Senin, 13 Desember 2010

GEGAP GEMPITA PERLAWANAN AREK-AREK SURABAYA (Suatu Kajian Dinamika Sejarah Republik Indonesia Pada Masa Awal Revolusi

10 Nopember 2010

Oleh
Nama : Merlina Agustina Orllanda
Npm : 180310080026



GEGAP GEMPITA PERLAWANAN AREK-AREK SURABAYA
(Suatu Kajian Dinamika Sejarah Republik Indonesia Pada Masa Awal Revolusi-1945)

Restorasi Meiji di Jepang telah membawa bangsa ini berkembang, Jepang tidak hanya menjadi pemimpin Asia, tapi juga perlahan menguasai dunia. Kekuatan bangsa kulit kuning ini terlihat dari keberhasilannya menyerang Cina pada tahun 1894 dan Rusia di Manchuria pada tahun 1904. Selain itu, pada tanggal 8 Desember 1941, Pasukan Udara Angkatan Laut Jepang juga menyerang Pearl Harbour di pangkalan militer Amerika di pasifik. Bahkan pasukan Laksamana Kondo berhasil menghancurkan kekuatan militer Amerika di pulau Luzon. Yang terpenting dari bagian sejarah Indonesia, yaitu pada tanggal 8 Maret 1942 pukul 10.00 Belanda menyerahkan semua kekuasaan kepada Jepang tanpa syarat di Kaijati, sehingga dikenal dengan Kapitulasi Kalijati. (Herlina, 2005).
Adanya hal tersebut telah mengubah posisi Indonesia yang sebelumnya menjadi wilayah penjajahan bangsa Kolonial, kemudian berubah berada di bawah Pendudukan Jepang. Upaya Jepang untuk menguasai dunia ternyata mendatangkan kehancuran sendiri untuk bangsa ini. Dalam Perang Dunia II, Amerika, Inggris, dan Belanda bersekutu untuk menyatakan perang terhadap Jepang. Dalam peristiwa tersebut kekuatan Jepang berhasil dikalahkan oleh sekutu, sehingga Jepang pun menyerah tanpa syarat. Berita tersebut ternyata mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 dilaksanakan Peristiwa Proklamasi. Hal ini merupakan peristiwa bersejarah bagi Indonesia. (Herlina, 2005).
Sejak saat itu Indonesia lepas dari adanya belenggu penjajahan. Kemerdekaan yang diraih Indonesia adalah kemerdekaan tanpa kekuasaan bangsa lain. (Herlina, 2005). Sehingga kemerdekaan yang telah dicapai ini dianggap sakral dan menjadi suatu tanggung jawab yang berat bagi masyarakat. Adapun contoh dari rasa tanggung jawab ini terlihat dari semangat arek-arek Surabaya yang sangat radikal dalam mengusir penjajahan. Walaupun berita kemerdekaan terlambat sampai di Surabaya, namun sikap arek-arek Surabaya tetap semangat dan menunjukan kesadaran nasionalisme untuk mengusir penjajahan. Hal tersebut adalah wujud kecintaan warga Surabaya terhadap kemerdekaan yang diraih. (William, 1989).
Respons masyarakat Surabaya atas kemerdekaan Indonesia merupakan bagian terpenting, karena semangat kemerdekaan yang ada kemudian akan terwujud pada peristiwa 10 Nopember yang sampai saat ini dikenal sebagai Hari Pahlawan. (William, 1989). Surabaya menjadi ajang pertempuran yang paling hebat selama Revolusi, sehingga menjadi lambang perlawanan nasional. (Ricklefs, 1998:325). Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II membuat bangsa ini menyerah terhadap sekutu. Di Indonesia, Jepang dituntut untuk menyerahkan senjatanya. Bahkan pada tanggal 3 Oktober 1945 Laksamada Madya Shibata Yaichiro di Surabaya menyerah kepada Pihak Sekutu dan memerintahkan pasukannya agar menyerahkan senjata kepada rakyat Indonesia yang akan bertanggung jawab untuk menyerahkan senjata-senjata itu kepada pihak sekutu. (Ricklefs, 1998:325).
Pada tanggal 25 Oktober 1945 , Brigade 49 di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby mendarat di Surabaya. Brigade ini adalah bagian dari Divisi India ke -23. Di bawah pimpinan Jenderal D.C Hawthorn. Mereka mendapat tugas dari AFNEI (tentara sekutu) untuk melucuti serdadu Jepang dan menyelamatkan interniran serikat. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 111). Adapun pasukan yang mendarat di Tanjung Perak ini di duga membawa NICA, apalagi pada bulan itu juga dua buah motor boat bermuatan pasukan Serikat menembaki pos komando laut RI di Modderlust, (Purwoko, 1991:422). Sehingga kedatangan pasukan ini enggan diterima oleh pemerintah Jawa Timur, yang dipimpin oleh Gubernur R.M.T.A Suryo. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 113, Purwoko, 1991:423).
Kedatangan Pasukan Sekutu bertujuan untuk pemeliharaan keamanan, tawanan perang, pelucutan senjata Jepang, dan evakuasi. Namun pasukan Inggris melaksanakan tugasnya di luar jalur. Pada 27 Oktober 1945 Tentara Sekutu menyerbu penjara Republik untuk membebaskan perwira-perwira Sekutu dan Pegawai RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Interness) yang ditahan Republik. (Kartasasmita, 1995). Selain itu pasukan Inggris dengan cepat menduduki tempat-tempat vital seperti lapangan terbang, kantor pos, radio Surabaya, gedung internatio, pusat kereta api, pusat oto mobil, dan lain-lain, dengan maksud untuk menduduki seluruh kota Surabaya. (Purwoko, 1991:423).
Tindakan Inggris tidak hanya sebatas demikian, pada tengah hari Inggris menjatuhkan selebaran yang secara garis besar memerintahakan rakyat Surabaya dan Jawa Timur untuk menyerahkan kembali semua senjata dan peralatan perang milik Jepang. (Purwoko, 1991: 423). Bahkan Jenderal Hawthorn menyatakan akan menghukum seberat-beratnya bagi yang tidak mematuhi perintah Inggris. (Nasution, 1977:360). Hal ini dianggap sebagai suatu penghinaan bagi bangsa Indonesia. Atas persetujuan pemerintahan, maka di bawah pimpinan Mayor Jenderal Yono Sewoyo (Komandan Divisi TKR) dikeluarkan perintah perang terhadap badan perjuangan, polissi, dan TKR. (Purwoko, 1991: 423).
Pada tanggal 28 Oktober 1945 tengah malam, Radio Pemberontak menyebarkan semangat seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu dan merebut kembali tempat-tempat vital yang telah dikuasai Inggris (Sekutu). (Purwoko, 1991:423). Bung Tomo (1920-1981), seorang yang berapi-api menggunakan radio tersebut untuk menimbulkan suasana semangat revolusi yang fanatik ke seluruh kota. (Ricklefs, 1998:325). Hal ini mendapat reaksi positif. Pada akhir bulan Oktober para pemimpin Nahdatul Ulama dan Masyumi menyatakan bahwa perang mempertahankan tanah air Indonesia adalah Perang Sabil. (Ricklefs, 1998:325). Sehingga pada tanggal 29 Oktober para pemuda Surabaya yang gegap gempita mempertahankan kedaulatan berhasil menguasai obyek vital. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 112).
Untuk menyelamatkan pasukan Inggris dari amuk Surabaya, Presiden Soekarno didampingi Oleh Moh Hatta dan Amin Syarifuddin mengadakan perjanjian dengan pihak Sekutu yang ditujukan untuk menghentikan kontak senjata. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 112). Sesuai dengan perundingan, maka dibentuklah Contact Committee (Kontak Penghubung). (Kartasasmita, 1995). Bahkan kedaulatan RI diakui oleh sekutu, namun setelah perundingan tersebut mereka kembali melakukan penyerangan. Banyak kampung penduduk yang menjadi korban. Tindakan Inggris ini menyulut kembali pertikaian. (Purwoko, 1991:423).
Perang kemdian terjadi lagi. Panitia Penghubung bertujuan untuk mengamankan keadaan, sayangnya pada tanggal 31 Oktober 1945 Brigadir Mallaby yang dikawal oleh Kapten Smith, Kapten Shaw, dan Letnan Laughland tiba-tiba ditahan oleh sekelompok pemuda, maka dari itu Mayor Venugopall melemparkan granat kearah pemuda. Sehingga terjadi letusan yang hebat dari kedua belah pihak. Brigadir Mallaby terbunuh dan hangus bersama mobil. (Nasution, 1977:356). Sedangkan dalam versi lain, Mallaby meninggal dikarenakan menjadi sasaran pemuda, Dia ditusuk dengan bayonet dan bambu runcing. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 113).
Pihak Inggris secara sepihak menyimpulkan bahwa tewasnya Brigjen Mallaby karena lemparan granat dari pihak Indonesia. Sehingga Jenderal Christison selaku Komandan Angkatan Perang Inggris di Indonesia memprotes keras peristiwa tersebut. Bahkan Kapten Shaw mengancam untuk membalas dengan seluruh kekuatan Kerajaan Inggris, baik laut, darat, dan udara. (Purwoko, 1991:423). Sebagai Panglima AFNEI, Christison memperingatkan agar rakyat Surabaya menyerah, apabila tidak mereka akan dihancur leburkan. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 114). Hal ini mendapat reaksi dari Kontak Biro Indonesia yang mengumumkan, bahwa kematian Mallaby adalah akibat kecelakaan, tidak dapat dipastikan apakah akibat tembakan rakyat atau tembakan tentaranya sendiri. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 114).
Untuk mengantisipasi balasan Inggris, maka rakyat Surabaya dilatih mempergunakan senjata dan granat tangan. Apalagi rakyat mengetahui bahwa Tentara Inggris membawa pasukan Belanda ke dalam kota secara diam-diam. Dengan demikian rakyat menganggap Inggris melindungi dan membantu Belanda untuk menjajah kembali. Hal ini menyebabkan semakin berkobarnya semagat rakyat, di seluruh kota pemuda dan TKR mempersiapkan diri untuk pertempuran. (Nasution, 1977:356).
Sesudah kematian Mallaby pihak Inggris mendatangkan pasukan baru di bawah pimpinan Mayor Jenderal E.C Mansergh. Pada tanggal 7 Nopember, Mansergh mengirim surat yang isinya menyatakan Gubernur Soeryo tidak mampu menguasai keadaan, seluruh kota telah dikuasai para perampok. (Nasution, 1977: 114). Kemudian tanggal 8 Nopember surat kembali dikirim, adapun isi surat berupa ancaman serius dari pihak sekutu yang berniat menggempur seluruh Surabaya. (Purwoko, 1991: 424). Surat-surat tersebut kemudian dibalas Soeryo pada tanggal 9 Nopember, akan tetapi tidak sampai kepada sekutu. Sehingga sekutu mengeluarkan ultimatum yang isinya memerintahkan orang-orang Indonesia harus menghadap dengan “angkat tangan” dan dituntut untuk bersedia menandatangani surat menyerah tanpa syarat. (Purwoko, 1991:424). Ultimatum tersebut dianggap menusuk perasaan rakyat Indonesia. (Kartasasmita, 1995). Hal ini karena maknanyaa merupakan penghinaan terhadap martabat dan harga diri bangsa Indonesia. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 114). Hal ini yang membuat ultimatum tersebut tidak dihiraukan rakyat di Surabaya. Sehingga pecahlah Pertempuran Surabaya. (Kartasasmita, 1995).
Hingga saat penyerahan yang ditentukan oleh sekutu habis, pemuda-pemuda Surabaya tidak ada yang menaati ultimatum tersebut. Pemuda Indonesia yang membawa bendera merah putih dalam berperang tetap semangat di bawah pimpinan Soengkono yang saat itu menjadi Komandan Pertahanan. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 115). Kontak senjata pertama yang terjadi di Tanjung Perak dan kemudian berakhir di Gunung Sari pada tanggal 28 Nopember 1945. Tanggal 10 Nopember merupakan uncak perjuangan arek-arek Surabaya. Surabaya habis-habisan digempur oleh Inggris, namun para pemuda berhasil mempertahankan Surabaya selama tiga minggu. (Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 116).
Semangat para pemuda Surabaya menunjukkan kepada kita, betapa para pejuang ini sangat menghargai kemerdekaan. Mereka merasakan bahwa “semut dan cacing pun akan mengamuk apabila diinjak”. Para pemuda ini dengan segenap jiwa raganya berupaya untuk mempertahankan bangsa Indonesia. Bahkan gegap gempita perjuangan arek-arek Surabaya ini seakan menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sudah benar-benar merdeka. Sehingga wajar saja kalau peristiwa ini berhasil menyita perhatian dunia internasiona. Hal ini karena Pertempuran Surabaya mewakili semangat daerah-daerah lain untuk mempertahankan Indonesia. Pihak Republik telah kehilangan banyak tenaga manusia dan senjata dalam pertempuran Surabaya, tetapi perlawanan mereka yang bersifat pengorbanan tersebut menciptakan suatu lambang dan pekik persatuan demi Revolusi. (Ricklefs, 1998:326). 10 Nopember yang diperingati sebagai Hari Pahlawan merupakan hari pembersihan berdarah sebagai hukuman dari pasukan inggris terhadap perlawanan Indonesia yang fanatik. (Ricklefs, 1998:326). Untuk memperingati kepahlawanan rakyat Surabaya yang mencerminkan tekad perjuangan seluruh bangsa Indonesia, Pemerintah kemudian menetapkan tanggal 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan. (Kartasasmita, 1995). Pertempuran Surabaya merupakan titik balik bagi Belanda dalam menghadapi kenyataan bahwa Indonesia telah merdeka. (Ricklefs, 1998:326). Surabaya mewakili seluruh bangsa Indonesia untuk mengusir panjajahan dari tanah air.

DAFTAR PUSTAKA
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 15). 1991.
Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka.
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 12). 2004
Jakarta : PT Delta Pamungkas.
Frederick, William H. 1989. Pandangan Dan Gejolak; Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi
Indonesia (Surabaya 1926-1946). (Terjemahan Oleh Hermawan).
Ginandjar Kartasasmita,dkk. 1995. 3O Tahun Indonesia Merdeka 1945-1960.
Jakarta :Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Lubis, Nina H, dkk. 2005. Peta Cikal Bakal TNI. usaha Penelitian dan
Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas
Padjajaran
Nasution, 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia (Jilid 2).
Bandung : Angkasa.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional
Indonesia VI. Jakarta : Balai Pustaka.
Ricklefs. 1998. Sejarah Indonesia Modern.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar