Kamis, 05 Agustus 2010

TRAGEDI BERKEPANJANGAN DI TANAH SUCI

TRAGEDI BERKEPANJANGAN DI TANAH SUCI
( Diajukan dalam rangka mengerjakan tugas mata kuliah Asia Barat )


Disusun oleh
Nama : Merlina Agustina Orllanda
Npm : 180310080026

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sudah bukan rahasia lagi kalau kawasan Timur Tengah dianggap sebagai kawasan geopolitik tempat lahirnya konflik yang berkepanjangan. Konflik-konflik yang terjadi adalah permasalahan yang jauh dari penyelesaian. Di negeri yang kaya akan potensi alam ini bukan hanya menghasilkan pusat peradaban dunia tapi juga menghadirkan permasalahan-permasalahan lama yang mampu mempengaruhi situasi politik negara lain di seluruh dunia.
Salah satu fenomena yang sudah tidak bisa ditutupi lagi adalah konflik yang terjadi antara bangsa Israel dan Palestina. konflik yang terjadi selama 6 dekade ini dianggap sebagai gambaran ketidakadilan pembagian wilayah, hal ini karena pada tahun 1947 PBB telah menciptakan resolusi Israel untuk menjadikan tanah yang bermandat Palestina (wewenang Palestina) menjadi Negara Yahudi Israel. Selain itu sejarah agama merupakan latar belakang dari timbulnya permasalahan, permasalahan tersebut lahir karena masing-masing pihak berusaha untuk meminta pengakuan atas kedaulatannya. Baik itu Israel maupun Palestina berusaha mengukuhkan diri untuk menjadi pemilik atas negeri suci tersebut.
Serangan udara yang diluncurkan Israel di jalur Gaza pada hari Selasa 2 Desember 2008 lalu merupakan suatu bukti bahwa perdamaian yang berusaha diciptakan di Timur Tengah seolah menjauh dari negeri tersebut. Perdamaian hanyalah sebuah keinginan yang proses pencapaiannya tidak terlaksana, bahkan sengaja untuk tidak dilaksanakan. Di penghujung tahun 2008 ( Sejak 27 Desember) hingga memasuki tahun 2009 penggempuran yang dilakukan oleh Israel telah memporak-porandakan wilayah Gaza yang menewaskan warga sipil Palestina bahkan anak-anak tak berdosa harus menjadi korban di negeri yang secara historis tersebut dianggap sebagai tanah suci.
Fenomena konflik yang telah lama terjadi antara Israel dan Palestina merupakan tragedi nyata yang sudah menjadi tontonan sehari-hari masyarakat di seluruh dunia. Bahkan di Negara Indonesia sendiri menimbulkan adanya opini pro dan kontra mengenai konflik Israel dan Palestina. Suatu hal yang sangat disayangkan karena konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina menjadi fenomena yang menimbulkan perpecahan pada masyarakat di Indonesia. Secara tidak langsung perdebatan yang terjadi adalah opini yang saling memojokkan satu sama lain. Semua akhirnya berujung pada perdebatan panjang yang saling mempermasalahkan agama antara satu pihak dengan pihak yang lain. semua pihak seolah ikut melaksanakan peperangan yang terjadi antara Israel dan Palestina, kontroversi tersebut dihadirkan pada seluruh media masa baik itu koran, majalah, televisi yang menjadi konsumsi publik, namun tidak sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia yang menjujung tinggi persatuan tanpa mempermasalahkan adanya perbedaan agama. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi ketertarikan penulis untuk membahas mengenai konflik Palestina dan Israel dalam pembuatan paper ini, penulis berusaha memberikan gambaran atas peristiwa yang terjadi sekaligus mencari solusi untuk mengkritisi permasalahan yang ada.

B. Tujuan
Dalam pembuatan paper ini tentunya penulis memiliki tujuan yang bisa bermanfaat. Adapun tujuan-tujuan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sejarah dan latar belakang dari adanya peristiwa yang terjadi di Timur Tengah, khususnya konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel.
2. Sejarah peristiwa yang terjadi di Timur Tengah ( konflik Palestina-Israel ) dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan untuk menambah wawasan dalam dunia pendidikan.
3. Dengan membuat paper ini penulis bertujuan memberikan gambaran tentang peristiwa yang terjadi mengenai konflik Palestina dan Israel.
4. Sisi baik dan sisi buruk yang terdapat dari konflik yang ada di Timur Tengah ( Palestina-Israel ) diharapkan dapat dijadikan pedoman untuk menjalani kehidupan sehari-hari sebagai umat berbangsa, bernegara dan beragama.
5. Penulis memberikan gambaran agar semua bangsa mampu menghargai kemerdekaan sekaligus mempertahankannya begitu juga diharapkan kepada bangsa Indonesia.
6. Dengan melihat dampak dari konflik yang ada dapat menggugah bangsa-bangsa lain didunia untuk menciptakan perdamaian abadi.
7. Penulis juga bertujuan agar para pembaca dapat lebih kritis menyikapi permasalahan yang ada apalagi permasalahan yang menyangkut agama, diharapkan perbedaan agama menjadi sebuah sarana pemersatu bukan perpecahan.







C. Rumusan Masalah
Dalam pembuatan paper ini penulis telah menetapkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang melatarbelakangi konflik Israel dan Palestina?
2. Kapan bermulanya Konflik antara Israel dan Palestina?
3. Siapakah yang sebenarnya disebut sebagai Negara terusir, Palestina atau Israel?
4. Mengapa permasalahan agama disebut sebagai latar belakang dari adanya konflik Palestina atau Israel?
5. Bagaimana reaksi masyarakat dunia terhadap konflik Israel dan Palestina?


BAB II
PEMBAHASAN

Sejak zaman dahulu wilayah Asia Barat selalu mengundang perhatian dari bangsa-bangsa lain untuk melakukan penjajahan. Telah diketahui bahwa Negara Timur Tengah merupakan negara yang memiliki kekayaan alam berupa sumber minyak, sehingga negara seperti Arab, Afganistan, Quwait, Palestina dan negara-negara lainnya di Timur Tengah tergolong kedalam anggota OPEC ( penghasil minyak dunia ). Konflik yang terjadi di Wilayah ini dikarenakan adanya perebutan wilayah kekuasaan, dimana konflik mengenai perebutan kekuasaan merupakan tradisi yang sudah berjalan di Timur Tengah pada masa bangsa Arab, baik itu ketika Islam masuk maupun sebelum masuknya islam hingga pada masa adanya Nasrani dan Yahudi.
Konflik yang ada tentunya memberikan keuntungan bagi bangsa barat untuk mengambil kesempatan atas setiap peristiwa yang terjadi. Permasalahan politik,Agama dan perebutan wilayah kekuasaan selalu menjadi dasar atas konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sama halnya dengan Afganistan maupun Irak, Palestina pun punya cerita tersendiri. Negeri tempat bermukimnya tiga agama ( Islam, Nasrani dan Yahudi) ini justru menjadi negeri yang marak akan perselisihan. Kaum Yahudi merupakan kaum yang menciptakan permusuhan baru di Timur Tengah melawan bangsa Arab. Pada tahun 1882 merupakan tahun kedatangan gelombang pertama orang Yahudi di Palestina secara besar-besaran, kaum Yahudi merasa berhak atas wilayah Palestina, hal tersebut merupakan konsep perang suci Yahudi yang percaya bahwa tuhan telah menciptakan suatu negeri untuk keturunan Ibrahim yaitu bangsa Eretz Yisrael ( Israel ). Sedangkan bangsa Arab merasa bahwa Palestina merupakan wilayah Timur Tengah yang menjadi wilayah kekuasaan bangsa Arab sejak zaman Nabi Muhammad hingga pada masa Khalifah-khalifahnya yang harus dipertahankan dengan cara “Jihad”. Begitu hal nya juga dengan kaum Nasrani yang percaya pada konsep perang salib, mereka meyakini bahwa Palestina adalah wilayah orang-orang Nasrani yang dianggap suci.
Semua berawal dari kekalahan Turki di tangan Inggris pada tahun 1918, yang menyebabkan Palestina jatuh ketangan Inggris. Pada tanggal 14 Mei 1948, di Museum Tel Aviv David Ben Gurion memproklamasikan Negara Israel. Peristiwa tersebut dianggap oleh orang-orang Yahudi Israel sebagai akhir dari perjuangan panjang dan pengabdian untuk membangun tempat tinggal dan idenditas bagi kaum mereka ( Israel mendirikan Zionis Yahudi ). Adanya proklamasi Israel menimbulkan protes dari bangsa Arab pada 2 Desember 1948, dimana bangsa Arab merasa sangat dirugikan atas berdirinya Negara Israel di wilayah kekuasaannya sehinnga menimbulkan perlawanan bangsa Arab terhadap Israel. Sayangnya bangsa Arab mengalami kekalahan atas Israel yang mendapatkan bantuan dari Inggris dan Perancis. Dari adanya kekalahan tersebut akhirnya Arab menutup kilang minyak pada tanggal 6 Oktober 1973 yang mengakibatkan harga pasaran minyak melonjak. Pada tahun 1964 Para pemimpin Arab Palestina membentuk PLO (Palestine Liberation Organization) yang bertujuan untuk memperjuangkan hak rakyat Palestina, tapi sayangnya bangsa Palestina sudah tercipta sebagai bangsa yang terusir diatas negerinya sendiri, keuntungan selalu berpihak pada Israel pada tahun 1967 bangsa Israel berhasil mengalahkan Mesir, serta menguasai semenajung Sinai, Gaza dan tepian barat Yerusalem.
Penguasaan dan pendudukan yang dilakukan Israel di Palestina semakin gencar. Bangsa Israel melakukan pencaplokan tanah-tanah orang Palestina yang kemudian didirikan untuk pemukiman mereka. Hal ini menimbulkan konflik dan rasa tidak senang bangsa Palestina, maka itu hampir setiap hari terjadi konflik di wilayah ini hingga akhirnya PBB menarik mundur pasukan Israel pada tahun 1967 dan mengeluarkan pengakuan terhadap semua negara yang berada di kawasan tersebut termasuk juga Palestina. Adanya pengakuan terhadap bangsa Palestina membuat bangsa Israel merasa terjajah di atas tanah yang dianggap mereka sebagai kepunyaan nenek moyangnya. Bangsa Israel merasakan ketidakadilan, mereka tidak merelakan sebagian wilayahnya dihuni oleh orang-orang Palestina. Hal tersebut akhirnya mendorong Bangsa Israel menjadi semakin gigih dalam memperjuangkan apa yang dianggap menjadi haknya. Pada musim panas tahun 1980 Israel menyatakan bahwa Yerusalem yang diduduki mereka adalah ibukota dari Negara mereka.
Adanya pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel secara sepihak membuat kedudukan bangsa Palestina merasa semakin terjajah. Wilayah mereka tidak hanya diduduki tapi juga posisi mereka terancam sebagai umat manusia yang ingin hidup di dunia betapa tidak penguasaan yang dilakukan Israel disertai oleh berbagai macam pelanggaran HAM baik itu secara lahir ( dengan bom, kekerasan dan tembakan ) maupun secara batin ( dengan merendahkan dan mencemoohkan orang-orang Palestina ). Penindasan yang dilakukan oleh Israel akhirnya menuntut orang-orang Palestina untuk melakukan perjuangan baik itu dengan melakukan Intifadah ( yaitu pelemparan batu yang dilakukan orang-orang palestina terhadap tentara Israel yang dianggap kejam maupun dengan melaksanakan berbagai aksi teror dengan bom bunuh diri.
Perjuangan yang dilakukan oleh bangsa Palestina tidak lepas dari adanya peran HAMAS ( merupakan organisasi orang Islam Palestina yang ingin memperjuangkan kedaulatan Palestina ). Perjuangan yang cukup melelahkan tersebut akhirnya berbuah kemerdekaan, Pada tanggal 15 Nopember 1988 akhirnya Negara Palestina terbentuk dengan presiden pertamanya Yasser Arafat. Sebagai presiden Palestina Arafat selalu berusaha untuk melakukan perundingan untuk memperoleh pengakuan terhadap Palestina hingga pada tahun 1993 Israel akhirnya mengakui adanya Palestina bahkan perundingan perdamainan berusaha untuk dilaksanakan kedua pihak tersebut. Sayangnya pada tahun 1996 Israel seolah menghindari adanya perundingan damai, Israel sengaja menunda perdamaian karena Israel menginginkan wilayah Palestina menjadi bagian otonom dari Israel.
Salah satu faktor yang menyebabkan penolakan Israel terhadap perdamaian yang diajukan Palestina karena gerakan HAMAS Palestina menolak adanya Negara Israel. Hal tersebut tentunya menjadi pemicu dari aksi yang dilakukan oleh bangsa Israel selama ini. Pada tahun 2002 Israel berusaha menawarkan adanya kompromi perdamaian terhadap Palestina, tapi Israel menuntut adanya sikap Palestina yang fleksibel, karena aksi teror yang selama ini dilakukan Palestina tidak membuat gentar Israel melakukan pendudukan. Israel beranggapan bahwa pelanggaran yang selama ini mereka lakukan adalah aksi melawan terorisme dan pemberontakan orang-orang Palestina. Tidak hanya Israel yang melakukan pembantaian tapi juga orang-orang Palestina sebaliknya. Maka dari itu Israel selalu memberi ketegasan bahwa tidak akan ada perdamaian selama orang-orang Palestina masih keras dengan aksinya, dan orang-orang Israel merasa bahwa mereka tahu bagaimana cara untuk menentukan nasibnya sendiri.
Serangan habis-habisan Israel ke Gaza (27 desember 2008), merupakan bukti kekerasan ideologi masing-masing pihak. Dimana bangsa Yahudi beranggapan bahwa Palestina merupakan bagian dari Negara mereka, begitu juga dengan Israel yang merampas tanah yang seharusnya jadi hak Palestina. Palestina merupakan negeri dimana tiap jengkal wilayahnya yang selalu mengalami kekerasan, pembantaian dan pembunuhan terhadap sesama hanya demi mempertahankan tiap jengkal tanah yang belum bisa diputuskan apakah milik Palestina atau Israel. Sebelum itu sudah terjadi serangan-serangan kecil di antara kedua belah pihak di sekitar Jalur Gaza, disebabkan Israel menutup tempat-tempat penyeberangan atau jalur komersial ke Gaza sehingga pasokan bahan bakar minyak terhenti, yang memaksa satu-satunya pusat pembangkit listrik di Jalur Gaza tutup.
Tragedi yang berkepanjangan di tanah suci ini merupakan fenomena pemahaman perdamaian yang menyita waktu yang cukup panjang. Tragedi terbesar muncul karena adanya perbedaan tradisi yang saling meruntuhkan satu sama lainnya. Perbedaan agama yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa Timur Tengah justru melahirkan adanya pransangka, tiap pihak saling terjebak di dalam konflik yang mematikan. Selamanya perdamaian yang di cita-citakan akan terus menjauhi Palestina dan Israel selama kedua bangsa tersebut masih keras akan pemahaman mereka. Dalam konflik ini kita tidak tahu siapa yang diusir dan siapa yang terusir? Palestina dan Israel sama-sama melakukan kekerasan, sama-sama menjadi ekskutor pelanggaran Ham? Sehingga sulit untuk dipilah siapa yang benar dan siapa yang salah antara keduanya. Yang jelas konflik yang terjadi selama bertahun-tahun ini telah memberikan berbagai kerugian, karena telah menewaskan banyak orang yang menjadi korban. Belum lagi dampak yang diterima oleh Negara-negara lain disekitar, konflik ini mampu menjadi pemicu perpecahan bangsa lain, perpecahan yang sering terjadi dengan mengatasnamakan agama.
Bahkan perpecahan itu seringkali timbul di Negara kita Indonesia. Maka dari itu konflik terpanjang dalam sejarah umat manusia, perseteruan antara Palestina dengan Israel harus ditanggapi dengan hati-hati. Karena begitu banyak aspek yang terlibat dalam konflik tersebut, sekaligus latar belakang yang sangat rumit, menjadikan isu ini sebagai isu yang sangat sensitif. Bagi Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, konflik Palestina-Israel seringkali dibawa ke dalam ranah konflik agama, yang sesungguhnya merupakan pemikiran yang salah karena Tuhan tidak pernah mengharapkan perpecahan di kalangan umatnya. Apabila sejarah konflik antara Palestina dengan Israel dipelajari secara lebih terperinci dan obyektif, maka permasalahan ini dapat dilihat secara jernih. Jika semua orang mengerti akan sejarah dan mampu memahami perdamaian maka pola pemikiran semua orang akan menjadi bijak. Demikian dengan Indonesia dapat menentukan sikapnya dalam menghadapi isu ini, sekaligus menegaskan posisinya sebagai negara demokratis yang menerapkan politik bebas aktif.






BAB III
PENUTUP
1) Kesimpulan
Dari paper yang dibuat penulis, maka dapat disimpulkan bahwa :
o Konflik yang terjadi di Timur Tengah selalu dilatarbelakangi oleh permasalahan politik, agama, kesukuan dan perebutan wilayah kekuasaan.
o Konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Palestina adalah konflik yang dilatarbelakangi oleh adanya sejarah agama dan ketidakadilan dalam pembagian wilayah.
o Wilayah Timur Tengah tidak hanya menjadi pusat peradaban yang kaya akan hasil alam, tapi juga kayaa akan peristiawa konflik yang membawa maut khususnya konflik Palestina dan Israel.
o Peristiwa, konflik, dan perang saudara yang terjadi antara Israel dan Palestina mampu menjadi pemicu perpecahan agama di wilayah lain dan memberikan pengaruh terhadap Negara-negara lain di dunia, salah satunya Indonesia.
o Permasalahan yang terjadi antara Israel dan Palestina merupakan konflik berkepanjangan yang sulit untuk ditemukan jalan keluarnya.
o Konflik yang terjadi karena setiap Negara ( pihak yang terlibat ) lebih mementingkan egonya, menganggap ideologinya adalah yang paling benar.
o Konflik yang ada mengakibatkan banyaknya kerugian baik itu secara moril, fisik maupun materil.
o Terjadi pelanggaran hak asasi manusia yang dirasakan Anak-anak dan perempuan di Timur Tengah ( Palestina ), selain itu mengakibatkan mereka hidup dalam ketakutan.


2) Saran
Dari pembuatan paper ini penulis memilki saran sebagai berikut:
Penulis berharap agar pembaca dapat mengetahui dan memahami sejarah mengenai konflik yang Timur Tengah khususnya konflik Palestina Israel yang akhir-akhir ini sering diberitakan di media masa sehingga dapat dijadikan sebagai ilmu untuk menambah wawasan.
Konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina bisa diredam apabila setiap orang disana tidak mementingkan ego masing-masing.
Seharusnya ikatan persaudaraan dapat dijadikan erat mengingat bangsa Timur Tengah berasal dari leluhur yang sama
Agama yang lahir di Timur Tengah tidak seharusnya dijadikan alasan lahirnya konflik, justru dengan lahirnya beragam agama tersebut mampu membuat para penganut agama menyakini adanya pencipta.
Keyakinan terhadap Tuhan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk memecahkan rasa persaudaraan.
Kata perdamaian seharusnya bisa dijadikan landasan untuk meredam konflik yang hanya disebabkan oleh politik dan wilayah kekuasaan.
Hendaknya setiap orang mampu mecerna setiap permasalahan yang ada dengan pola pemikiran yang jernih sehingga mampu menjauhi adanya pengaruh menyimpang dan saling menyalahkan.

3) Kata Penutup
Demikian paper yang dibuat oleh penulis. Sekiranya ada banyak kekurangan dari segi kata, bahasa, dan sumber yang digunakan penulis mohon agar dapat dimaklumi. Diharap agar penulis dapat diberi saran dan kritik yang membangun agar suatu hari dapat menghasilkan karya yang lebih baik. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah membaca makalah ini. Penulis akhiri dengan “ Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ”.

* Terima kasih *

DAFTAR PUSTAKA

Oslon, Robert,1987, Negara dan Bangsa,Jakarta: Widiyadara
Amstrong, Karen,2001,Sejarah Tuhan,Bandung: Mizan Media Utama
Amstrong, Karen,2003,Perang Suci,Jakarta: Serambi Ilmu Semesta
Said, Edward,2003, Palestina Duka Orang-orang Terusir, Bandung: Mizan Media Utama
Oslon, Robert,1987, Negara dan Bangsa,Jakarta: Widiyadara
Shehadeh,Raja,2008,Jalan-jalan ke Palestina,Jakarta:Gramedia Pustaka
Barghouti, Mourid,2006,I Saw Ramallah,Jakarta:Pustaka Alvabet





.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar