Kamis, 05 Agustus 2010

HEBRON JOURNAL ”^

NAMA : MERLINA AGUSTINA ORLLANDA
NPM : 180310080026
HEBRON JOURNAL ”^
Kedamaian tidak hanya milik islam, tapi juga dianjurkan didalam nasrani. Setiap agama selalu mengajarkan perdamaian pada umatnya, tidak ada satupun agama yang memperkenankan adanya perpecahan. Arthur Gish seorang aktivis perdamaian dari Amerika secara tidak langsung telah menunjukan ketulusannya dalam menjalankan hidup sebagai umat beragama. Di dalam bukunya yang berjudul “HEBRON JOURNAL ” Artur telah memberikan berbagai kesaksian nyata mengenai fenomena perpecahan di Timur Tengah. Dalam perjalanannya, ia berusaha untuk menjalankan misi perdamaian, dan semua dilakukan tanpa mengharap imbalan apapun. Arthur telah membuktikan bahwa tidak ada jarak antara islam dan Kristen untuk saling bertoleransi, semua itu hanya dapat di wujudkan melalui perdamaian.
Hebron merupakan negeri yang sangat diperhitungkan dalam sejarah dunia. Hal tersebut karena semua peristiwa yang terjadi di Hebron mampu mempengaruhi kehidupan masa kini. Di dalam Al-kitab telah disebutkan sebanyak tujuh kali bahwa ” di negeri ini berdiri tiga agama yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi”. Sejarah berdirinya ketiga agama tersebutlah yang akhirnya melatarbelakangi adanya perpecahan. Kaum Yahudi maupun bangsa Israel sama-sama berkeyakinan kalau wilayah tersebut merupakan milik leluhur mereka yang harus dipertahankan. Sedangkan disisi lain Palestina harus merasa asing di negeri yang seharusnya menjadi tempat untuk menjalani kehidupan dan dalam sekejap penduduk Hebron menjadi tawanan rumah dan tempat tinggal mereka berubah menjadi penjara.
Kedamaian seolah sirna karena perpecahan. Dalam permasalahan yang terdapat di Timur Tengah ( khususnya Palestina) ini, tidak dapat diketahui mana yang benar dan mana yang salah??!, bahkan untuk mencari yang harus dibenarkan pun sangatlah sulit. Semua pihak berusaha untuk mempertahankan argumennya masing-masing. Semua hidup dalam prasangka dan merasa yang paling benar. Umat-umat beragama ini diperbudak atas rasa ketidakpercayaan atas ketentuan penciptanya, hingga akhirnya masalah keyakinanpun dijadikan kambing hitam untuk kepentingan lain, “untuk kepentingan politik, untuk mendapatkan kekuasaan, untuk memperoleh sejengkal tanah yang harus mengalirkan literan darah setiap harinya”, sungguh cara berpikir yang merugi.
Apa yang terjadi di Palestina merupakan gambaran kehidupan yang sangat dramatis, tidak ada yang diuntungkan dalam konflik yang berkepanjangan ini. Hal ini tentunya mampu menggugah perhatian dunia, hingga Akhirnya Arthur merasa tertantang untuk melaksanakan misi perdamaian. Secara logika seorang Arthur tidak akan pernah bisa menghentikan perang antar umat beragama ini, apalagi bangsa Israel, Yahudi, maupun Palestina sama-sama mempunyai ideologi yang kuat. Namun disisi lain kita (pembaca) harus memberikan apresiasi atas hasil tulisan tangannya, karena dengan catatan perjalanannya mengenai peristiwa Palestina secara tidak langsung ia telah mengajak semua orang ( semua umat, agama manapun itu ) untuk menciptakan perdamaian. Apa yang ditulisnya merupakan motivasi untuk menjalankan hidup dengan rendah hati dan mencari jawaban atas permasalahan dengan logika. Semoga perdamaian abadi juga bisa tercipta di Indonesia, di tanah airku yang rawan akan goncangan, apa yang di gambarkan Arthur diharapkan dapat bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar