Kamis, 05 Agustus 2010

makalah orllanda

• بسم الله الرحمن الرحيم

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Tinggi, Maha Agung, saya selaku penulis mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya, karena berkat segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya, penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul “HASIL KEBUDAYAAN KERAJAAN SAMUDERA PASAI “.
Samudera Pasai merupakan kerajaan islam pertama yang ada di Indonesia, hal tersebut membuat nama Samudera Pasai dianggap sebagai pelopor masuknya ajaran islam, apalagi pada masa itu Samudera Pasai merupakan pusat studi agama islam yang terbesar di Asia Tenggara. Sebagai kerajaan besar dan kerajaan pertama yang bercorak islam di Indonesia tentunya Samudera Pasai mempunyai hasil kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat pada masa itu. Dalam pembuatan makalah ini penulis bertujuan agar pembaca dapat mengetahui mengenai sejarah dan kebudayaan yang telah dihasilkan oleh kerajaan Samudera Pasai di Aceh serta pengaruh yang bisa dirasakan hingga sekarang ini.
Apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan harap memakluminya, karena penulis hanya insan biasa yang masih dalam tahap belajar. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi penyempurnaan makalah ini, Semoga makalah ini dapat bermanfaat. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih banyak.


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 0
DAFTAR ISI 1
i. BAB I
A. Pendahuluan
1. Latar belakang masalah 2
2. Tujuan 3
ii. BAB II
Pembahasan 4-10
iii. BAB III
1. Kesimpulan 11
2. Saran 12
3. Kata Penutup 13
4. Lampiran 14
Daftar Pustaka 15


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Kita telah mengikuti perkembangan agama islam, sejak dari lahirnya pada abad ke-7 di Mekah dan Madinah, hingga pada abad ke-13 saat islam diakuin sebagai agama dunia. Di dalam islam terdapat perkembangan dan perluasan daerah kekuasaan islam, mulai dari suatu Jazirah di Arab hingga sampai di Maroko, Spanyol, India, dan di Indonesia. Dari sudut pandang kebudayaan yang di hasilkan pengaruh Arab menimbulkan adanya perkembangan yang demikian pesatnya tentunya membawa akibat lahirnya kebudayaan yang timbul dan mendarah daging bagi masyarakat yang mendapat pengaruh islam tersebut.
Hidup manusia ibarat perjalanan, dan pencari Tuhan ibarat seseorang yang sedang di dalam perjalanan (di sebut salik ). Tujuan salik ialah mendapat pengetahuan yang sempurna tentang Tuhan, agar seseorang yang terpisah dari Tuhan mampu kembali bersatu bersama Tuhan dan ajarannya. Dengan demikian diharapkan supaya jiwa setiap insan manusia terisi oleh pengetahuan spiritual yang diharapkan agar kemudian hari kelak manusia tersebut mampu untuk membedakan mana hal yang dianggap baik dan tidak baik.
Di dalam islam perjalanan yang dimaksud mengenai pencari Tuhan tersebut harus menempuh 4 perjalanan seperti syariat, tariqat, maa’rifat, dan haqqiqat. Keempat perjalanan tersebut merupakan hasil peninggalan dari kebudayaan islam pada jaman madya. Ajaran-ajaran diatas kemudian tumbuh dan berkembang di Indonesia seiiring dengan masuknya ajaran agama islam yang datangnya di Indonesia tidak langsung dari tanah asalnya, yaitu negeri Arab, melainkan dari India.
Islam yang masuk di Indonesia tentunya merupakan islam yang telah mengalami berbagai proses perubahan dan perkembangan pada jaman sebelumnya. Ajaran agama islam yang tumbuh dan berkembang di Indonesia diawali dengan lahir dan berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak islam. Samudera Pasai merupakan kerajaan bercorak islam pertama yang berdiri di Indonesia. Untuk mengetahui perkembangan agama islam dan hasil kebudayaannya di Indonesia maka itu kita perlu mengetahui proses masuknya islam serta sejarah berdirinya kerajaan islam tersebut yang bisa di lihat dari hasil kebudayaannya.
Kerajaan islam yang pertama kali berdiri adalah Kerajaan Samudera Pasai. Hal tersebut diungkapkan oleh Ibnu Batuta (seorang petualang muslim asal Maroko), Beliau mengungkapkan bahwa “ terdapat sebuah negeri hijau yang merupakan kota pelabuhan yang besar dan indah”. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap kemajuan Kerajaan Samudera Pasai yang sempat disinggahinya selama 15 hari pada tahun 1345 M. Dalam catatan perjalanannya yang berjudul Tuhfat Al-Nazha, Ibnu Batuta menuturkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai merupakan pusat studi agama islam pertama di Asia Tenggara.
Tidak hanya bergelar sebagai Kerajaan Islam pertama di Indonesia, Kerajaan Samudera Pasai juga merupakan penghasil dari kebudayaan-kebudayaan yang bercorak islam. Sampai hari ini hasil dari kebudayaan tersebut masih bisa dirasakan oleh banyak orang ( terutama bagi penganut ajaran agama islam dan tentunya masyarakat Aceh itu sendiri ). Maka itu perlu adanya pengetahuan mengenai Kerajaan Samudera Pasai dan hasil kebudayaannya yang sangat berpengaruh di Indonesia.

2. Tujuan
Dalam pembuatan makalah ini tentunya penulis memiliki tujuan yang bisa bermanfaat. Adapun tujuan-tujuan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1) Agar kita mengetahui mengenai sejarah masuknya islam di Indonesia.
2) Agar para pembaca dapat mengetahui mengenai peran Kerajaan Samudera Pasai dalam penyebaran ajaran agama islam pada masa itu.
3) Supaya pembaca dapat mengetahui tentang hasil kebudayaan yang ada pada masa Kerajaan Samudera Pasai . .
4) Diharapkan agar seluruh masyarakat Indonesia mampu untuk mengembangkan dan melestarikan hasil dari kebudayaan yang telah tumbuh pada masa Kerajaan Samudera Pasai yang dianggap sebagai hasil kebudayaan Nusantara.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Kerajaan Samudera Pasai
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam. Masing-masing budaya daerah saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebudayaan daerah lain maupun kebudayaan yang berasal dari luar Indonesia. Salah satu kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Aceh. Sejarah dan perkembangan suku bangsa Aceh juga menarik perhatian para antropolog seperti Snouck Hurgronje. Dilihat dari sisi kebudayaannya, Aceh memiliki budaya yang unik dan beraneka ragam. Kebudayaan Aceh ini banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya melayu, karena letak Aceh yang strategis karena merupakan jalur perdagangan maka masuklah kebudayaan Timur Tengah. Beberapa budaya yang ada sekarang adalah hasil dari akulturasi antara budaya melayu,Timur Tengah ( islam ) dan Aceh sendiri.
Berdasarkan sejarah, dahulu di Aceh pernah berdiri kerajaan islam pertama di Indonesia, dan konon kerajaan ini sempat menjadi pusat studi agama islam terbesar di Asia Tenggara. Kerajaan ini adalah Kerajaan Samudera Pasai yang didirikan oleh Sultan Malikul Al-Shaleh. Dahulu berdasarkan cerita sejarah saat Marcopolo menjadi pemimpin rombongan yang membawa ratu dari Cina ke Persia, bersama 2000 pengikutnya, ia sempat berkunjung ke Samudera Pasai. Hal tersebut diungkapkan dalam bukunya yang berjudul Travel of Marcopolo, didalam buku itu ia mengungkapkan kekagumannya pada bumi Serambi Mekah tersebut.
Sejarah mencatat Kerajaan Samudera Pasai berdiri lebih awal dibanding dengan Dinasti Usmani di Turki ( dinasti yang sempat menjadi adikuasa dunia ). Jika Ottoman menancapkan kekuasaan pada tahun 1385 M, maka Samudera Pasai sudah mengibarkan bendera kekuasaannya di wilayah Asia Tenggara pada tahun 1297 M. kata Samudera berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ’laut’. Sedangkan kata Pasai diyakini berasal dari kata Parsi atau Parsee. Awalnya nama raja pertama Samudera Pasai adalah Merah Silu ( seseorang yang telah menemukan pelabuhan dagang yang ramai ), Saat itu banyak sekali pedagang muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat yang mengunjungi Nusantara ( Samudera Pasai ).
Merah Silu memutuskan untuk masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Malik Al- Shaleh. Dia mulai menduduki tahta sebagai Sultan Samudera Pasai pada tahun 1297 M. Walau demikian terdapat cerita lain tentang pendiri Kerajaan Samudera Pasai, ada yang menyebutkan bahwa kesultanan pertama di dirikan oleh Nazimudin Al-Kamil ( laksamana laut asal Mesir, pada tahun 1283 M ), kemudian ialah yang mengangkat Merah Silu menjadi Raja Pasai pertama dengan gelar Malik Al-Shaleh. Malik Al-Shaleh memegang kekuasaan selama 29 tahun yang kemudian digantikan oleh Muhammad Malik Al-Tahir ( 1297-1326 M )
Di era Tahir Samudera Pasai mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu sudah digunakan mata uang emas sebagai alat pembayaran di Pasai dan pelabuhan perdagangan yang ada di Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan Internasional. Pasai mendapat kunjungan dari saudagar di berbagai Benua seperti Asia, Afrika, Cina dan Eropa, kejayaan Pasai berada di daerah Geudong Aceh Utara. Pada abad ke-16 Pasai merupakan penghasil rempah-rempah terbesar di dunia dan lada merupakan hasil komoditas yang utama, selain itu Pasai merupakan produsen sutera, kapur barus, dan emas.
Sebagai kerajaan islam yang pertama di Nusantara, Samudera Pasai memiliki kontribusi yang besar dalam penyebaran dan pengembangan islam di Tanah Air. Samudera Pasai banyak mengirim ulama dan mubaligh untuk menyebarkan islam di Pulau Jawa, selain itu banyak juga ulama yang menimba ilmu di Pasai salah satunya adalah Syekh Yusuf (seorang sufi dan ulama yang menyebarkan islam di Afrika Selatan).
Wali Songo merupakan bukti eratnya hubungan yang terjalin antara Samudera Pasai dengan perkembangan islam yang ada di Pulau Jawa. Konon Sunan Kalijaga merupakan menantu dari Sultan Maulana Ishak ( Sultan Pasai ), dan Sunan Gunung Jati yang menyebarkan Islam di Cirebon dan Banten ternyata merupakan putera daerah Pasai. Kehidupan masyarakat Aceh yang pada masa itu begitu kental dengan nuansa agama dan kebudayaan islam inilah yang membuat Aceh terkenal dengan julukan Serambi Mekah.
Pemerintahan Pasai bersifat teokrasi berdasarkan ajaran islam, sebagai suatu kerajaan yang berpengaruh Pasai juga menjalin hubungan dengan para penguasa dari daerah lain seperti Campa, India, Tiongkok, Majapahit, dan Malaka. Pada tahun 1350 Samudera Pasai mendapat serangan dari Majapahit, dan pada tahun 1524 M wilayah Pasai berhasil diambil oleh kerajaan Aceh sehingga tamatlah riwayat Kerajaan Samudera Pasai.

B. Saksi Sejarah Kerajaan Samudera Pasai
Sebagai kerajaan Islam pertama yang pernah berjaya di bumi Nusantara Samudera pasai meninggalkan berbagai peninggalan penting, dan berikut merupakan saksi sejarah kejayaan Samudera Pasai.
a. Dirham ( Deureham)
Merupakan alat pembayaran emas tertua di Asia Tenggara dan digunakan pada masa Sultan Muhammad Malik Al-Tahir.
b. Cakra Donya ( Bel )
Merupakan hadiah yang diberikan oleh Kaisar Cina kepada Sultan Samudera Pasai, dan sekarang Cakra Donya diletakan di Banda Aceh.
c. Makam Sultan Muhammad Malik Al-Shaleh
Sultan Muhammad Malik Al-Shaleh terletak di desa Beuringin, kecamatan Samudera Pasai 17 km dari Lhokseumawe, nisan tersebut ditulis dengan huruf Arab.
d. Makam Sultan Muhammad Malik Al-Tahir
Beliau merupakan anak dari Sultan Muhammad Malik Al-Shaleh yang kuburannya terletak bersebelahan dengan kuburan ayahnya.
e. Cerita Marcopolo
Di dalam bukunya ia memuat beberapa cerita mengenai kerajaan Samudera Pasai serta para penguasanya seperti Sultan Muhammad Malik Al-Shaleh dan Sultan Muhammad Malik Al-Tahir. Ia menceritakan bahwa Sultan Muhammad Malik Al-Shaleh adalah pendiri kerajaan Samudera Pasai, ia merupakan raja yang kuat, pandai, dan kaya. Sedangkan Sultan Muhammad Malik Al-Tahir adalah raja yang membawa Pasai pada puncak kejayaan.

C. Hasil Kebudayaan Masyarakat Aceh Yang Di Hasilkan Kerajaan Samudera Pasai
Suku bangsa yang mendiami Aceh merupakan keturunan orang-orang melayu dan Timur Tengah hal ini menyebabkan wajah-wajah orang Aceh berbeda dengan orang Indonesia yang berada di lain wilayah. Sistem kemasyarakatan suku bangsa Aceh, mata pencaharian sebagian besar masyarakat Aceh adalah bertani namun tidak sedikit juga yang berdagang. Sistem kekerabatan masyarakat Aceh mengenal Wali, Karong dan Kaom yang merupakan bagian dari sistem kekerabatan.
Agama Islam adalah agama yang paling mendominasi di Aceh sejak masa Kerajaan Samudera Pasai oleh karena itu Aceh mendapat julukan Serambi Mekah. Dari struktur masyarakat Aceh dikenal gampong, mukim, nanggroe dan sebagainya. Hasil kebudayaan Aceh yang lahir sejak jaman kerajaan Samudera Pasai masih bisa di rasakan pada saat sekarang ini. Hal tersebut bisa kita lihat dari berbagai aspek sebagai berikut :

Kehidupan Masyarakat
a) Mata Pencaharian
Sistem mata pencaharian masyarakat Aceh adalah bertani, berkebun, berladang, dan nelayan ( bagi penduduk yang tinggal disepanjang daerah pantai ). Selain itu terdapat sistem mata pencaharian yang merupakan warisan dari Kerajaan Samudera Pasai yaitu baniago ( perdagangan tetap di pelabuhan dagang ), hal tersebut sudah ada sejak jaman Pasai bahkan berkembang pesat pada masa Malik Al-Tahir.

b) Sistem Pelapisan Sosial
Pada masa lalu masyarakat Aceh mengenal beberapa lapisan sosial. Di antaranya ada empat golongan masyarakat, yaitu golongan keluarga sultan, golongan uleebalang, golongan ulama, dan golongan rakyat biasa. Golongan keluarga sultan merupakan keturunan bekas sultan-sultan yang pernah berkuasa. Panggilan yang lazim untuk keturunan sultan ini adalah ampon untuk laki-laki, dan cut untuk perempuan. Hal tersebut sudah ada sejak Kesultannan Samudera Pasai, dimana seseorang yang bergelar sultan adalah seseorang yang di hormati.

Sistem Kemasyarakatan
Pada masa Kerajaan Samudera Pasai, Aceh sudah memiliki sistem kemasyarakatan sendiri. Setiap kampung yang di huni memiliki pemimpin yang disebut geucik atau kecik. Kumpulan dari beberapa kampung dipimpin oleh seorang uleebalang, yaitu para panglima yang berjasa kepada sultan. Kehidupan sosial dan keagamaan di setiap gampong dipimpin oleh pemuka-pemuka adat dan agama, seperti imeum meunasah, teungku khatib, tengku bile, dan tuha peut (penasehat adat).hal tersebut masih dilestarikan di Aceh sampai sekarang ini.

Religi
Aceh termasuk salah satu daerah yang paling awal menerima agama Islam. Agama islam yang masuk di Aceh dibawa oleh sebuah kerajaan islam yang besar dan termasyur pada masa itu ( Kerajaan Samudera Pasai ). Oleh sebab itu propinsi ini dikenal dengan sebutan "Serambi Mekah", maksudnya "pintu gerbang" yang paling dekat antara Indonesia dengan tempat dari mana agama tersebut berasal. Meskipun demikian kebudayaan asli Aceh tidak hilang begitu saja, sebaliknya beberapa unsur kebudayaan setempat mendapat pengaruh dan berbaur dengan kebudayaan Islam yang dibawa oleh Kerajaan Samudera Pasai. Dengan demikian kebudayaan hasil akulturasi tersebut melahirkan corak kebudayaan Islam-Aceh yang khas. Di dalam kebudayaan tersebut masih terdapat sisa-sisa kepercayaan animisme dan dinamisme.

Kesenian
Corak kesenian Aceh banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam, namun telah diolah dan disesuaikan dengan nilai-nilai budaya yang berlaku. Seni tari yang terkenal dari Aceh antara lain seudati, seudati inong, dan seudati tunang. Seni lain yang dikembangkan adalah seni kaligrafi Arab, seperti yang banyak terlihat pada berbagai ukiran mesjid, rumah adat, alat upacara, perhiasan, dan sebagainya. Selain itu berkembang seni sastra dalam bentuk hikayat yang bernafaskan Islam, seperti Hikayat Perang Sabil. Bentuk-bentuk kesenian Aneuk Jamee berasal dari dua budaya yang berasimilasi. Orang Aneuk Jamee mengenal kesenian seudati, dabus (dabuih), dan ratoh yang memadukan unsur tari, musik, dan seni suara. Selain itu dikenal kaba, yaitu seni bercerita tentang seorang tokoh yang dibumbui dengan dongeng. Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tan saman dan seni teater yang disebut didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian bines, guru didong, dan melengkap (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa. Bukti sejarah yang masih tersisa dari peninggalan kebudayaan Kerajaan Samudera Pasai yang adalah hikayat raja-raja Pasai ( dari segi kesusatraan ), tari seudati yang didalamnya terdapat shalawat Nabi yang dilafalkan, Makam Sultan Malik Al-Shaleh yang bentuk nisannya bercorak hindu yan ditulisi oleh huruf Arab, selain itu ada mesjid, tugu dan batu nisan orang Turki yang ada di desa Bitai (± 3 km dari Banda Aceh).

Peralatan
Orang Aceh terkenal sebagai prajuri-prajurit tangguh penentang penjajah, dengan bersenjatakan rencong, ruduh (kelewang), keumeurah paneuk (bedil berlaras pendek), peudang (pedang), dan tameung (tameng). Senjata-senjata tersebut umumnya dibuat sendiri dan apabila dilihat dari segi sejarah dan dikaitkan dengan lahirnya Kerajaan Samudera Pasai Dahulu pedang dan rencong sudah digunakan untuk mempertahankan Kerajaan Samudera Pasai (terutama dalam mempertahankan pelabuhan dagang dan daerah kekuasaan).

Sejarah
Dalam abad ke XVI, Aceh memegang peranan yang sangat penting sebagai daerah transit barang-barang komoditi dari Timur ke Barat. Komoditi dagang dari nusantara seperti pala dan rempah-rempah dari Pulau Banda, cengkeh dari Maluku, kapur barus dari Barus dan lada dari Aceh dikumpul disini menunggu waktu untuk diberangkatkan ke luar negeri. Aceh sebagai bandar paling penting pada waktu itu yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai negara. Aceh juga dikenal dengan daerah pertama masuknya agama Islam ke nusantara. Para pedagang dari Saudi Arabia, Turki, Gujarat dan India yang beragama Islam singgah di Aceh dalam perjalanan mereka mencari berbagai komoditi dagang dari nusantara. Aceh yang terletak di jalur pelayaran internasional merupakan daerah pertama yang mereka singgahi di Asia Tenggara. Kemudian sekitar akhir abad ke XIII di Aceh telah berdiri sebuah kerajaan besar yaitu Kerajaan Pasai yang bukan saja bandar paling penting bagi perdagangan, namun juga sebagai pusat penyebaran agama Islam baik ke Nusantara maupun luar negeri.
Hubungan Sejarah Aceh dan tiongkok
Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman dilaksanakan oleh seorang pemborong atau kontraktor Tionghoa yang bernama Lie A Sie Catatan sejarah tertua dan yang pertama mengenai kerajaan kerajaan di Aceh, didapati dari sumber-sumber tulisan sejarah Tiongkok. Dalam catatan sejarah dinasti Liang (506-556), disebutkan adanya suatu kerajaan yang terletak di Sumatra Utara pada abad ke-6 yang dinamakan Po-Li dan beragama Budha. Pada abad ke-13 teks-teks Tiongkok (Zhao Ru-gua dalam bukunya Zhu-fan zhi) menyebutkan Lan-wu-li (Lamuri) di pantai timur Aceh. Dan pada tahun 1282, diketahui bahwa raja Samudra-Pasai mengirim dua orang (Sulaiman dan Shamsuddin) utusan ke Tiongkok. Didalam catatan Ma Huan (Ying-yai sheng-lan) dalam pelayarannya bersama dengan Laksamana Cheng Ho, dicatat dengan lengkap mengenai kota kota di Aceh seperti, A-lu (Aru), Su-men-da-la (Samudra), Lan-wu-li (Lamuri). Dalam catatan Dong-xi-yang- kao (penelitian laut-laut timur dan barat) yang dikarang oleh Zhang Xie pada tahun 1618, terdapat sebuah catatan terperinci mengenai Aceh modern.
Samudra-Pasai adalah sebuah kerajaan dan kota pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Timur Tengah, India sampai Tiongkok pada abad ke 13 -16. Samudra Pasai ini terletak pada jalur sutera laut yang menghubungi Tiongkok dengan negara-negara Timur Tengah, dimana para pedagang dari berbagai negara mampir dahulu /transit sebelum melanjutkan pelayaran ke/dari Tiongkok atau Timur Tengah, India. Kota Pasai dan Perlak juga pernah disinggahi oleh Marco Polo (abad 13) dan Ibnu Batuta (abad 14) dalam perjalanannya ke/ dari Tiongkok. Barang dagangan utama yang paling terkenal dari Pasai ini adalah lada dan banyak diekspor ke Tiongkok, sebaliknya banyak barang-barang Tiongkok seperti Sutera, Keramik, dll. diimpor ke Pasai ini. Pada abad ke 15, armada Cheng Ho juga mampir dalam pelayarannya ke Pasai dan memberikan Lonceng besar yang tertanggal 1409 (Cakra Donya) kepada raja Pasai pada waktu itu. Samudra Pasai juga dikenal sebagai salah satu pusat kerajaan Islam (dan Perlak) yang pertama di Indonesia dan pusat penyebaraan Islam keseluruh Nusantara pada waktu itu. Ajaran-ajaran Islam ini disebarkan oleh para pedagang dari Arab (Timur Tengah) atau Gujarat (India), yang singgah atau menetap di Pasai. Dikota Samudra Pasai ini banyak tinggal komunitas Tionghoa, seperti adanya "kampung Cina", seperti ditulis dalam Hikayat Raja-raja Pasai. Jadi jauh sebelum kerajaan Aceh Darussalam berdiri,komunitas Tionghoa telah berada di Aceh sejak abad ke-13. Karena Samudra Pasai ini terletak dalam jalur perdagangan dan pelayaran internasional serta menjadi pusat perniagaan internasional, maka berbagai bangsa asing lainnya menetap dan tinggal disana yang berkarakter kosmopolitan.
BAB III
PENUTUP

 Kesimpulan
Dari pembuatan makalah yang berjudul “HASIL KEBUDAYAAN KERAJAAN SAMUDERA PASAI”. Penulis dapat menarik kesimpulan bahwa :

 Aceh merupakan wilayah yang besar dan sangat berpengaruh bagi Indonesia.
 Aceh telah memberikan konstribusi yang besar di Indonesia baik itu dari segi kebudayaan, agama, dan struktur masyarakat lainnya.
 Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan yang besar tidak hanya di Aceh dan di Indonesia bahkan kekuasaannya bisa sampai ke luar Negara.
 Kerajaan Samudera Pasai telah menyumbangkan ajaran agama islam serta hasil kebudayaannya terutama yang bercorak islam
 Diantara peninggalan kebudayaan di Aceh yg telah disumbangkan Kerajaan Samudera Pasai adalah mesjid Baiturahim yang menggambarkan bahwa bumi Aceh merupakan Serambi Mekah.
 Hasil kebudayaan Aceh yang ada sejak zaman Kerajaan Samudera Pasai tidak hanya berbentuk mesjid atau benda lainnya, tapi juga dari sisi religi dan pola hidup masyarakat Aceh. Hal itu bis dilihat seperti saat sekarang ini dimana kebanyak masyarakat Aceh yang memeluk ajaran agama islam serta menerapkan ajaran-ajarannya seperti solat lima waktu, puasa, membayar zakat, dalam kehidupan sehari-harinya.

 Saran
Dari pembuatan makalah ini penulis memilki saran sebagai berikut:
 Hendaknya kita sebagai bangsa Indonesia bangga akan kekayaan budaya yang kita miliki.
 Kita tidak boleh melupakan keberadaan Kerajaan Samudera Pasai yang telah memberi sumbangan kebudayaan yang begitu berpengaruh di Indonesia.
 Sebagai umat muslim kita harus mengetahui mengenai sejarah Kerajaan Samudera Pasai sebagai Kerajaan yang pertama kali memberikan pengaruh islam.
 Kebudayaan yang kita miliki harus senantiasa dijaga, dipelihara, dan di pertahankan.

 Kata Penutup

Demikian makalah yang dibuat oleh penulis. Sekiranya ada banyak kekurangan dari segi kata, bahasa, dan sumber yang digunakan penulis mohon agar dapat dimaklumi. Diharap agar penullis dapat diberi saran dan kritik yang membangun agar suatu hari dapat menghasilkan karya yang lebih baik. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah membaca makalah ini. Penulis akhiri dengan “ Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh .


DAFTAR PUSTAKA

Yulianti,2007,1700 Bank Soal Sejarah Indonesia dan Dunia,Bandung:Yrama Widya
Joened poesponegoro,marwati,1993,Sejarah Kebudayaan Islam Di Indonesia 2,Jakarta:Balai Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/budaya aceh
http://budpar.go.id/imgdata/article465
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pasai

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar