Kamis, 05 Agustus 2010

WARISAN KOLONIALISME & BERAKHIRNYA KEKUASAAN VOC

Nama : Merlina Agustina Orllanda
Npm : 180310080026

WARISAN KOLONIALISME & BERAKHIRNYA KEKUASAAN VOC

“ it wonder is geschied insulinde de schone slaapster is ont waakt”,
“suatu keajaiban telah terjadi”
(Van Deventer)
Ungkapan diatas merupakan deskripsi mengenai suatu bangsa yang telah bangun dari tidurnya. Indonesia telah meraih kemerdekaan, kedaulatan sudah diakui oleh bangsa lain, namun kenangan sebagai bangsa yang pernah terjajah tidak akan pernah hilang dari sejarah Indonesia. Kedatangan bangsa Belanda di tanah air pada tahun 1596 menjadi cikal bakal berdirinya VOC pada 1602. Keberadaan VOC merupakan awal dari penderitaan yang panjang, akan tetapi keajaiban itu datang ketika VOC runtuh pada tahun 1799. Saat itu Indonesia terlepas dari kejamnya belenggu kolonial. walau akhirnya Indonesia dijajah kembali oleh bangsa lain.
Kedaulatan yang kini ada di depan mata seolah bersifat abstrak. Hal ini karena bagian dari cerita Indonesia terus dibayangi oleh kenangan VOC dari masa lampau. VOC merupakan negara dalam dari kerajaan Belanda yang didirikan dengan tujuan ekonomi. Masa kegelapan Indonesia adalah masa kejayaan VOC. Hal ini karena VOC bersifat menguntungkan pihaknya dengan mengorbankan tenaga pribumi untuk mengelola sumber daya alam yang akhirnya diperdagangkan untuk mengisi kans VOC.
Di nusantara saat itu, VOC bersikap leluasa dalam menguasai berbagai aspek yang ada, Hal ini karena VOC memiliki hak oktroi dalam setiap tindakannya. Peraturan yang dibuat untuk dipatuhi pribumi, barat adalah raja sedangkan timur tidak ubahnya seperti budak. Kenyataan tersebut terasa sakit untuk diungkap, pribumi hanya menjadi saksi akan kejayaan dan kekayaan masa lalu yang dirampas di depan mata tanpa adanya perlawanan yang bersifat langsung.
Ibarat hidup ada hitam dan putihnya. Keberadaan Belanda dan berdirinya VOC telah memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan rakyat pribumi. Disatu sisi pengaruh tersebut berdampak negatif, namun disisi lain sangat bersifat positif. Abad ke 17 seolah menjadi gambaran dari kejayaan VOC, mulai dari kepemimpinan Jan Pieter Coen (1619-1629), Herman Williem Daendels (1808-1811), dan Johanes van den Bosch (1830-1833). Masa pemerintahan oleh ketiga tokoh gubernur tersebut telah memberikan kesan dan mimpi buruk tersendiri bagi pribumi.
Antara Coen, Bosch dan Daendels merupakan tokoh eksekutor nyata yang bersikap kejam. Budaya pemaksaan, penindasan dan kekerasan VOC adalah kenyataan yang diterapkan oleh ketiga tokoh tersebut. VOC mempunyai aturan yang harus dipatuhi pribumi, ketetapan VOC punya satu tujuan yang secara garis besarnya hanya menguntungkan pihak VOC. Semua cara akan ditempuh oleh pihak VOC untuk memperoleh kekayaan (keuntungan) walaupun cara yang ditempuh adalah kotor. Pihak VOC selalu berada dalam setiap konflik kerajaan lokal. Disinilah VOC memainkan perannya, devide impera akhirnya diterapkan.
Kekejaman dari keberadaan VOC terlihat dari pembantaian di Kampung Banda, Jakarta Utara pada tahun 1621 (pada masa Coen). Kenyataan tersebut terjadi karena pedagang pribumi melakukan hubungan perdagangan dengan Portugis. Pada masa Daendels ketenangan pribumi terusik kembali, hal ini karena Daendels merupakan tokoh diktator yang sulit dilupakan. Pada tahun 1809 rakyat pribumi dipaksa untuk membangun istana yang kini menjadi gedung departemen keuangan, selain itu Daendels memaksakan petani untuk menanam 500 pohon kopi yang wajib dijual kepada VOC. Hal lain yang paling terkenal pada masa Daendels adalah kerja rodi pada pembuatan jalan 1000 kilometer (Anyer-Panarukan; Selat Sunda; Situbondo,Jawa Timur).
Keringat pribumi yang saat itu mengalir deras justru ditambah lagi dengan keberadaan van den Bosch sebagai gubernur jenderal. Budaya culturstelsel (tanam paksa) saat itu membuat pribumi tenggelam sebagi budak perkebunan. VOC semakin betah untuk bertahan di Nusantara, hal ini karena Nusantara telah memberikan kejayaan bagi kans VOC Adanya kekejaman VOC di masa lampau secara tidak langsung berperan dalam pembentukan mentalitas penduduk pribumi. Hasil warisan kolonial yang sampai saat ini masih terlihat pada diri orang asli di Indonesia. Adanya tanam paksa dan kerja rodi pada masa VOC membuat rakyat pribumi saat itu menjadi lemah dan lesu, sehingga pribumi tidak semangat untuk menjalankan pekerjaan yang ditetapkan VOC. Maka dari itulah VOC menjuluki penduduk pribumi adalah penduduk yang malas karena tidak mau bekerja. Padahal pada faktanya pribumi saat itu sudah begitu lelah dan mulai merasakan adanya penindasan.
Adanya anggapan barat lebih baik dari timur selalu membuat pribumi jadi yang terbelakang. Ketidakpercayaan diri sudah mendarah daging mengingat Kedudukan VOC yang berkuasa saat itu membuat rakyat pribumi menjadi sosok pengikut dan hanya menuruti perintah. Maka dari itu kepribadian orang pribumi hingga saat ini hanya menjadi pengikut dari adanya atasan, tapi tidak bisa melawan ketetapan penguasa. Sama dengan budaya malas yang dijulukan pada pribumi, karena pada kenyataannya kalau orang Indonesia tidak malas dan punya daya juang tinggi mungkin saja kita bisa menyaingi negara Jepang. Hal ini diperkirakan karena tipe setiap orang itu berbeda; ada yang ulet dan malas atau bisa dikaitkan dengan keletihan di masa lalu yang berlanjut saat ini.
Adanya perdagangan opium yang saat itu dilegalkan oleh Jenderal Hindia Belanda Gustaaf Wilhem van imhoff pada tahun 1745 secara tidak langsung telah memberikan warisan yang berdampak negatif. Bahkan hingga saat ini adanya penyalahgunaan obat-obatan terlarang di Indonesia merupakan aplikasi dari warisan masa VOC. Suatu pembentukan mentalitas yang membawa keterpurukan bagi nasib bangsa ini.
Fenomena nyata yang saat ini marak dibicarakan. Bahkan sangat identik dengan kehidupan bangsa kita adalah budaya korupsi. Budaya ini adalah suatu tindakan yang akan dilakukan pada seseorang yang sudah mendapatkan jabatan tinggi dalam pemerintahan dan memiliki kesempatan untuk berbuat kecurangan. Budaya korupsi yang merajalela merupakan warisan kolonial yang bisa dikaitkan dengan masa kekuasaan VOC. Hal ini karena korupsi merupakan faktor utama runtuhnya VOC pada 31 Desember 1799.
Kekayaan dan kejayaan yang diraih VOC menimbulkan adanya sifat serakah dikalangan pejabat tinggi. Sebut saja JP Coen yang bersikap kolutif, adanya hak istimewa yang diberikannya pada Sow Beng Kong membuat pedagang Cina itu menguasai perdagangan. Contoh lainnya adalah penjualan istana Bogor dilakukan oleh Deandels seharga 553.000 gulden yang hasil penjualannya dibawa ke Belanda. Penyalahgunaan jabatan lainnya dilakukan oleh van Hoorn yang menumpuk kekayaan sampai 10 juta gulden. Para pejabat saling berlomba-lomba untuk mengisi kekayaan tanpa memikirkan dampaknya. Sehingga VOC menanggung hutang sebesar 140 juta gulden padahal saat itu mata uang gulden sangat jatuh dari dolar Amerika. Hal diatas merupakan peluang besar dari keruntuhan VOC. Pada tahun 1811 VOC resmi dibubarkan dan mengalami transisi selama 12 tahun.
Sekilas sejarah korupsi masa kolonial merupakan cerminan terhadap kehidupan nyata bangsa Indonesia saat ini. Kita tidak akan tahu apakah budaya tersebut merupakan sifat dan pembawaan setiap orang secara individu atau merupakan warisan kebudayaan yang sudah ada sejak masa dulu. Hanya fakta yang berbicara kalau keruntuhan VOC di Nusantara disebabkan adanya korupsi, hal tersebut sudah jadi rahasia umum.
Adanya penjajahan tentunya lebih banyak meninggalkan kesan negatif daripada positif. Walau demikian tentunya ada beberapa hal positif yang bisa dikatakan sebagai warisan kolonial. Contohnya adalah pendidikan, administrasi, industri dan transportasi yang kita kenal, bahkan saat ini aspek-aspek tersebut merupakan bagian dari kegiatan yang ada di Indonesia. Adanya tanam paksa membuat kita mengenal adanya Industri; pabrik tebu di Nganjuk Jawa Timur merupakan peninggalan dari adanya culturstelsel, saat ini sudah banyak ditemukannya pabrik industri lainnya di Indonesia. Adanya pembuatan jalan Panarukan-Anyer membuat kita mengenal adanya trasnportasi; pada tahun 1725-1729 kita mengenal adanya tandu, kemudian pada 1845 delman diciptakan dilanjutkan dengan adanya rute kereta api sejak tahun 1884 hingga akhirnya keberadaan mobil pada abad ke-19.
Uraian diatas merupakan deskripsi tentang runtuhnya VOC yang dikaitkan dengan warisan kolonial. Apabila dikaitkan dengan sejarah masa lalu maka banyak ditemukan kesamaan antara budaya dulu dan sekarang. Mentalitas pribumi yang terbentuk dikarenakan adanya hubungan sebab-akibat yang bisa dilihat dari kacamata sejarah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar