priangan pada abad ke-17 tidak lepas dari perkebunan kopi, “ air hitam” . (Herlina, 1998:27).
Masalah lokal adalah masalah lokal dan segala soal yang menyangkut berkisar pada dirinya. Sehingga periodesasi sejarah lokal tidak harus sama dengan sejarah nasional. Maka dari itu dalam sejarah lokal harus mempunyai otonomi. Sebab otonomi ini diharapkan memberikan sesuatu yang berharga, baik untuk sejarah nasional, atau, lebih idealistis lagi, untuk memperdalam pengertian tentang “diri” dan manusia “lain”. (Abdullah, 2005: 18-19, 20).
Dari uraian tersebut, maka kesuburan tanah Priangan pada abad ke-18 telah mendorong perkebunan kopi, yang mempengaruhi kehidupan ekonomi, dimana pada masa itu harga pembayaran kopi pada permulaan tidak stabil dan mantap, bahkan dikatakan cukup tinggi. Apalagi penanaman kopi di Priangan periode tahun 1700-1730 telah menggantikan produksi tanaman subsisten pangan tradisional. (Herlina, 2004, 313). Selain kopi, Priangan juga menghasilkan kina, teh, karet,nenas, coklat, lada, dan serat nenas. (Herlina, 1998:3). Apalagi dengan adanya Budidaya kopi di Priangan saat itu mampu mengubah keadaan Jawa Barat menjadi lebih baik. (Vlekke, 1958:222). Berkaitan dengan potensi kopi yang dimiliki Priangan tentunya perhatian akan mengarah kepada Cianjur, dan Bandung, namun dalam hal ini kontribusi dari Sumedang tidak boleh dikesampingkan. Hal ini karena Sumedang mampu berada diurutan ketiga dalam menyumbangkan hasil alamnya. Sumedang tidak hanya menyumbangkan hasil alam berupa kopi, tapi juga nila dan tanaman lainnya.
Adapun hasil pemaparan diatas terbukti dengan banyaknya karya sejarah yang memuat penulisan tentang Sumedang. Namun jarang ditemukan penulisan yang mengupas tuntas mengenai aktor-aktor yang berperan dalam kemajuan Sumedang secara detail. Hal ini penting mengingat manusia merupakan aktor sentral dalam panggung sejarah. Apalagi mengenai sejarah umum pada sejarah lokal akan meliputi aspek politis yang kemudian akan memberi dampak ekonomi-sosial. (Abdullah,2009).
Adapun penjelasan dari uraian diatas merupakan fenomena lokal yang menarik. Berdasarkan pengertian studi sejarah lokal sebagai sejarah daerah yang dibatasi oleh keadaan geografis, dan etnis-kultural di dalamnya, maka mendorong penulis untuk membahas kajiannya dengan batasan spasial “Sumedang”, adapun alasan pemilihan ruang ini karena pada mulanya Priangan hanya terdiri atas Sumedang dan Galuh. Sumedang muncul ketika Kerajaan Sunda (Pajajaran) mengalami keruntuhan. (Hardjasaputra, 2004:21). Selanjutnya obyek kajian yang akan dibahas ialah keberadaan penguasa-penguasa Sumedang sebagai jembatan menuju lahirnya Pangeran Kornel yang merupakan Bupati ke-12 Sumedang, ia adalah pemimpin yang sangat terkemuka apabila dilihat dari segi kepemimpinan maupun pembangunan. (Herlina, 2000:84). Dengan demikian untuk menuangkan pemikirannya, maka penulis akan mewujudkan lewat makalah yang berjudul “PERANAN RADEN TUMENGGUNG ADIPATI ARIA SURIANAGARA SEBAGAI BUPATI KE-12 TERHADAP KEHIDUPAN EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT DI SUMEDANG (PANGERAN KORNEL 1791-1828)”. Untuk pemahaman lebih lanjut akan dijelaskan pada bab berikutnya.
1.2 Identifikasi Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah maka materi yang dikaji akan difokuskan pada pembahasan mengenai aspek berikut :
1. Merumuskan potensi alam Sumedang secara geografis yang menunjang kehidupan perekonomian dan sosial.
2. Merumuskan Identitas Raden Tumenggung Adipati Surianagara atau Pangeran Kornel Sebagai Bupati di Kabupaten Sumedang.
3. Merumuskan Peranan Raden Tumenggung Adipati Surianagara atau Pangeran Kornel Terhadap Kehidupan Ekonomi dan Sosial Masyarakat di Sumedang.
1.3 Tujuan
Pada pembuatan makalah ini, penulis memiliki maksud dan tujuan untuk menjawab identifikasi masalah di atas yang akan dikemukakan pada subbab. Adapun ruang lingkup pembahasan mencakup hal di bawah ini :
1. Untuk menjelaskan potensi alam Sumedang secara geografis yang menunjang
kehidupan perekonomian dan sosial.
2. Untuk menjelaskan Identitas Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata
atau Pangeran Kornel Sebagai Bupati di Kabupaten Sumedang.
3. Untuk memaparkan Peranan Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata
atau Pangeran Kornel Terhadap Kehidupan Ekonomi dan Sosial Masyarakat di Sumedang.

1.4 Manfaat Penelitian
Pembuatan makalah ini memiliki manfaat praktis sebagai berikut :
1. Dapat memberi wawasan mengenai Potensi Alam Sumedang secara geografis yang menunjang kehidupan perekonomian dan sosial.
2. Dapat memberi pengetahuan mengenai Identitas Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata atau Pangeran Kornel Sebagai Bupati di Kabupaten Sumedang.
3. Dapat menambah wawasan mengenai Peranan Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata atau Pangeran Kornel Terhadap Kehidupan Ekonomi dan Sosial Masyarakat di Sumedang.
4. Dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk membahas lebih lanjut tentang sejarah Sumedang dan Penguasa yang berpengaruh pada masa Kerajaan maupun masa Kolonial terutama peran Pangeran Kornel dalam kehidupan sosial dan ekonomi.


1.5 Metode Penelitian
Untuk mencari jawaban dari masalah diperlukan langkah penelitian atau prosedur yang sistematis (Webster, 1986 :1422). Dengan kata lain metode penelitian merupakan sarana untuk mencapai tuntutan yang telah dikemukakan dalam identifikasi masalah. Menurut Gottschalk, tahapan analisis disebut metode sejarah. (Herlina, 2008: 3). Metode sejarah merupakan proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peristiwa masa lampau. (Herlina, 2008: 2).
Keberadaan metode ini ditujukan untuk mengetahui keberadaan fakta didalam sejarah. Fakta merupakan bahan mentah bagi sejarah. (Gottschalk. 1975: 6). Fakta bisa diperoleh melalui sumber berupa data atau dokumen. Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan bobot ilmiah yang diungkapkan oleh Charles-Victor Langlois dan Charles Seignobos dari Universitas Sorbornne, Paris, mengatakan bahwa, “The historian work with documents….There is no substitute for documents: no documents, no history”. (Dienaputra, 2006: 6). Sehingga kepercayaan tidaklah sama sekali asing bagi sejarah. (Gottschalk. 1975: 6). Pada pembuatan makalah ini penulis melakukan empat tahapan yang terdapat di dalam metode, yaitu :
1. Heuristik ialah pengumpulan sumber. Sumber yang berhasil diperoleh penulis tidak hanya dikumpulkan tapi juga dihimpun. Hal ini berkaitan dengan peran heuristik sebagai salah satu tahapan dalam metode penelitian sejarah. Dalam kegiatan heuristik penulis menghimpun sumber yang diperoleh dari tinjauan kepustakaan seperti sumber buku yang memuat informasi mengenai sejarah masuknya orang-orang Eropa ke Nusantara terutama di wilayah Jawa Barat; Priangan (khususnya di Kabupaten Sumedang), selain itu kegiatan heuristik ditujukan untuk memperoleh sumber-sumber yang menjelaskan mengenai potensi alam yang dimiliki oleh Sumedang, selain itu pengetahuan ditujukan untuk memperoleh informasi mengenai silsilah penguasa Sumedang, kemudian kehidupan sosial dan ekonomi di Sumedang, terutama pada masa Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata atau Pangeran Kornel.
2. Setelah melalui tahap Heuristik maka hasil penelitian harus melewati tahap Kritik atau verifikasi untuk meneliti keaslian dan keabsahan sumber. Verifikasi (kritik sejarah) ada 2 macam:
1) Kritik eksternal yang bertujuan untuk menentukan sejauh mana otentisitas (keaslian sumber).
2) Kritik internal yang bertujuan untuk menguji Kredibilitas sumber. Hal tersebut bertujuan untuk menjawab setiap pertanyaan apakah suatu sumber atau kesaksian dapat dipercaya atau tidak.
3. Interpretasi ialah sebuah penafsiran seseorang, beberapa orang atau lembaga. Di dalam penelitian sejarah, interpretasi sering disebut sebagai biang subyektifitas karena apabila seorang Sejarawan salah menafsirkan suatu data maka pengolahan hasil penelitian tidak akan mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. Interpretasi merupakan tahapan dalam metode penelitian sejarah yang berperan untuk menghidupkan kisah sejarah di dalam pembahasan. Pada pembuatan makalah ini penulis menuangkan hasil interpretasi pada hasil kesimpulan. Adapun hasil interpretasi diperoleh dari uraian sebelumnya dan sudah dipastikan berdasar pada data.
4. Historiografi ialah penulisan sejarah. Secara etimologis historiografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “historia” yang berarti “penyelidikan tentang gejala alam fisik” dan “grafien“ yang berarti “gambaran“, “lukisan“, “tulisan”. Di dalam studi sejarah, historiografi merupakan tahapan atau kegiatan menyampaikan hasil rekonstruksi imaginatif masa lampau. Dengan perkataan lain, tahapan historiografi itu ialah kegiatan penulisan. (Herlina, 2008: 16). Historiografi ini disebut sebagai tahap puncak dalam metode penelitian sejarah.
Dari keempat metode penulisan diatas maka penulis akhirnya mampu untuk menghasilkan makalah yang berjudul ““PERANAN RADEN TUMENGGUNG ADIPATI ARIA SURIANAGARA KUSUMADINATA SEBAGAI BUPATI KE-12 TERHADAP KEHIDUPAN EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT DI SUMEDANG (PANGERAN KORNEL 1791-1828”.Untuk menghasilkan suatu karya yang bersifat ilmiah dalam penelitian atau penulisan sejarah maka keempat tahapan diatas haruslah dilaksanakan terlebih dahulu.

1.6 Tinjauan Pustaka
Berkaitan dengan materi pembahasan pada makalah ini, maka penulis memulai tinjauan pustaka dengan membaca dan mengutip : buku Sejarah Sumedang Dari Masa Ke Masa karya Nina H. Lubis, dkk. Selanjutnya membaca buku Sejarah Tatar Sunda Jilid 1, Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942, Tradisi Dan Transformasi Sejarah Sunda, dan Sejarah Kota-Kota Lama Di Jawa Barat yang merupakan karya Nina H. Lubis. Berkaitan dengan materi sejarah lokal Priangan dan Sumedang, penulis juga membaca karya sejarah lain seperti: Bupati Di Priangan karya Sobana Hardjasaputra, dan buku Kebudayaan Sunda Zaman Padjajaran (Jilid 2), karya Edi Ekadjati.
Penulis juga membaca karya lain yang mendukung isi makalah seperti buku : Jalan Raya Post; Jalan Daendels karangan Pramoedya Ananta, Ensiklopedi Nasional Indonesia, Nusantara karya Vlekke, History Of Java karya Raffles, Sejarah Sosial Ekonomis Sosiologis Indonesia karya Burger, serta buku-buku yang memuat konsep dan metode seperti : buku Sejarah Lokal di Indonesia karya Taufik Abdullah (ed), Metode Sejarah dan Historiografi Indonesia Dan Permasalahannya karya Nina H. Lubis, Mengerti Sejarah karya Gottschalk, dan buku Sejarah Lisan ; Konsep dan Metode karya Reiza Dienaputra. Adapun tinjauan pustaka berupa buku-buku metode dan konsep berfungsi untuk menciptakan sifat ilmiah dari suatu penelitian. Sehingga hasil karya menjadi sebuah historiografi yang empiris. Selain itu penulisan juga menggunakan sumber Koran dan referensi lainnya.
1.6 Sistematika Penulisan
Makalah ini dibuat sebagai syarat untuk mengikuti mata ujian kuliah “Dinamika Sejarah Lokal”. Pada pembuatan makalah ini terdapat sistematika penulisan seperti pada pembukaan makalah terdapat kata pengantar yang kemudian daftar isi. Selain itu makalah ini memuat tiga bab yaitu :
BAB I Menjelaskan tentang Latar Belakang, Identifikasi Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Tinjauan Pustaka, Sistematika penulisan.
BAB II Pada bab ini berisi pembahasan mengenai Potensi Alam Yang dimiliki Sumedang sehingga mampu menunjang kehidupan sosial dan ekonominya. Sehingga Bab ini diberi judul Sumedang Dan Silsilah Para Penguasa. Sumedang muncul ketika Kerajaan Sunda (Pajajaran) mengalami keruntuhan. (Hardjasaputra, 2004:21). Pangeran Kornel adalah Bupati ke-12 Sumedang, ia adalah pemimpin yang sangat terkemuka apabila dilihat dari segi kepemimpinan maupun pembangunan. (Herlina, 2000:84).Selain itu dijabarkan pula mengenai pemimpin Sumedang terdahulu; sebelum masa pemerintahan Pangeran Kornel. Maka dari itu di dalam bab ii ini terdiri atas sub bab sebagai berikut :
2.1 Alam Sumedang
2.2 Potensi Alam Sumedang
2.3 Silsilah Penguasa Sumedang (Sejak Masa Kerajaan-1791)
BAB III Pada ini berisi pembahasan mengenai Identitas Raden Tumenggung Adipati Surianagara atau Pangeran Kornel. Sehingga pada bab ini diberi judul “Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata (Pangeran Kornel)”.
BAB IV Pada bab ini berisi pembahasan mengenai Peranan Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata atau Pangeran Kornel Terhadap Kehidupan Ekonomi dan Sosial Masyarakat di Sumedang. Maka dari itu di dalam bab IV ini terdiri atas sub bab sebagai berikut :
4.1 Peran Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata (Pangeran Kornel)” Terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat Sumedang
4.2 Peran Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata (Pangeran Kornel)” Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat Sumedang

Setelah konsep latar belakang pada Bab I dipaparkan, kemudian pada Bab II, Bab III dan Bab IV akan menguraikan isi pembahasan. Adapun pembahasan pada Bab II berisi materi mengenai gambaran ”Alam Sumedang” dan ”Potensi Alam yang dimiliki”, selanjutnya akan dipaparkan mengenai ”Penguasa Sumedang Sebelum Masa Pemerintahan Pangeran Kornel”. Kemudian Bab III kajian akan memfokuskan pada kajian pada ”Identitas Raden Tumenggung Adipati Surianagara atau Pangeran Kornel”. Kemudian Bab IV akan menguraikan tentang Peranan Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata atau Pangeran Kornel Dalam Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Sumedang”. Dari keempat Bab diatas maka akan diperoleh satu simpulan sebagai jawaban atas isi latar belakang dan identifikasi masalah yang dikemukakan terlebih dahulu.


BAB II
PEMBAHASAN
SUMEDANG DAN SILSILAH PARA PENGUASA
2.1 Alam Sumedang
Sumedang berasal dari kata su yang artinya baik dan medang yang berasal dari kata medal kemudian medangi yang berarti “berkembang baik”. Nama Sumedanglarang berarti “tempat berkembang dengan baik dan tiada bandingnya, sebab larang artinya “mahal atau jarang”. (Ensiklopedi, 1991: 392). Sedangkan dalam versi lain, Kata Sumedang disebut berasal dari rangkaian kata “ingsun medal ingsun madangan” (ingsun artinya “saya”, medal artinya “ lahir”, dan madangan artinya “memberi penerangan”). Sehingga maksudnya “aku lahir untuk memberi penerangan”. (Herlina, 2000:71). “Sumedanglarang” sebagai nama kerajaan, dapat juga diartikan sebagai “tanah luas yang jarang bandingannya” (su= bagus, medang= luas, larang=jarang bandingnya). (Herlina, 2000: 71).
Pernyataan diatas didukung oleh laporan William Thorn, militer Inggris pada tahun 1815, ia menuliskan kesan terhadap Sumedang : “Keindahan tanah-tanah pertanian dan perkebunannya membentangi bukit-bukit dan lembahnya sangat subur, sambung menyambung dalam satu keanekaan yang jelita dan menambat hati, membentuk pemandangan yang memuaskan. (Toer, 2005:69). pendapat lainnya menyatakan bahwa “daerah Kabupaten Sumedang bergunung-gunung dan berbukit bukit, serta kurang sekali pendataran luas. Sementara sungai yang dapat mengairi sawah amat langka. Kalaupun ada hanya Sungai Cimanuk yang melewati kabupaten di sebelah timur”. (Herlina, 2000: 46).
Dari uraian diatas, gambaran yang diberikan mengenai daerah ini ialah posisi yang berada diatas ketinggian 400 meter dari permukaan laut dengan iklim sejuk yang bersuhu udara 15-25oC. Curah hujan tahunannya 2.031 milimeter. (Ensiklopedi, 1991: 391). Kabupaten Sumedang terletak antara Bandung dan Cirebon, kabupaten ini di utara berbatasan dengan Indramayu, di timur dengan Kabupaten Majalengka, di selatan dengan Kabupaten Garut dan Bandung, dan di barat dengan Kabupaten Subang dan Bandung. Luasnya 1.421,82 km2. (Ensiklopedi, 1991: 391).
Sumedang termasuk salah satu kabupaten yang penduduknya masih kuat memegang adat-istiadat tradisi nenek moyang atau leluhur. hal ini dapat dilihat dari 23 jenis upacara adat yang masih eksis di berbagai daerah di Sumedang seperti ngalaksa, numbal bumi, ngarot, owar, dan ngikis . (Herlina, 2008:96-97). Ibu kota Kabupaten Sumedang beberapa kali dipindahkan, semasa masih pemerintahan kerajaan, ibu kota terletak di Darmaraja, kemudian di Ciguling, selanjutnya ke Kutamaya. Pada masa Prabu Geusan Ulun ibu kota dipindahkan ke Dayeuh Luhur (Kota Atas) yang terletak di bukit. Setelah Geusan Ulun wafat ibu kota dibagi dua yaitu Tegalkalong dan Canukur. Setelah itu ibu kota dipersatukan kembali ke Tegalkalong. (Herlina, 2000:80-81).
2.2 Potensi Alam Sumedang
Kabupaten ini merupakan daerah pertanian yang potensial, karena tanahnya yang subur, dan pengairan yang memadai. Sehingga sistem bercocok tanam semakin intensif. Selain padi, kabupaten ini juga menghasilkan ubi kayu, ubi jalar, jagung, kacang, kedelai, aren, cengkeh, dan yang terpenting ialah kopi. (Ensiklopedi, 1991: 392). Sehingga masyarakat Sumedang adalah masyarakat agraris. Kehidupannya disandarkan pada pertanian. Dalam hal ini pertanian yang dilaksanakan oleh masyarakat Sumedang adalah pertanian subsisten. Artinya bertani untuk dikonnsumsi sendiri, bukan pertanian komersial. Contoh utama jenis tanaman ini adalah padi, jagung, palawija, dan lainnya.
Adanya potensi Sumedang yang digolongkan sebagai lahan agraris dibuktikan dengan temuan terbanyak dari temuan prasejarah di Sumedang adalah temuan pada masa bercocok tanam khususnya masa megalitikum. (Herlina, 2008:12). Hal ini didasarkan atas penelitian arkeologi prasejarah di Sumedang, yang sampai saat ini di dominasi oleh temuan tradisi megalitik. (Herlina, 2008:15). Adapun temuan megalitik ditemukan hampir di sebagian besar wilayah Sumedang seperti Darmaraja, Jatigede, Wado, Gunung Tampomas, Gunung Lingga, dan lain-lain. (Herlina, 2008:12).
Potensi lain yang dimiliki oleh alam Sumedang terlihat ada tahun 1832-1864, jumlah tanaman kopi di Keresidenan Priangan disumbangkan oleh Sumedang yang berada dalam urutan ketiga penghasil kopi. Sedangkan untuk tanaman nila, wilayah Sumedang merupakan wilayah terluas untuk penanaman nila. Adapun tanaman tarum di Kabupaten Sumedang terkonsentrasi di daaerah sebelah timur, yaitu di Ciawi, Indhiang, Tasikmalaya, dan Singaparna. Untuk tanaman ekspor lain di Sumedang ialah teh, akan tetapi tanaman ini tidak mampu melebihi penghasilan dari daerah lain karena luas wilayah yang digunakan untuk penanaman tidaklah luas. (Herlina, 2008:182).


2.3 Silsilah Penguasa Sumedang (Sejak Masa Kerajaan-Tahun 1791)
Di dalam historiografi tradisional istilah silsilah bisa juga disebut dengan genealogis. Dalam hal ini akan diperoleh gambaran mengenai hubungan antara satu generasi dengan generasi berikutnya atau pendahulunya. Sehingga dengan adanya pembagian silsilah ini akan membantu untuk memperjelas suatu kejadian atau keadaan penting pada masa terdahulu. (Herlina, 2009:15). Begitu pula hal nya dalam mempelajari Sejarah Sumedang, adanya pengetahuan mengenai hubungan keluarga, famili dari raja-raja atau tokoh sejarah dapat memberikan arti bagi peristiwa penting di masa lalu. (Herlina, 2009:15).
Dalam sumber tradisional disebutkan bahwa cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang adalah Kerajaan Tembong Agung yang berpusat di Leuwihideung, sebuah desa yang berada di Kecamatan Darmaraja. (Herlina, 2008:103). Hal ini berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang mengisahkan bahwa Prabu Guru Aji Putih (Raja Tembong Agung) memiliki putera yang bernama Batara Tuntang Buana yang kemudian mendirikan sebuah Kerajaan yang bernama Sumedanglarang. (Herlina, 2008:104). Apabila digolongkan kedalam historiografi tradisional, maka hal ini dapat dikaitkan dengan ciri keseragaman historiografi tradisional yang berkaitan dengan asal mula kerajaan. (Herlina, 2009: 24).
Batar Tuntang Buana memiliki dua orang putera yaitu Lembu Agung dan Gajah Agung, tahta kemudian dilanjutkan oleh kedua pangeran tersebut. Kemudian Prabu Gajah Agung mempunyai anak yang bernama Sunan Guling. Setelah Sunan Guling meninggal kekuasaan berpindah kepada Sunan Tuakan yang selanjutnya diteruskan oleh Nyi Mas Ratu Istri Patuakan. Pada perkembangan selanjutnya Sumedang berada di bawah pimpinan Nyi Mas Ratu Inten Dewata yang dikenal dengan gelar “Ratu Pucuk Umun”. (Herlina, 2008:106).
Pada masa pemerintahan “Ratu Pucuk Umun”. di Sumedanglarang, Kerajaan sunda sebagai kerajaan Induk sudah mengalami kemunduran. Hal ini mencapai puncak setelah penyerangan tentara Banten pada tanggal 8 Mei 1579 yang disebut sebagai peristiwa “Pajajaran Burak”. Ratu Pucuk Umun menikah dengan seorang Pangeran Ulama Islam dari Cirebon. Disini mulai terlihat adanya penetrasi Islam, Sumedang mendapat pengaruh Islam terutama dari Cirebon. Selanjutnya pada tahun 1530 ibu kota Kerajaan Sumedanglarang dipindahkan ke Kutamaya. Setelah kepemimpinan Ratu Pucuk Umun, maka Sumedanglarang kemudian diperintah oleh putranya yang bernama Raden Angkawijaya yang kemudian bergelar Prabu Geusan Ulun (1579-1601). (Herlina, 2008:106-107).
Untuk mengatasi Islam terutama Kerajaan Demak-Cirebon, maka Ratu Jayadewata pernah mengadakan kerja sama dengan bangsa Portugis yang berkuasa di Malakka. Hal ini juga yang menyebabkan Kerajaan Sunda menjadi berkembang pesat sehingga cukup memegang peranan penting dalam jalur perdagangan di Nusantara. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang-orang Portugis adalah orang Eropa pertama yang mendatangi Tatar Sunda. (Herlina, 2008:109). Pada tahun 1526 berdiri Kerajaan Banten, kemudian pada tahun 1527 Pelabuhan Sunda Kelapa mendapat serangan dari pasukan Fatahilah. Sejak saat itu nama kota pelabuhan ini diganti menjadi Jayakarta. Selain itu pada tahun 1579 pasukan Banten di bawah pimpinan Maulana Yusuf mendapat bantuan dari Cirebon untuk merebut Pakuan Padjajaran. Sejak saat itu eksistensi dari Kerajaan Sunda berakhir. (Herlina, 2008:110).
Runtuhnya Kerajaan Sunda, mendorong Prabu Geusan Ulun dari Sumedang untuk menyatakan dirinya sebagai “nalendra” (penguasa). Seluruh bekas wilayah Kerajaan Sunda yang meliputi seluruh Jawa Barat tanpa Banten, Jayakarta, dan Cirebon dijadikan sebagai wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang. (Herlina, 2008:111).
Menurut salah satu historiografi tradisional Sumedang berupa babad, penyerahan kekuasaan dilakukan oleh Raja Kerajaan Sunda kepada Prabu Geusan Ulun dilakukan dengan penyerahan mahkota. Secara simbolis, bahwa Kerajaan Sumedang ialah penerus dari Kerajaan Sunda. (Herlina, 2008:111). Dalam hal ini Prabu Geusan Ulun mencoba melegitimasi kekuasaannya atas wilayah Kerajaan Pajajaran dengan mengklaim bahwa pusaka Pajajaran diserahkan kepadanya. (Herlina, 2000:75). Sehingga wajar saja kalau bupati-bupati Sumedang selain memiliki pusakan juga gamelan kebanggaan sejumlah Sembilan buah yang merupakan koleksi para bupati. (Herlina, 1998:244).
Pemerintahan Prabu Geusan Ulun merupakan masa terpenting karena pada masa ini Kerajaan Banten melakukan penyerangan kepada Kerajaan Sunda (1579), selain itu Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir dari Dinasti kerajaan Sumedanglarang karena pemerintahan di Sumedanglarang selanjutnya berbentuk kabupatian yang dipimpin oleh seorang bupati. (Herlina, 2008:112). Ketika Kerajaan Sunda Berjaya, Kerajaan Sumedanglarang hanyalah sebuah kerajaan vassal, akan tetapi setelah keruntuhan Kerajaan Sunda, maka Kerajaan Sumedanglarang menjadi kerajaan “merdeka” yang mewarisi kebesaran Kerajaan Sunda/ Pajajaran. Bahkan pada masa Prabu Geusan Ulun daerah seperti Karawang, Ciasem, Pamanukan, dan Indramayu yang semula ditaklukkan oleh Banten berhasil direbut kembali. (Herlina, 2008:113). Pengabdiannya terhadap Sumedang tidak memupus adanya dugaan bahwa Prabu Geusan Ulun sebenarnya keturunan Galuh. Hal ini terbukti dengan pemakaian nama “Kusumadinata” yang selain dipakai oleh menak di Sumedang juga dipakai oleh menak Galuh. (Herlina, 1998:51). Setelah Prabu Geusan Ulun wafaf pada tahun 1601, Kerajaan Sumedanglarang dibagi dua. Kerajaan yang pertama diperintah oleh Pangeran Rangga Gede. Pusat kotanya berada di Dayeuh Luhur (ada yang menyebut juga di Canukur). Kerajaan kedua dipimpin oleh Pangeran Suriadiwangsa yang ibu kotanya terletak di Tegal Kalong. (Herlina, 2008:124).
Pada tahun 1620 Raden Suriadiwangsa datang ke Mataram untuk menemui Sultan Agung untuk menyatakan pengakuan bahwa Kerajaan Sumedang menjadi bawahan Mataram. Alasan Raden Aria Suriadiwangsa menyerah kepada Mataram karena ia merasa Sumedang terjepit oleh tiga kekuatan, yaitu Mataram, Banten dan Kompeni di Batavia. Selain itu ia memperhitungkan hubungan keluarga dengan penguasa Mataram dari pihak ibunya, Ratu Harisbaya. (Hardjasaputra, 2004:21). Sehingga dalam sumber disebutkan bahwa masuknya Mataram ke Priangan tanpa peperangan. Diibaratkan sebagai angin topan yang meniup pepohonan, sehingga pohon-pohon itu roboh tak berdaya. Artinya kekuasaan dari luar tersebut diterima karena memang sudah nasib. Hal ini mencerminkan ungkapan (ngawula ka wayahna; mengabdi dengan sabar meskipun tidak menyenangkan hati). (Herlina, 1998:59).
Wilayah yang dikuasai oleh Pangeran Suriadiwangsa ini dinamai dengan “Prayangan” (yang artinya “tulus iklas”); diperkirakan dari kata itu lahir kata Priangan. Pendapat lain yang sama juga mengemukakan bahwa setelah penyerahan yang dilakukan Raden Suriadiwangsa pada 1620, maka kekuasaan yang dahulu wilayah Sumedanglarang diubah menjadi Priangan yang berasal dari Prayangan (artinya penyerahan diri dengan hari suci). (Herlina, 2000:77).
Setelah penyerahan kedaulatan tersebut, maka Sultan Agung memberi Pangeran Suriadiwangsa gelar “Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata (Rangga Gempol I)”. Sejak saat itu status Sumedang berubah, tidak lagi sebagai kerajaan, akan tetapi menjadi kabupaten yang merupakan bagian dari kesultanan Mataram.Wilayah-wilayah yang semula menjadi bawahan Sumedanglarang diberi status sebagai kabupaten, yang masing-masing dipimpin oleh seorang bupati. Dengan adanya perubahan status ini, maka kekuasaan merupakan bagian dari sistem politik yang bersifat patrimonial, para bupati atau penguasa lokal adalah wakil dan kelanjutan dari kekuasaan raja. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto:1993: 174). Konsep kekuasaan Sunda dalam penulisan tradisional, menyatakan bupati sebagai penguasa kabupaten. Ketika itu Rangga Gempol I menjadi Bupati Sumedang dan menjadi kodinator dari para bupati lain yang ada di wilayah Priangan (Bupati Wedana). (Herlina, 2008:125).
Setelah Rangga Gempol I meninggal, maka kedudukannya diserahkan kembali kepada Pangeran Rangga Gede, hal ini membuat Raden Suriadiwangsa putera dari Rangga Gempol I kecewa, maka dari itu ia lari ke Banten untuk merebut kembali Sumedang. Hal ini membuat Sultan Agung marah dan menganggap Rangga Gede tidak mampu untuk mengendalikan pemerintahan. Maka dari itu ia ditawan, selanjutnya pangkat bupati wedana kemudian digantikan oleh Dipati Ukur. (Herlina, 2008:128).
Pada masa itu Dipati Ukur bersama pasukan dari Mataram melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia. Serangan tersebut gagal, dan pada serangan berikutnya Dipati Ukur menolak ikut serta. Hal tersebut membuat penguasa Mataram marah karena dianggap sebagai upaya pemberontakan. (Herlina, 2008:109). Pada tahun 1628 Mataram melakukan penyerangan terhadap Dipati Ukur, akan tetapi serangan ini tidak berhasil. Selanjutnya pada tahun 1632 pasukan Mataram berhasil menumpas pemberontakan Dipati Ukur. Keberhasilan ini tidak lepas dari bantuan Pangeran Rangga Gede, maka dari itu ia dibebaskan dari hukuman dan diposisikan sebagai Bupati Suedang. Kedudukannya sebagai Bupati Wedana dikukuhkan lagi. (Herlina, 2008:129).
Setelah Rangga Gede wafat kedudukannya digantikan oleh puteranya yang bernama Bagus Weruh yang disebut sebagai Pangeran Dipati Rangga Gempol II Kusumadinata (1633-1656). Pada masa pemerintahannya terjadi dua kali reorganisasi pemerintahan. Hal ini berkait dengan upaya Mataram untuk mengefektifkan serangan-serangan ke Batavia. (Herlina, 2008:130). Pada tanggal 16 Juli 1633 (9 Muharram tahun alip), Sultan Agung mengeluarkan surat keputusan, yang isinya pembentukan tiga kabupaten beserta penunjukan bupatinya, yaitu :
1. Kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Bupati Tumenggung Wiradadaha.
2. Kabupaten Bandung yang dipimpin oleh Wira Angun-angun.
3. Kabupaten Parakamuncang yang dipimpin oleh Tumenggung Tanubaya.
Sehingga pada saat itu bekas Kerajaan Sumedang terdapat empat kabupaten, yaitu Sumedang, Sukapura, Bandung, dan Parakamuncang. (Herlina, 2008:130). Hal ini membuat Rangga Gempol II. Apalagi ketika Sultan Amangkurat I berkuasa, jabatan Bupati Wedana dihapuskan, dan wilayah Mataram dibagi kedalam 12 ajeg (setara dengan kabupaten). Hal ini membuat kedudukan Bupati Wedana sama dengan bupati-bupati lain di Priangan. Apalagi daerah kekuasaan Sumedang menjadi semakin kecil. Maka dari itu akhirnya Rangga Gempol II mengundurkan diri sebagai bupati, kedudukannya digantikan oleh Rangga Gempol III. (Herlina, 2008:131).
Sejak tahun 1657 kedudukan bupati di Priangan menjadi sejajar. Rangga Gempol III diberi gelar “penembahan” oleh Amangkurat I, sehingga namanya menjadi Pangeran Panembahan Kusumadinata. Ia adalah bupati terlama yang memerintah di Sumedang, selama 50 tahun. (Herlina, 2008:113-132). Pada masa ini Banten berambisi untuk merebut kembali Batavia dari VOC dan berniat menguasai Sumedang. Ketika itu kekuasaan Mataram terus melemah. Hal ini karena terjadi perebutan tahta antara Sultan Amangkurat I dan saudaranya Pangeran Puger. Ketika itu Trunajaya dari Madura juga melakukan penyerangan yang dibantu oleh Karaeng Galesung dari Makasar. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dari itu Amangkurat akhirnya meminta bantuan Kompeni. (Herlina, 2008:132).
Kompeni akhirnya mengutus Residen Jepara, James Cooper pergi ke Mataram dengan membawa konsep perjanjian. Pada tanggal 25 Maret 1677 perjanjian di Mataram ditandatangani. Inti dari perjanjian tersebut ialah keterangan mengenai hak monopoli pembelian beras yang dimiliki VOC dan penyerahan Cisadane dan Cipunagara kepada VOC. VOC bersedia membantu Mataram dengan syarat biaya perang ditanggung oleh Mataram. Semua isi perjanjian di atas disetujui kecuali penyerahan Cisadane dan Cipunagara, hal ini karena wilayah tersebut milik Pangeran Panembahan. Sehinnga daerah yang diserahkan hanya Cisadane dan Citarum saja. (Herlina, 2008:133). Dengan demikian kekuasaan Mataram menurun karena tidak mampu untuk menguasai daerah bawahannya. Selain itu Citarum dan Cipunagara menjadi wilayah Sumedang. Sehingga batas dari wilayah Kabupaten Sumedang ialah :
1. Sebelah Selatan : Kabupaten Parakamuncang.
2. Sebelah Utara : Laut Jawa.
3. Sebelah Barat : Kali Cisadane.
4. Sebelah Timut : Cirebon.
Hal ini membuat Pangeran Panembahan merasa telah mengembalikan kebesaran Sumedang seperti pada zaman Sumedanglarang. (Herlina, 2008:133-134). Akan tetapi Pangeran Panembahan meminta VOC untuk menutup muara Cipamanukan dan Pantai Utara untuk mencegat tentara Banten pada saat itu. VOC menyetujui permintaan tersebut karena selalu mendapat gangguan dari Banten. Dengan demikian, maka Pangeran Panembahan menjadi leluasa untuk memperkuat kedudukannya dan pemerintahannya di Sumedang. (Herlina, 2008:135). Sedangkan menurut sumber lain menyatakan bahwa pada tanggal 19-20 Oktober 1677 Mataram telah menyerahkan wilayah Priangan Timur ke VOC. Adapun wilayah tersebut ialah : Garut, Bandung, Sumedang, Tasikmalaya, dan Ciamis.
Selanjutnya Banten mendapat bantuan dari Trunajaya, Bupati Bandung Wiraangun-angun, Sukapura, dan Parakamuncang untuk melakukan penyerangan ke Sumedang. Akan tetapi VOC berhasil melindungi Sumedang di bagian Utara. VOC menyiapkan pasukan antara kali Cisadane dan Citarum, selain itu antara Batavia dan Indramayu. (Herlina, 2008:135). Di luar dugaan, pada tanggal 10 Maret 1678 pasukan Banten berhasil mengepung Kota Sumedang selama satu bulan lamanya, akan tetapi tidak berhasil menguasai ibu kota Sumedang. (Herlina, 2008:136).
Pada awal Juni 1678 pemimpin pasukan Banten, Raden Senapati tewas. Pasukan Sumedang berhasil mengusir tentara Banten dan merampas 20 pucuk senapan. Ketika itu Amangkurat I digantikan oleh Amangkurat II yang mengirim Dirapraja ke Sumedang untuk mengontrol dan meminta para bupati untuk setia kepada Mataram. Permintaan tersebut ditolak oleh Pangeran Panembahan. Sumedang menyatakan melepaskan diri dari Mataram. (Herlina, 2008:136-137).
Pada awal Mei 1681 Pangeran Panembahan memindahkan ibu kota kabupaten dan Tegalkalong ke Sumedang sekarang. Di waktu yang sama Kompeni menganggap seluruh wilayah Priangan berada di bawah kekuasaannya. Pada 15 Nopember 1684 diadakan pertemuan antara Kompeni dan seluruh Bupati Priangan (di Benteng Beschermin, Cirebon). Pertemuan tersebut menghasilkan surat keputusan mengenai pengangkatan bupati-bupati di Priangan untuk memerintah di daerah masing-masing sebagai wakil Kompeni. (Herlina, 2008:141). Dengan adanya keputusan tersebut, maka kabupaten di Priangan telah berada di bawah kendali VOC. Hal tersebut tidak mempengaruhi Rangga Gempol III, ia tetap memposisikan diri sebagai kabupaten yang merdeka, tidak taat kepada VOC, dan tidak taat kepada Mataram. (Herlina, 2008:142).
Ketika VOC berniat mengangkat pejabat pribumi untuk mengawasi bupati di Priangan, maka Pangeran Panembahan mengajukan permohonan agar ia diangkat sebagai Wedana Bupati. Permintaan tersebut ditolak karena Pangeran Panembahan atau Rangga Gempol III dianggap tidak loyal kepada Kompeni, selain itu Kompeni beranggapan bahwa kedudukan semua bupati di Priangan adalah sama. (Herlina, 2008:143). Oleh karena itu, Kompeni mempertimbangkan bahwa yang layak untuk jabatan Gubernur di Priangan adalah tokoh dari luar Priangan. Berdasarkan surat keputusan tanggal 9 Februari 1706 Pangeran Aria Cirebon diangkat menjadi Wedana Bupati. Tugasnya mengawasi dan mengordinasi bupati-bupati di Priangan agar mereka melaksanakan segala kewajiban kepada Kompeni. Hal ini membuat Pangeran Panembahan kecewa, maka dari itu pada tanggal 13 Maret 1704 ia mengembalikan besluit pengangkatannya sebagai bupati. (Herlina, 2008:144).
Pada 5 Oktober 1705 Mataram resmi menyerahkan daerah kekuasaan yang berada di sebelah timur Cipunagara dan Citarum. Sejak saat itu seluruh Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Kompeni. Sehingga secara de facto dan de jure Priangan berada di bawah VOC. Kedudukan Rangga Gempol III selanjutnya digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Raden Tanumaja sebagai Bupati Sumedang. (Herlina, 2008:144). Menurut Kompeni, Raden Tanumaja dianggap tidak loyal. Hal ini karena ia bersikap kritis terhadap Kompeni. Tindakannya acap kali mengganggu Kompeni, misalnya ketika tanggal 26 Oktober ia menguasai tanah yang dulunya termasuk wilayah Parakamuncang. Pada tanggal 16 Desember 1706 ia mengirimi surat kepada Kompeni memberitahukan perselisihan dengan Parakamuncang mengenai kepemilikan tanah. Selain itu pada tanggaal 23 Desember 1706 dan 8 April 1707, Raden Tanumaja mengajukan permohonan kepada Kompeni agar dirinya tidak berada di bawah pengawasan Pangeran Aria. Ia tidak menyukai dan memusuhi Pangeran Aria. Permintaannya ditolak oleh Kompeni. Akan tetapi setelah Pangeran Aria meninggal, Gubernur Jenderal Kompeni akhirnya menyetujui pemberian gelar adipati. (Herlina, 2008:145-146).
Pada tahun 1706 Raden Tanumaja memindahkan ibu kota dari Tegalkalong ke Regol Wetan. Kedudukannya hanya tiga tahun, kemudian digantikan oleh anak sulungnya yang bernama Raden Kusumadinata. (Herlina, 2008:146). Atas persetujuan VOC pada tahun 1710 Kusumadinata menggunakan gelar yang digunakan kakeknya “Rangga Gempol”. Sehingga ia diberi gelar sebagai Pangeran Rangga Gempol IV. (Herlina, 2008:146). Jasa yang dimiliki oleh Pangeran Rangga Gempol VI ini adalah membuka lahan-lahan sawah baru dalam jumlah yang cukup luas. Sehingga ia dikenal sebagai bupati yang memajukan pertanian persawahan. Setelah Rangga Gempol IV wafat ia diberi gelar Pangeran Karuhun. (Herlina, 2008:146-147).
Sepeninggalan Rangga Gempol, kedudukannya dijalankan oleh Dalem Istri Rajaningrat (1744-1759). Hal ini disebabkan oleh Raden Kusumadinata yang masih kecil, akan tetapi ia senantiasa mendampingi ibunya dan berperan aktif dalam memajukan kehidupan rakyat Sumedang, seperti membangun saluran irigasi baru, memperbaiki saluran irigasi lama yang rusak, membuka hutan menjadi areal penanaman sawah, dan membuka hutan untuk penanaman kopi. Pada tanggal 6 Februaru 1748 Kompeni memberikan penghargaan kepada Raden Kusumadinata berupa gelar “adipati”. Sehingga nama lengkapnya menjadi Raden Adipati Rangga Gempol Kusumadinata (Rangga Gempol V). (Herlina, 2008:147).
Bantuan Rangga Gempol kepada ibunya memperoleh hasil karena produksi padi meningkat, produksi tanaman wajib seperti kopi ikut meningkat. Hal ini membuat rute pengangkutan kopi berubah. Semula kopi diangkut ke Batavia melalui Bandung, kemudian diubah pengangkutan Kopi dari Sumedang dan Parakamuncang dikirim langsung ke Cirebon. Hal ini yang kemudian membuat Sumedang dan Parakamuncang yang semula berada di Keresidenan Priangan berubah menjadi wilayah Keresidenan Cirebon. (Herlina, 2008:148).
Sejak ibunya meninggal, Rangga Gempol V berkuasa penuh sebagai bupati di Sumedang. Akan tetapi hanya dalam waktu yang singkat, sampai 1761. Ia meninggal dalam usia muda dan ketika wafat ia mendapat julukan Dalem Anom. (Herlina, 2008:148). Setelah Rangga Gempol V meninggal, maka Sumedang diperintah oleh lima bupati sampai berakhirnya periode VOC. Adapun para bupati yaitu :
1. Dalem Adipati Surianagara (1761-1765).
2. Dalem Adipati Surialaga (1765-1773).
3. Dalem Adipati Tanubaya (1773-1775).
4. Dalem Tumenggung Patrakusumah/ Raden Adipati Tanubaya II (1775-1789).
5. Dalem Aria Sacapati (1789-1791).
(Herlina, 2008:149).
Pada perkembangan selanjutnya, kedudukan Bupati Sumedang mengalami transisi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Kedudukan ”menak Sumedang” akan dipimpin oleh keturunan bupati sebelumnya. Adapun Bupati berikutnya merupakan tokoh terkemuka yang memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi dan pembangunan Sumedang. Ia adalah Pangeran Surianagara Kusumadinata atau Pangeran Kornel (1791-1828). Untuk materi lanjut, maka akan dikemukakan pada bab selanjutnya yang akan memaparkan aspek-aspek terkait dengan Pangeran Surianagara Kusumadinata atau Pangeran Kornel.

BAB III
PEMBAHASAN
“RADEN TUMENGGUNG ADIPATI SURIANAGARA KUSUMADINATA” (PANGERAN KORNEL 1791-1828).
Pada abad ke-19 ”menak” yang ideal tidak hanya dilihat dari segi fisik, tapi juga prilaku. Seorang penguasa haruslah mempunyai sorot (aura atau sinar) dan memiliki keteguhan hati yang diwujudkan dengan percaya diri. (Herlina, 2000:147). Selanjutnya terjadi perkembangan dalam menentukan tipe ideal seorang penguasa ialah : tabeat luhung (tabiat yang luhur), pamilih (mempunyai pertimbangan untuk menentukan baik dan buruknya sesuatu), kautamaan (keutaamaan), kasetiaan (kesetiaan), kapinteran (kepintaran), wawanen (keberanian), kapengkuhan (keteguhan hati),elmu (ilmu), dan karajinan (kerajinan). (Herlina, 2000:146).
Adapun uraian diatas tentunya sangat tepat apabila ditujukan dengan kriteria Bupati ke-12 Kabupaten Sumedang. Begitulah kiranya gambaran mengenai Raden Aria Surianagara. Sepeninggalan Bupati-bupati yang telah diuraikan sebelumnya, maka Sumedang selanjutnya diperintah oleh Raden Aria Surianagara yang memiliki nama kecil Raden Jamu. Ia adalah anak dari Adipati Surianagara. Sepeninggalan Surianagara, terjadi perebutan tahta bupati, sejak kecil Raden Jamu selalu disingkirkan. Sehingga Pangeran Jamu meninggalkan Sumedang selama 16 tahun, 1775-1791.
Pada Februari Kompeni memanggil Raden Jamu untuk kembali ke Sumedang dan diangkat menjadi Patih Sumedang dan Kepala Cutak Rajapolah (Wedana di Rajapolah). Bahkan Raden Jamu yang disebut juga Raden Aria Surianagara ini dikukuhkan sebagai bupati berdasarkan besluit 30 Desember 1791 dan mendapat gelar “tumenggung”. Ia adalah Bupati Sumedang pada masa transisi dari periode VOC ke periode Pemerintahan Hindia Belanda dan selanjutnya Pemerintahan Inggris. (Herlina, 2008:151).
Pada masa itu gelar kepangkatan bupati diidentikkan dengan pangkat militer, gelar tumenggung disamakan dengan mayor, gelar adipati dan aria disamakan dengan letnan kolonel, dan gelar pangeran disamakan dengan gelar kolonel. Oleh karena itu Bupati Sumedang, Pangeran Adipati Kusumanagara alias Pangeran Kusumadinata (1791-1828) dikenal sebagai “Pangeran Kornel”. Pemberian kepangkatan ini untuk memperbesar pengaruh dan wibawa bupati. (Hardjasaputra, 2004:42).

BAB IV
PEMBAHASAN
PERANAN RADEN TUMENGGUNG ADIPATI SURIANAGARA KUSUMADINATA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT SUMEDANG
Sumedang sebagai sebuah kabupaten, dianggap sudah cukup tua usianya. Empat abad lebih bukanlah waktu yang pendek bagi pertumbuhan suatu wilayah. Secara historis Kabupaten Sumedang tumbuh dari sebuah kerajaan berabad-abad lalu. (Herlina, 2008). Bupati dan raja merupakan alat organisasi dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Hubungan ini bisa dikatakan sebagai ikatan feodal dari masyarakat Indonesia. (Burger, 1956:107).
Pemerintahan Raden Tumenggung Adipati Surianagara telah memberikan kemajuan terhadap Sumedang. Dari segi kewilayahan, luas kekuasaan Kabupaten Sumedang menjadi bertambah. Pada masa Raflles, Kerawang yang dianggap tidak mampu mengurus pemerintahan dihapuskan dan wilayahnya dimasukkan ke Kabupaten Sumedang. Begitu pula dengan Parakamuncang yang dianggap gagal meningkatkan produksi kopi. Pada tahun 1813 kabupaten ini dibubarkan dan dimasukkan ke dalam Kabupaten Sumedang. (Herlina, 2008:160).
Pada tahun 1816 disebutkan dalam laporan Residen Priangan bahwa Kabupaten Sumedang meliputi 15 distrik, yaitu : Balubur, Andawadak (sekarang TanjungSari), Depok, Malandang, Conggeang, Darmaraja, Darwangi, Pawenang, Malangbong, Ciawi, Pagerageung, Rajapolah, Indihiang, Cicariang, dan Singaparna. Selanjutnya pada tahun 1821 Sukapura dihapuskan karena dianggap tidak memberi keuntungan kepada Pemerintah Kolonial. Penghapusan ini berdasarkan besluit pemerintah pada 19 April 1821. Adapun daerah bekas kabupaten dibagikan kepada Sumedang, Cianjur, dan Limbangan. Kekuasaan Sumedang menjadi luas karena mendapat lima distrik yaitu : Pasirpanjang, Janggala, Kawasen, Cikembulan, dan Mandala. (Herlina, 2008:161). Selain berperan dalam memperluas wilayah kekuasaan, maka Pemerintahan Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata telah member kontribusi dalam kehidupan ekonomi dan sosial pada masyarakat Sumedang yang akan dipaparkan di bawah ini :
4.1 Peran Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata (Pangeran Kornel)” Terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat Sumedang
Menurut Frederick de Haan, ketika Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata menjadi bupati kehidupan ekonomi di Sumedang sedang tidak berkembang. Semula produksi kopi di Sumedang hanya 2500 pikul. Pada masa Raden Tumenggung Adipati Surianagara meningkat menjadi 8000 pikul, bahkan pernah sempat 12000 pikul. Selanjutnya waktu tempuh pengangkutan kopi yang semula 22-60 hari bisa diperpendek menjadi 2-6 hari. Hal tersebut dimungkinkan karena terjadi perubahan rute pengangkutan. Semula dari Cikao diubah menjadi langsung ke Karang Sembung. (Herlina, 2008:162). Dalam bidang ekonomi pemerintahan Raden Tumenggeung Adipati Surianagara mengalami banyak kemajuan. Nicolaus Engeelhard dalam resolusi tanggal 16 Oktober 1793 memberi pujian atas keberhasilan tanaman kopi di Sumedang. Selanjutnya, resolusi Engelhard juga melaporkan bahwa Raden Tumenggung Adipati Surianagara terlihat langsung dengan aktivitas pertanian rakyat untuk meningkatkan produktivitas padi. (Herlina, 2008:162).
Telah diketahui bahwa Pertanian dan peternakan merupakan jenis kegiatan ekonomi paling mendasar dalam kehidupan manusia, karena berhubungan langsung dengan alam. Adapun kegiatan pertanian ialah mengolah tanah dan tanaman untuk diambil daun, batang, buah, dan umbinya, sedangkan peternakan memelihara hewan untuk dimanfaatkan, daging, terlur, susu, kulit, tanduk, dan tenaganya. Selain itu juga ada kegiatan menyadap seperti menyadap enau dan pohon kelapa. (Ekadjati, Edi S, 2003 :147). Berdasarkan hasil survei Raffles, pada masa pemerintahannya di Hindia Belanda jumlah penduduk Priangan yang menjadi petani ialah 109. 125 orang. (Raflles, 1982:70).
Petani adalah pengolah tanah, dan ketika dia telah memenuhi tugas dan kewajiban untuk penguasa dari bagian sawahnya, dia berhak menentukan berapa bagian yang berhak disimpan untuk kebutuhan keluarganya, meskipun sering kali ia mendapat sanksi dari kebiasaan yang berlaku. (Raflles, 1982:73). Dengan demikian maka petani akan berkaitan dengan beras yang merupakan makanan utama penduduk Jawa, berdasarkan cara pengolahannya, padi ini biasa disebut padi sawah atau padi gaga. Di Distrik Sunda padi gaga disebut padi tipar, dan hanya ditanam di lahan pegunungan yang baru dibersihkan. (Raflles, 1982:78). Berkaitan dengan hal tersebut, maka Menurut Dasasasmita, ada Sembilan tahapan penggarapan ladang seperti: Narawas (memilih batas lahan yang akan digarap, dan membersihkan semak belukar), Nyacar (memangkas dahan dahan kecil dan membabat rumput agar tanah pada lahan banyak terkena sinar matahari), Nukuh (mengeringkan rumput, daun, dan ranting), Ngahuru (membakarr sampah yang telah kering), Ngaseuk (membuat lubang yang kemudian dimasukan benih padi), Ngirah sawan (membuang sisa sampah dan memeriksa hama tanaman), Ngored (membuang rerumputan dan menggemburkan tanah), Dibuat (menuai tangkai padi yang menguning), Ngakut (mengangkut padi yang telah kering dari huma ketempat pemukiman untuk disimpan didalam lumbung). Biasanya lahan huma digarap satu tahun sekali. (Ekadjati, Edi S, 2003 :152).
Dari uraian diatas, dapat diperoleh gambaran bahwa di negara agraris tanah bukanlah milik perorangan tapi kelompok. Hingga tahun 1879 tidak ada sistim pemilikan tanah secara individual di tanah Sunda. Tanah merupakan milik umum, hak milik komunal, individu hanya memiliki hak pakai. (Ekadjati, Edi S, 2003 :153). Fungsi tanah ada enam yaitu : sebagai lahan pertanian (huma), lahan perkebunan (lada,enau, dan lainnya), lahan hutan (hutan umum, hutan larangan), lahan perumahan (perkampungan), lahan usaha (pelabuhan, pasar), dan lahan prasarana umum (jalan, taman, kabuyutan, bangunan keagamaan, bangunan pemerintahan). (Ekadjati, Edi S, 2003 :154). Beras yang dihasilkan melebihi kebutuhan masyarakat sehingga menjadi barang ekspor, selain itu juga lada. (Ekadjati, Edi S, 2003 :155).
Berkaitan dengan tanah, maka jenis tanah di Sumedang tidaklah cocok untuk penanaman kopi. Sehingga wajar saja pada masa VOC dan Hindia Belanda, Kabupaten Sumedang dilibatkan dalam sistem perekonomian komersial. Akan tetapi tidak dijadikan sebagai bagian penting apabila dibandingkan dengan Kabupaten Bandung dan Cianjur. Adapun alasannya, karena tanaman ini ideal ditanam di tanah hitam bercampur pasir dengan ketinggian yang tepat, dan tidak terlalu banyak mendapat sinar matahari dan hujan. Sehingga cocok ditanam di lereng perbukitan dan lembah di kaki gunung. (Raflles, 1982:82).
Sebelum tahun 1808, perkebunan kopi hanya ada di Distrik Sunda. Bahkan tiap keluarga pada masa itu diwajibkan menanam 1000 pohon kopi. Dalam hal ini karena komoditas kopi merupakan penunjang utama perekonomian Priangan sejak abad ke 18 hingga awal abad ke-20. Dibukanya Hindia Belanda bagi pemodal-pemodal swasta, menambah jenis dan jumlah perkebunan di Priangan. (Herlina, 1998:49). Kopi merupakan tanaman yang dimonopoli oleh Belanda, mulai dari penanaman, perawatan, sampai pengangkutan ke gudang tidak lepas dari pengawasan Kompeni. (Raflles, 1982:82).
Pada masa Dandels, Sumedang dijadikan sebagai daerah unit pertama penghasil kopi bersama-sama dengan Cianjur, Bandung, dan Parakamuncang. (Hardjasaputra, 2004:40). Daendels memperkirakan bahwa daerah tersebut dapat menghasilkan kopi sekurang-kurangnya 10.000 pikul kopi per tahun. (Hardjasaputra, 2004:40). Maka dari itu, pada masa Daendels petani Jawa Barat diwajibkan menanam 500 pohon kopi dan hasilnya harus di jual kepada Pemerintah Hindia Belanda sebesar 10 gulden per kwintal meski harga pasaran mencapai 100 gulden. (Tempo, 2002).
Komisi Thalman melaporkan bahwa Bupati Sumedang menerima kopi dari rakyat, seperti dari Parakamuncang 200 kati per pikul dengan bayaran sejumlah 4 ringgit uang perak dan 2 ringgit uang kertas untuk 146 kati. Sehingga keuntungan berupa 2 ringgit dan 104 kati kelebihan timbangan. Jumlah yang diterima dari pembayaran kopi telah lebih dari 7.478.168 ringgit dihitung dengan penyerahan 9000 pikul dalam tahun yang diserahkan dari kabupaten yang digabungkan Sumedang dan Parakamuncang. Jadi dihitung per pikul 39 ½ stuiver. (Herlina, 2008:162). Di Distrik Sunda tiga depot utama penyimpanan kopi dari para petani ialah Buitenzorg, Chikan dan Karangsambang. (Raflles, 1982:84).
Berkaitan dengan kegiatan penanaman kopi, maka Raden Tumenggung Adipati Surianagara tidak segan-segan pergi ke desa untuk mengontrol perkebunan kopi rakyat. Ia memberikan pelajaran tentang cara menanam kopi, mengurusnya bahkan memilih tanah yang baik untuk kebun kopi. Sehingga Kabupaten Sumedang yang tanahnya liat bercampur pasir, tidak cocok untuk menanam kopi menjadi mampu untuk menghasilkan produksi kopi yang menguntungkan rakyat. (Herlina, 2008:163). Dalam sistim penanaman kopi dalam jumlah terbesar terdapat dalam tahun 1707. Tugas dan kewajiban bupati, khususnya menyangkut penyerahan hasil tanaman wajib, menunjukan hubungan antara bupati dan Kompeni. (Hardjasaputra, 2004:34).
Atas inisiatif mengorganisasikan penyelenggaraan tanaman kopi dan kerajinan untuk perluasan tanaman kopinya, maka Komisi Thalman memberikan pujian kepada Bupati Sumedang tersebut. Awal 1818 Raden Tumenggung Adipati Aria Surianagara mendapat gelar “pangeran”. Kemudian ia mendapat lencana “Bintang Mas” yang bertulis “Voor betoonde moed en touw” (tanda keberanian dan kesetiaan yang diperlihatkan) Ia adalah Bupati Sumedang yang melukis tinta emas dalam lembaran-lembaran sejarah Sumedang. (Herlina, 2008:164). Sehingga di daerah produsen penghasil kopi membuat kedudukan bupati bertambah kuat. Dalam hal ini secara langsung Daendels telah menunjukkan peran penting bupati dalam pelaksanaan eksploitasi ekonomi kolonial. (Hardjasaputra, 2004:41).
Tanah Sunda di daerah pedalaman cenderung menuju kearah pemujaan nenek moyang. Adanya masa bercocok tanam juga menyebabkan masyarakat Sunda mengenal sistim barter (tukar menukar barang). Sehingga sistim ini yang kemudian mengenalkan adanya kegiatan perdagangan. ( Ekadjati, Edi S, 2003 :45). Produk tanaman komersial dari Sumedang ialah kopi, teh, karet, nila (tarum) dalam volume yang tidak begitu besar. (Herlina, 2008:179). Selain kopi, tanaman lainnya adalah nila dan benang yang merupakan komoditas perdagangan yang terkena kebijakan wajib serah. Pada tahun 1695, jumlah nila yang wajib diserahkan kepada VOC dari daerah Priangan sebanyak 80 pikul. Pada saat itu Sumedang berhasil menyerahkan 25 pikul nila. (Herlina, 2003:302). Akan tetapi pada dinamikanya terjadi pergeseran, dimana pada akhir abad ke-18 tanaman demikian tidak lagi terlalu diperhatikan oleh Kompeni, hal ini dikarenakan keberadaan kopi yang menjadi komoditas utama perdagangan. Bahkan nila di Priangan sudah menurun jumlahnya, berbeda dengan di Cirebon yang pada akhir abad ke-18 mampu menghasilkan 6000-8000 pon nila. (Herlina, 2003:302).
Dalam kegiatan perekonomian, Kabupaten Sumedang dianggap cukup dinamis. Hal ini karena aktivitas perekonomian masyarakat tidak hanya sebatas subsisten, komersil, dan pertanian saja, akan tetapi ke sektor industri yang tidak hanya dipasarkan di Kabupaten Sumedang, tapi juga ke daerah lain. Rakyat sangat puas dengan kepemimpinan Pangeran Kornel. Hal ini karena beliau sangat pro- rakyat. Bupati ini membela kepentingan rakyat maupun pemerintah. Sehingga dalam laporan Komisi Thalman ia digambarkan sebagai Bupati Sumedang yang “cerdas, pintar, dan aktif”. Ia merupakan bupati senior diantara Bupati Priangan lainnya. Kelebihannya karena pengetahuan penanaman kopi yang dimilikinya. Mengenai Pangeran Kusumahdinata ini terdapat 90 paragraf dari laporan yang memuat informasi bahwa “ketertiban keamanan di Kabupaten Sumedang adalah yang terbaik”. (Herlina, 2008:164).
4.2 Peran Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata (Pangeran Kornel)” Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat Sumedang.
Pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Adipati Surianagara, masyarakat yang tanahnya tidak cocok untuk lahan perkebunan kopi dibebaskan dari kewajiban menanam kopi. Bagi rakyat Sumedang, tidak jarang lahan perkebunan kopi dan tempat tinggalnya berjarak jauh. Maka dari itu atas inisiatif Raden Tumenggung Adipati Surianagara, petani yang kebun kopinya jauh dapat menyerahkan penggarapan kepada orang lain yang berada dekat dengan kebun kopi. Sehingga dapat dikerjakan sebagai buruh atau pekerja. Sehingga kedua belah pihak akan memperoleh keuntungan. Bahkan pemerintah turut memperoleh keuntungan. Hal ini karena kegiatan penanaman kopi menjadi tidak membebani rakyat kecil. (Herlina, 2008:163).
Adanya sistem diatas membuat rakyat lebih senang menyumbang untuk kehidupan orang lain daripada pergi sendiri ke gunung melalui jalan yang sukar dan jauh untuk membersihkan kebun, meninggalkan anak dan istri sekian lama, jika diwajibkan menyediakan waktu untuk membersihkan kebun. (Herlina, 2008:163). Hal ini sangat berperan dalam kehidupan sosial, dimana pada masa Pemerintahan Raden Tumenggung Adipati Surianagara, secara tidak langsung telah mengajarkan kepada rakyatnya untuk membagi rejeki untuk orang lain (tidak serakah). Sehingga pada masa itu fenomena miskin tidak tergambarkan, karena kehidupan masyarakat mengalami kecukupan. Hal ini membuat tidak adanya kesenjangan dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan pada kehidupan sosial masyarakat, Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata telah berhasil menciptakan kehidupan rakyat yang tidak terkekang dengan sistem perkebunan. Pemerintahannya berperan dalam menciptakan rakyat yang bebas dari paksaan.
Selanjutnya, potensi yang dimiliki Priangan mendorong Daendels untuk tidak melewatkan wilayah ini dalam menjalankan praktik kolonialnya. Akan tetapi fenomena bupati yang ada membuat Daendels mulai fokus untuk memperhatikan keberadaan para bupati di Priangan dalam menerapkan kebijakannya. Maka itu dalam menjalankan misi pembangunan Jalan Anyer-Panarukan yang ditujukan untuk mempertahankan Pulau Jawa Dari Serangan Inggris, Daendels meminta bantuan dari para bupati lokal.
Ketika Daendels menjadi Gubernur Jenderal (1808-1811) terjadi peristiwa “Cadas Pangeran” yang terkait dengan pembuatan Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Dalam pembangunan jalan, rakyat dari berbagai pelosok Sumedang dipaksa untuk bekerja keras menembus bukit batu (cadas) dengan peralatan seadanya dan makanan yang tidak cukup. (Herlina, 2000:85). Sehingga dalam pembangunan jalan ini banyak sekali tenaga kerja pribumi yang menjadi korban, apalagi pembuatan jalan yang melalui wilayah Priangan melewati berbagai curam. Sebut saja Sumedang yang dikenal daerah berbatu dan penuh nyamuk malaria. Sehingga pada saat itu banyak kuli yang lelah, mati karena malaria. Berdasarkan catatan Pemerintah Interregnum Inggris, korban tewas dalam pembangunan Jalan Raya ini sekitar 12000 orang. (Herlina, 2008:156).
Karena jumlah rakyat yang menjadi korban, maka Bupati Sumedang waktu itu Rd. Tmg. A.A Surianagara Kusumadinata dengan berani melakukan protes kepada Daendels, bahkan ia menyalami Daendels dengan menggunakan tangan kiri. Hal ini tidak membuat Daendels marah, justru ia kagum atas keberanian Bupati yang kemudian diberi nama Pangeran Kornel tersebut
Adapun peristiwa tersebut diabadikan masyarakat Sumedang dengan mendirikan tugu yang dipasang di persimpangan Jalan Cadas Pangeran lama dengan Jalan Cadas Pangeran baru. (Herlina, 2008:156). Pada masa Gubernur Jenderal van Der Capellen, di sepanjang jalan ini dibangun stasion-stasion pos dan kandang kuda dalam jarak antara 15-20 km. (Herlina, 2008:156). Sekitar tahun 1820 pembangunan jalan ke Ciherang dilanjutkan dengan pengawasan bupati sendiri. (Herlina, 2000:86). Selanjutnya Pangeran Kornel mengawasai pembangunan jalan raya di daerah Cadas Pangeran antara tanggal 21 Nopember 1821 hingga 12 Maret 1822 dengan dimandori oleh Demang Mangkupraja. Jalan ini pertama kali dicoba oleh Residen Priangan pada tanggal 20 Februari 1822 dan kemudian dicoba kembali bersama Gubernur Jenderal Van Der Capellen pada 29 Juli 1822. (Herlina, 2000:87).
Pada awal 1818 Raden Tumenggung Adipati Aria Surianagara mendapat gelar “pangeran”. Kemudian ia mendapat lencana “Bintang Mas” yang bertulis “Voor betoonde moed en touw” (tanda keberanian dan kesetiaan yang diperlihatkan) sebagai jasa telah memajukan daerah Sumedang dan turut mengatasi pemberontakan rakyat yang dipimpin oleh Bagus Serit dan Bagus Rangin. Hal ini yang menyebabkan pergantian nama Bupati menjadi Pangeran Kusumahdinata dan mendapat julukan “Pangeran Kornel”. Ia adalah Bupati Sumedang yang melukis tinta emas dalam lembaran-lembaran sejarah Sumedang. (Herlina, 2008:164). Ia mendapat gelar titular karena keberaniannya mengamankan daerah perbatasan dengan Cirebon. (Herlina, 2000:86).
Dalam kehidupan sosial masyarakat Sumedang, Pangeran Kornel telah menunjukkan diri untuk melindungi segenap rakyatnya. Kegiatan apapun yang diupayakannya tidak lain diperuntukkan untuk kesejahteraan masyarakat Sumedang. Sehingga ia dianggap sebagai pemimpin tradisional yang dapat digolongkan mampu untuk mempertahan prilaku zaman dulu walaupun zaman sudah berubah. Seorang ”menak” harus sabar, teguh pendirian, berani, selalu membela kebenaran, lancar dalam berbicara, punya rasa malu, bersamangat, jangan berlebihan, dan jangan merampas hak orang lain. (Herlina, 2000:149). Kriteria tersebut tidak jauh dari sosok Bupati Sumedang ke-12 ini. Dalam pandangan rakyat, keberanian Pangeran Sumedang melawan kesewenangan atasan, jelas menambah wibawa dirinya. Konsep wibawa (prestige) bearti kedudukan terpandang yang membawa pengaruh besar. (Herlina, 1998:279).

SIMPULAN
Sumedang Kabupaten yang menjadi bagian Keresidenan Priangan. Pada masa Kolonial wilayah ini memberikan kontribusi baik berupa hasil alam seperti beras, nila, teh, aren, kelapa, dan kopi (sebagai komoditas utama), maupun berperan dalam pembangunan jalan grote postweg. Apabila melihat dari kacamata sejarah, wilayah ini memiliki predikat dibawah Cianjur dan Bandung (dalam hasil alam berupa kopi dan beras dan komoditas lainnya), akan tetapi pada masa kerajaan, wilayah ini merupakan tempat berdirinya kerajaan besar yaitu “Sumedang Larang” yang dianggap sebagai penerus dari Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang mengalami keruntuhan pada tahun 1579.
Kenyataan ini diperjelas oleh adanya beberapa fakta sejarah yang mengisahkan bahwa wilayah ini pernah diperebutkan oleh Banten, Cirebon, Mataram, dan Kompeni. Di dalam perkembangannya untuk menjadi sebuah peradaban lokal, maka Sumedang tidak lepas dari peran penguasanya. Diantara penguasa lokal yang memimpin Sumedang, tidak seluruhnya mampu menuliskan tinta emas, bahkan didalam dinamika sejarahnya, perjalanan Sumedang telah mengalami pasang surut.
Hingga akhirnya daerah ini mencapai kemajuan.salah satu diantara sosok pangeran yang mampu mengangkat Sumedang sebagai suatu peradaban yang maju ialah Raden Tumenggung Adipati Surianagara Kusumadinata (Pangeran Kornel) 1791-1828.
Ia adalah Bupati Sumedang yang telah berhasil merombak hutan lebat menjadi areal perkebunan kopi yang subur. Ia bahkan mengorganisasikan sendiri untuk meningkatkan mutu tanaman kopi. Sehingga dalam kehidupan ekonomi masyarakat Sumedang mengalami kemajuan dan kesejahteraan. Sedangkan pada kehidupan sosial, ia berhasil menciptakan masyarakat Sumedang yang ulet dan terbebas kesenjangan sosial, serta hidup dalam paksaan. Ia merupakan pemimpin yang cerdas dan aktif. Ia juga berani. Segala potensi yang dimilikinya terukir lewat beberapa penghargaan yang diraihnya, salah satu diantaranya adalah lencana “Bintang Mas” yang bertulis “Voor betoonde moed en touw” (tanda keberanian dan kesetiaan yang diperlihatkan) dan gelar Kolonel yang melekat pada dirinya, sehingga ia dikenal dengan julukan “Pangeran Kornel”.
DAFTAR SUMBER
Abdulah, Taufik (ed). 2005. Sejarah Lokal di Indonesia.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Burger. D.H 1962. Sejarah Sosial Ekonomis Sosiologis Indonesia.
Jakarta : Pradnjaparamita.
Dienaputra, Reiza D. 2006. Sejarah Lisan ; Konsep dan Metode.
Bandung : Balatin Pratama
Ekadjati, Edi. 2009. Kebudayaan Sunda Zaman Padjajaran (Jilid 2).
Jakarta : Pustaka Jaya.
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 15). 1991.
Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka.
Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah
(terjemahan). Jakarta : Yayasan Penerbit Universitas Indonesia
Hardjasaputra, Sobana. 2004. Bupati Di Priangan.
Bandung : Yayasan Pusat Studi Sunda.
Lubis, Nina H. 1998. Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942.
Bandung : Pusat Informasi Kebudayaan Sunda
. 2000. Tradisi Dan Transformasi Sejarah Sunda
Bandung : Humaniora Utama Press
. 2000. Sejarah Kota-Kota Lama Di Jawa Barat.
Jatinagor : Alqaprint.
. 2003. Sejarah Tatar Sunda .(Jilid I).
Bandung : Satiya Historika.
. 2008. Metode Sejarah.
Bandung : Satiya Historika
,dkk. 2008. Sejarah Sumedang Dari Masa Ke Masa.
Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Sumedang dan Pusat Kebudayaan Sunda Fakultas Sastra Universitas Padjajaran.
. 2009. Historiografi Indonesia Dan Permasalahannya.
Bandung : Satiya Historika
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto,
Nugroho.1993. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka
Raffles, Thomas Stamford.1982. History Of Java.
Kuala Lumpur : Oxford University
Tempo, 2002
Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.
Jakarta Timur : Lentera Dipantara
Vlekke, Bernard. 1961. Nusantara. Jakarta : Gramedia

GEGAP GEMPITA PERLAWANAN AREK-AREK SURABAYA (Suatu Kajian Dinamika Sejarah Republik Indonesia Pada Masa Awal Revolusi

10 Nopember 2010

Oleh
Nama : Merlina Agustina Orllanda
Npm : 180310080026



GEGAP GEMPITA PERLAWANAN AREK-AREK SURABAYA
(Suatu Kajian Dinamika Sejarah Republik Indonesia Pada Masa Awal Revolusi-1945)

Restorasi Meiji di Jepang telah membawa bangsa ini berkembang, Jepang tidak hanya menjadi pemimpin Asia, tapi juga perlahan menguasai dunia. Kekuatan bangsa kulit kuning ini terlihat dari keberhasilannya menyerang Cina pada tahun 1894 dan Rusia di Manchuria pada tahun 1904. Selain itu, pada tanggal 8 Desember 1941, Pasukan Udara Angkatan Laut Jepang juga menyerang Pearl Harbour di pangkalan militer Amerika di pasifik. Bahkan pasukan Laksamana Kondo berhasil menghancurkan kekuatan militer Amerika di pulau Luzon. Yang terpenting dari bagian sejarah Indonesia, yaitu pada tanggal 8 Maret 1942 pukul 10.00 Belanda menyerahkan semua kekuasaan kepada Jepang tanpa syarat di Kaijati, sehingga dikenal dengan Kapitulasi Kalijati. (Herlina, 2005).
Adanya hal tersebut telah mengubah posisi Indonesia yang sebelumnya menjadi wilayah penjajahan bangsa Kolonial, kemudian berubah berada di bawah Pendudukan Jepang. Upaya Jepang untuk menguasai dunia ternyata mendatangkan kehancuran sendiri untuk bangsa ini. Dalam Perang Dunia II, Amerika, Inggris, dan Belanda bersekutu untuk menyatakan perang terhadap Jepang. Dalam peristiwa tersebut kekuatan Jepang berhasil dikalahkan oleh sekutu, sehingga Jepang pun menyerah tanpa syarat. Berita tersebut ternyata mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 dilaksanakan Peristiwa Proklamasi. Hal ini merupakan peristiwa bersejarah bagi Indonesia. (Herlina, 2005).
Sejak saat itu Indonesia lepas dari adanya belenggu penjajahan. Kemerdekaan yang diraih Indonesia adalah kemerdekaan tanpa kekuasaan bangsa lain. (Herlina, 2005). Sehingga kemerdekaan yang telah dicapai ini dianggap sakral dan menjadi suatu tanggung jawab yang berat bagi masyarakat. Adapun contoh dari rasa tanggung jawab ini terlihat dari semangat arek-arek Surabaya yang sangat radikal dalam mengusir penjajahan. Walaupun berita kemerdekaan terlambat sampai di Surabaya, namun sikap arek-arek Surabaya tetap semangat dan menunjukan kesadaran nasionalisme untuk mengusir penjajahan. Hal tersebut adalah wujud kecintaan warga Surabaya terhadap kemerdekaan yang diraih. (William, 1989).
Respons masyarakat Surabaya atas kemerdekaan Indonesia merupakan bagian terpenting, karena semangat kemerdekaan yang ada kemudian akan terwujud pada peristiwa 10 Nopember yang sampai saat ini dikenal sebagai Hari Pahlawan. (William, 1989). Surabaya menjadi ajang pertempuran yang paling hebat selama Revolusi, sehingga menjadi lambang perlawanan nasional. (Ricklefs, 1998:325). Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II membuat bangsa ini menyerah terhadap sekutu. Di Indonesia, Jepang dituntut untuk menyerahkan senjatanya. Bahkan pada tanggal 3 Oktober 1945 Laksamada Madya Shibata Yaichiro di Surabaya menyerah kepada Pihak Sekutu dan memerintahkan pasukannya agar menyerahkan senjata kepada rakyat Indonesia yang akan bertanggung jawab untuk menyerahkan senjata-senjata itu kepada pihak sekutu. (Ricklefs, 1998:325).
Pada tanggal 25 Oktober 1945 , Brigade 49 di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby mendarat di Surabaya. Brigade ini adalah bagian dari Divisi India ke -23. Di bawah pimpinan Jenderal D.C Hawthorn. Mereka mendapat tugas dari AFNEI (tentara sekutu) untuk melucuti serdadu Jepang dan menyelamatkan interniran serikat. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 111). Adapun pasukan yang mendarat di Tanjung Perak ini di duga membawa NICA, apalagi pada bulan itu juga dua buah motor boat bermuatan pasukan Serikat menembaki pos komando laut RI di Modderlust, (Purwoko, 1991:422). Sehingga kedatangan pasukan ini enggan diterima oleh pemerintah Jawa Timur, yang dipimpin oleh Gubernur R.M.T.A Suryo. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 113, Purwoko, 1991:423).
Kedatangan Pasukan Sekutu bertujuan untuk pemeliharaan keamanan, tawanan perang, pelucutan senjata Jepang, dan evakuasi. Namun pasukan Inggris melaksanakan tugasnya di luar jalur. Pada 27 Oktober 1945 Tentara Sekutu menyerbu penjara Republik untuk membebaskan perwira-perwira Sekutu dan Pegawai RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Interness) yang ditahan Republik. (Kartasasmita, 1995). Selain itu pasukan Inggris dengan cepat menduduki tempat-tempat vital seperti lapangan terbang, kantor pos, radio Surabaya, gedung internatio, pusat kereta api, pusat oto mobil, dan lain-lain, dengan maksud untuk menduduki seluruh kota Surabaya. (Purwoko, 1991:423).
Tindakan Inggris tidak hanya sebatas demikian, pada tengah hari Inggris menjatuhkan selebaran yang secara garis besar memerintahakan rakyat Surabaya dan Jawa Timur untuk menyerahkan kembali semua senjata dan peralatan perang milik Jepang. (Purwoko, 1991: 423). Bahkan Jenderal Hawthorn menyatakan akan menghukum seberat-beratnya bagi yang tidak mematuhi perintah Inggris. (Nasution, 1977:360). Hal ini dianggap sebagai suatu penghinaan bagi bangsa Indonesia. Atas persetujuan pemerintahan, maka di bawah pimpinan Mayor Jenderal Yono Sewoyo (Komandan Divisi TKR) dikeluarkan perintah perang terhadap badan perjuangan, polissi, dan TKR. (Purwoko, 1991: 423).
Pada tanggal 28 Oktober 1945 tengah malam, Radio Pemberontak menyebarkan semangat seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu dan merebut kembali tempat-tempat vital yang telah dikuasai Inggris (Sekutu). (Purwoko, 1991:423). Bung Tomo (1920-1981), seorang yang berapi-api menggunakan radio tersebut untuk menimbulkan suasana semangat revolusi yang fanatik ke seluruh kota. (Ricklefs, 1998:325). Hal ini mendapat reaksi positif. Pada akhir bulan Oktober para pemimpin Nahdatul Ulama dan Masyumi menyatakan bahwa perang mempertahankan tanah air Indonesia adalah Perang Sabil. (Ricklefs, 1998:325). Sehingga pada tanggal 29 Oktober para pemuda Surabaya yang gegap gempita mempertahankan kedaulatan berhasil menguasai obyek vital. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 112).
Untuk menyelamatkan pasukan Inggris dari amuk Surabaya, Presiden Soekarno didampingi Oleh Moh Hatta dan Amin Syarifuddin mengadakan perjanjian dengan pihak Sekutu yang ditujukan untuk menghentikan kontak senjata. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 112). Sesuai dengan perundingan, maka dibentuklah Contact Committee (Kontak Penghubung). (Kartasasmita, 1995). Bahkan kedaulatan RI diakui oleh sekutu, namun setelah perundingan tersebut mereka kembali melakukan penyerangan. Banyak kampung penduduk yang menjadi korban. Tindakan Inggris ini menyulut kembali pertikaian. (Purwoko, 1991:423).
Perang kemdian terjadi lagi. Panitia Penghubung bertujuan untuk mengamankan keadaan, sayangnya pada tanggal 31 Oktober 1945 Brigadir Mallaby yang dikawal oleh Kapten Smith, Kapten Shaw, dan Letnan Laughland tiba-tiba ditahan oleh sekelompok pemuda, maka dari itu Mayor Venugopall melemparkan granat kearah pemuda. Sehingga terjadi letusan yang hebat dari kedua belah pihak. Brigadir Mallaby terbunuh dan hangus bersama mobil. (Nasution, 1977:356). Sedangkan dalam versi lain, Mallaby meninggal dikarenakan menjadi sasaran pemuda, Dia ditusuk dengan bayonet dan bambu runcing. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 113).
Pihak Inggris secara sepihak menyimpulkan bahwa tewasnya Brigjen Mallaby karena lemparan granat dari pihak Indonesia. Sehingga Jenderal Christison selaku Komandan Angkatan Perang Inggris di Indonesia memprotes keras peristiwa tersebut. Bahkan Kapten Shaw mengancam untuk membalas dengan seluruh kekuatan Kerajaan Inggris, baik laut, darat, dan udara. (Purwoko, 1991:423). Sebagai Panglima AFNEI, Christison memperingatkan agar rakyat Surabaya menyerah, apabila tidak mereka akan dihancur leburkan. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 114). Hal ini mendapat reaksi dari Kontak Biro Indonesia yang mengumumkan, bahwa kematian Mallaby adalah akibat kecelakaan, tidak dapat dipastikan apakah akibat tembakan rakyat atau tembakan tentaranya sendiri. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 114).
Untuk mengantisipasi balasan Inggris, maka rakyat Surabaya dilatih mempergunakan senjata dan granat tangan. Apalagi rakyat mengetahui bahwa Tentara Inggris membawa pasukan Belanda ke dalam kota secara diam-diam. Dengan demikian rakyat menganggap Inggris melindungi dan membantu Belanda untuk menjajah kembali. Hal ini menyebabkan semakin berkobarnya semagat rakyat, di seluruh kota pemuda dan TKR mempersiapkan diri untuk pertempuran. (Nasution, 1977:356).
Sesudah kematian Mallaby pihak Inggris mendatangkan pasukan baru di bawah pimpinan Mayor Jenderal E.C Mansergh. Pada tanggal 7 Nopember, Mansergh mengirim surat yang isinya menyatakan Gubernur Soeryo tidak mampu menguasai keadaan, seluruh kota telah dikuasai para perampok. (Nasution, 1977: 114). Kemudian tanggal 8 Nopember surat kembali dikirim, adapun isi surat berupa ancaman serius dari pihak sekutu yang berniat menggempur seluruh Surabaya. (Purwoko, 1991: 424). Surat-surat tersebut kemudian dibalas Soeryo pada tanggal 9 Nopember, akan tetapi tidak sampai kepada sekutu. Sehingga sekutu mengeluarkan ultimatum yang isinya memerintahkan orang-orang Indonesia harus menghadap dengan “angkat tangan” dan dituntut untuk bersedia menandatangani surat menyerah tanpa syarat. (Purwoko, 1991:424). Ultimatum tersebut dianggap menusuk perasaan rakyat Indonesia. (Kartasasmita, 1995). Hal ini karena maknanyaa merupakan penghinaan terhadap martabat dan harga diri bangsa Indonesia. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 114). Hal ini yang membuat ultimatum tersebut tidak dihiraukan rakyat di Surabaya. Sehingga pecahlah Pertempuran Surabaya. (Kartasasmita, 1995).
Hingga saat penyerahan yang ditentukan oleh sekutu habis, pemuda-pemuda Surabaya tidak ada yang menaati ultimatum tersebut. Pemuda Indonesia yang membawa bendera merah putih dalam berperang tetap semangat di bawah pimpinan Soengkono yang saat itu menjadi Komandan Pertahanan. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 115). Kontak senjata pertama yang terjadi di Tanjung Perak dan kemudian berakhir di Gunung Sari pada tanggal 28 Nopember 1945. Tanggal 10 Nopember merupakan uncak perjuangan arek-arek Surabaya. Surabaya habis-habisan digempur oleh Inggris, namun para pemuda berhasil mempertahankan Surabaya selama tiga minggu. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 116).
Semangat para pemuda Surabaya menunjukkan kepada kita, betapa para pejuang ini sangat menghargai kemerdekaan. Mereka merasakan bahwa “semut dan cacing pun akan mengamuk apabila diinjak”. Para pemuda ini dengan segenap jiwa raganya berupaya untuk mempertahankan bangsa Indonesia. Bahkan gegap gempita perjuangan arek-arek Surabaya ini seakan menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sudah benar-benar merdeka. Sehingga wajar saja kalau peristiwa ini berhasil menyita perhatian dunia internasiona. Hal ini karena Pertempuran Surabaya mewakili semangat daerah-daerah lain untuk mempertahankan Indonesia. Pihak Republik telah kehilangan banyak tenaga manusia dan senjata dalam pertempuran Surabaya, tetapi perlawanan mereka yang bersifat pengorbanan tersebut menciptakan suatu lambang dan pekik persatuan demi Revolusi. (Ricklefs, 1998:326). 10 Nopember yang diperingati sebagai Hari Pahlawan merupakan hari pembersihan berdarah sebagai hukuman dari pasukan inggris terhadap perlawanan Indonesia yang fanatik. (Ricklefs, 1998:326). Untuk memperingati kepahlawanan rakyat Surabaya yang mencerminkan tekad perjuangan seluruh bangsa Indonesia, Pemerintah kemudian menetapkan tanggal 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan. (Kartasasmita, 1995). Pertempuran Surabaya merupakan titik balik bagi Belanda dalam menghadapi kenyataan bahwa Indonesia telah merdeka. (Ricklefs, 1998:326). Surabaya mewakili seluruh bangsa Indonesia untuk mengusir panjajahan dari tanah air.

DAFTAR PUSTAKA
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 15). 1991.
Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka.
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 12). 2004
Jakarta : PT Delta Pamungkas.
Frederick, William H. 1989. Pandangan Dan Gejolak; Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi
Indonesia (Surabaya 1926-1946). (Terjemahan Oleh Hermawan).
Ginandjar Kartasasmita,dkk. 1995. 3O Tahun Indonesia Merdeka 1945-1960.
Jakarta :Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Lubis, Nina H, dkk. 2005. Peta Cikal Bakal TNI. usaha Penelitian dan
Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas
Padjajaran
Nasution, 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia (Jilid 2).
Bandung : Angkasa.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional
Indonesia VI. Jakarta : Balai Pustaka.
Ricklefs. 1998. Sejarah Indonesia Modern.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rabu, 08 Desember 2010

Oleh : Merlina Agustina Orllanda (180310080026/Ilmu Sejarah)

Jejak Dan Dinamika Kebudayaan Orkes Melayu

Menurut EB Taylor, 1832 -1917 Kebudayaan adalah keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat, maka dari itu untuk memahami arti kebudayaan, harus dimengerti seluk beluk masyarakat, dan untuk mendapatkan wawasan luas tentang masyarakat harus dipahami hakekat kebudayaan. Sehingga dalam pengertian sehari-hari, istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian, terutama seni suara dan seni tari yang menunjukan peran manusia didalamnya. Akan tetapi apabila istilah kebudayaan diartikan menurut ilmu-ilmu sosial, maka kesenian merupakan salah-satu bagian saja dari kebudayaan (Soerjono Soekanto. 2004:172).
Berkaitan dengan penjelasan tersebut, maka dapat diartikan bahwa kesenian merupakan kegiatan yang disukai banyak orang, karena kegiatan tersebut mendatangkan kesenangan. Pendapat ini didukung oleh Herberd Read dalam bukunya yang berjudul The Meaning of Art (1959) menyebutkan seni sebagai usaha manusia untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. (Amaliasari, Dian, 2009:1-2). Selain itu, Menurut Kamus New World, seni merupakan kerja cipta, yakni melakukan apa saja yang menampakan wujud, keindahan, dan tanggapan kepandaian (lukisan, patung, bangunan, musik, sastra, drama, dan tari). (Amaliasari, Dian, 2009:2).
Dengan demikian, maka dua lapangan besar kesenian terdiri atas : Seni Rupa, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata, dan Seni Suara, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan telinga. Musik merupakan contoh dari keberadaan seni suara, dan berdasarkan jenis instrumennya musik dibagi berdasarkan; alat tiup, alat perkusi, alat gesek, dan alat petik. Selanjutnya apabila didasarkan pada bentuk penyajiannya, akan terdiri atas musik vokal dan instrument.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka Orkes Melayu dapat digolongkan sebagai bagian dari kesenian dan musik. Adapun pengertian Orkes Melayu adalah orkes-orkes yang membawakan lagu-lagu Melayu. Di Sumatra, orkes ini dikenal di Jambi dan Sumatra Utara. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990:235). Pengertian Orkes identik dengan musik, sedangkan pengertian Melayu akan merujuk pada sebutan untuk sejumlah kelompok sosial di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia yang dalam aspek budayanya menunjukan kesamaan pada ras dan ciri fisik, sehingga kelompok ini disebut ras Mongoloid, Mongoloid Melayu. (Melalatoa, Junus, 1990:233).
Di Indonesia kelompok diatas tersebar di berbagai wilayah di Pulau Sumatra, dan pulau-pulau disekitarnya, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Orang Melayu yang berada di Sumatra digolongkan sebagai Melayu Tua (Proto Melayu), misalnya suku bangsa Gayo, Alas, Batak, Talang Mamak, orang Laut, Kerinci, Mentawai, dan Enggano.Melalatoa, Junus, 1990:233). Selain itu di Sumatra juga terdapat Melayu Muda (Deutro Melayu) yang meliputi etnik : Aceh, Tamiang, Melayu Deli, Melayu Riau, Minangkabau, Melayu Jambi, orang Penghulu, Suku Pindah, Melayu Bengkulu, dan Palembang. (Melalatoa, Junus, 1990:233).
Adapun kelompok etnik di Sumatra yang mengidentifikasikan diri sebagai orang Melayu ialah :
1. Melayu Deli
2. Melayu Riau
3. Melayu Jambi.
(Melalatoa, Junus, 1990:234).
Kiri-kanan: Melayu, Minang.

Penjelasan diatas merupakan representasi dari hubungan Orkes Melayu sebagai hasil budaya dengan peran manusia secara geografis. Sehingga Orkes Melayu dapat dikatakan sebagai hasil kebudayaan yang sifatnya tradisional. Adapun Orkes Melayu ini mengalami dinamika dari bentuk yang paling tradisional sampai ke bentuk yang modern. Fenomena ini mendukung pengertian kesenian tradisional sebagai seni yang di dalamnya terdapat nilai-nilai yang sudah bertahan lama dan menempuh perjalanan sejarah panjang, diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, nilai-nilai yang berakar kuat dan kokoh dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat dan masih diaktualisasikan hingga kini. (Amaliasari, Dian, 2009:3).
Untuk memahami dinamika dari Orkes Melayu, maka harus diketahui bahwa Orkes ini juga dipengaruhi oleh unsur musik Semenanjung Melayu, selain itu juga mendapat pengaruh Portugis pada sistem nadanya, yaitu diatonis. Unsur Arab, India, dan Cina juga ditemukan pada lagu Melayu. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990:235). Hubungan ini akan menunjukkan kita pada pengertian kebudayaan dan masyarakat yang memiliki hubungan erat. Hal ini karena kebudayaan tidak akan mungkin timbul tanpa adanya masyarakat, dan eksistensi masyarakat dimungkinkan oleh adanya kebudayaan. Adapun Orkes Melayu diiringi alat musik seperti biola, gendang, gitar, saksofon, terompet, organ, dan klarinet. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990:235). Berbicara mengenai gendang, maka alat musik ini banyak dimainkan di daerah seperti, Jambi, Bengkulu, Riau, Sumatra Utara, dan Nusa Tenggara Barat. (Wiwiek, Liz, 1989: 101).
Pada Orkes Melayu, gendang digunakan sebagai pembawa tempo atau penegasan dinamik, dan bisa juga berperan untuk melengkapi Orkes agar suasana menjadi ramai. (Wiwiek, Liz, 1989: 101). Orkes Melayu biasanya dipentaskan sebagai hiburan yang disertai joget, misalnya pada perayaan perkawinan atau khitanan. Salah satu musik Melayu yang cukup terkenal dan banyak pemujanya adalah musik dangdut. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990:236).
Dengan keberadaan dangdut yang dikenal oleh khalayak ramai, tentunya akan memberikan kita gambaran bahwa telah terjadi perkembangan dalam Orkes Melayu. Dari sinilah kemudian cikal bakal fungsi seni tradisional mulai berubah dan menuju pada seni pertunjukan untuk melayani jasa hiburan. Seni Pertunjukan inilah yang kemudian berkembang ke arah seni modern di Indonesia. Dalam memahami dinamika Orkes Melayu, maka jejak tradisonal yang semula difungsikan, kemudian akan mengalami pelebaran fungsi. Keberadaan merupakan model dari Orkes Melayu yang bisa dikatakan memiliki nilai konsumsi. Perkembangan Orkes Melayu yang semula digunakan pada upacara perkawinan dan adat perlahan-lahan berubah menjadi identitas yang bernilai materi. Kenyataan ini bisa disaksikan dengan adanya konser-konser dangdut di dalam layar televisi. Selain itu keberadaan dangdut juga melahirkan penyanyi-penyanyi yang dengan hanya bermodal suara dapat menaikkan strata sosialnya. Dari sini kemudian akan melahirkan persaingan baik antara penyanyi maupun industri. Perang politik, sosial, dan ekonomi akhirnya bergejolak di dalam sebuah jejak kebudayaan. Sehingga dalam term postmodern, konsumsi kultural dipandang sebagai bahan yang sangat penting dengan apa kita membangun identitas kita: kita menjadi apa yang kita konsumsi. Begitu pula dengan Orkes Melayu, bisa menjadi pertunjukan yang dihargai dengan nilai materi. Disini keberadaan akal dan bahasa adalah landasan yang memungkinkan kebudayaan berevolusi. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa dalam kebudayaan tradisional, kedudukan dan fungsi alat musik lazim lekat dengan nilai-nilai kepercayaan masyarakat pendukungnya. Meski, seiring perkembangan jaman, kedudukan dan fungsi itu mengalami perubahan atau modifikasi akibat persentuhan dengan seni modern, namun hakikatnya bagi sebagian masyarakat lokal/adat tertentu, kedudukan dan fungsinya masih dipertahankan dan dijalankan. (Rahman, Fadly, 2009:1)
Modifikasi diatas tentunya mengarah pada peran “Globalisasi” yang tidak hanya memaksakan wacana berskala global, akan tetapi memaksakan berbagai ide global seperti “demokrasi”, “kapitalisme”, “pasar bebas” dsb. Dengan demikian, sebuah kebudayaan tidak lagi dibangun melalui tata nilai sosial-kemanusiaan, melainkan justru dibangun dari proses komersialisasi dengan cara-cara meng-komodifikasikan segala hal. Untuk memahami suatu kebudayaan, maka dituntut untuk menganalisis konteks sosial dan historis dari produksi dan konsumsi. (Storey, 2008:3). Fenomena ini mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Leslie White (1900-1975), bahwa perkembangan kebudayaan manusia karena adanya tahap-tahap kemajuan manusia dalam teknologi untuk menguasai sumber-sumber energi yang semakin kompleks. (Winarto, Yunita, 1989: 238). Adanya perkembangan jaman dan kemajuan industri tentunya akan berperan pula bagi perkembangan Orkes Melayu, tidak hanya dari fungsinya saja, tapi juga dengan instrument yang digunakan. Alat-alat yang digunakan untuk memainkan Orkes Melayu juga mengalami perkembangan yang modern. Pada musik dangdut sudah menggunakan Organ dan alat-alat musik lain yang fungsinya sama, tapi keberadaan tampilan dan potensi lebih maju, maka dari itu sekarang ini terdapat banyak fenomena Organ Tunggal. Sebenarnya Organ Tunggal merupakan kelanjutan dari Orkes Melayu. Apabila Orkes Melayu pada permulaannya masih menggunakan alat-alat tradisional dan difungsikan secara tradisional, maka Organ Tunggal memiliki fungsi yang sama, hanya saja lebih memenuhi fungsi sesuai keperluan zaman. Pada Orkes Melayu dijumpai penyanyi wanita, begitu pula Organ Tunggal. Perbedaannya mungkin akan terlihat pada gaya dan tampilan penyanyi. Kalau pada Orkes Melayu dulu joget dan tari lebih menunjukan identitas lokal, akan tetapi masa kini tampilan joget dan tari lebih berevolusi, bahkan pada tingkat erotis. Tujuan yang terpenting ialah menjual identitas untuk menyenangkan konsumen. Apalagi pada Organ Tunggal ataupun dangdut-dangdut modern yang sering dipertontonkan tidak hanya berfungsi untuk hiburan tapi juga dalam mengembangkan budaya popular. Dimana dinamika yang terjadi pada Orkes Melayu dapat dibaca dengan mudah, pada Orkes Melayu dulu akan mengutamakan nilai estetis dan lokal geniusnya, sedangkan pada masa kini difungsikan sebagai sarana hiburan, pelepas lelah, kesenangan, dan utamanya pada fungsi kapitalisme itu sendiri. Sehingga untuk mengkaji perubahan kebudayaan, ada beberapa hal yang perlu diingat :
1. Pertama bahwa kebudayaan dan masyarakat merupakan dwi tunggal dari kehidupan sosial manusia, perubahan pada aspek aspek kebudayaan berpengaruh pada tatanan masyarakat, begitupula sebaliknya perubahan dalam masyarakat berpengaruh pada aspek-aspek kebudayaan.
2. Kedua bahwa perubahan kebudayaan itu berjalan terus menerus, hanya saja ada perubahan kebudayaan lambat dan perubahan yang cepat.
3. Ketiga bahwa perubahan kebudayaan semata-mata merupakan sebuah proses, disebut juga dengan istilah dinamika sosial.
4. Keempat bahwa latar belakang stabilitas kebudayaan merupakan salah satu faktor penting pula dalam perubahan kebudayaan, yaitu kemungkinan penolakan atau penerimaan unsur-unsur baru dalam kebudayaan.
Dari keempat hal diatas, dapat dikatakan bahwa kajian mengenai perubahan kebudayaan sebenarnya merupakan analisa tentang pencetus atau penyebab perubahan, proses masuknya serta perbenturan yang terjadi dalam masyarakat, yaitu antara diterima dan ditolaknya perubahan itu. (Saringendyanti, 2009:15-16).

DAFTAR PUSTAKA
Amaliasari, Dian, 2009. Seni Tradisi Sebagai Bagian Penting Dari Fakultas Ilmu Budaya.
Makalah Pada Pekan Ilmiah Dies Natalis Fakultas Sastra Unpad ke-51, Jatinangor.
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 5). 1989.
Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 6). 1989.
Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 10). 1990.
Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka
Puar,Etty Saringendyanti dan Wan Irama Puar. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia.
Jakarta : Visi Media
Rahman, Fadly, 2009, Jejak Angklung Dan Kebudayaan Sunda.
Makalah Pada Pekan Ilmiah Dies Natalis Fakultas Sastra Unpad ke-51, Jatinangor.
Storey, John. 2008. Cultural Studies Dan Kajian Budaya Pop; Pengantar Komprehensif Teori
Dan Metode . Cetakan III (Terjemahan Layli Rahmawati) . Bandung : Jalasutra.

Minggu, 05 Desember 2010

Olan juga bisa menulis cerita,,,,ini original loh.....

“Akhir Dari Suatu Kisah”


Q tulis kisah ini
Q ceritakan pada kalian semua,…
Agar kalian tau….
Kalian mengertiii,,!!
“ Bahwa cinta itu adalah suatu hal yang tidak dapat dimengerti”
Semua cerita, semua tulisan, semua kisah,,
pa saja itu, tidak terlepas dari peran “Cinta”
Entah itu kebahagiaan atau duka ????
Hanya “Cinta”
Cinta
Dan
Cinta”
(**)
(^^)” Lelah sekali bola mataku, ingin rasanya jari-jari ini berhenti untuk menulis. Waktu semakin larut dan sunyi, bisa dikatakan kalau saat ini hanya aku yang tidak bermimpi. Di saat roda pada kehidupan semua orang mulai berputar dan mencari posisinya, hanya aku yang masih konstan dan tidak tahu dimana tempatku???... Aku tidak tahu kenapa tidak ada perubahan dalam hidupku??.. apakah karena belum waktunya atau inilah jalanku??.....
“Sudahlah,…!!! Aku hanya akan terus melakukan pekerjaan yang sama. Setiap harinya tidak ada yang istimewa dalam hidupku. Seolah tidak ada lagi yang ingin aku cari dalam hidup ini. Aku merasa semuanya sudah kudapat. Walau jauh di dalam hati kecilku selalu mencari sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti, aku ingin mencari yang tidak aku ketahui…”!!.... tahu kah kalian????? Apa hanya aku yang mengalami ini, atau kalian juga sempat menjadi aku??? Tak ada seorang pun diantara kalian yang menjawabku, sampai akhirnya aku harus mencari sendiri jawaban itu……..”” Aku bukan seorang pecinta, bahkan sangat awam bagiku terhadap hal yang berkaitan dengan cinta. (&&)>>>
“Sejak awal aku beranggapan kalau cinta itu bukan apa-apa. Tak ada yang istimewa dari cinta. Apa kalian sependapat denganku???!!!.. aku rasa pendapatku benar, dan aku akan menyalahkan yang tidak sependapat denganku. Sampai detik ini, apabila aku menyebutkan lima huruf yang berbunyi “CINTA”, rasanya aku dibuat pusing oleh kata itu.. kenapa harus ada cinta????... Toh tanpa cinta manusia dapat hidup. Aku hampir tidak percaya kalau ternyata dibalik lima huruf tersebut terdapat makna. Makna yang tidak hanya satu, semuanya bercampur aduk dalam cinta. Cinta..cinta dan aku bosan.!!!
Aku merasa tidak perlu untuk membahas cinta, tidak ingin menyakininya, dan tunduk dihadapannya. Aku ibarat seorang peneliti yang belum selesai-selesai mendapat hasil risetku. Aku ibarat ilmuwan yang gagal dalam meneliti cinta…”. Namun, sampai saat ini aku masih diberi Sang Pencipta nafas untuk terus melanjutkan penelitianku. Aku sama sekali tidak ingin melibatkan diriku dalam penelitian ini, karena aku merasa “bahwa ini bukan bidangku”. Ini bukan aku, lalu kenapa cinta itu selalu mengikutiku????.. apa yang dia mau dari karirku???.. bisakah cinta, untuk sekejab saja tidak ada dalam benakku? Dalam hidupku?. Jangan berbicara cinta dihadapanku…….!!!!!!!!
Apa diriku sekarang adalah aku yang sebenarnya???.. apa sebelumnya kalian pernah mengenalku???, dimana? Dan kapan itu????. Bisakah diantara kalian menjelaskan identitasku??!! karakterku???? dan dari mana aku berasal???!!! Aku terus bertanya, tapi kalian tidak ada yang bisa menjawab.. !!! aku rasa kalian sengaja terhadapku. Mungkinkah di masa lalu aku punya kesalahan???.. aku harap aku tidak menyakiti kalian…
.””””” Baiklah, jika tidak ada diantara kalian yang tahu aku, maka akan kuberi tahu. Anggap saja aku sedang membacakan dongeng sebelum tidur… tapi ingat, ini tidak gratis, diakhir cerita kalian harus memberi tahu aku apa itu CINTA???.
Sekarang aku yang mulai,,,””””””
Apa kalian percaya kalau cinta itu abadi???....”pertanyaan ini diluar konteks Agama iah, karena aku bisa menebak kalau kalian pastinya akan menjawab kalau yang Abadi itu hanya Sang Pencipta dan Tempat Terindah di Surga”…(bukan jawaban itu yang aku minta). Benarkah cinta sejati itu ada????. Mengapa orang mengenal cinta? Percaya cinta, dan setia kepada cinta????.. bahkan ada ungkapan “percaya satu cinta/ C I N T A !!!!! itu sangat konyol bukan !!!????..
Jikalau kalian menyadari, bahwa tiap detik dari kehidupan kalian, tiap waktu, kalian berada dilingkungan cinta…. Karya-karya sastra seperti Novel, atau di facebook sekalipun hanya ungkapan-ungkapan cinta yang berserakan. Anak-anak kecil pun sering mengucapkan itu, bahkan orang yang tidak tahu cinta sekalipun berani untuk mengatakannya, dan aku juga demikian”…. (akhirnya aku jujur pada kalian, namun aku tidak bermaksud untuk curhat)….
Aku suka lagu-lagu cinta, aku suka menyanjung cinta, dan sangat setia pada cinta. Hanya pada satu cinta”. (aku terbawa perasaan,,….). Eh..ehh.. kalian jangan salah sangka, aku hanya keceplosan, itu aku yang dulu, dan sekarang, detik ini, itu bukan aku, karena akhirnya aku harus belajar untuk melupakan cinta. Apa kalian percaya aku bisa melakukannya?????!!!! (^^)…..??????
Hmm… tentu saja aku bisa!!!.. apa kalian pikir aku terlalu lemah??????????... INGAT, kalian tidak bisa mengatakan apa-apa terhadapku, karena kalian tidak kenal aku!!!.. pada awal tulisan kalian tidak bisa memberi jawaban tentang siapa aku!!,,..egoisku adalah hidupku,,,, hingga akhirnya cinta meninggalkanku………******
Eitsss…. Aku salah bicara, mana mungkin cinta itu pergi dariku, aku salah bicara, dan kalian harus maklum.. (^^)…..he..he… kalian ingin tahu???????.... baiklah kuberi tahu, “bahwa aku yang meninggalkan cinta itu””””, iaahh!!! Aku telah lari dari cinta, aku ingin terus berjalan dan cinta itu terus mengejar, hingga akhirnya ia tak sanggup lagi untuk bisa menghampiriku….
Kalian jangan salahkan aku, ini bukan salahku. Aku selalu benar, dan akan terus benar. Diantara kalian tidak akan mungkin ada yang mampu protes aku, karena kalian tidak mengenalku. Walau demikian, aku berterima kasih kepada kalian semua, karena kalian semua telah menemani hari-hariku, sehingga aku merasa aku tidak hidup sendiri di dunia ini. (@@)…..^^
Usiaku, sudah mencapai separuh abad,,,pengalamanku, mungkin sudah lebih dari diantara kalian, dan ilmuku, aku rasa lebih dari cukup. Tidak ada lagi yang ingin aku capai, karena aku rasa, aku punya semuanya. Semua tanggung jawabku sudah terpenuhi. Dan sekarang aku ingin pergi, aku ingin pergi dengan tersenyum. Bisakah kalian mengizinkan itu?????????<,…..
Payah sekali!!!!,, mengapa kalian menahanku????.. tidak ada lagi yang ingin aku tunggu, aku sudah beri semuanya, aku tidak ingin mengatakan apapun, jadi “ tolong jangan sok ingin tahu”… aku hanya ingin pergi… aku sudah lelah. Aku sudah memejamkan mataku, tapi kalian memintaku untuk menulis, aku sudah lakukan itu, tidak ada pesan terakhir yang ingin aku sampaikan………..
Apabila aku sedikit berbicara cinta, mungkin karena aku terlalu lelah sampai aku sendiri mengungkapkan kata yang aku tidak suka… tolonglah jangan memaksaku… bukan hanya kalian yang ingin tidur, aku juga… aku mau istirahat, mau melihat apakah rodaku sudah bisa berputar atau masih diam ditempat yang sama???.. apa kalian sadar, kalau kalianlah yang membuatku untuk tidak berani untuk bergerak??????!!!!!!
Kalian tahu, aku tidak akan mungkin bisa marah, tapi aku sudah lama menunggu. Aku juga ingin merasa ditunggu dan dinanti. Aku rasa disana ada yang menungguku, ia melambaikan tangannya kepadaku. Dan sekarang, biarkan aku menggapainya… aku yakin tidak ada satu pun diantara kalian yang jahat, aku mencintai kalian semua, sama seperti aku mencintainya…….(apa kalian tahu apa maksud dari semua uraiannku??????????????)….

“CINTA”
Begitulah kekuatan cinta,,
Sekalipun orang yang terluka oleh cinta,
Atau mungkin tak mampu untuk menggapai cinta,
Namun, penantian terhadap cinta tak pernah usai
Sampai nafas dari peneliti yang belum menyelesaikan risetnya
Harus berhenti dalam titik mempertanyakan cinta…..
Semoga disana ia dapat jawabannya
Semoga ia akan lebih mengerti dan memahami”
“””(**)””


Halo semua!!!!... bagaimana???? Apa kalian bisa mengerti tulisan-tulisan diatas????... hmmm semoga tidak bingung iah,,, aku tidak sengaja menemukan tulisan tersebut. Ini juga berkat adik kecilku, kalau saja ia tidak terjatuh belajar sepatu roda, ia tidak mungkin terluka. Hehehe… aku bukan kakak yang jahat!!!, bukan mau menyukuri adik yang luka. Tapi dengan kejadian itu bisa mendatangkan suatu kebetulan. Aku sayang pada adik kecil, aku buktikan dengan membawanya ke rumah sakit. Untung hanya luka dilutut, I Love My Brother….
Mau bagi cerita neh, berkaitan dengan tulisan diatas, waktu itu aku menebus resep obat adik kecil, saat menebus resep, adikku yang nakal tiba-tiba menghilang “ternyata si jagoan beli es krim di mini market seberang”. Kemudian aku berpikir “dasar anak kecil”, tapi aku sangat tenang karena adik baik-baik saja. Mungkin ia takut kepadaku, dari luar ia berlari untuk menghampiri kakaknya yang paling manis….. (narsis but maniss)……hahaha ^^
Jangan kebanyakan bayangin wajah aku yang kata orang seh mirip Julie Estelle,,hahaha….Fokus ah ke cerita…. Nah,, tadi sampe dimana ceritanya????##@^^*()##,, GJ (ga jelas bangte)..ribet….hmmm ya nieh seriuss……. Ketika itu diantara aku dan adik ada cowok ganteng (ya ampyunnn kayak Ozil dan,,,, mataku sampe belok kiri kanan =lebay mode =on),,,,, pemandangan indah itu tiba-tiba kacau gara-gara adik kecilku,,, Crotttt#####^^&%$#@!... (Jiahhh Es Krim Magnum Rasa Coklat Vanila nya menabrak kemeja putih si cowok ganteng,, belepotan dah)…. Adik kecil menangis dan minta kakak ganteng gantiin es nya (dasar adik matre,, apa kalian semua tahu kalau anak kecil zaman sekarang rada matre atau benar benar matreee!!!!)….
Cowok itu tidak bilang apa-apa, dia Cuma menghindari adik kecil dan melambaikan tangannya, (wajahnya panik), mukanya juga berkeringat, aku yang berkaca-kaca juga tidak diperhatikannya, padahal aku kan udah tutupin kuping caplang neh pake rambut (hahahaa..hahaha””). sepertinya dia menebus resep obat buat penyakit paling sakratul dah (Astajimmm kagak boleh ngomong gitu yeh!!). abisnya dia sombong sih, mana es krim si adik tidak diganti, terpaksa uang buat beli DVD Film Koreaku yang diporoti adikkk….. (bukan gak iklas iahhh)….
Diluar apotek hujan, rintik-rintik sih, tapi gak mungkin pulang, yang ada nanti mama marah-marah karena si adik luka n dibawa pulang hujan-hujan, mau kasih tahu takut orang rumah lebay dan cerewet. Mendingan ceritanya dirumah aja dah, sekalian minta ganti uang es krim ,,hih,,,,hi… eh hujannya reda, mau pulang ah,,, waktu gandeng tangan si adik tiba-tiba dia kasih kertas. “ kakak ini apaan?? Dibaca tapi bukan pelajaran, gak ada tuh guru aku jelasin itu, “ujar adik kecil. Saat itu kepalaku pusing, habis hujan, urusin adikku, belum makan tau dari tadi pagi, neh gara-gara bangun kesiangan…pulangnya adik maksa-maksa minta ajarin dan gini dah hasilnya.
Aku menyeret adik, dan kemudian berjalan mencari tong sampah, tapi aku tidak melihat tong sampah sepanjang jalan (semiskin apa negara ini???).. sampai di rumah,, mama sudah ngomel-ngomel, dan liat lutut adik kiri kanan pake perban malah tambah ngomel,, dasar mamaku. Ribet bangete, kita sebesar ini mandi aja mau dipaksa-paksa, dan mau makan harus dipanggil-panggil.. (mama, umur ku ini udah 20 tahun, udah mahasiswa loh). Waktu minta ganti uang DVD, eh mama malah marah-marah dan mau ambil TV dan DVD dari kamarku, help….
Ih, mama gitu dah, semester kemarin IP kuliah jatuh bukan karena gara-gara DVD, tapi lagi pingin ajah untuk dibilang gak pinter sekali-sekali (hehe..hehehee).. si papa malah ketawa aja. Masuk kamar, udah gak ada lagi TV, ternyata walau adik gak jatuh dari sepatu roda, neh kamar udah dibongkar mama toh dari tadi,,, wew yang ada buku-buku dan foto mama papa (kata mama, kalau lagi malas belajar liat foto mama jadi semangat,, “ampyunnn dah punya nyokap PEDE amatt).. ++*%$#@##.....?????..........
Aku udah biasa tidur malam neh, nonton film-film Korea yang asli drama n lucu abisss (coba dah), tapi sekarang gak bisa donk, kalau nonton diruang tv ntar ketahuan nyonya besar, mau belajar males,, ngedumel dah dalam hati… eh pintu kamar bunyi,, ada yang buka, tutup muka sama selimut ah (pura-pura tidur gitu)..hahaa (**)>….
“”Caiyankkkk,,,, kamarnya berantakannnn dahhh, neh anak udah kuliah masih ajah asal !!!! tumben jam segini udah tidur,??!!””ujar mama, mama kemudian merapihkan selimutku dan menutup pintu kembali. (nama aku itu Caiyankkkkk, ga tau kenapa orang tua kasih nama gitu, kalau dikampus semua orang manggilnya gitu, jadi geli dengarnya, apalagi dosen, manggilnya Caiyankkkk, tapi masih suka marahin, ia juga sih aku gak pernah buat tugas, bukan gak mau, tapi kadang gak sempat, soalnya lebih asyick nonton DVD Korea yang berseri-seri, nanggung ninggalinnya,, I Love Kim Bum,hehehe,,,,)..
Mama itu sayang sama aku, kamar aku dirapihin, walaupun suka ngomel tapi perhatian bangte, sampe hal kecil pun perhatian, mama itu adil sama aku dan adik. Jadi bersalah juga neh suka buat mama kecewa, tapi jujur, aku tuh gak bisa gak denger mama ngomel sehari pun (hehe.. I LOVE My Mom, She Is Great Woman…hehe)., jadi inget kata-katanya, aku kemudian buyarin selimut dan bangun, aku duduk di meja belajar (dengan semangat 45 nya mama), aku kemudian memandangi foto mama dan papa yang besar-besar, penuh mengelilingi kamar dan meja belajarku. Bener juga metode mama, dan akhirnya aku mau membuka buku yang berjudul“Ilmu Pemerintahan, bukunya masih mulus, gak pernah dibuka he,,hee… tapi kok neh buku gumpal iah???, Oo.. ada kertas A4 putih dengan tulisan-tulisan bersambung gitu, seperti tulisan dosenku????... yah gak mungkin lah, dosen itu gak pernah sharing sama aku, aku itu gak pernah diskusi dikelas, yang ada dosen itu panggil aku karena aku jarang masuk dan sering bangete ketemu dosen yang pulang ngajar ada di bioskop dan mall-mall hunting kaset sama temanku caterina,, hehe….***)(..
Jadi penasaran, tulisan siapa ini??? Gak mungkin tulisan mama, karena mama bilang waktu dia jadi mahasiswa dia gak pernah nyatat, tapi fotocopy (wajar ajah dunk aku gitu,, hehehe,, tapi bedanya, mama bisa jadi Duta Besar RI di Belanda, sekarang aja mama lagi di rumah, besok mama udah ke Belanda lagi, tinggal dah aku, adik, dan papa.. udah pasti kalau gak ada mama itu tv aku bawa masuk kamar lagi, papa kan orangnya asyick n enjoy gitu, hehehe……eitss tapi kalau udah liat foto mama aku jadi takut dan ngerasa diliatin, hehe.. mama itu hebat, dia wanita karir tapi juga ibu yang baik).
Aku patiin lampu tidurku, kemudian aku hidupkan lampu kamar, aku baca isi kertas itu, kayak kisah hidup manusia, puitis bangete,,, kayak film-film Korea yang sering aku tonton, jadi sedih akunya, walaupun jujur aku gak tau maksud dari tulisannya,, hehe.. modem aku kan rada lemot..hahaha..dibilang puisi bukan, dibilang cerpen juga hak jelas,, ampun dah aku… gak sadar aja tiba-tiba aku udah bangun tidur dengan mama disampingku dan kemudian dia tarik jempolku dan bilang “Solat Subuh Dulu Dunk,,,,, Mahasiswa Kok Solat Subuhnya Sering Tinggal!! (ya ampyunn ada Ratu Withelmina di kamarku,,hehehe).
Aku bangun, dan kemudian menjawab,,, “ia mama sayang ”… mama tersenyum kecil.. sesudah aku solat, kamarku sudah rapih, mama yang merapihkan, aku lihat dia duduk diranjang tidurku, dan bilang,, “Caiyankkkk, tulisan kamu ini??, bagus,, udah lama mama gak tahu tulisan kamu kayak apa?? Ternyata seperti professor gitu, di Belanda kebanyakan tulisan orang seperti ini.. mama baru tahu anak mama suka Sastra, kalau kamu mau jadi sutradara hebat mama dukung dah, dulu mama kuliah di Fakultas Sastra, tapi sayangnya mama gak pernah nulis dan aplikasiin ilmu mama, untungnya mama bisa bangun kehidupan dibidang lain”hehe….(aku tambah bingung, dan saat aku lihat kertas yang dipegang mama, bukankah itu yang aku baca semalam?? Aku saja lupa isinya,, hahahaa…..mama itu salah, aku itu gak mau jadi sutradara hebat, aku mau jadi pemeran utama wanitanya yang direbutin cowok-cowok ganteng kayak di film-film Korea gitu,##**@&^!*)…..
Pagi itu aku ke kampus dengan semangat, karena gak kesiangan lagi kayak kemarin, dan hebatnya pagi ini aku Solat Subuh,heheh…makasih iah mama.. mama juga antarin aku ke kampus, teman-teman itu penasaran sama mamaku, waktu mama turun dari mobil semua melihat mama seperti melihat artis nomor satu Korea. Setelah mama pergi mereka menghujatku, “wah Caiiyy,,, kamu gak pantes bangte jadi anaknya, dia itu cantik bangte “ujar fika”, tinggi, modis,, itu aku bangtee “ujar delia”. “perempuan seperti itu tipe gw, kayaknya intelek bangtee “ujar andra”, dan caterina sahabat sejak kecilku hanya tersenyum kecil dan aku mencubitnya. Aku kemudian berkata “ gak sopan kalian semua, itu mama gw, jadi gw juga sama kayak dia”. Dan semuanya pada menjawab serempak “BEDA BANGTE TAU”hahahahaaa… (dasar teman-teman).
Hari itu aku semangat kuliah, tapi btenya gak ada dosen (aneh, saat aku males masuk dosen pada kasih kuis, padahal hari ini kan hari terakhir mama di Indonesia, mau senengin dia,bte).tidak hanya kelasku yang kosong, semua kelas kosong, karena salah satu dosenku (Bu Maia) yang paling galak tenyata telah pulang ke Rahmatnya. Aku ingat, ibu itu suka marah sama ku, tiga kali aku dikasih nilai E, pokoknya sama dia yang paling tinggi hanya dapat nilai D. Terus lima kali kaset DVD Korea aku ditangkap dan tidak dikembalikannya, Koran-koran Kim Bum dan Lemin Ho juga, dan yang terpenting aku pernah diputusin pacar gara-gara Bu Maia (aku sayang bangete sama Rangga, dia itu Mahasiswa Paling Pinter, dia dekat bangete sama Bu Maia, waktu itu si Rangga diikutin lomba apa gitu, dia itu wajib belajar ekstra, tapi aku nya gak pengertian, aku ajakin dia temenin aku nonton, maen, dan beli kaset-kaset dan browse video-video di internet, padahal dia mau lomba, eh ternyata dia kalah, yang paling marah sama Rangga waktu itu yah Bu Maia, mungkin Rangga ngerasa gak enak sama Bu Maia yang udah ilang kepercayaan, dan Dosen lainnya, apa lagi gara-gara itu beasiswa Rangga dicabut. Mungkin dia udah habis kesabaran sama aku, terus dia putusin aku, dan bilang kita gak cocok, dasar cowok jahat, waktu itu sedih bangte, padahal aku sayang bangte sama Rangga, waktu itu aku doain moga ajah kamu jadian sama ibu itu, dasar suka yang tua-tua), hehe..aku baru sadar ternyata aku dulu kanak-kanak bangete, kata mama aku tetap kanak-kanak sampai sekarang, ia juga yah, kalau gak ada teman aku masih sering main sama adikku yang jaraknya 10 tahun dariku,hehe)..
Aku kaget donk, aku gak nyangka ajah Bu Maia bakal pergi, aku gak dendam apalagi benci ma dia, aku malah jadi sedih, karena dia gak liat aku wisuda dulu (kapan iah aku lulus, udah empat taon neh,,hehe). Dia gak sempat liat aku buktiin untuk dapet nilai C ajah ma dia. Bu Maia, …aku menarik nafas,,kemudian kertas jatuh dari tasku,, andra berkata “apa itu Chaiiy???”, aku jawab “iyahh aku juga gatau dari mana datangnya kertas ini”,, teman-temanku kemudian tertawa “hahahahHAhaha, dasar LOLA”.
Caterina kemudian mengajak aku dan teman yang lain untuk kerumah Bu Maia, untuk ikut pemakamannya. Hari ini mama terakhir di Indonesia, aku gak bisa pulang telat, kalau gak ikut aku gak enak, tapi wajah mama terbayang terus. Aku menarik nafas dan mengambil pondselku, aku mencoba menelpon nomor mama, tapi tidak aktif, aku terus mencoba , dan tiba-tiba temanku berkata “Plis Dah Anak Mami!!!””, aku kemudian menjawab “Iahhh, neh Gw masukin Hp nya”. Beberapa waktu kemudian kami tiba dirumah Bu Maia yang berpagar putih (ramai sekali disana)..
Turun dari mobil, tiba-tiba aku melihat ada anak kecil memegang sepatu roda (apa aku tidak salah lihat gitu). Itu Ega adikku, tiba-tiba aku memangil-manggilnya, ia tidak lihat, tiba-tiba ada tangan yang mencubit pinggangku, sakit, rasanya aku kenal tangan ini, gak salah lagi, ada wanita tinggi dengan tahi lalat diatas bibir, pasti judes (ialah ini mamaku,ia berkerudung dan berpakaian hitam). ”Caiyankkkk, kamu ini masih suka jerit-jerit, malu mama”, aku menjawab “eh, mama, kenapa ada dirumah dosen aku??”. Mama menjawab “ Maia Sahabat mama Caiii…””. Aku ngedumel : Huh pantes ajah hp mama gak aktif,,,, “udah nanti ajah ngambeknya dirumah aja (mama kemudian pergi ikut memandikan Bu Maia). Aku mau Tanya lagi, tapi mama udah pergi, aku kaget, asli aku baru tahu Bu Maia itu sahabat mama, tapi kenapa aku dikasih nilai E???.. gara-gara nilai itu TV dan DVD ditarik mama dari kamarku????...
Selesai pemakaman Bu Maia, aku pulang bersama mama, papa, dan adikku. Teman-temanku mencibirku dari jauh dan bilang “Anak Mami” (jengkelnya aku). Sebelum mobil meninggalkan kediaman Bu Maia yang berduka, tiba-tiba papa menghentikan mobilnya, dari luar jendela ada cowok ganteng yang waktu itu menabrak es krim adikku, aku dengar papa berkata “ Wily” yang sabar iah, kalau mau tukar pikiran sesekali kerumah om” iya om” (jawabnya kepada papa). Cowok ganteng yang dipanggil papa “Wily” itu kemudian menongolkan kepalanya kedalam dan memberi senyum kepada mama, adik, dan aku. Kami pun membalas senyum itu ^^)”.
Mobil kami pun berjalan menuju kerumah, di dalam mobil aku bertanya, “ itu siapa ma??” mama menjawab “ itu Wily anaknya Maia”, aku kaget “ loh ma, bukannya Bu Maia itu belum menikah iah???”Dia itu Perawan Tua yang Judes ma !! ucapku” . Mama mencubit bibirku dan kemudian tersenyum kecil,papa juga ikut-ikutan, mama aneh dan adik kecil terlihat cuek-cuek aja. Aku BETE, kemudian berkata “ih, mama papa, gak jelas dah,, mama juga jadi ke Belanda hari ini???? Naek pesawat yang mana?? Aku mencibir”. Tiba-tiba mama membalikkan badannya kebelakang dan menjewer telingaku. Aku menjerit “aduh mama,udah donk, malu, udah dewasa neh”. Papa jadi tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala.
Sesampai dirumah, aku dan adik dipaksa mama mandi, sesudah mandi makanan enak tersaji diruang makan (coba ajah mama gak kerja di Belanda, udah pasti tiap hari kita makan enak, mama itu selalu masak buat kita, kalau ada mama si bibi gak mungkin masak, dan kalau gak ada mama gak mungkin aku yang masak,hehehe##$%#@). Kalau ada mama dirumah tertib, sebelum makan aja papa memimpin doa, kalau gak ada mama, doanya masing-masing dalam hati aja, hahaha..*&^%...
Aku itu manusia paling ribut di meja makan, beda sama adik yang kalau matanya udah nunduk ke piring gak mungkin berpaling lagi,hehe..aku memulai pembicaraan : “ ma, pa tau gak cowok ganteng tadi itu yang ngomong di luar mobil sama papa, itu yang senggol es krim adik waktu itu” (aku mencoba memberi tahu). Mama papa menjawab “iah udah tahu”. Aku heran punya ortu yang jawab kompak “tau dari mana???? “tanyaku. Papa menjawab “ tadi Wily dan adik kasih tahu, ia kan dik??” (papa menunjuk adik, dan adik mengangguk). Mama kemudian berkata “jadi Wily iah cowok cakepnya??? Peran utama Film Korea dan Peran Perempuannya siapa???? (mencibir). Aku menjawab “ih mama”. (jadi malu, tapi emang ia aku terkesima aja sama cowok cakep itu, hehe).
Sesudah makan, kami semua mengambil Wudhu Dan Solat Magrib Berjamaah. Kemudian kami duduk diruang santai keluarga terus mama memberi tahuku suatu kebenaran. “Caiyankkkk, mana kertas yang bukan tulisan kamu itu??? ( Tanya mama), aku kemudian menjawab“yang mana ma”???. Itu yang mama kira tulisan kamu, tapi ternyata bukan, kamu kan anak mama jadi sama kayak mama, gak akan mungkin nulis” (ucap mama). Aku jawab “ih mama, siapa juga yang pengen dibilang pinter nulis, mama aja yang nyerocos terus”. Cerewet dah kamu, sekarang ambil kertasnya sini,(mama menyuruhku). Buat apa sih ma (penasaran). “Udah kalau mau penasarannya ilang ambil dulu donk manis”. “hehehHehehe….” Ketawaku dan kemudian aku menuju kamar untuk mengambil kertas tulisan tersebut dari dalam tas kuliahku.
“”Neh ma (aku kemudian memberi kertas itu kepada mama). Mama memegang kertas itu, dan kemudian menangis, dan papa menenangkan. Mama memulai ceritanya dengan setting 25 tahun yang lalu. Setelah cerita mama aku baru mengerti semuanya. Setelah mama bercerita, tiba-tiba papa, mama, mengajakku untuk pergi ke rumah Bu Maia untuk sedekahan, disana kemudian ada Wily, mama kemudian menyerahkan kertas itu padanya. Wily kemudian menyalami tanganku dan tersenyum kecil. Aku kemudian merasa deg..deg an.. apa benar cowok ganteng yang sombong dan tidak melihatku waktu itu menyalamiku??? Apa benar anak dosenku yang galak itu bakal jadi pangeran yang sering aku lihat dalam Film-Film yang sudah aku tonton???
Kalau aku bukan anak mama ku mungkin hal ini tidak akan menjadi kenyataan, bukan bearti aku bersyukur atas berpulangnya Bu Maia, justru aku sangat sedih, aku merindukan untuk terus dikritik olehnya. Besok mama bakal pergi ke Belanda, aku pasti sangat merindukan mama, mamaku yang judes, aku janji gak akan berantem sama adik yang jaraknya 10 tahun dariku kalau mama gak ada. Aku bersyukur karena papa sangat setia dan menyayangi mama. Moga aja Wily juga bisa setia dengan ku.””>>,,,,,,,,.. THE END…………



Aku tahu, kalian pasti penasaran sama cerita mama. Maaf kemarin aku gak sampain karena mama masih di Indonesia, aku baru saja antarin mama ke Bandara, gini neh ceritanya =>…………………………..”””””””””
“Maia itu Sahabat Mama, dari tk, sama kayak kamu bersahabat dengan Caterina. Dulu di sekolah mama itu bunga kelas, beda sama Maia, dia lebih fokus belajar, nilainya juga selalu diatas mama, waktu mau masuk kuliah Maia lulus apa saja, dia lulus di Mipa, tapi dia suka belajar Ilmu Pemerintahan. Kita kuliah di kampus yang sama, tapi beda fakultas. Setahu mama Maia itu gak pernah suka sama cowok, dia orangnya cool. Mama juga cool, tapi mama pernah suka sama teman sejurusan Maia yang namanya “Randy”. Waktu itu gak sengaja aja mama maen ke Fakultas Maia, tujuannya mau pulang bareng. Maia itu memang pintar, dia suka ngajarin dan berbagi ilmu sama temannya, termasuk Randy. Mama minta comblangin Maia sama Randy, Maia mau bantuin. Tapi sayangnya Randy gak suka mama, tapi Maia itu selalu senangin hati mama, bahkan dia mohon dan minta Randy untuk pura-pura terima mama. Padahal Randy itu gak suka, bahkan ujungnya mama baru tahu kalau Randy itu suka Maia, tapi Maianya gak respons. Dan sebenarnya juga Maia suka sama Randy, Cuma dia gak tahu cara ngungkapin, Maia juga gak pernah pacaran. Semua yang dia kerjain harus dapat arahan dulu dari orang tuanya, termasuk soal “Cinta”. Bagi mama gak nyakitin kok, apalagi Maia itu sahabat mama, yang nyakitin itu kenapa Maia selama ini bohongin perasaannya. Ternyata bukan hanya untuk berkorban buat mama, tapi juga buat orang tuanya. Maia itu udah dijodohin sama orang tuanya sama papa kamu. Tapi Maia gak suka, dia cuma sukanya sama Randy, sebelum mama kenal Randy, Maia juga udah kenalin mama ke papa, Cuma mungkin diantara kita belum ada cinta,hehe.. waktu Randy tahu Maia suka dia, Randy langsung bereaksi. Maia takut untuk pacaran, tapi karena Randy akhirnya dia berani pacaran, walaupun dia ujungnya nyumput-nyumput dan ketahuan orangtuanya. Kemudian Maia dipindahin orang tuanya ke Inggris, dia gak mau, tapi ujungnya dia mengalah untuk orang tua. Tapi walau udah di Inggris si Randy sering ketemu dengan Maia. Maia itu pintar, dia dapat beasiswa apa aja, uangnya dipake buat pulang ke Indonesia untuk ketemu Randy. Karena sering ketemu, Maia akhirnya nikah sama Randy, tanpa sepengetahuan orang lain kecuali mama, bahkan papa kamu aja yang waktu itu tunangannya sama sekali gak tahu. Saat Maia udah lulus dengan gelarnya dia pulang ke Indonesia, dan keluarganya mau nikahin dia sama papa kamu, tapi Maia menolak, dia gak bisa kasih alasannya, tapi dia nolak itu. Hal ini jadi aneh untuk keluarganya, dan akhirnya kebenaran diketahui juga. Keluarga Maia kemudian paksa Maia dan Randy untuk cerai, keduanya gak mau. Tapi keluarga Maia nekat adain resepsi buat Maia dan papa kamu, padahal Maia itu istri Randy. Keluarga Maia gak mau terima Randy karena dia miskin. Maia itu gak mau, tapi Randy mungkin sudah salah paham. Dia pergi menghilang dari kota itu, padahal Maia dan papa kamu itu gak jadi nikah karena Maia itu udah hamil dua bulan, walau dipaksa gugurin Maia itu gak mau. Dan akhirnya papa kamu juga gak mau untuk maksain, dia kasih penjelasan ke keluarganya, undangan udah disebarin, ujungnya mama yang gantiin Maia untuk nikah sama papa kamu, disatu sisi mama selamatin papa kamu biar keluarganya gak malu, dan disatu sisi mama selamatin Maia biar gak dipaksa terus. Antara papa dan mama waktu itu gak ada cinta, untungnya keluarga mama itu demokratis dan restuin pernikahan ini, dan ujungnya kami mulai belajar menyayangi dari Randy dan Maia. Maia itu gak pernah kecewain orangtuanya kecuali karena cinta. Tapi itu juga gak bisa disalahin, dia anak yang baik, dia selalu nurut, seharusnya orang tua ndia ngerti dan kasih kesempatan. Wily itu anak Maia, waktu Wily lahir, Maia itu dipisahin dari anaknya. Wily diambil dan ditaro dipanti asuhan. Maia gak tahu kalau anaknya lahir selamat. Dia tahunya anaknya udah ninggal waktu persalinan. Itu buat dia jadi tambah sedih. Orang tua Maia gak mau akui Wily. Sesudah itu Maia juga cariin Randy, tapi gak ketemu-ketemu. Ujungnya Maia mulai karirnya, Dia gak Cuma jadi dosen, dan peneliti, tapi juga jadi pengusaha. Keluarganya mau Maia bahagia, tapi mereka gak tahu maunya Maia apa. Mereka selalu aja coba jodohin Maia dengan orang-orang yang mereka anggap selevel. Hari demi hari, waktu demi waktu Maia setia tungguin suaminya, dia tungguin Randy. Orang taunya Maia itu perawan tua, dia gak nikah, padahal dia cantik. Orang selalu berpikiran aneh tentang dia, tapi dia istri yang setia. Sampai suatu hari Maia dipertemuin Tuhan sama Randy, tapi Randy udah menikah sama orang lain. Saat itu kamu masih dua tahun, mama sama papa kamu lihat Randy di Yogya, makanya mama kasih tahu Maia, saat Maia tahu dia langsung ke Yogya, dan saat Maia bertemu Randy (saat itu Randy udah menikah, sebenarnya Randy itu menikah cuma untuk selamatin anak yang ada dalam rahim “Rhea”, itu nama istri Randy, Randy itu dari Yogya, saat Maia mau dinikahin sama papa kamu, Randy langsung pulang kampung Ke Yogya, Rhea ini temen kecil Randy, dia gak nikah nungguin Randy, Tapi Randy Cuma suka Maia, dan Rhea mulai mengalihkan perhatian ke laki laki lain, sayangnya laki-laki itu gak bertanggung jawab, dan atas nama persahabatan Randy rela tanggung jawab untuk kasih namanya atas anak itu. Walaupun pengakuan Rhea dia sama Randy itu Cuma nikah aja, dang a ada hal lainnya). Maia bertemu Rhea lagi kira-kira dua tahun yang lalu, disitu dia baru tahu kalau Randy meninggal setahun setelah bertemu Maia di Yogya. Randy Bunuh Diri setelah dia tahu kalau Maia pernah mengandung anaknya, yang membuat Randy terpukul setelah ia tahu kalau Maia dan papa kamu tidak pernah menikah, justru Maia setia menantinya. Kalau Randy tahu semua itu waktu Maia ke Yogya, mungkin mereka bisa bersatu, dan Maia tidak perlu salah paham. Tapi sebelum mereka berdua dapat kejelasan, Tuhan ingin membuat mereka bertanya-tanya.?????????????. Bahkan saat Randy meninggal saja Maia tidak tahu, 20 tahun Maia masih merasa bahwa Randy hidup dengan bahagia, padahal ia mati tragis, seorang berpendidikan bunuh diri karena cinta, logikanya sudah tertutup, hanya ada rasa bersalah dan menyesal karena menganggap dirinya tidak bertanggung jawab. Kematian Randy membuat Rhea berduka, namun Rhea telah berterima kasih karena Randy telah memberi namanya atas anak Rhea. Cinta Randy memang hanya buat Maia, dan Rhea maklum itu. Sejak itu Rhea selalu mencari-cari Maia untuk memberi tahu kebenaran, tapi Maia sudah berpindah tempat, hal ini karena ia ingin melupakan kenangan masa lalunya. Makanya ia hidup dengan dunianya, jadi dosen yang profesionalisme dan pemarah, ia benci cinta, karena cinta ia menentang orangtuanya, dan merasa pahitnya hidup, hal yang membuatnya sedih karena ia tidak pernah melihat wajah bayinya seperti apa. Rangga itu anaknya Rhea, lewat Rangga, Tuhan mempertemukan Maia dan Rhea, Maia dan kebenarannya, maka itu Maia dekat dengan Rangga. Sejak mengetahui hal itu Maia memang sering sakit-sakitan, tubuhnya kuat, tapi pikiran dan mentalnya terguncang. Papa mu gak sengaja aja tugas dikota yang sama dengan Maia, dan kami bisa berjumpa lagi. Dari kamu semester satu, mama sudah bertemu Maia, tapi mama sengaja menitipkan kamu dengan dia karena mama tugasnya jauh, dan dia sering kali laporan ke mama tentang kamu, nilai E kamu itu juga mama yang suruh, biar kamu mau belajar dan semangat. Waktu kamu pacaran sama Rangga, mama gak masalah, tapi Maia masalah karena dia gak mau kalau kamu diperdaya sama cinta, apalagi kamu gak minat belajar, Maia mau liat kamu punya masa depan. Dia gak punya anak makanya dia anggap kamu anaknya sendiri, sebenarnya dia sayang sama kamu karena kamu anak mama. Dan waktu Rangga kalah lomba dia marah karena dia mau Rangga punya masa depan jangan seperti ayahnya yang tidak bertanggung jawab. Maia itu baik sekali, dia tegar, sebenarnya sudah dua tahun ini dia menjalani perawatan, dia ada kanker hati dan jantung, tapi dia tidak pernah mengeluh memberi pelajaran. Lewat wajah galak dan marahnya sesungguhnya dia punya sakit dan masalah, tapi dia hebat. Sejak tiga bulan lalu Maia tidak mengajar kalian, ia bukan ke Perancis, tapi dia sedang kritis, dia koma. Sebelum dia koma dia menulis surat ini (menunjuk kertas ini), coba lihat tanggalnya, ini dibuat sesudah membuat soal ujian terakhir kalian darinya, ingat tidak? Waktu ujian dia tidak masuk dan kalian diawasi orang lain???. Ingat tidak tiga bulan lalu mama juga pulang ke Indonesia???? Itu terakhir mama ketemu dia, ketika itu mama mendengar cerita dia. Sejak Maia koma, bahkan bagai mayat hidup, orangtuanya sedih, kakaknya, keluarga dan keponakannya juga. Apalagi mereka tahu kalau Maia mendapat tekanan batin karena sikap awal mereka, hati orang tua Maia terpanggil. Maka dari itu Sang Kakek mulai mencari cucunya, dari panti asuhan tempat menitipkannya, peristiwanya sudah 25 tahun lalu, lagi pula anak itu sudah dioper 4 kali. Anak itu adalah Wily, Maia itu berasal dari keluarga kaya, jadi jejak Wily bisa ditemukan. Wily Kuliah di Bandung, di Kota tempat kita tinggal. Wily itu yatim, sejak kecil dia hidup sebatang kara, hidup dengan dunia yang keras, tapi ia sama pintar dengan kedua orang tuanya, ia anak baik, dan hebat. Wily kuliah sambil kerja, ia kerja ditempat papa kamu kerja, papa kamu ngerasa dekat dengan Wily gak Cuma karena ada rasa tapi juga karena dia anak yang baik, cerdas, dan rajin. Kalau mama di Belanda, papa itu sering makan bareng sama Wily, papa kamu itu setia, jadi mama gak khawatir. Walau gak jadi nikah sama Maia, tapi papa dan keluarganya tetap punya hubungan baik dengan keluarga Maia. Nyatanya waktu keluarga Maia cerita keberadaan anak yang masih hidup papa kamu mau untuk bantu cari, bahkan Wily juga ikut bantuin papa kamu, padahal dia cari dirinya sendiri. Sebelum tahu kalau dia itu anak Maia, Wily sempat temani papa kamu besuk Maia dirumah sakit, dia juga punya feel bahwa itu orang yang lahirin dia, tapi dia gak tahu kebenarannya, tapi setelah pencarian detail, data, dan sejarah hidup ternyata itu dia. Sejak tahu itu Wily jadi kesal, ia sempat menyesal jadi anak Maia, karena ia punya Ibu yang hebat, namun sejak kecil ia harus bertarung hidup di Jalan. Ia salah sangka ia benci ibunya, ia bahkan lebih benci, kakek, nenek, dan keluarga ibunya, apalagi setelah dia tahu Randy mati tragis, ia semakin marah. Wily gak ada masalah sama papa kamu, tapi karena papa kamu ada hubungan sama keluarga Maia, ia mengundurkan diri dari kerjaannya, bahkan kalau dicari ke kampusnya dia gak ada. Wily sepertinya tidak terima kenyataan, dia lebih memilih jadi Wily yang berjuang dijalan, dari pada dia tahu kalau dia cucu orang Kaya dan punya ibu yang terkenal tapi ia dibuang. Kemarin waktu adik belajar sepatu roda kamu ketemu Wily di Apotek, dan kertas itu kebawa adik. Itu karena papa kamu kasih tahu yang sebenarnya ke dia, ia baru tahu Maia gak salah, Randy gak salah, dan ia bisa terima kesalahan Kakek Neneknya, apalagi waktu itu kondisi Maia makin parah, yang buat Wily sadar Maia adalah ibunya, sadar bahwa Maia yang begitu tersiksa selama ini karena saat itu surat yang ditulis oleh Maia itu diberikan oleh papa kamu ke Wily, ia kemudian menyesal, dan berusaha agar Maia sembuh, maka dari itu ia gugup, panik ke apotek menebus obat, ia ingin berjasa buat ibunya, selama ini Wily tidak pernah merasa memberi bantuan kepada orang yang melahirkannya. Maka dari itu Wily mencurahkan semua perhatiannya untuk Maia. Tapi sayangnya Wily hanya bisa melakukan itu hanya dalam dua hari. Maia, tidak bisa berkata, ia bisu, koma, bagai Mayat Hidup, tapi semoga saja saat itu ia sadar kalau sebelum ia meninggal ia pernah melihat wajah tampan puteranya. Mama tidak mau jadi seperti orang tua Maia, mama sayang anak mama, tapi mama sudah gantiin posisi Maia untuk papa kamu, apakah kamu mau bantu mama membalasnya dengan gantiin posisi mama untuk Wily??? Mama rasa kamu suka dah sama cowok ganteng itu?? Hahaha………… “”*)(::>