Kamis, 05 Agustus 2010

ulasan novel

Nama :Merlina Agustina Orllanda 180310080026 pukul 00.00 _ 3 Desember, 2008

MY FORBIDDEN FACE

My Forbidden Face merupakan novel yang menggambarkan keadaan Afganistan yang luluh lantak. Karya yang menceritakan tentang perlawanan konservatisme yang bertempur menentang faham modernisme yang mengglobal, beragam ideologi saling mengalahkan, begitu juga fundamentalis religius. Novel yang telah berhasil dirilis ini dibuat Berdasarkan catatan seorang gadis kecil dari keluarga kelas menengah di Kabul bernama “Latifa”. Di usia dini Latifa menyaksikan sendiri kehidupan Afganistan yang bagaikan “neraka” dunia. Suatu negeri tempat ia dilahirkan dan dibesarkan keluarganya dengan sejuta cinta dan kasih sayang ternyata merupakan negeri yang tak pernah ada kedamaian, hanya ada dominasi negara barat dan perang saudara yang mewarnai hari-hari Afganistan. Afganistan tak ubahnya medan pertempuran berbagai suku (Pashtun, Tajik, Hazara dan lainnya), aliran keagamaan (Sunni-Syiah), serta ideologi politik dan kekuasaan yang saling bertentangan. Sayap kiri radikal pernah berkuasa di negeri itu ( Uni Soviet ), kehancuran Afganistan karena dominasi asing tak sebanding dengan perang saudara yang terjadi. Hingga akhirnya muncul kehadiran Taliban di Kabul seolah mendatangkan awan kegelapan. Taliban merupakan sekelompok orang yang ingin membersihkan Afganistan dari pengaruh westernisasi, sehingga dunia barat selalu beranggapan dan memuat berita mengenai Taliban yang di cap sebagai kelompok pembangkang Afganistan. Pembangkang-pembangkang tersebut tentunya mendapat dukungan dari Negara tetangga yaitu Pakistan, yang apabila dilihat dari kacamata sejarah terdapat unsur politik yang sejak dulu hanya terpendam dalam ketidakdamaian antara Afganistan dan Pakistan. Sejak kehadiran Taliban, kebebasan yang ada seolah lenyap. Taliban berusaha menjadikan Afganistan sebagai Negara yang berdasarkan pada hukum islam. Semua didasarkan atas syariah dan dekrit-dekrit yang dibuat sendiri oleh mereka. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi secuil kebebasan, kehidupan menjadi terkekang. Hanya hukuman dan aturanlah yang ditaati, pada saat itu tak dijumpai adanya pria dan wanita yang bukan muhrim berjalan bersama, layang-layang yang biasa berterbangan dilangit mulai bersembunyi dirumah dengan selimut ketakutan, dan puncak dari implikasi adanya kekuasaan Taliban adalah hilangnya kebebasan kaum perempuan. Tak ada perempuan yang bekerja, tak ada anak gadis yang sekolah, bahkan wajah para perempuan saat itu hanya tenggelam di dalam burqa (pakaian khas Afganistan) dan murung tanpa harapan. Itulah yang dirasakan Latifa, kisahnya mewakili jutaan gadis Afgan lainnya. Kebijakan Taliban merupakan suatu penegakan islam yang disertai adanya otoriter. didalam islam tidak pernah diajarkan bagaimana cara menghukum dan mengadili melainkan menolong. Tapi apa yang terjadi saat itu?!, hanya hukumanlah yang berjalan dan semua itu tidak sebanding dengan pelanggaran HAM yang ada. Bagaimana mungkin seorang yang menegakkan syariah berani berbuat hina??? melecehkan kaum perempuan? membunuh sesama muslim?, semua hal dilakukan dengan mengatasnamakan islam, hal ini tentunya menjadi citra buruk untuk islam dan pemeluknya. Hal tersebutlah yang mendorong Latifa si gadis Afgan yang punya pola pikir terbuka angkat bicara dan memberi kesaksian atas apa yang terjadi. Agama islam memang berasal dari Arab, walau demikian bukan bearti kebudayaan buruk bangsa Arab harus diikuti. Pada filosopinya, wanita merupakan tempat berlindung kaum laki-laki. Kelemahan pria terdapat pada wanita, dimana bangsa Arab yang selalu melakukan peperangan menjadikan keberadaan wanita sebagai beban, karena didalam islam tidak diperkenankan membunuh, maka itu pada zaman dulu bangsa Arab selalu mengubur hidup-hidup anak perempuan yang lahir. Hal tersebut merupakan potret buruk yang kemudian jalan ceritanya diulang kembali dengan versi Afganistan. Dari adanya penyimpangan ideologi yang dilakukan Taliban, membuat Amerika terbangun dari tidurnya dan mengambil kesempatan untuk memantapkan posisinya dikancah Internasional. kejatuhan Taliban bukan karena rakyat Afghanistan sendiri, melainkan karena kekuatan dari luar (Amerika) dan Perjalanan Afganistan merupakan perjalanan sebuah bangsa yang selalu berusaha menemukan jati diri ditengah gejolak sosial, politik, ekonomi, serta budaya. Afganistan adalah medan pertempuran beragam ideologi dan aliran, mulai dari yang ekstrem hingga moderat, dari yang kiri hingga kanan. Konteslasi ideologi dan aliran itu sering kali berjalan di atas rel kekerasan, yang itu membuat Afganistan hancur berantakan, dan pada akhirnya memicu intervensi kekuatan luar. Dan kekacauan yang terdapat di Afganistan mempengaruh terhadap kehidupan di Negeri lain, misalnya di Indonesia. Dimana kita jumpai banyaknya muslimah dalam negeri yang menggunakan pakaian seperti yang ada di Afganistan, hal ini tentunya menjadi kontroversi di tanah air. Hingga akhirnya terdapat berbagai macam perbedaan opini mengenai islam dan ajarannya. Di sini kita bisa melihat kalau Indonesia adalah Negara yang mendapat pengaruh dari adanya peristiwa dunia yang mengglobal, Indonesia seharusnya bisa berkaca atas peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam negeri hingga akhirnya bisa menemukan titik terang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar