Kamis, 05 Agustus 2010

merlina menulis

“CATATAN ATAS NEGERI YANG HILANG^”
Sebuah novel merupakan suatu karya sastra yang dapat dijadikan sebagai sarana meluahkan apa yang dirasakan. Begitulah yang dilakukan dua orang penulis asal Palestina yang mengungkapkan peristiwa yang mereka dan negerinya alami. Novel yang berjudul I SAW RAMALLAH karya Mourid Barghouti dan JALAN-JALAN KE PALESTINA karya Raja Shehadeh ditulis apiknya sehingga mampu merasuki jiwa pembaca yang seolah melihat sendiri peristiwa yang diceritakan didalam novel tersebut. Kedua orang penulis ini menceritakan isi novel dengan versi yang berbeda namun punya tujuan yang sama yaitu “kebebasan untuk hidup di negeri sendiri”.
Permasalahan politik,Agama dan perebutan wilayah kekuasaan selalu menjadi dasar atas konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sama halnya dengan Afganistan maupun Irak, palestina pun punya cerita tersendiri. Negeri yang merupakan tempat bermukimnya tiga agama ( Islam, Nasrani dan Yahudi) ini justru menjadi negeri yang marak akan perselisihan. Dimana bangsa Yahudi beranggapan bahwa Palestina merupakan bagian dari Negara mereka, begitu juga dengan Israel yang merampas tanah yang seharusnya jadi hak Palestina. Palestina merupakan negeri dimana tiap jengkal wilayahnya yang selalu mengalami kekerasan, pembantaian dan pembunuhan terhadap sesama hanya demi mempertahankan tiap jengkal tanah yang belum bisa diputuskan apakah milik Palestina atau Israel????????..............
Palestina yang kini dikenal merupakan negeri yang kacau, jauh dari indahnya fenomena alam yang dahulu menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang-orang Palestina, mereka bahkan tak berani untuk kembali dan mengakui negerinya sendiri. Kekuasaan akan perebutan wilayah telah menjadi tembok bagi orang-orang Palestina untuk mengapai Negerinya. Bahkan Ramallah yang dahulunya tentram berubah menjadi perkotaan yang di dominasi Israel. Israel telah mengubah keindahan Lembah-palestina dengan warna warni darah yang tiap harinya terus mengalir. Israel bahkan mengubah kepribadian orang-orang Palestina menjadi orang yang tahluk mengakui kekalahan.
Begitulah gambaran keadaan negeri Palestina yang permasalahannya tidak bisa terselesaikan hingga saat ini. Politik dan kekuasaan merupakan unsur yang paling kejam untuk menghancurkan bumi ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa politik mampu mengubah dunia dan memutuskan tali persaudaraan. Fenomena perpecahan yang ada di Indonesia merupakan bagian dari politik yang tidak sehat, setidaknya bangsa kita berusaha untuk tidak kembali lagi kebelakang dimana dahulunya bangsa ini mengalami kependudukan dan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda maupun Jepang, bahkan setelah merdeka pun Indonesia mengalami goncangan baik itu dari dalam dan luar negeri, dimana Aceh ingin melepaskan diri sedangkan disisi lain Malaysia berusaha untuk mengambil alih wilayah milik Indonesia. Indonesia lebih beruntung dibanding Palestina karena kedaulatan Indonesia diakuin oleh bangsa lain dan kita rakyat Indonesia diperkenankan untuk berdiri di tanah air beda halnya dengan rakyat Palestina yang akan selalu menyandang gelar sebagai rakyat terusir, Maka dari itu diharapkan agar kita mampu untuk mempertahankan kedaulatan dan apa yang menjadi milik kita.
Fenomena Palestina yang tidak beranjak dari perang diharapkan agar Indonesia mampu untuk mempertahankan kedaulatannya. Meskipun istilah perdamaian mampu menghentikan perpecahan namun pada kenyataannya kata perdamaian yang diungkapkan Israel hanyalah sekedar kata dan janji-janji yang tak bisa dibuktikan. Kebrutalan Israel telah menjadi jurang antara kedua Negara yang tidak akan pernah mungkin lagi didirikan jembatan hingga muncullah suatu kata yang menyatakan bahwa “ Perdamaian tak ada artinya dihadapan politik dan kekuasaan”. Semuanya hanya tersimpan dalam sebuah CATATAN ATAS NEGERI YANG HILANG.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar