Sabtu, 24 Juli 2010

ANALISIS SAYA TERHADAP BABAD PANJALU

BABI
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di dalam studi sejarah, historiografi merupakan tahapan atau kegiatan menyampaikan hasil rekonstruksi imaginatif masa lampau. Dengan perkataan lain, tahapan historiografi itu ialah kegiatan penulisan. (Herlina, 2008: 16). Kegiatan penulisan yang berlangsung setelah melalui proses pengumpulan sumber-sumber sejarah. (Yulianti, 2007: 25). Selain itu historiografi juga dikenal sebagai “sejarah dari sejarah” atau “sejarah dari penulisan sejarah” artinya pengkajian perkembangan penulisan sejarah. (Herlina, 2009: 10).
Dalam buku Historiografi Indonesia dan Permasalahannya yang ditulis oleh Prof. Nina Herlina, (2009: 10) menjelaskan bahwa pada tradisi historiografi terdapat keanekaragaman yang disebabkan oleh adanya kulturgebundenheit (ikatan budaya) dan ijdgebundenheit atau zeitgeist (ikatan waktu atau jiwa zaman). Dengan demikian untuk memahami atau melakukan penulisan suatu karya historiografi kedua aspek diatas harus diperhatikan.
Tradisi historiografi pada dasarnya dimulai sejak orang merekam peristiwa sejarah dalam bentuk tulisan. (Herlina, 2009: 11). Berbicara mengenai tulisan maka kita akan mulai memikirkan sumber dan data yang berkaitan dengan peristiwa masa lampau. Dimana pada peristiwa masa lampau ini memiliki kaitan erat dengan peran manusia diatas panggung kehidupan. Tidak ada sejarah tanpa manusia dan tidak ada sejarah tanpa kehidupan. (Dienaputra, 2006: 1). Berkaitan dengan kehidupan masyarakat Indonesia, maka Prof. Nina Herlina, (2009: 11) membagi historiografi pada kategori Historiografi Tradisional, Historiografi Kolonial, Historiografi Nasional dan Historiografi Modern. Menurut Ayat Rohaedi, tradisi historiografi dalam bentuknya yang paling awal berupa prasasti. (Herlina, 2009: 11). Di Indonesia historiografi dimulai dengan prasasti-prasasti yang dibuat oleh penguasa pada awal abad ke-5 M. (Herlina, 2009: 11). Di dalam buku Historiografi Indonesia dan Permasalahannya, (2009:11) Ayat Rohaedi juga mengungkapkan bahwa penulisan sejarah lain diluar prasasti di Indonesia dimulai oleh Mpu Prapanca pada Kitab Negarakertagama atau Dasawarnana (1365).
Apabila sudah menyinggung adanya prasasti dan Kitab Negarakertagama maka perhatian akan mulai tertuju pada adanya historiografi tradisional. Hal ini karena kedua latar belakang yang menyangkut awal historiografi Indonesia tersebut berada pada masa tradisional Indonesia. Selain itu kedua alasan diatas dianggap telah memenuhi syarat untuk membangun suatu karya historiografi tradisional. Hal ini karena berdasarkan bentuknya historiografi tradisional dikategorikan kedalam mitos, genealogis, kronik, dan annals. (Herlina, 2009: 13-14, ; Kartordirdjo, 1982: 16). Mitos di dalam historiografi tradisional merupakan kenyataan yang ditangkap berdasarkan emosi kepercayaan. Keadaan ini berkaitan dengan ketergantungan erat antara manusia dengan kekuatan gaib diluar dirinya. (Herlina, 2009: 13). Mitos mempunyai fungsi untuk membuat masa lampau bermakna dengan memusatkan kepada bagian-bagian masa lampau yang mempunyai sifat tetap dan berlaku juga secara umum, maka dalam mitos tidak ada unsur waktu. (Kartordirdjo, 1982: 16). Beralih dari mitos, maka genealogis merupakan bentuk lain dari historiografi tradisional. Genealogis merupakan tulisan sejarah yang menggambarkan hubungan antara satu generasi dengan generasi berikutnya atau pendahulunya, disebut silsilah. (Herlina, 2009: 13). Di dalam hal ini genealogis sangat berkaitan dengan kronik yang berperan sebagai urutan waktu. Menurut Kartordirdjo, (1982: 17) “ kronologi berfungsi untuk mewujudkan susunan fakta berupa urutan waktu kejadian yang mampu menimbulkan rasa historisitas”. Sehingga annals dapat digolongkan sebagai cabang dari bentuk kronik. Perbedaannya karena didalam annals sudah mulai menampakkan adanya persepsi dan intrepretasi penulisnya. (Herlina, 2009: 16).
Dari uraian bentuk diatas maka kesadaran historisitas didalam corak historiografi tradisional dapat ditemui seperti pada Babad, Hikayat, Silsilah atau Kronik. Di Indonesia historiografi tradisional memiliki nama yang berbeda-beda, misalnya : Jawa Barat (Carita, Sajarah, Wawacan, dan Babad), Jawa Tengah atau Jawa Timur (Babad dan Serat), Sumatera ( Hikayat, Sejarah, Silsilah, Tambo, dan Syair), dan di Kalimantan atau Sulawesi (Kronik dan Lontara). (Herlina, 2009: 16-17, 17-18). Dari pembabakan nama-nama diatas, historiografi tradisional tentunya akan terlihat pada unsur-unsur keseragaman yang ditemui didalam jenis historiografi tersebut. Menurut pendapat Sartono Kartordirdjo historiografi tradisional di Indonesia memiliki keseragaman dalam : genealogi yang merupakan permulaan dari penulisan sejarah, asal-usul rajakula yang mithis-legendaris (merupakan bagian terpenting), mitologi Melayu Polinesia tentang perkawinan dengan bidadari, legenda pembuangan anak, legenda permulaan kerajaan, dan tendensi menjunjung tinggi rajakulanya, (Herlina, 2009:18).
Adanya keseragaman dan nama-nama historiografi tradisional diatas tentunya tidak akan terlepas dari adanya unsur mitos, sastra dan sejarah. Ketiga unsur ini adalah penentu untuk menggolongkan apakah suatu karya historiografi itu masuk atau tidaknya kedalam historiografi tradisional. Di dalam historiografi sastra tidak bisa disampingkan karena aspek estetis didalamnya terdapat pesan-pesan moral, sosial dan budaya. Sastra dapat menampilkan gambaran kehidupan suatu masyarakat pada kurun waktu tertentu dan situasi tertentu. (p. 1982:2). Sastra didalam historiografi tradisional biasanya bisa berbentuk prosa maupun puisi, contohnya pada historiografi tradisional yang berkembang di Sunda biasanya menggunakan ikatan puisi yang dinamakan Dangding. Adapun “dangding” yang berperan untuk melukiskan hal tertentu pada naskah-naskah yang ada di Sunda disebut dengan pupuh. (p.1992: 220). Pupuh yang digunakan pada karya historiografi tradisional di Sunda terdiri atas Dangdanggula (menggambarkan kegembiraan yang berlebih-lebih), Asmarandana ( menggambarkan suasana berkasih), Kinanti (menggambarkan keprihatinan), Sinom (menggambarkan kegembiraan), Magatru (menggambarkan yang berperan utama pada keprihatinan), Pucung (melukiskan petuah dan nasihat), Ladrang (untuk menggambarkan anak-anak bercanda), Gurisa (menggambarkan kelucuan atau lelucon), Pangkur (menggambarkan yang sedang berkelana, menuruti hawa nafsu dan bersiap berperang), Durma (untuk menggambarkan sedang marah dan berperang), Gambuh (untuk menggambarkan kebingungan dan salah tingkah), Jurudemung (untuk menggambarkan penyesalan), Maskumambang (menggambarkan keprihatinan yang mendalam), Lambang (menggambarkan sedang berguru), Wirangrong (menggambarkan yang sedang sial atau mendapat aib), Balakbak dan Mijil. Begitulah gambaran mengenai sastra yang dapat diwujudkan pada ikatan puisi. Penjelasan diatas hanyalah contoh yang bisa ditemui pada daerah Sunda dan didaerah lain tentu akan ditemui bentuk yang berbeda dengan ragamnya.
Selain sastra, unsur mitos merupakan bagian yang selalu ditemukan didalam karya historiografi tradisional. Mitos ini berfungsi sebagai pandangan hidup yang dikisahkan sebagai uraian peristiwa pada masa lampau. (Yulianti, 2007: 25). Menurut kata pengantar yang dimuat pada buku yang berjudul Ilmu Sejarah dan Historiografi ; Arah dan Perspektif, zaman mitologis itu hanya riil di dalam mitologi. Walau kesadaran kultural tentang kepastian historisitasnya dirasakan, tetapi tak bisa dibuktikan – terasa ada, terbuktikan tidak. Namun ilmu sejarah muktahir tentu akan dapat mencoba memisahkan hal-hal yang historis dari mitos dan mungkin pula bisa memperlihatkan kesadaran mitologis ini dalam kenyataan sejarah. (Abdullah, 1985: x).
Dari penjelasan diatas, maka aspek sejarah merupakan bagian yang terpenting didalam historiografi tradisional. Berkaitan dengan historiografi tradisional Indonesia, maka peran penting sejarah sebagai ilmu yang mampu memberi eksplanasi tentang peran manusia diatas panggung kehidupan. (Dienaputra, 2006: 2). Untuk melaksanakan eksplanasinya, maka sejarah memiliki metode. Menurut Gottschalk tahapan analisis disebut metode sejarah. (Herlina, 2008: 3). Metode sejarah merupakan proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peristiwa masa lampau. (Herlina, 2008: 2). Keberadaan metode ini ditujukan untuk mengetahui keberadaan fakta didalam sejarah. Fakta merupakan bahan mentah bagi sejarah. (Gottschalk. 1975: 6). Fakta bisa diperoleh melalui sumber berupa data atau dokumen. Untuk memperoleh fakta sejarah diperlukan adanya koroborasi (pendukungan) suatu data dari suatu sumber sejarah dengan sumber lain (dua atau lebih). (Herlina, 2008: 34). Pada hakikatnya historiografi didalam sejarah itu sangat bergantung terhadap sumber. Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan bobot ilmiah yang diungkapkan oleh Charles-Victor Langlois dan Charles Seignobos dari Universitas Sorbornne, Paris, mengatakan bahwa, “The historian work with documents….There is no substitute for documents: no documents, no history”. (Dienaputra, 2006: 6). Sehingga kepercayaan tidaklah sama sekali asing bagi sejarah. (Gottschalk. 1975: 6). Menurut Yulianti (2007: 25), perkembangan penulisan historiografi yang seiring dengan perkembangan masyarakat dan bangsa tentunya akan melalui upaya yang diperoleh dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan modern. Dimana wujud dari perkembangan ilmu pengetahuan modern tersebut dapat terlihat dengan keberadaan sejarah lisan. Paul Thompson mengungkapkan geliat perkembangan sejarah lisan ini terjadi menyusul ditemukannya teknologi alat perekam (phonograph) pada tahun 1877. (Dienaputra, 2006: 7). Sehingga didalam buku Sejarah Lisan Konsep dan Metode yang ditulis oleh Reiza D. Dienaputra, (2006: 7) mengungkapkan bahwa dengan ditemukannya alat perekam, secara otomatis sejarah lisan menjadi kemungkinan yang terbuka untuk berubah wujud dan tingkat kredibilitasnya sebagai sumber sejarah menjadi meningkat. Hal ini tentunya berkaitan dengan tujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif. (Herlina, 2008: 1).
Demikianlah konsep dan metode yang dipaparkan diatas. Adapun aspek-aspek diatas merupakan hal yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan analisis terhadap “Babad Panjalu”. Adapun babad ini merupakan salah satu contoh dari sekian banyaknya historiografi tradisional di Indonesia. Karya-karya sastra sejarah (historiografi tradisional) seperti babad, wawacan, carita, sajarah, dan lain-lain amatlah kaya dengan data yang secara implisit terkandung didalamnya, khususnya mengenai aspek sosio –kultural yang berlaku pada masa itu. (Herlina, 1998: 14).
Berdasarkan pengetahuan penulis “Babad Panjalu” sebelumnya sudah pernah dianalisis. Maka dari itulah penulis ingin kembali melakukan analisis dengan tujuan untuk memperoleh perbandingan. Adapun minat penulis untuk melakukan analisis tentunya didasari oleh adanya keinginan dalam membuktikan teori dan konsep yang telah dipelajari sebelumnya.Untuk pemaparan lebih lanjut penulis akan menguraikan pada bab selanjutnya.






BAB II
RINGKASAN CERITA BABAD PANJALU

“Babad Panjalu” merupakan karya sastra sejarah yang berasal dari Jawa Barat. Di dalam buku “Babad Panjalu” yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ini menceritakan kisah berdirinya Negeri Panjalu dan menggambarkan silsilah dari penguasanya (terutama mengenai para bupati yang pernah memimpin Panjalu). Hal ini terlihat pada permulaan babad yang menggambarkan penemuan warisan pusaka oleh keturunan dari Bupati Panjalu terdahulu. Di dalam babad dipaparkan bahwa Bupati Panjalu yang dimaksud adalah bupati yang diperkirakan meninggal pada usia 100 tahun (sekitar tahun 1851). Selain itu dijelaskan bahwa nama keturunan bupati yang kelak menyalin naskah babad ini bernama Prajadinata (yang menjadi kemudian menjadi lurah di Mawarah). Adapun isi buku yang ditinggalkan memuat tentang asal usul telaga Lengkong yang ditujukan agar sejarah tersebut dapat ditularkan kepada keturunan mendatang. Dengan demikian maka Prajadinata akhirnya selesai melakukan penyalinan naskah pada tanggal 10 Juli 1905 dan kemudian mendapat penghargaan dari Sri Maharaja pada 14 Desember 1905.
Dari hasil bacaan yang diperoleh, maka “Babad Panjalu” ini diawali dengan kisah mengenai kepemimpinan seorang bupati pertama yang memimpin Panjalu. Adapun bupati yang begitu diagungkan oleh rakyatnya tersebut ialah Prabu Boros Ngora. Prabu Boros Ngora merupakan pemimpin Panjalu yang disebut melanjutkan tahta ayahnya. Sedangkan Negeri Panjalu disebut sebagai pusaka yang diwariskan terhadap Prabu Boros Ngora. Dibawah kepemimpinan Prabu Boros Ngora, Negeri Panjalu menjadi kaya raya, subur tanpa ada kekurangan. Hal ini karena semua keinginan rakyat dapat terpenuhi pada masa itu. Selain itu Prabu Boros Ngora digambarkan sebagai sosok pemimpin yang baik hati, tidak pernah mencela pekerjaan rakyatnya. Sehingga sangat diharapkan oleh penyalin naskah Panjalu (keturunan bupati) agar kemurahan hati dan watak dari sang Prabu ini dapat dikenal sampai keanak cucunya.
Terciptanya kemakmuran Panjalu pada masa kepemimpinan Prabu Boros Ngora dapat dilukiskan dengan keberadaan telaga luas yang bernama Lengkong. Adapun telaga tersebut diperkirakan memiliki luas 140 bata atau 14 m2 pada masa itu. Dengan adanya Situ Lengkong, maka terdapat pula Nusa (pulau) ditengahnya. Dengan adanya Nusa maka terdapat pula jembatan Cukang Padung yang berperan untuk menghubungkan orang-orang agar dapat menuju Nusa. Adanya dua lokasi berupa Lengkong dan Nusa diatas merupakan wujud dari kekayaan Negeri Panjalu saat itu. Hal ini karena keberadaan Lengkong saat itu identik dengan banyak ikan didalamnya, dan Nusa sendiri berisikan hasil alam yang melimpah ruah seperti tumbuh-tumbuhan, bunga-bunga, dan buah-buahan (Mangga dan sebagainya). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Nusa dan Lengkong merupakan peninggalan Panjalu yang sampai saat ini masih bisa dijumpai oleh keturunan pemimpin Panjalu.
Prabu Boros Ngora adalah pemimpin rakyat Panjalu dan sosok ayah penyayang bagi kedua puteranya. Kedua pangeran yang dimaksud adalah Raden Aria Kuning (putera sulung) dan Raden Aria Kencana (putera bungsu). Adapun Raden Aria Kencana sangat menyukai bercocok tanam, sehingga di Panjalu ditemukan Nusa Pakel yang dikenal sebagai tempat rekreasi. Pada masa dulu, tempat ini dikenal sebagai tempat pangeran bungsu menanam buah-buahan seperti Mangga.
Pada suatu hari, Prabu Boros Ngora merasa dirinya sudah cukup umur untuk memimpin Panjalu. Maka dari itu sang bupati ingin beristirahat dari kedudukannya. Prabu Boros Ngora berniat untuk menyerahkan tahta kepemimpin kepada putera sulungnya. Saat itu diadakan musyawarah dengan Patih, Sesepuh dan rakyat Panjalu. Adapun hasil musyawarah sepakat untuk menuruti keinginan Prabu Boros Ngora. Hal ini karena penghuni Panjalu sangat menghormati keputusan Prabu Boros Ngora yang dianggap telah banyak berjasa dalam memimpin Negeri dan rakyat Panjalu. Singkat cerita, akhirnya dilantik lah Raden Aria Kuning sebagai pemimpin Panjalu yang menggantikan tahta Prabu Boros Ngora. Pada pergantian tersebut diserahkanlah pusaka berupa sebilah pedang, kain cita, lonceng, emas, uang dan Negeri Panjalu yang kaya raya. Harapan dari penyerahan tersebut agar amanah yang diberikan dapat dirawat dan diturunkan kepada anak cucu kelak. Peresmian diadakan pada hari Senin, dan pada hari Kamisnya Prabu Boros Ngora melaksanakan pindah ke Jampang. Raden Aria Kencana ikut dibawa pindah ke Jampang, hal ini berkaitan dengan kepribadiannya yang kreatif dan suka bertani. Sehingga diharapkan agar dapat mengolah dan membuka Negeri Jampang. Pada kenyataannya kedatangan pasukan dari Panjalu ini disambut dengan suka cita di Jampang.
Sepeninggalan Prabu Boros Ngora ke Jampang, maka Raden Aria Kuning akhirnya mengemban amanah yang telah diberikan kepadanya. Kepemimpinannya membawa Negeri Panjalu menjadi negeri yang lebih makmur dari sebelumnya. Hal ini karena Raden Aria Kuning memimpin secara adil tanpa pilih kasih. Sosok Raden Aria merupakan pemimpin yang tidak membedakan rakyat. Dengan demikian, maka rakyat yang dipimpinnya hidup secara rukun, kaya raya dan banyak harta benda.
Suatu ketika Raden Aria Kuning berniat untuk menguras Situ Lengkong. Sebagai seorang anak yang menghormati ayahnya maka Raden Aria tidak berani melaksanakan keinginannya tanpa memperoleh izin dari sang ayah. Maka itu akhirnya Raden Aria mengutus Ki Buni Sakti untuk menyampaikan keinginan tersebut kepada Prabu Boros Ngora yang ada di Jampang. Setelah amanah disampaikan akhirnya Prabu Boros Ngora menyetujui keinginan putera sulungnya tersebut, akan tetapi ia berpesan belum tentu bisa menghadiri acara pengurasan Situ Lengkong Tersebut. Prabu Boros Ngora memberikan pesan bahwa ia akan mengutus Raden Aria Kencana apabila ia berhalangan hadir ke Panjalu. Apa yang dipesankan dari Jampang akhirnya disampaikan Ki Buni Sakti kepada Raden Aria Kuning.
Pada saat itu Raden Aria Kuning terlihat tidak sabar dan agak kurang sopan kepada Ki Buni Sakti yang umurnya lebih tua. Dalam diri pemimpin muda itu hanyalah ketergesaan dan keinginan untuk menguras Lengkong. Sementara di Jampang, telah disiapkan pasukan untuk mengiringi Raden Aria Kencana untuk menghadiri acara pengurasan Lengkong. Saat itu Raden Aria didampingi oleh dua panglima perang yaitu Kodal dan Kojal. Sebelum berangkat Prabu Boros Ngora berpesan kepada putera bungsunya agar dapat menjaga sikap ketika di Panjalu, mampu menghormati Raden Aria Kuning sebagai Bupati Panjalu, maka itu diharapkan agar dapat membantu dan tidak mengecewakan.
Sebelum pasukan Aria Kencana tiba di Panjalu kegiatan untuk menguras Situ Lengkong telah dilaksanakan terlebih dahulu. Tiga malam sudah rakyat dikerahkan untuk membersihkan Lengkong. Sebenarnya dalam hati Raden Aria Kuning merasa cemas, hal ini karena ia terlalu diburu waktu dalam menunggu kedatangan adiknya dan ia merasa takut kalau Raden Aria Kencana nantinya merasa sakit hati. Saat rombongan dari Jampang tiba di Panjalu dan saat Raden Aria Kencana berhadapan dengan Raden Aria Kuning timbul suasana tidak enak. Disatu sisi Raden Aria Kuning berusaha menghindar karena malu dan tidak enak hati, namun sikap tersebut justru menimbulkan salah tafsir dari Raden Aria Kencana.
Saat itu Raden Aria Kencana merasa bahwa kehadirannya dan rombongan dari Jampang sama sekali tidak dihargai. Alasannya bukan hanya karena pengurasan Lengkong yang dilakukan lebih dulu, akan tetapi juga saat pasukan dari Jampang tiba di Panjalu merasa tidak mendapat sambutan, malah rakyat yang ada sibuk dengan menangkap ikan dan urusan sendiri. Tidak mungkin berharap untuk disambut dan dihormati, Raden Aria Kencana malah merasa terhina saat melihat fenomena rakyat Panjalu yang tidak mampu lagi untuk menutupi rasa malu (hanya karena ikan yang diperebutkan lupa akan tradisi dalam menyambut bangsawan). Selain itu, hal yang paling membuat Raden Aria Kencana naik pitam ketika mendapat sikap dingin dari kakaknya. Ia merasa bahwa kedatangannya dari Jampang untuk memenuhi utusan ayahnya agar dapat membantu kegiatan di Panjalu, namun dengan perlakuan yang ia terima dan rasa dalam hatinya membuat Raden Aria Kencana tidak dibutuhkan. Sehingga ia pun tidak sudi untuk mengalah, hati dan jiwa sang pangeran telah dipenuhi emosi. Maka dari itu akhirnya Raden Aria Kencana menanjak bukit, menurut isi buku “Babad Panjalu” ketika itu Aria Kencana membongkar tanah dari bukit. Pada saat itu puncak bukit dikeduk dengan kedua tangannya sehingga air meluap dan memenuhi Situ Lengkong. Adapun keadaan disekitar pekerja yang akan menguras Lengkong menjadi kacau, suasana heboh dan air pun sampai ke kepala Prabu Anom Aria Kuning.
Keadaan yang kacau akhirnya membuat Raden Aria Kuning mengutus Ki Buni Sakti untuk menyelidiki hal yang telah terjadi. Adapun hal yang dimaksud kalau tanggul yang dibuat jebol, maka dari itu Raden Aria meminta untuk dicari tahu apakah telah terjadi tanah longsor. Saat diselidiki, ternyata ditemui bendungan yang sudah rusak dan didekatnya ditemukan pula Raden Aria Kencana yang sedang duduk. Saat itu Raden Aria Kencana mengakui perbuatannya dan dengan lantangnya ia menyampaikan pesan kepada Ki Buni Sakti berupa tantangan kepada Raden Aria Kuning. Awalnya Ki Buni Sakti sudah menasehati bahwa perbuatan demikian adalah tidak baik, namun ternyata Raden Aria Kencana semakin manjadi dan menunjukan sifat egoisnya.
Sekembalinya Ki Buni Sakti dari bendungan yang rusak, ia menyampaikan pesan yang diperolehnya dari Raden Aria Kencana. Saat itu Raden Aria Kuning tidak dapat lagi menahan kelakuan adiknya, dengan emosi yang tidak kalah dari Raden Aria Kencana akhirnya pemimpin Panjalu tersebut menanggapi niat berperang. Sebenarnya peperangan tersebut sudah dilarang oleh Kakek Den Patih, namun akhirnya perang saudara itu tetap berlangsung. Raden Aria Kencana seolah menantang, ia naik dan meluap-luap diatas bukit. Saat itu pasukan Jampang dan Panjalu bertempur satu sama lain. Adegan peperangan kakak adik ini perang menggambarkan peristiwa menusuk, menangkis, dan menyebabkan banyak sekali korban berguguran dalam peperangan ini. Adapun darah yang mengalir sudah tidak bisa dielakan lagi (adanya daerah Ranca Beureum merupakan tempat mengalirnya darah yang menjadi korban).
Pada akhir perang terdapat pertarungan antara kedua putera Prabu Boros Ngora ini. Keduanya sama-sama hebat dan sama-sama tidak bisa terkalahkan. Peristiwa saling tusuk dan saling bunuh itu disaksikan banyak orang (baik rakyat Panjalu maupun rombongan dari Jampang). Keadaan demikian membuat Ki Buni Sakti pergi ke Jampang dan memberitahu keadaan sebenarnya kepada Prabu Boros Ngora. Prabu saat itu memanggil Raden Kampuh Jaya untuk menengahi konfik tersebut. Raden Kampuh Jaya dan Ki Buni Sakti kemudian pergi menuju Panjalu dengan amanah agar membawa pulang ke Jampang pihak yang kalah dan menetapkan yang menang untuk tinggal di Panjalu.
Setiba di Panjalu Raden Kampuh Jaya akhirnya melaksanakan tugasnya. Ia menyelidiki asal terjadinya perang, selain itu Raden Kampuh Jaya mempertemukan Raden Aria Kencana dan Raden Aria Kuning untuk meminta alasan dan kejelasan dari masing-masing. Dari adanya pertemuan tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua pangeran ini sadar bahwa tindakan mereka adalah salah, mereka menunjukan penyesalan dan mengakui bahwa diri mereka telah dikuasai oleh emosi. Dengan demikian akhirnya Raden Kampuh Jaya memahami kejadian sebenarnya. Berdasarkan perintah Prabu Boros Ngora, maka Raden Aria Kencana yang kemudian ditetapkan sebagai Bupati Panjalu, sedangkan Raden Aria Kuning akan dibawa ke Jampang (hal ini karena pada perang pasukan Raden Aria Kuning yang paling banyak berguguran). Setelah Raden Aria Kencana diresmikan sebagai Pemimpin Panjalu yang baru, maka Raden Kampuh Jaya membawa Raden Aria Kuning untuk pulang ke Jampang. Raden Aria Kuning yang merasa bersalah dan tidak siap untuk bertemu sang ayah di Jampang tiba-tiba melarikan diri diperjalanan (diduga ia lari ke Sukapura dan kelak menjadi Bupati di Cilangkung). Setibanya di Jampang Raden Kampuh Jaya menyampaikan peristiwa yang terjadi diperjalanan, namun tanggapan dari Prabu Boros Ngora adalah pasrah. Saat itu ia menyerahkan keselamatan anak-anaknya kepada Yang Maha Kuasa.
Di Negeri Panjalu, rakyat yang hidup dibawah pimpinan Raden Aria Kencana mengalami kemakmuran, namun demikian Prabu Boros Ngora merasa bahwa anak bungsunya tersebut masih memiliki sifat kekanak-kanakan, maka dari itu ia mengutus Raden Kampuh Jaya untuk tinggal bersama Raden Aria Kencana di Panjalu. Adapun keinginan Prabu Boros Ngora agar Raden Kampuh Jaya dapat membimbing Raden Aria Kencana sebagai pemimpin Panjalu. Dengan demikian maka nama Raden Kampuh Jaya diubah menjadi Raden Guru Haji. Nama pemberian Prabu Boros Ngora tersebut akhirnya memulai pengabdian Raden Guru Haji terhadap Raden Aria Kencana. Dibawah bimbingan Raden Kampuh Jaya, Raden Aria Kencana akhirnya berhasil memimpin Panjalu, namun sengat disayangkan dengan kekayaan yang melimpah ruah Raden Aria Kencana jadi lupa keimanan dan jadi tidak tahu tata hormat. Apabila pemimpinnya demikian, maka rakyatnya tidak akan jauh berbeda. Hal ini membuat Prabu Boros Ngora bersedih, ia menyesali keadaan anaknya yang tidak lagi sholeh. Bagi Prabu Boros Ngora harta dan kekayaan hanyalah penyakit yang membuat pikiran.
Pada perkembangan Panjalu selanjutnya, sebelum Raden Aria Kencana meninggal, ia berpesan kepada patih untuk menyerahkan anak-anak dan mengurus, serta merawat harta kekayaan. Selain itu ia berpesan agar tahtanya diserahkan kepada Sanghyang Teko (anak pertamanya yang terkenal dengan nama Dalem Cilangkung) untuk diserahi Kabupaten. Pemimpin tersebut juga berpesan agar kelak dimakamkan disebelah Timur Perkampungan Munar (Perkuburan Nusa ini). Sepeninggalan sang ayah keadaan anak-anak yang ditinggalkan tidak memperdulikan orangtua yang baru wafat (mereka sibuk memperebutkan harta warisan yang ditinggalkan). Namun demikian, berdasarkan amanah raja kepada Den Patih, maka tahta memimpin diserahkan kepada Dalem Cilangkung (pada masa kepemimpinanya rakyat dan pengawal patuh sehingga Panjalu makmur).
Selain dari uraian diatas, maka silsilah pemimpin Panjalu berikutnya akan diteruskan oleh keberadaan Tumenggung yang mempunyai dua orang putera (Raden Dulang Kancana dan Raden Kadaliru). Saat Tumenggung ini ingin pensiun ia pun sama dengan pemimpin Panjalu sebelumnya, yaitu mengadakan musyawarah dengan sesepuh untuk menyerahkan tahta kepada puteranya. Adapun tahta kepemimpinan Panjalu akhirnya diserahkan kepada Raden Dulang Kencana dan tak lama kemudian ayah sang bupati akhirnya meninggal. Sepeninggalan ayahnya kedua kakak beradik yang ditinggalkan hidup rukun dan damai. Suatu ketika sang kakak berniat menyerahkan tahta kepada adiknya. Saat itu Raden Kadaliru tidak dapat menolak keinginan Sang Prabu. Seiring waktu yang berputar Raden Kadaliru akhirnya merasa untuk melepaskan jabatannya dan kemudian jabatan bupati digantikan oleh anaknya yang bernama Raden Marta Badadahin (Den Marta Baya Tumenggung). Tak lama setelah penyerahan jabatan akhirnya Raden Kadaliru wafat.
Kelanjutan dari kepemimpinan Panjalu kemudian digantikan oleh Raden Arya Nati Baya (Putera Den Marta Baya Tumenggung). Adapun Raden Arya Nati Baya memiliki dua orang putera yaitu Dalem Sumalah (putera sulung) dan Arya Sacanata. Ketika Raden Arya Nati Baya wafat maka Raden Dalem Sumalah diangkat sebagai pengganti ayahnya. Kepemimpinan Dalem Sumalah hanya berlangsung tiga tahun (setelah tiga tahun ia tiba-tiba wafat), maka dari itu akhirnya Arya Sacanata mengambilalih kepemimpinan Panjalu. Beralih dari Raden Arya Sacanata, maka tahta kemudian diserahkan kepada kemenakannya Raden Wira Baya (Putera Dalem Sumalah yang ketika ayahnya meninggal masih berusia kecil). Sementara Arya Sacanata akhirnya pergi ke Ganda Kerta suatu tempat pertapaan (didalam cerita babad sedikit disinggung bahwa disana tempat ditinggalkan puteranya yang masih kecil, yaitu Raden Wira Dipa).
Dari masa ke masa Negeri Panjalu yang diceritakan selalu mengalami pergantian pemimpin yang mampu memberikan kemakmuran terhadap kehidupan rakyat. Hal ini juga terjadi ketika peralihan kepemimpinan dari Raden Wira Baya kepada puteranya Raden Wira Praja. Dalam kisah Panjalu digambarkan mengenai Den Wira Jaya Wira Dipa yang memiliki seorang putera bernama Cakranagara. Adapun Cakranagara adalah pemuda yang baik pekertinya, ia amat disukai oleh bupati saat itu. Sehingga ketika Raden Wira Praja wafat, maka Cakranagara diangkat menjadi bupati Panjalu.
Suatu hari Panjalu digemparkan oleh keberadaan Harimau, untungnya hal tersebut bisa diatasi. Hal ini tentunya berkat Mas Warga Naya (Ki Malim;orang yang dapat menundukan hewan) dan Den Patih. Pemimpin Panjalu Den Tumenggung Cakranagara adalah pemimpin yang sangat rajin dan suka menuntut ilmu. Suatu hari ia pergi berkelana ke Cirebon. Tabiat baik dan rajin menuntut ilmu yang dimiliki Cakranagara membuat ia sangat disayangi Sultan Cirebon, maka dari itu akhirnya Cakranagara dinikahkan dengan Den Salengga Anom (kemenakan Sultan). Adapun pernikahan merupakan saran dari putera Sultan Cirebon yang bernama Demang Gajipura Sepuh. Setelah pernikahan maka pindahlah Den Tumenggung ke Panjalu. Di Panjalu Den Salengga Anom melahirkan anak laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Barsalam (diperkirakan lahir 1765). Adapun nama merupakan akulturasi yang ada antara Cirebon dan Panjalu. Di usia 24 tahun anak tersebut diangkat menjadi bupati dan berganti nama menjadi Den Cakranagara Anom. Tidak lama kemudian pun, maka sang ayah akhirnya wafat.
Pada tahun 1810 terdapat seseorang yang lama menjabat sebagai Tumenggung dan diduga menjadi bupati selama tiga puluh tahun. Ketika tahun 1819 bupati tersebut menerima pensiun. Sejak saat itu tidak ada lagi yang menggantikan untuk menjadi bupati. Hal ini membuat Panjalu menjadi distrik dan banyak yang pindah ke Galuh. Dengan demikian, maka wilayah Galuh menjadi sangat luas. Saat itu Panjalu dan Kawali adalah kawasan Galuh (hal ini sampai sekarang). Diperkirakan bupati terakhir dari Panjalu memegang masa pensiun selama tiga puluh tiga tahun. Bupati ini memiliki dua belas orang anak (ia merupakan ayah yang selalu memberi nasihat dan petuah kepada anaknya). Tak lama bupati meninggal, maka terdapat salah seorang anaknya yang kelak akan menjadi lurah (sekitar 1868). Dalam menjalankan tugasnya keturunan Bupati Panjalu ini menjabat selama tiga puluh delapan tahun (ia dikenal dengan Prajadinata). Dari adanya pusaka yang ditinggalkan akhirnya ia berusaha untuk mempelajari Bahasa Sunda (walau terkesan kasar dan jelek). Adapun tujuannya untuk menjelaskan kepada anak cucu kelak mengenai keberadaan tokoh-tokoh penguasa Panjalu dan kebenaran keberadaan desa Panjalu di masa lalu.









BAB III
ANALISIS ATAS BABAD PANJALU

Pada bab ini akan berisi uraian mengenai analisis yang diperoleh berdasarkan pemaparan bab sebelumnya. Adapun analisis ini merupakan pembuktian terhadap isi akan disesuaikan terhadap metode dan konsep yang berkaitan dengan historiografi tradisional. Berikut merupakan pembagian yang akan dibahas untuk menganalisis “Babad Panjalu” adalah sebagai berikut :

2.1 Aspek Mitos
Sebagaimana telah diketahui bahwa Naskah “Babad Panjalu” ini menceritakan mengenai pertentangan antara Raden Aria Kuning dan Raden Aria Kencana. Didalam babad dimuat cerita mengenai Raden Aria Kencana yang sakit hati atas sikap Raden Aria Kuning dan rakyat Panjalu yang tidak menganggap keberadaan dirinya sebagai bangsawan. Maka dari itu akhirnya Raden Aria Kencana membongkar tanah dari bukit dengan kedua tangannya. Adapun tindakannya ditujukan untuk mengacaukan Negeri Panjalu. Hal ini merupakan bagian dari mitos karena sangatlah tidak rasional mengenai keberadaan manusia bisa yang mampu membongkar tanah bukit dengan kedua tangannya. Apalagi tanah bukit tersebut mampu menghentikan air pada sebuah danau. Kedua tangan manusia mungkin bisa saja mengeruk tanah pada sebuah bukit, namun sangat mustahil apabila hasil tanah yang dikeruk itu dalam jumlah yang banyak pada satu waktu yang sangat singkat dan mampu mengacaukan seisi desa. Hal ini tentunya bersifat pars pro toto yang menggambarkan adanya kesaktian ataupun unsur gaib. Manusia biasa yang berilmu gaib tentunya akan melakukan hal-hal yang dianggap Kosmis-Magis atau Theogony. Hal serupa bisa juga dijumpai pada bagian cerita yang dikisahkan babad ketika Ki Buni yang mencoba melerai pertarungan Raden Aria Kuning dan Raden Aria Kencana; saat itu Ki Buni Sakti yang tidak dihiraukan oleh kedua pangeran akhirnya meninggalkan Panjalu untuk menghadap Prabu Boros Ngora dan kemudian kembali lagi ke Panjalu dengan keadaan kedua pangeran yang belum selesai bertarung. Hal yang dianggap kurang rasional berkaitan mengenai Ki Buni Sakti dan kedua pangeran. Pertanyaan pertama berkaitan dengan perjalanan Ki Buni Sakti, secepat apakah jalannya Ki Buni Sakti, ditengah persoalan dan keadaan kacau yang ramai Ki Buni Sakti bisa menuju Jampang dan menyampaikan pengaduannya, kemudian setelah itu ia kembali lagi ke Panjalu dengan keadaan tempat dan masyarakat yang masih tetap (maksudnya posisi kedua pangeran yang masih bertarung dengan disaksikan oleh rakyat). Pertanyaan kedua tentunya berkaitan dengan pangeran-pangeran yang bertarung, sesakti apa keduanya sehingga sama-sama mampu bertahan. Sejak ditinggal Ki Buni Sakti sampai sekembalinya kedua pangeran masih bertarung dan keduanya masih hidup seperti keadaan semula. Kesaktian apa yang dimiliki oleh keduanya. Pada kisah yang diceritakan mengenai letak hal tidak rasional bisa terdapat pada Ki Buni Sakti (yang bisa menuju Jampang dan kemudian kembali ke Panjalu pada waktu yang sama) dan bisa ditemukan pada kedua pangeran yang bertarung (mengenai pertarungan yang tidak selesai dan tidak merubah keadaan keduanya, sangat mustahil apabila keduanya bertarung selama dua hari dua malam, atau tiga hari tiga malam dan sebagainya. Dengan disaksikan rakyat tentunya kedua pangeran ini sama-sama mampu bertahan. Hal ini tentunya akan menghasilkan pertanyaan mengenai keadaan pertarungan seperti apa yang dilaksanakan orang dahulu. Kenyataan mengenai orang yang bertarung dan tidak bisa kalah sangatlah mustahil apalagi didalam cerita terdapat adegan menusuk dan menangkis. Tanpa makan, minum dan istirahat sangat mustahil dapat bertarung apalagi mempertaruhkan nyawa). Adapun bagian cerita pada babad yang diuraikan diatas tentunya bersifat mitos. Hal ini karena pemaparan cerita akan memberikan kesan mengenai kekuatan gaib atau kesaktian yang dimiliki oleh kedua pangeran dan Ki Buni Sakti. Kedua hal tersebut sangat sulit dipercaya apabila tidak disaksikan secara langsung . fenomena didalam cerita dianggap rasional karena menggambarkan hubungan antara manusia dengan kekuatan gaib yang ada diluar dirinya. Peristiwa yang bersifat mitos hanya akan riil apabila seseorang itu hidup pada zaman mitos namun bisa saja digunakan apabila sifatnya melegitimasi. Secara kultural hal demikian sangat sulit untuk dibuktikan. Dari sinilah akhirnya ditemukan berbagai pandangan hidup dan penilaian mengenai uraian peristiwa yang dianggap tidak rasional. Dari adanya uraian cerita demikian pada babad tentunya akan bermanfaat untuk membangun perspektif terhadap keberadaan mitos.
Adapun hal yang dianggap sebagai mitos diungkapkan pada Pupuh dibawah ini :
1. Raden Aria Kencana menanjak bukit dan membongkar tanah dengan
kedua tangannya diungkapkan oleh Pupuh Pangkur 130
Den Aria nanjak angkat
Rek ngurugkeun taneuh nu dina pasir
Lajeng peucut the dikeduk
Ku tangan duanana
Geus paragat sabidang gupitan pinuh
Kocap nu keur rame pisan
Cai geus cunduk ti hilir
Den Aria jalan menanjak
Akan membongkar tanah dari bukit
Kemudian puncaknya dikeduk
Oleh kedua tangannya
Sudah sebanyak beduk penuh
Tersebut sedang ramai sekali
Air sudah susut ke hilir
2. Ki Buni Sakti yang pergi ke Jampang dan kemudian tiba di Panjalu
Bersama Den Kampuh Jaya ketika kedua pangeran sedang
melaksanakan pertarungan diungkapkan oleh Pupuh Pangkur dan Pupuh
Dangdanggula sebagai berikut :
Pupuh Pangkur 207
Lajeng lumpat ka Jampang henteu pamitan
Kemudian tanpa pamit berlari ke Jampang
Pupuh Dangdanggula 215
Raden Kampuh Jaya tembah gasik
Silir macan muru papanganan
Raden Kampuh Jaya bertambah cepat
Bagaikan harimau mengejar mangsa

Pupuh Dangdanggula 217
Raden Kampuh Ka Ki Buni Sakti cunduk
Kaduhung ku napsu
Bener omong paribasa
Nu kaduhung tara datang ti pandeuri
Ayeuna katemahan
Kampuh Jaya Ki Buni Sakti tiba
Sampai di arena perang
Masih ada yang memegang keris
Terburu dari Jampang dating
2.2 Aspek Sastra
Telah diketahui bahwa sastra merupakan aspek yang menentukan keberadaan suatu karya historiografi tradisional. Sastra akan sangat mudah dikenali melalui ide penyampaian yang mengandung unsur seni (estetis). “Babad Panjalu” merupakan naskah kuno yang mampu memuat nilai-nilai budi pekerti, pesan moral, dan budaya yang bermanfaat didalam kehidupan suatu masyarakat. Keadaan ini tentunya berkaitan dengan fungsi sastra yang terdapat didalamnya. Menurut Sulastin Sutrisno sastra itu sendiri pada dasarnya berfungsi untuk membentuk norma baik untuk orang sejaman maupun untuk mereka yang menyusul kelak. (p. 1992:1).
Babad Panjalu merupakan Naskah Kuno Sunda yang unsur sastranya ditemui dalam bentuk Dangding (ikatan puisi) yang disebut Pupuh. Pada babad ini terdapat sembilan pupuh yaitu : Asmarandana (63), Sinom (64), Kinanti (96), Pangkur (22), Durma (65), Dangdanggula (33), Mijil (50), Magatru (73), Pucung (57). Adapun contoh-contoh dari pupuh pada Babad Panjalu adalah sebagai berikut :
1. Asmarandana (6)
Reujeng ieu ama titip Dan ini ayah menitipkan
Ku ujang kudu tampanan Oleh kamu harus terima
Anggep simpen masing hade Hargai simpan bak-baik
Hiji buku bab pusaka Sebuah buku tentang pusaka
Tina awal mulana Dari awal mulanya
Awit nungadamel situ Berawal yang membuat telaga
Lengkong buktina gumelar Lengkong bukti yang nyata
2. Sinom (55)
Sang Prabu hibat ka putra Sang Prabu menghibahkan kepada
putra
Ratu Anom Aria Kuning Ratu Anom Aria Kuning
Ama pasrah saayana Ayah menyerahkan seadanya
Rupa barang eusi bumi Berupa benda isi bumi
Rupa emas jeung duit Berupa emas dan uang
Kaayaan di Panjalu Keadaan di Panjalu
Jeung ieu barang pusaka Dan ini benda pusaka
Anggep simpen ati-ati Pelihara simpan hati-hati
Tah rupa ku Eneng geura tampanan Nah ini bentuknya oleh ananda
Segera terima
3. Kinanti (103)
Jeung poma Eneng di ditu Dan ingat eneng di sana
Rakai ka mangka rapih Jangan suka membuat kecewa
Ulek rek nyieun kacuwa Tidak baik bagi yang kecil
Sakitu weweling Ama Begitu nasihat Ayah
Diregepkeun beurang peuting Dicamkan siang malam
4. Pangkur (127)
Hatur aki langkung karsa Demikian inisiatif kakek
Panuhun mah ulah lajeung panggalihDimohon tidak menjadi
fikiran
Pundung nguwung kanu sepuh Marah dendam kepada yang
tua
Teu sae belukarna Akibatnya tidak baik
Kitu deui madah ulah jadi bendu Demikian juga jangan menjadi
gusar
Gamparan langkung waspada Tuan hamba lebih waspada
Kuma karsa rek diiring Apapun kehendak akan hamba
ikuti
5. Durma (152)
Demi Allah abdi teu nagang rasa Demi Allah hamba menyangkal
kehendak
Sumangga Gusti galih Silahkan Gusti fikir
Agung sihna hampura Buka pintu maaf yang besar
Neukteuk curuk dina pingping Memanggal telunjuk di paha
Awal ahirna Awal akhirnya
Teu bati teu ngajinis Tak untuk tak ada artinya
6. Dangdanggula (219)
Dua putra enggeus sami linggih Kedua putra itu sudah sama
sama duduk
katiluna Raden Kampuh Jaya Bertiga dengan Raden Kampuh
Jaya
Opatan patutungku Berempat berkumpul
Para putera risi panggalih Para putera risi hatinya
Ngetak ngamanah lampah Menyadari atas perbuatannya
Keduhung ku napsu Menyesak karena nafsu
Bener omong paribasa Benar ucapan pribahasa
Nung kaduhung tara datang Penyesalan dating kemudian
di pendeuri
Ayeuna katemahan Sekarang terasa
7. Mijil (501)
Tumaniah tugenah nya piker Senang tak senang fikiran
Pikir masing godos Pikiran agar sepaham
Kumaula senang seneng hate Mengabdi dengan senang hati
Tetelakeun ka kuring leutik Tunjukan kepada rakyat kecil
Titih masing rapih Lakukan dengan rapih
Maksud mambrih rukun Maksudnya agar rukun
8. Magatru (255)
Tah sakitu teu panjang kami miwuruk Nah demikian tak panjang ku
memberi nasihat
simpen titip dina ati Simpan titipkan dalam hati
ditungkus dina jajantung Dibungkus dalam jantung
urang kudu lantip budi Kita harus berbudi baik
diimankeun ulah poho Jangan lupa diimankan
9. Pucung (382)
Puji sukur ujang ari enggeus Puji syukurlah anakku jika
sanggup
Ama rek bebeja Ayah akan memberitahukan
Jeung para ponggawa kabeh Kepada para petugas semua
kuring menak Keluarga rakyat menak
Saayana sekaliannya

Contoh dari pupuh-pupuh diatas mewakili dari pupuh lain yang terdapat pada cerita “Babad Panjalu”. Dengan keberadaan pupuh tersebut maka babad ini diketahui memiliki unsur sastra. Adapun unsur sastra yang berupa pupuh dalam cerita telah menyampaikan isi cerita sesuai dengan fungsi sastranya. Hal ini karena kata-kata yang diuraikan pada pupuh di dalam “Naskah Babad Panjalu” menyampaikan alur cerita dengan nasihat dan petuah yang mengarah pada kebaikan. Dari sinilah kesan estetis tersampaikan terhadap penguraian isi naskah.

2.3Aspek Sejarah
Historiografi dikenal sebagai “sejarah dari sejarah” atau “sejarah dari penulisan sejarah” artinya pengkajian perkembangan penulisan sejarah. (Herlina, 2009: 10). Berdasarkan nama yang melekat pada “Babad Panjalu” maka dapat digolongkan bahwa babad ini bertemakan sejarah. Hal ini karena kata “Babad” itu artinya “sejarah”. (1992: 229). Pengertian ini diperkuat oleh adanya anggapan mengenai babad sebagai karya yang memiliki unsur implisit mengenai aspek sosio-kultural yang dapat digolongkan sebagai karya sastra sejarah. Adapun yang dimaksud karya sastra sejarah disini adalah historiografi tradisional. (Herlina. 1998: 14).
Dengan demikian, maka didalam karya historiografi tradisional tidak hanya bergantung pada unsur mitos dan sastra, akan tetapi juga akan membutuhkan sejarah untuk membuktikan kebenaran cerita didalamnya. Hal demikian tentunya akan sangat dibutuhkan oleh “Babad Panjalu” sehingga karya ini dapat disebut karya historiografi tradisional.
Adapun unsur sejarah yang terdapat pada “Babad Panjalu” haruslah didukung oleh keberadaan data lain. Pada permulaan cerita dipaparkan pada tahun 1819 di Panjalu terdapat bupati yang mendapat penghargaan pensiun, hal demikian tercantum pada surat pendanaan (Asmarandana : 4). Dengan adanya keterangan waktu demikian, maka kita dapat mengetahui bahwa pada masa itu wilayah Priangan telah dikuasai oleh barat atau disini lebih tepatnya peralihan dari masa VOC ke Pemerintahan Hindia Belanda. Berdasarkan catatan sejarah, Belanda masuk ke Indonesia pada tahun 1596 dan dengan diikuti berdirinya organisasi yang dikenal dengan nama VOC (Veregnigde Oost Indische Compagnie) pada tanggal 20 Maret 1602. (Kedutaan Besar Republik Indonesia Den Haag:2002:4). Dengan masuknya VOC maka Mataram akhirnya menyerahkan Priangan pada tahun 1677-1705, hal ini karena VOC akhirnya mengalami keruntuhan yang disebabkan oleh praktek korupsi. Pada tahun 1799 VOC resmi dibubarkan, sejak sejak 1 Januari 1800 kegiatan VOC sudah tidak terlihat dilaksanakan lagi dan digantikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda (1808-1900 an). (Kedutaan Besar Republik Indonesia Den Haag:2002:6).
Selain itu perlu diketahui bahwa Jawa Barat merupakan bagian kekuasaan VOC dengan sistem pemerintahan Preanger Stelsel. Pada sistem ini penguasa lokal seperti bupati memegang kekuasaannya didaerah masing-masing. Hal inilah yang kita lihat pada kehidupan rakyat Panjalu didalam babad. Peran Bupati Boros Ngora yang kemudian diteruskan oleh keturunan-keturunannya sangatlah menentukan kehidupan rakyat Panjalu (penjelasan ini diuraikan pada setiap pupuh yang berkaitan dengan kehidupan Negeri Panjalu dan pergantian kepemimpinan). Sistem pemerintahan yang demikian terlaksana disebabkan oleh tujuan VOC sebagai serikat dagang yang lebih mengutamakan kepentingan dan perekonomian perdagangan di Nusantara khususnya Jawa Barat (Priangan). Salah satu contohnya kehidupan perekonomian di Priangan pada abad ke-17 yang tidak lepas dari perkebunan kopi. Adanya promosi Heren XVII pada tahun 1706 mendorong VOC untuk menanam pengaturan kopi di Jawa. Adapun hasil kopi ini diperoleh setengah dari Cianjur, dan selebihnya dari sekitar Bandung. (Herlina, 1998:27).
Dari penjelasan diatas bukan berarti VOC lepas tangan sepenuhnya atas pemerintahan. VOC memang tidak campur tangan pada pemerintahan dikalangan pribumi, namun sebagai tanda bahwa bupati berada dibawah kompeni dibuatlah adanya Surat Keputusan Gubernur Jenderal yang berkaitan dengan pemerintahan dalam hal surat terima jabatan dan pensiun. (1992: 223). Hal ini diperoleh pada pupuh Asmarandana bait 3 yang menjelaskan adanya surat keputusan pengangkatan terhadap bupati.
Di dalam babad dijelaskan bahwa “Babad Panjalu” selesai disalin oleh Prajadinata pada tahun 1905. Adapun Prajadinata adalah seorang kuwu atau lurah di Mawarah. Selain itu uraian babad menjelaskan bahwa naskah dibuat oleh keturunan dari bupati-bupati Panjalu. Sedangkan nama desa Mawarah dianggap berkaitan dengan adanya Kerajaan Panjalu. Hal ini karena pada masa Prabu Boros Ngora letak keraton terdapat di Dayeuh Luhur Desa Mawarah atau dengan nama lainnya Maparah. (Sukardja, 2001: 49).
Selanjutnya didalam “Babad Panjalu” menjelaskan mengenai kepemimpinan Prabu Boros Ngora sebagai asal mula Panjalu (Asmarandana : 13). Tokoh Boros Ngora merupakan bupati pertama negeri Panjalu yang membangun tenaga luas bernama Lengkong (Asmarandana : 14) dan sebuah Nusa atau pulau ditengahnya (Asmarandana : 15). Menurut Djadja Sukardja, (2001: 54), ketika Prabu Boros Ngora menjadi Raja di Panjalu ia melakukan pembangunan terhadap negeri tersebut. Dalam rangka menyediakan sarana pengairan bagi rakyat dan sawah di Panjalu maka daerah Legok Jambu dibendung dan dijadikan situ (danau). Maka dari itulah dilembah pasir jambu inilah atau dikenal dengan daerah Dayeuh Luhur Cipanjalu dibuatlah Situ Lengkong dengan pulau kecil ditengahnya (Nusa Gede) .
Keberadaan tokoh awal bernama Prabu Boros Ngora pada babad merupakan sentral dari isi cerita. Adanya cerita dengan persepsi bervariasi selalu memaparkan mengenai Prabu Boros Ngora yang menuntut ilmu ke Mekah dan sekembalinya dari Mekah ia membawa air zam zam yang kemudian ditumpahkan kedalam Situ Lengkong. (Sukardja, 2001: 55).
Selain itu didalam babad dilukiskan mengenai keberadaan Nusa sebagai tempat Raden Aria Kencana menyalurkan kegiatan bercocok tanamnya (Asmarandana :26). Pada babad Nusa ini bisa disebut Nusa Pakel, adapun Nusa (pulau) merupakan penghasil buah-buahan dan bunga, bahkan sampai keanak cucu menanam buah mangga dilakukan turun temurun. Selain itu kekayaan Negeri Panjalu pada masa lalu dilukiskan oleh keberadaan Lengkong yang didalamnya kaya akan ikan (Kinanti :111). Dengan demikian maka wajar saja apabila kedua situs tersebut (Lengkong dan Nusa) menjadi Hutan Lindung dibawah pengawasan (konservasi sumber daya alam) yang didalamnya terdapat cagar budaya dibawah lindungan suaka peninggalan sejarah dan kepurbakalaan yang berkedudukan di Serang. (Sukardja : 9).
Dengan adanya dua situs Panjalu diatas maka didalam babad juga diceritakan mengenai jembatan penghubung kedua situs tersebut yang dikenal dengan Jembatan “Cuka Padung”. Jembatan ini dibuat dari balok yang ditujukan untuk mempermudah sistem perhubungan darat. (Sukardja, 2001: 55).
Bukti dari keberadaan tokoh Boros Ngora pada masa lalu ini diyakini oleh masyarakat Panjalu. Hal ini terbukti dengan berdirinya Yayasan Boros Ngora yang ada di Ciamis. Tokoh bupati pertama Panjalu tersebut namanya sudah tidak asing bagi masyarakat Panjalu karena masyarakat Panjalu sampai saat ini mempunyai kebiasaan upacara “Nyangku”. Adapun upacara ini adalah suatu rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja serta Bupati Panjalu dan penerusnya yang tersimpan di Pasucian Bumi Atlit. Upacara Nyangku berasal dari bahasa Arab dari kata “Yanko” yang artinya membersihkan, sehingga peninggalan Prabu Boros Ngora serta leluhur Panjalu dibersihkan. Adapun peninggalan tersebut berupa pedang, cis, keris komando, keris, pancarowo (senjata perang), bangreng (senjata perang), dan gong kecil (untuk mengumpulkan rakyat) ini terdapat di Yayasan Boros Ngora Panjalu. (Hendar, 2007: 10).
Menurut pendapat Hendar Suhendar pada buku yang berjudul “Sejarah Panjalu” (2007: 5), Prabu Boros Ngora adalah putera kedua dari Cakradewa. Prabu Cakradewa merupakan Raja Panjalu yang diperkirakan hidup pada abad ke-6. Adapun Prabu Cakradewa merupakan keturunan dari Prabu Rangga Gumilang dan Prabu Lembu Sampulur yang mendirikan Kerajaan Hindu di Ciamis. (Sukardja : 1997). Bukti dari adanya corak hindu ini dikarenakan adanya dugaan bahwa Kerajaan Panjalu ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kediri atau Kerajaan Jenggala yang terdapat di Jawa Timur. Hal ini karena pada masa raja terakhir Kerajaan Kediri mendapat serangan dari Ken-Arok dan raja yang bernama Kertajaya itu akhirnya tewas. Dengan demikian rakyat pada saat itu melarikan diri ke Jawa Barat dan sampailah didaerah yang kita kenal Panjalu ini. (Notosusanto : 279).
Pada masa Prabu Boros Ngora yang meneruskan tahta ayahnya Kerajaan Panjalu diubah dari corak Hindu ke dalam corak Islam. Sehingga wajar saja kalau didalam babad ditemukan hal-hal yang sifatnya mengarah pada agama Islam. Misalnya saja ditemukan adanya ungkapan Ki Buni Sakti yang menyatakan “Demi Allah” tidak setuju pada tindakan Raden Aria Kuning untuk menanggapi tantangan perang Raden Aria Kencana (Durma :115). Hal ini juga dibuktikan dengan perayaan Upacara Nyangku yang dilaksanakan setahun sekali pada Rabiul Awal atau akhir bulan Rabiul awal; pada minggu terakhir hari Senin dan Jumat untuk memperingati Maulud Nabi. (Sukardja, 2000: 12).
Secara kronologis didalam babad diuraikan mengenai pemerintahan Prabu Boros Ngora yang kemudian dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya. Adanya Pangeran Aria Kuning dan Pangeran Aria Kencana merupakan bupati Panjalu setelah kepemimpinan Prabu Boros Ngora. (Dangdanggula : 325). Adapun silsilah mengenai keturunan Bupati-Bupati Panjalu adalah benar keberadaannya. Penerus Panjalu seperti Sanghyang Teko, Raden Dulang Kancana, Raden Kadaliru, Raden Marta Badadahin (Den Marta Baya Tumenggung), Dalem Sumalah, Arya Sacanata, Wira Baya, Wira Praja, Cakranagara III, dan Raden Barsalam (Magatru: 485) adalah nama-nama Bupati Panjalu yang berada pada naskah salinan Prajadinata. (Sukardja, 2000: 44). Menurut cerita babad setelah keturunan Raden Barsalam tidak ada lagi yang menjadi Bupati Panjalu. Maka itu Panjalu kemudian disatukan dengan Kawali dan menjadi bagian dari Ciamis. Hal ini terbukti dengan posisi Panjalu saat ini yang menjadi bagian dari Kabupaten Ciamis Jawa Barat.

2.4 Aspek enam Keseragaman
A.Genealogi
“Babad Panjalu” digolongkan sebagai karya historiografi tradisional karena umumnya babad ini berisikan silsilah. Adapun silsilah yang buat oleh keturunan Bupati Panjalu yang di salin oleh Prajadinata (1905) tersebut berisikan urutan generasi Panjalu. Prabu Boros Ngora dapat dikatakan sebagai nenek moyang pertama karena pada babad ia yang paling pertama diceritakan. Isi babad juga menjelaskan posisinya sebagai pendiri Panjalu. Keturunan terakhir diceritakan adalah Raden Barsalam yang kemudian memiliki keturunan lagi seorang bupati hingga akhirnya naskah ini ditulis oleh seorang lurah bernama Prajadinata. Secara genealogi maka akan dimuat rentetan antara orang satu dan dua. Pada babad ini terlihat adanya rentetan antara pemimpin-pemimpin Panjalu mulai dari Prabu Boros Ngora, Raden Aria Kuning, Raden Aria Kencana, Sanghyang Teko, Raden Dulang Kancana, Raden Kadaliru, Raden Marta Badadahin (Den Marta Baya Tumenggung), Dalem Sumalah, Arya Sacanata, Wira Baya, Wira Praja, Cakranagara III, hingga Raden Barsalam dan keturunannya.

B.Asal Usul Rajakula
Pada babad ini diceritakan bahwa sejarah penguasa Panjalu dimulai dengan kepemimpinan Prabu Boros Ngora yang mengislamkan rakyat Panjalu. Selain itu Keberadaan Situ Lengkong yang kemudian mengalami bah karena diuruknya tanah dari bukit oleh Raden Aria Kencana menyebabkan Raden Aria Kencana menjadi Raja. Adapun hal ini karena keputusan Prabu Boros Ngora agar menjadikan salah satu puteranya yang memenangi perang sebagai pemimpin Panjalu.

C.Mitologi Polinesia Tentang Perkawinan Dengan Bidadari
Pada “Babad Panjalu” tidak diceritakan mengenai adanya mitologi perkawinan dengan bidadari. Hal ini bisa dikaitkan dengan keberadaan mitologi tersebut yang berkembang di Tengger, Batak, Sangir, Minahasa, Kepulauan Melanesia dan Hibrida, serta Hindia. (Herlina, 2009 : 23). Sedangkan diketahui bahwa “Babad Panjalu” merupakan cerita naskah yang ada di tanah Sunda.

D.Legenda Pembuangan Anak
Dalam enam keseragaman Legenda pembuangan anak ini juga tidak ditemukan di dalam “Babad Panjalu”. Hal ini karena Panjalu sendiri merupakan naskah yang menceritakan silsilah. Apalagi pada isi naskah keturunan bupati-bupati Panjalu adalah dari keturunan Prabu Boros Ngora semua. Tidak ada anak yang dibuang dalam cerita ini, justru pada masa Raden Wira Praja ia mengangkat anak kemenakannya Cakranagara sebagai pengganti tahtahnya.

E.Legenda Permulaan Kerajaan
Pada babad ini tidak dipaparkan mengenai permulaan kerajaan. Karena isi babad langsung menceritakan Panjalu yang sudah berdiri dan dipimpin oleh bupati bernama Prabu Boros Ngora. Namun apabila dinilai dari segi kerajaan yang islami, maka asal mula kerajaan ini memang pada masa kepemimpinan Boros Ngora. Sedangkan fakta lain mengungkapkan bawa Panjalu ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Jenggala di Jawa Timur. Hal ini dikarenakan kematian raja terakhir ditangan Ken Arok. Dengan demikian rakyat melarikan diri ke Ciamis dan mendirikan Panjalu disana. Apabila dikaitkan dengan cerita tersebut maka asal mula Panjalu ini adalah lanjutan dari Jenggala. Dalam bahasa Jawa Panjalu itu artinya “ayam jantan”. Sehingga Kerajaan Panjalu bias dikatakan kerajaan ksatria yang kuat karena seperti ayam jantan.

F.Tendensi Menjunjung Tinggi Rajakula
Setiap karya historiografi tradisional selalu memiliki kecenderungan untuk menjunjung dinasti (rajakula) dimana karya tersebut ditulis. (Herlina, 2009:25). Hal ini juga berlaku dalam “Babad Panjalu”. Karya ini ditulis oleh keturunan Bupati Panjalu untuk membuat silsilah-silsilah agar diketahui oleh keturunannya. Di dalam babad tokoh Prabu Boros Ngora adalah tokoh yang sangan kontras diagung-agungkan. Begitu juga dengan raja-raja penerusnya seperti Raden Aria Kuning, Raden Aria Kencana, Sanghyang Teko, Raden Dulang Kancana, Raden Kadaliru, Raden Marta Badadahin (Den Marta Baya Tumenggung), Dalem Sumalah, Arya Sacanata, Wira Baya, Wira Praja, Cakranagara III, dan Raden Barsalam (Magatru: 485) adalah nama-nama Bupati Panjalu yang pada masa kepemimpinannya sangat dihorrmati dan diagungkan oleh rakyatnya.






SIMPULAN

Dari hasil analisis diatas, maka “Babad Panjalu” yang berjumlah 108 halaman ini dapat digolongkan sebagai karya Historiografi Tradisional. Hal ini karena babad tersebut ditulis secara tradisional dengan menggunakan bentuk puisi Sunda (pupuh). Selain itu pada babad ini juga ditemukannya mitos yang berfungsi untuk memberikan sudut pandang dalam menjalani kehidupan sosial budaya. Dan bagian terpenting dari analisis ini adalah keberadaan aspek sejarah di dalam babad ini. Hal tersebutlah yang mengukuhkan babad ini sebagai karya sastra sejarah (historiografi tradisional). Adapun unsur enam keseragaman pada babad ini juga mendukung adanya kebenaran fakta sejarah dan sastra didalamnya. Dengan demikian akhirnya kita dapat mengetahui fungsi dari adanya historiografi tradisional yang dapat pula dijadikan sebagai sumber penulisan sejarah.









DAFTAR PUSTAKA

Abdulah, Taufik (ed). 1985. Ilmu Sejarah Dan Historiogafi ; Arah dan
Perspektif. Jakarta : Gramedia
Dienaputra, Reiza D. 2006. Sejarah Lisan ; Konsep dan Metode.
Bandung : Balatin Pratama
Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah
(terjemahan). Jakarta : Yayasan Penerbit Universitas Indonesia
Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran Dan Perkembangan Historiografi
Indonesia. Jakarta : Gramedia
Lubis, Nina H. 1998. Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942.
Bandung : Pusat Informasi Kebudayaan Sunda
. 2008. Metode Sejarah.
Bandung : Satiya Historika
. 2009. Historiografi Indonesia dan Permasalahannya.
Bandung : Satiya Historika
Maria, Siti (ed). 1992. Babad Panjalu (proyek penelitian).
Jakarta : Depdikbud
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto,
Nugroho.1983. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Sukarja, Djadja. 1997. Maung Panjalu dan Nyangku.
Ciamis : Yayasan Boros Ngora Panjalu
. 2000. Sejarah Kisah Panjalu Dan Cerita Rakyat Situ Lengkong, Prabu Boros Ngora, Maung Panjalu. Panjalu : File Amikro
. 2001. Sejarah Galuh Ciamis.
Ciamis : Depdikbud
Suhendar, Hendar. 2007. Sejarah Panjalu; Bumi Atlit (Situ Lengkong, Bumi
Atlit, Maung Panjalu, Sang Hyang Prabu Boros Ngora.
Ciamis : Yayasan Boros Ngora Panjalu
Yulianti. 2007. Sejarah Indonesia dan Dunia ( cetakan I )
Bandung: Yrama Widya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar