Rabu, 08 Desember 2010

Oleh : Merlina Agustina Orllanda (180310080026/Ilmu Sejarah)

Jejak Dan Dinamika Kebudayaan Orkes Melayu

Menurut EB Taylor, 1832 -1917 Kebudayaan adalah keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat, maka dari itu untuk memahami arti kebudayaan, harus dimengerti seluk beluk masyarakat, dan untuk mendapatkan wawasan luas tentang masyarakat harus dipahami hakekat kebudayaan. Sehingga dalam pengertian sehari-hari, istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian, terutama seni suara dan seni tari yang menunjukan peran manusia didalamnya. Akan tetapi apabila istilah kebudayaan diartikan menurut ilmu-ilmu sosial, maka kesenian merupakan salah-satu bagian saja dari kebudayaan (Soerjono Soekanto. 2004:172).
Berkaitan dengan penjelasan tersebut, maka dapat diartikan bahwa kesenian merupakan kegiatan yang disukai banyak orang, karena kegiatan tersebut mendatangkan kesenangan. Pendapat ini didukung oleh Herberd Read dalam bukunya yang berjudul The Meaning of Art (1959) menyebutkan seni sebagai usaha manusia untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. (Amaliasari, Dian, 2009:1-2). Selain itu, Menurut Kamus New World, seni merupakan kerja cipta, yakni melakukan apa saja yang menampakan wujud, keindahan, dan tanggapan kepandaian (lukisan, patung, bangunan, musik, sastra, drama, dan tari). (Amaliasari, Dian, 2009:2).
Dengan demikian, maka dua lapangan besar kesenian terdiri atas : Seni Rupa, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata, dan Seni Suara, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan telinga. Musik merupakan contoh dari keberadaan seni suara, dan berdasarkan jenis instrumennya musik dibagi berdasarkan; alat tiup, alat perkusi, alat gesek, dan alat petik. Selanjutnya apabila didasarkan pada bentuk penyajiannya, akan terdiri atas musik vokal dan instrument.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka Orkes Melayu dapat digolongkan sebagai bagian dari kesenian dan musik. Adapun pengertian Orkes Melayu adalah orkes-orkes yang membawakan lagu-lagu Melayu. Di Sumatra, orkes ini dikenal di Jambi dan Sumatra Utara. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990:235). Pengertian Orkes identik dengan musik, sedangkan pengertian Melayu akan merujuk pada sebutan untuk sejumlah kelompok sosial di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia yang dalam aspek budayanya menunjukan kesamaan pada ras dan ciri fisik, sehingga kelompok ini disebut ras Mongoloid, Mongoloid Melayu. (Melalatoa, Junus, 1990:233).
Di Indonesia kelompok diatas tersebar di berbagai wilayah di Pulau Sumatra, dan pulau-pulau disekitarnya, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Orang Melayu yang berada di Sumatra digolongkan sebagai Melayu Tua (Proto Melayu), misalnya suku bangsa Gayo, Alas, Batak, Talang Mamak, orang Laut, Kerinci, Mentawai, dan Enggano.Melalatoa, Junus, 1990:233). Selain itu di Sumatra juga terdapat Melayu Muda (Deutro Melayu) yang meliputi etnik : Aceh, Tamiang, Melayu Deli, Melayu Riau, Minangkabau, Melayu Jambi, orang Penghulu, Suku Pindah, Melayu Bengkulu, dan Palembang. (Melalatoa, Junus, 1990:233).
Adapun kelompok etnik di Sumatra yang mengidentifikasikan diri sebagai orang Melayu ialah :
1. Melayu Deli
2. Melayu Riau
3. Melayu Jambi.
(Melalatoa, Junus, 1990:234).
Kiri-kanan: Melayu, Minang.

Penjelasan diatas merupakan representasi dari hubungan Orkes Melayu sebagai hasil budaya dengan peran manusia secara geografis. Sehingga Orkes Melayu dapat dikatakan sebagai hasil kebudayaan yang sifatnya tradisional. Adapun Orkes Melayu ini mengalami dinamika dari bentuk yang paling tradisional sampai ke bentuk yang modern. Fenomena ini mendukung pengertian kesenian tradisional sebagai seni yang di dalamnya terdapat nilai-nilai yang sudah bertahan lama dan menempuh perjalanan sejarah panjang, diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, nilai-nilai yang berakar kuat dan kokoh dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat dan masih diaktualisasikan hingga kini. (Amaliasari, Dian, 2009:3).
Untuk memahami dinamika dari Orkes Melayu, maka harus diketahui bahwa Orkes ini juga dipengaruhi oleh unsur musik Semenanjung Melayu, selain itu juga mendapat pengaruh Portugis pada sistem nadanya, yaitu diatonis. Unsur Arab, India, dan Cina juga ditemukan pada lagu Melayu. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990:235). Hubungan ini akan menunjukkan kita pada pengertian kebudayaan dan masyarakat yang memiliki hubungan erat. Hal ini karena kebudayaan tidak akan mungkin timbul tanpa adanya masyarakat, dan eksistensi masyarakat dimungkinkan oleh adanya kebudayaan. Adapun Orkes Melayu diiringi alat musik seperti biola, gendang, gitar, saksofon, terompet, organ, dan klarinet. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990:235). Berbicara mengenai gendang, maka alat musik ini banyak dimainkan di daerah seperti, Jambi, Bengkulu, Riau, Sumatra Utara, dan Nusa Tenggara Barat. (Wiwiek, Liz, 1989: 101).
Pada Orkes Melayu, gendang digunakan sebagai pembawa tempo atau penegasan dinamik, dan bisa juga berperan untuk melengkapi Orkes agar suasana menjadi ramai. (Wiwiek, Liz, 1989: 101). Orkes Melayu biasanya dipentaskan sebagai hiburan yang disertai joget, misalnya pada perayaan perkawinan atau khitanan. Salah satu musik Melayu yang cukup terkenal dan banyak pemujanya adalah musik dangdut. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990:236).
Dengan keberadaan dangdut yang dikenal oleh khalayak ramai, tentunya akan memberikan kita gambaran bahwa telah terjadi perkembangan dalam Orkes Melayu. Dari sinilah kemudian cikal bakal fungsi seni tradisional mulai berubah dan menuju pada seni pertunjukan untuk melayani jasa hiburan. Seni Pertunjukan inilah yang kemudian berkembang ke arah seni modern di Indonesia. Dalam memahami dinamika Orkes Melayu, maka jejak tradisonal yang semula difungsikan, kemudian akan mengalami pelebaran fungsi. Keberadaan merupakan model dari Orkes Melayu yang bisa dikatakan memiliki nilai konsumsi. Perkembangan Orkes Melayu yang semula digunakan pada upacara perkawinan dan adat perlahan-lahan berubah menjadi identitas yang bernilai materi. Kenyataan ini bisa disaksikan dengan adanya konser-konser dangdut di dalam layar televisi. Selain itu keberadaan dangdut juga melahirkan penyanyi-penyanyi yang dengan hanya bermodal suara dapat menaikkan strata sosialnya. Dari sini kemudian akan melahirkan persaingan baik antara penyanyi maupun industri. Perang politik, sosial, dan ekonomi akhirnya bergejolak di dalam sebuah jejak kebudayaan. Sehingga dalam term postmodern, konsumsi kultural dipandang sebagai bahan yang sangat penting dengan apa kita membangun identitas kita: kita menjadi apa yang kita konsumsi. Begitu pula dengan Orkes Melayu, bisa menjadi pertunjukan yang dihargai dengan nilai materi. Disini keberadaan akal dan bahasa adalah landasan yang memungkinkan kebudayaan berevolusi. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa dalam kebudayaan tradisional, kedudukan dan fungsi alat musik lazim lekat dengan nilai-nilai kepercayaan masyarakat pendukungnya. Meski, seiring perkembangan jaman, kedudukan dan fungsi itu mengalami perubahan atau modifikasi akibat persentuhan dengan seni modern, namun hakikatnya bagi sebagian masyarakat lokal/adat tertentu, kedudukan dan fungsinya masih dipertahankan dan dijalankan. (Rahman, Fadly, 2009:1)
Modifikasi diatas tentunya mengarah pada peran “Globalisasi” yang tidak hanya memaksakan wacana berskala global, akan tetapi memaksakan berbagai ide global seperti “demokrasi”, “kapitalisme”, “pasar bebas” dsb. Dengan demikian, sebuah kebudayaan tidak lagi dibangun melalui tata nilai sosial-kemanusiaan, melainkan justru dibangun dari proses komersialisasi dengan cara-cara meng-komodifikasikan segala hal. Untuk memahami suatu kebudayaan, maka dituntut untuk menganalisis konteks sosial dan historis dari produksi dan konsumsi. (Storey, 2008:3). Fenomena ini mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Leslie White (1900-1975), bahwa perkembangan kebudayaan manusia karena adanya tahap-tahap kemajuan manusia dalam teknologi untuk menguasai sumber-sumber energi yang semakin kompleks. (Winarto, Yunita, 1989: 238). Adanya perkembangan jaman dan kemajuan industri tentunya akan berperan pula bagi perkembangan Orkes Melayu, tidak hanya dari fungsinya saja, tapi juga dengan instrument yang digunakan. Alat-alat yang digunakan untuk memainkan Orkes Melayu juga mengalami perkembangan yang modern. Pada musik dangdut sudah menggunakan Organ dan alat-alat musik lain yang fungsinya sama, tapi keberadaan tampilan dan potensi lebih maju, maka dari itu sekarang ini terdapat banyak fenomena Organ Tunggal. Sebenarnya Organ Tunggal merupakan kelanjutan dari Orkes Melayu. Apabila Orkes Melayu pada permulaannya masih menggunakan alat-alat tradisional dan difungsikan secara tradisional, maka Organ Tunggal memiliki fungsi yang sama, hanya saja lebih memenuhi fungsi sesuai keperluan zaman. Pada Orkes Melayu dijumpai penyanyi wanita, begitu pula Organ Tunggal. Perbedaannya mungkin akan terlihat pada gaya dan tampilan penyanyi. Kalau pada Orkes Melayu dulu joget dan tari lebih menunjukan identitas lokal, akan tetapi masa kini tampilan joget dan tari lebih berevolusi, bahkan pada tingkat erotis. Tujuan yang terpenting ialah menjual identitas untuk menyenangkan konsumen. Apalagi pada Organ Tunggal ataupun dangdut-dangdut modern yang sering dipertontonkan tidak hanya berfungsi untuk hiburan tapi juga dalam mengembangkan budaya popular. Dimana dinamika yang terjadi pada Orkes Melayu dapat dibaca dengan mudah, pada Orkes Melayu dulu akan mengutamakan nilai estetis dan lokal geniusnya, sedangkan pada masa kini difungsikan sebagai sarana hiburan, pelepas lelah, kesenangan, dan utamanya pada fungsi kapitalisme itu sendiri. Sehingga untuk mengkaji perubahan kebudayaan, ada beberapa hal yang perlu diingat :
1. Pertama bahwa kebudayaan dan masyarakat merupakan dwi tunggal dari kehidupan sosial manusia, perubahan pada aspek aspek kebudayaan berpengaruh pada tatanan masyarakat, begitupula sebaliknya perubahan dalam masyarakat berpengaruh pada aspek-aspek kebudayaan.
2. Kedua bahwa perubahan kebudayaan itu berjalan terus menerus, hanya saja ada perubahan kebudayaan lambat dan perubahan yang cepat.
3. Ketiga bahwa perubahan kebudayaan semata-mata merupakan sebuah proses, disebut juga dengan istilah dinamika sosial.
4. Keempat bahwa latar belakang stabilitas kebudayaan merupakan salah satu faktor penting pula dalam perubahan kebudayaan, yaitu kemungkinan penolakan atau penerimaan unsur-unsur baru dalam kebudayaan.
Dari keempat hal diatas, dapat dikatakan bahwa kajian mengenai perubahan kebudayaan sebenarnya merupakan analisa tentang pencetus atau penyebab perubahan, proses masuknya serta perbenturan yang terjadi dalam masyarakat, yaitu antara diterima dan ditolaknya perubahan itu. (Saringendyanti, 2009:15-16).

DAFTAR PUSTAKA
Amaliasari, Dian, 2009. Seni Tradisi Sebagai Bagian Penting Dari Fakultas Ilmu Budaya.
Makalah Pada Pekan Ilmiah Dies Natalis Fakultas Sastra Unpad ke-51, Jatinangor.
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 5). 1989.
Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 6). 1989.
Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka
Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jilid 10). 1990.
Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka
Puar,Etty Saringendyanti dan Wan Irama Puar. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia.
Jakarta : Visi Media
Rahman, Fadly, 2009, Jejak Angklung Dan Kebudayaan Sunda.
Makalah Pada Pekan Ilmiah Dies Natalis Fakultas Sastra Unpad ke-51, Jatinangor.
Storey, John. 2008. Cultural Studies Dan Kajian Budaya Pop; Pengantar Komprehensif Teori
Dan Metode . Cetakan III (Terjemahan Layli Rahmawati) . Bandung : Jalasutra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar