Kamis, 05 Agustus 2010

jawaban merlin atas dua soal

1. Apakah kehadiran VOC di nusantara telah memperlemah perdagangan pribumi?
 Menurut pendapat saya keberadaan VOC di Nusantara mampu memberi pengaruh terhadap penduduk pribumi terutama dibidang perekonomian. Telah diketahui Bahwa VOC yang dibentuk pada 1602 didirikan dengan dasar dan motif untuk menguasai perdagangan
(memajukan perekonomiannya) dan mendapatkan hak-hak istimewa yang tentunya menguntungkan perekonomian pihak VOC sendiri. Fenomena keberadaan VOC di Nusantara tidak hanya berdampak dengan lemahnya kedudukan perekonomian pribumi saja namun disatu sisi dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi perekonomian Nusantara (dalam arti lain dapat di defenisikan bahwa kedudukan VOC di Nusantara bersifat Dualisme). Apabila dipandang dari sudut bahwa keberadaan VOC di di Nusantara telah memperlemah perdagangan pribumi maka dapat kita lihat pada fenomena perlawanan para pedagang pribumi terhadap VOC. Perlawanan yang terjadi oleh para pedagang pribumi di Nusantara terjadi hampir diseluruh wilayah Nusantara yang daerah serta wilayah perdagangannya dikuasai oleh VOC. VOC menerapkan sistem monopoli perdagangan yang bertentangan dengan sistem perdagangan Tradisional, selain itu VOC Menerapkan aturan-aturan yang bersifat memaksa dan merugikan rakyat serta para pedagang pribumi. Sikap VOC yang berusaha untuk menyebarkan Hegemoninya (pengaruhnya) sangatlah bersifat Agresif hal ini telihat dari adanya monopoli yang dilakukan VOC di Banten, Aceh, Sulawesi (Goa), Malaka, Makasar, serta daerah lainnya di Nusantara. VOC menerapkan monopli atas produksi pala, bunga pala (fuli), dan komoditas yang terpenting saat itu adalah cengkih. Bahkan VOC melakukan beberapa politik yang bersifat radikal untuk memajukan perusahaannya agar dapat menumpukkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Salah satu bentuk dari politik radikal VOC yaitu melakukakan larangan perdagangan antara kapal pribumi terhadap Portugis saat itu (pada waktu itu Portugis merupakan saingan VOC yang mampu membuat VOC kesulitan maka itu akhirnya VOC membuat aturan yang bersifat memaksa dan dengan demikian perdagangan antara pribumi dan Portugis terhenti dan VOC yang akhirnya mendapat keuntungan). Sedangkan politik lainnya yang diterapkan oleh VOC adalah melakukan pengawasan serta mengendalikan dan membatasi perdagangan yang dilakukan di Asia. Dengan demikian dapatlah terlihat dengan jelas bahwa keberadaan VOC di Nusantara memperlemah perdagangan pribumi (sektor ekonomi Nusantara),hal ini karena sistem aturan dan monopoli yang diterapkan VOC bersifat memaksa serta keberadaan pengawasan yang dilakukan VOC membuat kegiatan perdagangan yang dilakukan pedagang pribumi menjadi tidak leluasa apalagi hubungan antara pedagang pribumi dan pedagang negara atau daerah lainnya menjadi terbatas padahal pemasukan pedagang pribumi hanya dapat diperoleh dari adanya hubungan dagang tersebut. sedangkan kegiatan perdagangan yang dilakukan dengan VOC hanyalah kegiatan yang bersifat menguntungkan sepihak saja, harga bahkan jumlah barang yang diperdagangkan harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh VOC dengan demikian perekonomian pribumi mengalami kemerosotan dan hal ini tentunya dianggap mengancam kepentingan internal maka itu wajar saja kalau terdapat perlawanan yang dilakukakan oleh pedagang pribumi terhadap VOC saat itu (perlawanan karena faktor ekonomi/ dari segi sektor perdagangan). Sedangkan sifat dualisme yang diakibatkan oleh keberadaan VOC dapat dilihat dari kegiatan VOC yang secara langsung dapat dinilai memajukan pasaran perdagangan Nusantara di Internasional. Hal ini karena VOC mampu memasarkan produk niaga Nusantara yang saat itu menjadi komoditi terpenting dalam kegiatan perdagangan (contohnya saja lada/ rempah-rempah yang saat ini sangat dibutuhkan oleh orang Eropa), selain itu dalam melaksanakan kegiatan monopoli VOC mampu menjadikan daerah-daerah yang ada dalam blokadenya sebagai pusat perdagangan yang dikenal oleh banyak bangsa bahkan daerah tersebut mampu dikembangkan oleh VOC baik itu disektor perekonomian dan sebagainya (seperti Makasar yang saat itu dikuasai VOC). Walau demikian tetap saja VOC memberikan dampak buruk terhadap pribumi karena VOC telah menguasai sektor niaga Nusantara saat itu.

1. Bagaimana pandangan Mataram terhadap pedagang pribumi?
 Mataram merupakan kekuatan besar yang berasal dari Jawa Tengah. Ketika kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung Hanggrokrokusumo kerajaan ini menyatakan bahwa seluruh kerajaan yang ada di pulau Jawa berada di bawah kekuasaan Mataram yang harus berkoalisi untuk menentang keberadaan VOC di Nusantara. Telah diketahui bahwa perdagangan pada Abab XVII diramaikan oleh daerah-daaerah yang berada di pesisir contohnya saja Aceh, Jambi, Banjarmasin, dan Banten. Perdagangan yang pesat menunjukan keberadaan posisi di Indonesia bagian barat, saat itu dareh pesisir dijadikan sebagai pusat perdagangan atau tempat memasarkan hasil produksi Nusantara karena daerah pesisir merupakan daerah yang sangat mudah dijangkau pada saat itu apalagi kegiatan yang terjadi di daerah pesisir dapat terlihat oleh para pedagang maupun kapal yang lewat. Berbeda dengan daerah pedalaman yang saat itu sulit sekali untuk dijangkau mengingat belum majunya teknologi sehingga belum ditemukannya jalan yang mudah untuk menggapai pedalaman. Sehingga kegiatan yang terjadi di daerah pedalaman tidak dapat diketahui oleh orang maupun kalangan dari luar. Pada masa VOC hasil perdagangan yang sangat berkembang adalah rempah-rempah berupa lada maka dari itulah kegiatan perdagangan pada saat itu sangatlah menguntungkan daerah pesisir. Kegiatan perdagangan yang terjadi didaerah pesisir membuat sector perekonomian didaerah tersebut lebih maju disbanding dengan daerah pedalaman, selain itu sudah pasti kalau daerah pesisir adalah daerah yang dikenal. Beda hal nya dengan daerah agraris yang tidak dikenal padahal tidak dapat dipungkiri bahwa daerah agraris merupakan daerah yang mengahasilkan beberapa komditi yang diperdagangkan di pesisir. Salah satu fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat itu rakyat pribumi sangatlah bergantung terhadap beras yang dihasilkan oleh daerah pedalaman di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini tentunya member suatu pernyataan bahwa terjadi adanya simbiosis antara daerah pesisir terhadap agraris ( hal ini karena daerah agraris merupakan daerah penghasil). Mataram sebagai kerajaan besar saat itu merasa bahwa kenyataan sangatlah tidak sesuai dengan keinginan mengingat bahwa kerajaan Mataram adalah kerajaan yang kuat saat itu. Fenomena dominasi perekonomian yang memihak daerah pesisir mambuat Mataram akhirnya melakukan politik Ekspansi dengan melakukan penyerangan ke berbagai daerah maupun kerajaan-kerajaan di pesisir. Mataram menghancurkan sumber daya ekonomi yang menjadi dasar pembangunan kerajaan-kerajaan pesisir saat itu seperti Majapahit, Sriwijaya, Aceh, Banten, Malaka, Makasar dan sebagainya. Politik ekspansi yang dilakukan Mataram dapat dibuat sebagai suatu kesimpulan bahwa keberadaan kerajaan pesisir telah melumpuhkan sektor perekonomian Mataram. Politik yang dilakukan oleh adanya Ekspansi Mataram membuat daerah yang diblokade atau diserang menjadi terjepit dan akhirnya takluk terhadap Mataram. Walau demikian ekspansi Mataram juga mandapat perlawanan contohnya pada saat Mataram hendak menguasai Gresik dan Surabaya (yang pada akhir abad XVI menjadi daerah pemasaran yang ramai) pada saat itu terjadi peperangan yang akhirnya dapat diketengahkan oleh utusan dari Giri pada tahun 1589. Adanya peperangan menunjukan sikap kerajaan pesisir yang tidak ingin takluk oleh Hegemoni kerajaan Agraris seperti Mataram dan perang yang terjadi tentunya menimbulkan banyaknya kerugian baik itu dari pihak Mataram maupun wilayah-wilayah yang mendapat ekspansi dari serangan Mataram.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar